Share

AIP 44

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-12 22:15:47

Pagi-pagi sekali Ardian sudah tiba di kantor, bahkan ketika baru ada satpam dan petugas kebersihan di sana. Laki-laki itu terlalu bosan berada di rumah, sebab pikirannya selalu dipusingkan oleh sidang perceraian dengan Melan yang kian dekat, disusul pernikahan ia dan Lila setelahnya.

Jika bisa, Ardian lebih memilih menghilang dari muka bumi daripada harus menghadapi dua persoalan rumit itu.

Pintu ruangannya tiba-tiba diketuk ketika ia hendak membuka laptop. Setelah memerintahkan seseorang di l
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku Ingin Pisah   AIP 56

    "Mas Ardian nggak bisa dihubungi, Opa!" Lila berteriak frustasi karena sudah dua hari ini tidak ada kabar dari sang calon suami, sementara pernikahan mereka akan digelar esok hari.Pyaar!Perempaun itu melempar benda apa pun yang ada di dekatnya, hingga kini ruang tengah sudah penuh dengan pecahan kaca dan barang-barang lain.Belum puas melampiaskan emosi dengan melempar barang-barang, ia mengambil ponselnya dan membuat rekaman suara untuk Ardian."Kamu pikir bisa kabur dari tanggung jawab, Mas?! Kamu pikir bisa kabur dengan tenang sama perempuan sialan itu?! Aku nggak akan biarkan kalian hidup tenang! Kalau sampai besok nggak datang ke acara pernikahan kita, aku pastikan kamu nggak akan pernah lihat anak ini lahir, Mas! Aku akan bunuh dia!"Ia mengirim rekaman suara itu pada Ardian, berharap ketika dibuka nanti, laki-laki itu akan sadar dan kembali padanya. "Jangan bicara sembarangan, Lila. Ardian pasti datang," tegur Opa Hendra.Jujur saja, ia pun ikut pusing dan risau atas perginy

  • Aku Ingin Pisah   AIP 55

    Ardian dan Ferdi tiba di Kota X tepat pukul 12 malam. Mereka langsung menuju lokasi perkampungan yang cukup jauh dari bandara dan pusat kota. Dengan menggunakan angkutan khusus, butuh waktu sekitar 2 jam agar mereka tiba di sana.Lelah memang. Tapi Ardian dan Ferdi tampak tak mau kehilangan waktu satu detik pun sehingga mereka sama sekali tidak beristirahat sejak semalam. Baru ketika mobil angkutan yang membawa mereka berhenti di sebuah kedai yang masih buka, mereka beristirahat sejenak.kali ini Ardian duduk di kursi kedai yang reyot, nyaris rubuh saat ia duduki. Di depannya, kursi yang diduduki Ferdi tampaknya bernasib sama. Di tengah mereka, sebuah meja kayu yang kusam dan sedikit bedebu menjadi satu-satunya tempat untuk mereka meletakkan kepala.Tidak ada piliha. Semua ini demi Melan."Kopinya, Tuan."Keduanya terpaksa mengangkat kpala saat pemilik warung mengantarkan dua cangkir kopi. Mereka mengambil bagian masing-masing, lalu meneguknya sedikit."Apa tempatnya masih jauh?" tany

  • Aku Ingin Pisah   AIP 54

    "Kamu nggak lagi menipuku, kan?" Ferdi menatap Ardian tajam."Apa untungnya buatku?"Ferdi diam dengan mata yang tetap tertuju pada Ardian. Ia takut saja laki-laki itu masih dendam dan berniat mempermainkannya."Aku tahu kota tempat kerabat jauhnya tinggal. Katanya, cuma mereka kerabat yang dia tahu," papar Ardian. Suaranya terdengar tenang. "Aku bisa antar kamu ke sana."Kening Ferdi mengkerut seketika, masih tak percaya pada sepupunya."Kalau kamu nggak percaya ya sudah. Aku akan cari Melan sendiri ke sana."Tentu Ferdi tidak setuju. Ia segera menahan sang sepupu saat hendak pergi, dan akhirnya setuju untuk mencari Melan sama-sama.Sungguh, bukannya Ferdi tidak menghargai keputusan Melan, ia hanya ingin melihat apakah perempuan itu baik-baik saja, apakah di sana ia hidup layak, apakah ada yang menemani atau hanya sendirian di sana. Mungkin setelah pertanyaannya terjawab, Ferdi akan kembali ke kota ini meski dengan keadaan hati yang hancur dua kali.Kedua laki-laki bersaudara itu geg

