登入
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar.
"Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!" "Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar. "Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain. "Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja." Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat. Dulu, perlakuan seperti itu selalu berhasil membuatnya terganggu. Dia pikir, orang bodoh macam apa yang menilai karakter seseorang hanya berdasarkan karakter nenek moyangnya yang bahkan sudah meninggal ratusan tahun lalu? Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Sampai suatu hari, salah satu anak memukulnya dengan sebuah bata, tanpa sebab apapun. Lalu, lari bersama teman-temannya sambil cekikikan, seolah telah berhasil mencapai sesuatu yang sangat mengesankan. Orang-orang dewasa yang menyaksikan peristiwa tersebut tidak menegur, tidak pula mencoba membantu. Satu persatu dari mereka hanya berlalu melewatinya dengan lirikan tidak peduli. Seorang nenek tua bahkan mencibir mengatakan bahwa itu adalah akibatnya kalau dia mengganggu anak-anak lain. "Tapi, aku kan tidak mengganggu mereka," ujarnya dengan suara pelan, menunduk menatap tubuh kecilnya yang kotor karena didorong hingga jatuh. "Aku ... cuma mau ikut main." Ridhika ingat mendengar si nenek mendengkus sewot, sebelum ikut pergi menjauh. Meninggalkannya dengan banyak pertanyaan tentang mengapa justru dia yang disalahkan? Mengapa bukan anak-anak nakal itu saja yang dicap sebagai penjahat? Di rumah, Ibu mengobati keningnya yang terluka dengan raut datar. Namun, dia bisa melihat bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipi wanita itu. "Mulai sekarang, Ridhi main di rumah saja, ya. Sama Ibu," ujar wanita itu, sambil mengelus kepala Ridhika lembut dengan seulas senyum yang terlihat sendu. Pada saat itulah Ridhika memutuskan, bahwa dia tidak akan membiarkan masa kecilnya habis dilahap rasa sedih dan tertekan hanya karena manusia-manusia dengan pemikiran sempit itu. Mengingat peristiwa tersebut membuat keningnya berdenyut. Luka dari pukulan bata bertahun-tahun lalu itu sudah lama hilang tanpa bekas, namun rasa nyerinya masih suka datang sewaktu-waktu. Seolah hendak memperparah keadaannya, tepat setelah kakinya melangkah keluar dari area pasar, tempat itu langsung ramai kembali hanya dalam hitungan detik. Ridhika menoleh ke belakang sambil mengernyit. Perasaannya campur aduk antara tidak habis pikir dan kesal. Andai saja dia mewarisi kekuatan Calon Arang, di momen itu dia ingin sekali melemparkan sebuah bola api ke sana. Sayangnya, dia tidak memiliki kekuatan semacam itu, jadi yang bisa dilakukannya hanya memutar bola mata, lantas lanjut berjalan. Menuntun sepedanya yang ban-nya bocor menuju rumah. === "Ada surat untukmu." Demikianlah yang Ibu katakan begitu melihat Ridhika tiba di ambang pintu. "Surat apa?" Tanya Ridhika, sambil menghempaskan diri di atas sofa. Tangannya dengan gesit mencomot sepotong kue kering dari salah satu toples yang sedang dikemas Ibu. Melahapnya tanpa peduli dengan delikan wanita setengah baya itu. "Undangan dari Akademi Natyadharma." "Uhuk! Uhuk!" Ridhika tersedak hebat sampai tubuhnya nyaris terjengkal. Dengan gelagapan dia berlari menuju dapur. Mencari-cari gelas dan menuangkan air dengan tergesa hingga sempat tumpah-tumpah ke lantai. "Apa?!" Serunya keras begitu berhasil menghentikan batuknya. "Ibu bilang, rekrutmennya hanya terjadi setiap 100 tahun sekali. Ini baru menjelang 10 tahun sejak rekrutmen terakhir." "Mungkin Adhyaksa sedang menciptakan cerita baru." "Persetan Adhyaksa! Aku tidak mau masuk sekolah itu!" "Ridhika, ini bukan tempat dimana kamu bisa memilih," balas Ibu, dengan mata tertunduk. Namun, jemarinya terlihat gemetar. "Setidaknya dengan bergabung di sana. Kehidupanmu