MasukRidhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan.
Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perkampungan yang jauh di belakang dan bangunan megah yang berdiri tepat di depan mata. Sempat terbesit keinginan untuk mundur, tetapi sekuat tenaga ditahannya. Begitu melangkah melewati pagar besi, seluruh bagian kaki hingga lututnya langsung mati rasa. Matanya dengan gelisah menangkap satu persatu benda yang membuat akademi itu terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain yang dilewatinya sepanjang jalan. Mulai dari pilar-pilar raksasa yang menopang balkon panjang berhias tanaman merambat, hingga jendela-jendela lancip yang berjejer seperti mata yang tidak akan pernah lepas mengawasi para siswa. Semua elemen tersebut membuat bangunan batu putih tulang itu terasa lebih mirip penjara ketimbang institusi pendidikan. Meskipun demikian, dia tetap mencoba untuk terlihat biasa saja. Menggeret koper hitamnya melewati patung sepasang manusia mengenakan topeng tertawa dan menangis yang bertahta dengan bangga di tengah lapangan kedatangan. Dari waktu ke waktu, dia melirik sekilas ke arah benang-benang halus yang diikat sedemikian rupa pada jari-jari kedua patung tersebut, lalu pada mahluk-mahluk lebih kecil yang dikendalikan oleh ujung si benang, lantas bergidik. Untuk sepersekian detik, terlintas di dalam kepalanya, bahwa mungkin beginilah perasaan orang-orang yang biasa menghindar ketika melihatnya. Seluruh tubuh meremang dan telapak tangan entah sejak kapan sudah basah oleh keringat dingin. Ridhika memutuskan untuk berjalan lebih cepat. Untungnya surat undangan yang diterimanya juga melampirkan denah dan instruksi tentang apa saja yang harus dilakukan setelah tiba di Akademi. Sehingga, dia bisa mencari aula tunggu siswa baru tanpa kesulitan. Lorong menuju aula yang ditujunya pun bisa dibilang sepi. Barangkali, karena itu adalah jam kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Namun, Ridhika justru senang. Dia menikmati suara hak sepatunya yang bergema sambil sesekali berhenti untuk melihat lukisan-lukisan mewah yang terpajang di sana. Lukisan para alumni siswa dan siswi dengan peran legendaris yang pernah mereka mainkan. Hal selanjutnya yang berhasil mengembalikan ketidaksukaannya adalah bagaimana semua orang di ruang aula secara serentak menghentikan kegiatan mereka untuk mengamati kedatangannya. "Aku ingin melaporkan kedatangan," jelasnya singkat, mencoba menutupi rasa canggung dengan kepercayaan diri. "Silakan ke sini," jelas seorang pria tua berkacamata, mengarahkannya untuk mendekat. Ridhika mengangguk dan dengan sigap menarik kopernya untuk mendatangi loket tempat si pria tua berada. Dalam gerakan yang hampir terlihat robotik, dia mengeluarkan berkas-berkas kedatangan yang dipersiapkannya dari dalam tas, kemudian menyerahkan semuanya pada pria tua tersebut. "Ridhika Maya?" Si pria tua bolak-balik mengamati Ridhika dan foto yang ditempelkan di berkas dengan posisi kacamata yang diturunkan sedikit. "Hm, tunggu dulu sebentar. Akan kami proses." Sekali lagi, Ridhika hanya membalasnya dengan anggukan. Dia berbalik ke arah deretan kursi yang sebagian besar sudah diisi oleh para siswa yang sepertinya juga sedang melaporkan kedatangan, lantas memutuskan untuk duduk di area paling pojok. "Huh, akhirnya. Bisa duduk juga." Melemparkan pandangan diam-diam pada siswa-siswa tersebut, Ridhika menyadari bahwa dia satu-satunya yang belum mengenakan seragam. Memang bukan "seragam Akademi" secara harfiah, karena yang satu ini belum dibagikan, namun pakaian dengan color palette sesuai dengan kelas peran masing-masing. Putih dengan detail emas untuk protagonis, hitam dengan detail merah untuk antagonis, abu-abu dengan detail biru tua untuk pemeran pendukung dan kelabu polos untuk figuran. Begitulah yang tertera pada surat undangan. Ridhika secara spontan memegang kopernya. Tepat seperti kata Ibu, baju-baju yang dibawanya mungkin tidak akan terpakai. Bahkan, menilik dari reaksi semua orang ketika melihatnya tadi, dia cukup yakin bahwa gaun hitam selutut dan cardigan merahnya telah membuat mereka salah mengira dia sebagai calon siswi kelas antagonis. Memikirkan kemungkinan ini, mau tidak mau