  • Aku Ingin Pisah   AIP 53

    Hari-hari menuju pernikahan yang diharapkan akan menjadi hari yang indah, malah sebaliknya. Setiap hari Lila diliputi kekesalan atas sikap Ardian yang menurutnya sangat menyebalkan dan suka semena-mena membuat keputusan. Seperti resepsi pernikahan mereka yang benar-benar terpaksa dibatalkan.Lila jadi harus menanggung malu di depan kerabat, kolega dan para sahabatnya. Jika ia memaksakan keinginan, maka akan sangat buruk dampaknya.Ia menyadari emosi Ardian sering tidak stabil setelah perceraiannya dengan Melan. Jujur saja, ia kesal karena merasa laki-laki itu masih terus memikirkan mantan istrinya. Tapi ia tidak memiliki pilihan selain mengalah untuk sementara waktu."Jangan sampai pernikahan ini batal, karena akan semakin membuat nama keluarga kita tercoreng. Apalagi publik sudah tahu kalau kamu simpanan Ardian." Begitulah nasihat sang opa yang akhirnya ia pegang, meskipun sesekali membuat ia hampir gila.Namun kembali lagi. Semua demi misinya memiliki Ardian, menjadi satu-satunya is

  • Aku Ingin Pisah   AIP 52

    Ucapan resepsionis di depannya bukanlah kenyataan bagi Ferdi. Ia segera menggelengkan kepala tak percaya dan meminta salah seorang petugas apartemen menemaninya untuk memeriksa unit tersebut.Sang resepsionis akhirnya menuruti keinginan itu. Dan tanpa menunggu lama, Ferdi segera memasuki lift. Ia bahkan berjalan setengah berlari, meninggalkan resepsionis di belakangnya tanpa sedikit pun peduli.Ketika tiba di depan unit Melan, jantungnya makin berdebar. Ia memerhatikan resepsionis tadi memasukkan sandi untuk membuka pintu."Itu sandi yang beda," bisiknya.Wanita di depannya menoleh dengan wajah sedikit kesal. "Sudah saya bilang, unit ini kosong dan sudah dijual. Jadi sandinya tentu baru. Bapak saja yang tidak percaya.""Saya nggak akan percaya sebelum lihat sendiri isinya," cetus Ferdi.Maka saat pintu sudah terbuka, ia segera melangkah masuk. Matanya mengedar ke sekeliling.Kosong.Tidak ada barang-barang milik Melan. Hanya ada sofa, meja, dan barang-barang lain yang memang sudah ada

  • Aku Ingin Pisah   AIP 51

    Pagi-pagi sekali Ferdi sudah tampak rapi. Ia berdiri di depan cermin besar lemari sambil menyisir rambut yang entah sudah dilakukan berapa kali. Ia harus tampil sempurna karena ini pertama kalinya ia bertemu Melan setelah perempuan itu bercerai dengan Ardian."Huh! Rasanya seperti mau kencan," gumamnya yang terdengar menggelikan di telinganya sendiri.Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu.Setelah memastikan penampilannya sempurna, gegas Ferdi meraih tas kerjanya dan berjalan ke luar rumah. Ia harus tiba lebih dulu di kantor sebelum Melan. Beruntung karena masih pagi, kendaraan yang berlalu-lalang tidak terlalu padat sehingga perjalanannya lancar. Hanya memerlukan waktu 30 menit lebih, Ferdi sudah tiba di depan calon kantornya.Agenda hari ini adalah mengurus berkas untuk mengesahkan posisi Melan di perusahaan. Ferdi berharap semoga tidak ada hambatan dan tidak lama lagi bisnis ini akan berjalan.Sudah lama sekali ia memimpikan bisa bekerja sama dengan Melan. Meski perempuan itu tidak

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 5

    Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 4

    Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status