akan jadi lebih nyaman daripada di sini." "Tapi, kan- ... aarrghhh!" Ridhika mondar-mandir di depan Ibu, secara spontan mulai menggigiti kukunya, "Ibu kan tahu apa artinya kalau aku diundang masuk ke sana. Artinya aku mewarisi peran leluhur dan harus menjadi calon arang entah di dunia cerita mana!" Ridhika menatap Ibu memelas. Meskipun Akademi Natyadharma menjamin bahwa semua alumninya akan ditempa untuk menjadi pemeran cerita yang melegenda, seperti halnya Bawang Putih, Candra Kirana atau Timun Mas, dia tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari mereka. Para alumni seperti tokoh-tokoh itu beruntung, karena mereka protagonis. Semua akan berakhir bahagia. Akan tetapi keturunan antagonis seperti dirinya tidak punya kesempatan secemerlang itu. Pada titik tertentu, dia akan mati mengenaskan. Lalu, 100 tahun kemudian, keturunannya yang lain harus melanjutkan takdir yang sama. Hanya sebatas itulah nilai yang diberikan Akademi terkutuk itu pada kehidupan mereka. Selama ini, dia merasa cukup aman, karena berdasarkan perhitungan rekrutmen Akademi, seharusnya dia bukanlah keturunan yang mendapat giliran untuk memiliki cerita sendiri. Tapi, apa ini sekarang?! "Bu," Ridhika berlutut di depan Ibu. Mengiba. Berharap ada cara baginya untuk menolak undangan tersebut. Namun, tidak ada riak sama sekali pada raut wajah Ibu. Hanya kosong. Iris mata wanita itu menatap hampa wajah Ridhika, seolah tidak memiliki semangat untuk dibagi pada anak perempuannya tersebut. Malah, Ridhika cuma bisa menyaksikan dengan pandangan nanar, bagaimana Ibu mengambil sepucuk amplop dari dalam laci meja kopi, lalu mengangsurkannya pada dirinya. "Kalau saja ada tempat di dunia ini yang bebas dari pengawasan mereka, sejauh apa pun itu, Ibu akan bawa kamu ke sana. Bahkan, kalau harus mengorbankan diri Ibu sendiri," ungkap Ibu dengan suara serak. "Tapi, tempat itu tidak ada, Ridhi." Ada lapisan kabut tipis terbentuk di permukaan mata Ridhika setelah mendengarkan perkataan Ibu. Dia paham betul mengapa Ibu menyikapi undangan tersebut dengan datar. Setelah semua, wanita itu dibesarkan oleh orangtua yang menuntut agar peraturan harus selalu ditaati. Ditambah lagi, memang betul, mata Akademi Natyadharma melekat pada semua orang. Tidak ada yang bisa menghindar. Tiba-tiba dadanya dipenuhi rasa marah. Dengan kasar dibukanya amplop itu. Kalau memang tidak ada cara untuk menghindar, maka sekalian saja dia porak-porandakan isinya. Namun, semakin banyak kalimat yang Ridhika baca, semakin tidak mengerti pula dia dengan apa yang tertera di dalam surat undangan. Secara perlahan, kemarahannya berganti menjadi bingung, tidak percaya, lalu kosong sama sekali. Dia secara spontan menengadah, menatap Ibu dengan mata bergetar. Namun, tidak sepatah kata pun bisa terucap dari bibirnya. Bolak-balik dia mengalihkan pandangan ke arah lain, lantas kembali lagi ke surat itu. Diterpa keinginan yang tidak terkendali untuk menertawakan apa yang sedang terjadi padanya. "Nak." Ibu ikut berlutut di depan Ridhika, menatap khawatir pada anaknya yang menunjukkan ekspresi tidak wajar. "Ada apa?" "Bu, ini." mulut Ridhika sekali lagi terkunci. Dijatuhkannya si surat ke lantai, lantas dengan gemetar bangkit dengan berpegangan pada lengan Ibu. Tanpa tenaga beranjak menuju kamar. Mengunci diri. Membiarkan Ibu dan segudang pertanyaan tertinggal di belakang, bersama sepucuk surat yang di atasnya tertera sebuah kalimat tidak terduga. "Kami menyambut Ridhika Maya sebagai siswi terbaru kelas Protagonis Akademi Natyadharma.""Widuri, keluarkan orang aneh ini sekarang juga dari sini!" Seru si gadis dengan suara nyaring, meskipun perkataannya ditujukan pada Widuri, matanya tidak lepas menatap Ridhika dengan tajam. "Apa yang pernah kubilang soal membawa masuk siswi rendahan ke Griya Nayika? Otakmu sudah