membuatnya tertawa kecil. Siapa sangka bahwa telah datang masanya, dia merasa disalahpahami bukan lagi karena tidak ingin dianggap sebagai penjahat berdasarkan keturunan, melainkan karena kini dia memang tidak diberikan peran demikian. "Protagonis," bisiknya pada diri sendiri dengan senyum nelangsa. "Benar-benar menggelikan." Ridhika tidak ingin kembali ke fase mengasihani diri lagi, jadi dia memilih untuk bersandar santai di kursinya. Mengabaikan pandangan orang yang lalu lalang, persis seperti yang biasa dilakukannya. Ketika sudah bosan hanya melihat sana-sini, dia mengeluarkan seperangkat alat rajut dari dalam tas dan melanjutkan syal-nya yang sudah setengah jadi. Ponsel pribadi tidak diperbolehkan selama masa pendidikan, makanya dia sudah berantisipasi dengan membawa banyak barang yang bisa dijadikan sebagai hiburan. Hal itu terbukti sebagai pilihan yang tepat, sebab baru selesai merajut sedikit, tahu-tahu siswa di sekitarnya sudah berkurang banyak. Ridhika menengadah menatap jendela kaca yang terbuka. Di luar, matahari terlihat sangat terik. Sepertinya sudah menjelang tengah hari. Berarti sudah hampir 2 jam dia menunggu berkasnya selesai diproses. Dia mulai penasaran akan makan waktu berapa lama lagi. "Bagastya Dewa!" "Ridhika Maya!" Ridhika terperanjat kaget, spontan melepaskan alat rajutnya dan berdiri begitu namanya dipanggil. Dia sempat celingak-celinguk mencari asal suara, hingga tubuhnya limbung, lalu tanpa sengaja menabrak seorang pria. "Eh! Maaf!" Merasakan pria di belakangnya dengan sigap menahan tubuhnya agar mereka tidak benar-benar terjatuh, Ridhika juga dengan cekatan memegang kedua tangan si pria yang memegang pundaknya, lantas segera menstabilkan posisi berdirinya. "Maaf, aku tidak sengaja," ujarnya tidak enak. Ridhika berbalik, berpikir akan menemukan seorang siswa berpakaian rapi dengan senyum lebar, karena pria-pria yang tadi dilihatnya sedang menunggu di ruangan tersebut tampak berasal dari kelas protagonis. Namun, alih-alih demikian, yang kini tengah bertatap muka dengannya justru adalah seorang pria dengan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena setengah tertutup oleh tudung jaket dan rambutnya, tetapi Ridhika masih bisa melihat bibirnya yang terkatup rapat dan bekas luka melintang di pipi kanannya."Kau menarikku keluar sejauh ini hanya untuk menyuruhku mengaku?" Ridhika mendengkus dingin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu kau berharap aku menjadi orang yang seperti apa, tapi biar kuberitahu satu hal, aku bukan malaikat. Hanya karena aku siswi protagonis, bukan berarti aku akan selalu jadi baik hati dan penuh dengan niat yang tulus.""Ridhika, bukan begitu maksudku." Helaan napas berat lolos dari bibir Bagastya. Baru saja disadarinya bahwa tindakannya memang bisa terlihat seolah sedang menghakimi gadis itu. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Aku hanya kaget. Ridhika yang kukenal itu cerdas, tapi dia tidak akan memanfaatkan itu untuk menyakiti orang lain.""Ridhika yang kau kenal? Ridhika yang mana? Menjadi pasangan selama beberapa bulan tidak lantas membuatmu mengenalku, Bagastya. Lagipula, yang kusakiti itu adalah diriku sendiri." Ridhika mengangkat pergelangan tangannya yang terbalut perban. "Apa yang ditanggung oleh Klarisa, hanyalah konsekuensi dari
"Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku ingin kau jauh-jauh dari pasanganku?" Ujar Bagastya dengan ekspresi datar. "Kau masih ingat apa peringatanku kalau sampai melanggarnya, kan?"Ridhika membiarkan Bagastya membantunya agar bisa berdiri lebih stabil. Pria itu kemudian memegang tangannya yang terluka selama beberapa saat dengan cukup serius, sebelum akhirnya menarik Ridhika agar berdiri di belakang tubuhnya."Bapak dan Ibu Pengawas, Saya memiliki beberapa laporan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Klarisa," ungkap Bagastya tegas. "Salah satu yang paling fatal adalah dia memalsukan kepemilikan semua tugas Kelas Antagonis yang diserahkannya. Dia merundung pemilik aslinya dan mengambil tugas-tugas tersebut secara paksa.""Bagastya Dewa! Bisa-bisanya kau!" Dengan wajah pucat Klarisa mengacungkan jarinya ke arah Bagastya.Dari sudut pandang Ridhika, sepertinya gadis itu tidak habis pikir mengapa Bagastya betul tega membocorkan tindakannya. Sesuatu yang membuat Ridhika bingung seka