tidak bekerja atau kau minta dihukum, hah?!" Ridhika menarik tubuh Widuri yang gemetar semakin jauh ke belakangnya. "Bisa bicara lebih seperti orang beradab? Apa yang coba kau capai dengan berteriak seperti itu?" Berkebalikan dengan si gadis asing, Ridhika bicara dengan nada yang sangat tenang. Seolah hanya sedang menangani seorang anak yang tantrum. Iya, jika ada hal berharga yang dipelajarinya selama menghadapi pembulli di desa, itu adalah bahwa berbicara sama kerasnya, menunjukkan ekspresi dan bertindak kasar hanya akan memuaskan mereka. Memberikan mereka alasan untuk membenarkan sikap mereka yang salah, karena menganggap reaksinya sebagai bukti bahwa dia memang pantas diperlakukan demikian. Terbukti,
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika bersumpah bisa melihat bayangan senyum puas bertengger di wajah wanita itu. Membuatnya seketika merasa sangat kecil dan ingin berjalan lebih jauh saja di belakang. "Orang-orang di sini jahatnya berbeda, ya," pikirnya sambil mencoba mengalihkan perhatian dengan cara melihat-lihat taman yang tengah mereka lewati. Taman itu dipenuhi oleh bunga mawar putih. Namun, setengah di antaranya sedang di-cat dengan warna merah oleh beberapa pria dan wanita tua berpakaian terlalu perlente untuk sekadar dikira sebagai tukang kebun. Pemandangan yang mengingatkan Ridhika pada cerita Alice in Wonderland. Dia pernah dengar bahwa alumni siswi yang menjadi pemeran utama cerita itu kini hidup di sebuah ista
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap sopan membuat dia bertahan sebentar. Berdiri di depan pria itu dengan canggung, menunggu barangkali ada hal lain yang ingin si pria sampaikan. Sumpah serapah, misalnya. Akan tetapi, alih-alih mengatakan sesuatu. Pria tersebut diam saja, begitu pula Ridhika. Mereka bertahan dalam posisi itu paling tidak selama beberapa menit dan selama itu pun Ridhika sudah cukup gelisah karena rasa tidak nyaman yang perlahan merayapi punggungnya. Syukurlah, seorang wanita bertubuh jangkung datang menghampirinya di tengah ruangan dengan dua buah map yang cukup besar di tangan. Jadi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi. Meninggalkan si pria dengan aura aneh itu. "Saya akan jelaskan semua yang
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa l
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah dibuat panas oleh nasihat Ibu yang tanpa henti. Di Akademi nanti kamu harus begini, jangan begitu, lebih baik seperti ini, jangan coba-coba begitu. Bla, bla, bla. Semuanya hanya masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. "Ridhi! Kamu dengar apa kata Ibu?" "Ck! Iya, iya," Ridhika beranjak dari atas kasur, menarik kasar beberapa selendangnya yang dijemur di luar ambang jendela. "Kalau Ibu cuma mau mengomeli Ridhi, lebih baik Ibu keluar saja, deh!" "Bukan begitu. Ibu cuma-" "Eh! Ridhi," seorang tetangga yang kebetulan lewat menyapa dengan ramah. "Mau siap-siap berangkat ke Akademi, ya?" Ridhika spontan mengangkat sebelah alisnya, lantas memandangi si tetangga dari atas ke bawah dengan ekspr
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan Calon Arang mau lewat, sebentar lagi!" "Hah?! Duh, kami pergi saja deh kalau begitu," balas salah satu wanita sambil menarik lengan temannya agar segera menghindar. "Memangnya kenapa, sih? Pasar ini kan bukan milik dia!" Sungut wanita yang lain. "Sst! Jangan cari masalah. Eh! Itu dia! Ayo, kita pergi saja." Ridhika menyaksikan melalui sudut matanya bagaimana gerombolan pengunjung di pasar segera menghindar begitu dia datang. Disusul oleh suasana riuh yang seketika berubah hening, serta anak-anak yang ikut orangtuanya berbelanja dengan takut-takut mengintip dari balik tiang toko. Aktivitas jual beli seolah terhenti dalam sekejap, meninggalkan atmosfer yang terasa berat. Dulu, perla