Seperti suara ngengat yang dengan panik mencoba untuk keluar dari perangkap serangga. Itulah apa yang ada di dalam pikiran Ridhika pada saat satu-persatu siswa siswi protagonis dan antagonis mulai masuk ke dalam ruang Kelas Gabungan. Mereka tertawa, bicara dan berseru dengan nada yang melengking nyaring, membuat kepala Ridhika pening seketika."Topik kita kali ini adalah Manipulator Ulung," buka sang Guru Pembina, tanpa menunggu para siswa dan siswi yang belum mendapatkan tempat duduk. "Sengaja Saya pilih demikian, sebab selama beraba-abad, dunia cerita selalu hanya memberi pengakuan kepada antagonis sebagai peran dengan kualitas menjadi seorang manipulator. Saya ingin lihat, barangkali pada pertemuan hari ini, ada yang bisa membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru."Bisik-bisik siswa dan siswi di sekitar Ridhika kian bertambah. Pada awalnya, meski bisa mendengar sebagian besar dari pembicaraan yang dibahas, dia masih tidak tertarik untuk memperhatikan. Sampai kemudian kursinya ter
"Menurutku, kamu pasti cocok memerankan tokoh protagonis wanita berkepribadian kuat," ungkap Amayra selagi sibuk mengetik analisanya menggunakan laptop. "Kudengar, belakangan ini dunia cerita dengan protagonis seperti itu sedang sangat populer."Ridhika hanya mengangguk tanpa kata. Dia juga mengetahui semua ini, tentang cerita seperti apa yang sedang tren dan banyak disukai. Saat ini, sedang menjamur sekali drama yang menceritakan tentang seorang wanita yang balas dendam pada pasangannya karena pihak lain itu berselingkuh atau memperlakukannya dengan sangat buruk. Penonton benar-benar menyukainya. Mereka bahkan ingin si protagonis wanita membalas dengan lebih kejam. Fakta yang cukup mengejutkan bagi Ridhika. Sebab, dia tidak menyangka bahwa akan ada saatnya stereotipe protagonis wanita murni dianggap membosankan, bahkan membuat frustasi. Padahal, tipe protagonis seperti ini adalah yang paling pertama tercipta dan sudah bertahan selama berabad-abad."Semua hal ada masanya, ya?" Pikirn
"Bagi protagonis wanita berkepribadian kuat, selama mereka bukan pihak yang memulai tindakan salah, maka perilakunya masih bisa ditelorensi. Membalas dendam, menginjak balik orang lain, semua ini masih diperbolehkan, asalkan sepadan dengan kejahatan yang dialaminya dan tidak lebih," jelas Ibu Binar sambil berkeliling kelas dengan buku teks pelajaran di tangannya. "Sedangkan, bagi protagonis wanita dengan kepribadian lembut, umumnya tindak kebaikan hatinya disarankan tidak berbatas. Kecuali, apabila sifat lembutnya itu hanyalah fasad yang digunakan untuk melindungi diri sendiri, maka batas kebaikannya disamakan dengan protagonis wanita kuat. Yakni, selama tidak melebihi tindak kejahatan yang diterimanya."Ridhika menyimak dengan sangat serius. Matanya hanya tertuju pada Ibu Binar, bahkan tubuhnya nyaris tidak bergerak. Satu-satunya hal yang kadang kala mampu merusak fokusnya hanyalah suara guntur yang saling bersahutan di luar.Pada saat, dia menoleh ke jendela yang sebagian besar men
Pagi itu, ketika Ridhika berjalan di lorong menuju Kelas Kebaikan Hati, semua anehnya tidak seburuk yang dia bayangkan. Padahal, dia sudah bersengaja tidak berjalan bersama Amayra, karena takut gadis itu dikucilkan. Akan tetapi, ternyata para siswa dan siswi tampak tidak begitu peduli. Mereka hanya melewatinya seolah dia tidak ada.Memang masih ada beberapa yang melirik dengan tatapan sinis, tetapi Ridhika tentu tidak mengindahkannya. Selama mereka tidak mengganggunya secara langsung, dia juga bisa berpura-pura seolah mereka adalah makhluk-makhluk tembus pandang.Setibanya di kelas, kursi yang biasa digunakannya tentu sudah diisi siswi lain, yang begitu melihat kedatangannya maka segera saja mulai berbisik-bisik dengan satu sama lain. Hanya tersisa dua kursi kosong, satu di samping Amayra yang tengah menatapnya seraya tersenyum lebar, sementara satunya lagi berada di pojok paling belakang ruangan.Ridhika tanpa diragukan lagi memilik kursi yang berada di belakang itu. Dia menyempatkan
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku







