LOGINDi Pemakaman...
Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya. “Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih. Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja. Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat familier di matanya. Sebuah nisan yang selalu Mika hiasi buket bunga lili semasa hidupnya. Yah, di situlah tempat dimana Gerald dikebumikan di sana. Tempat sosok hebat yang membuat Mika selalu merasa aman karenanya. Melihat batu nisan milik Gerald, Virgo menghapus air matanya dan tersenyum. Ia meletakkan bunga yang sama di atas batu nisan milik Gerald. Ia menahan tangisnya yang sedari tadi terus menetes tanpa ia sanggup untuk menahannya. Di hadapan batu nisan itu ia mencoba bersikap tegar seperti layaknya saat menghadapi Gerald dahulu. “Hei, Brengsek!” sapanya dengan suara parau karena terlalu banyak menangis. Ia tersenyum, mengingat bagaimana sosok mengesalkan itu dulu kala. Rival menyenangkan yang membuatnya sangat berterimakasih dalam waktu yang lama. Karena rival itulah ia menyadari bagaimana arti cintanya untuk Mika sebenarnya. “Ternyata memang kau pemenangnya!” lanjutnya. “Jagalah dia untukku! Dan jangan sekali-kali masuk ke dalam mimpiku dan menggandeng tangannya!” Setelah berucap sembari menatap batu nisan milik Gerald, ia kembali menatap batu nisan milik istrinya itu. Ia membelai lembut deretan huruf bertuliskan nama lengkap mendiang istrinya itu. Ia mencoba tersenyum sejenak, menghibur hatinya yang dipenuhi luka karena duka. “Ternyata kau menghianatiku lagi, Sayang!” ujarnya. “Kita sudah bertaruh untuk menemani si brengsek ini! Tapi kenapa kau mendahuluiku tanpa bertanya...” Baru saja ia ingin mencoba nampak tegar di hadapan batu nisan istrinya, namun lagi-lagi ia tak kuasa menahan tangisannya. Ia lagi-lagi menangis sejadi-jadinya karena kepergian sosok yang teramat dicintainya itu. Lara hati yang begitu dalam seakan sesaat membuat jantungnya tertusuk dan bersimbah darah. Lara yang entah butuh berapa lama untuk menyembuhkannya itu, perlahan mulai mematahkan semangat hidupnya. Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampirinya. Wanita itu mengenakan sebuah dress berwarna hitam, lengkap dengan sebuah kaca mata yang menutupi dua matanya. Perlahan, wanita itu melepas kacamata miliknya, dan memandangi tubuh Virgo dari belakang. Memandangi sosok perkasa yang kini nampak tak berdaya di hadapannya. Melihat Virgo yang tertunduk menahan sakit hatinya itu, membuat wanita yang sedari tadi hanya memandanginya dari belakang mulai menyapanya dengan menepuk bahu kiri miliknya. “Vir...” ucapnya pelan. Sebuah suara membuat Virgo menghentikan tangisannya. Ia terdiam, tertegun. Kedua tangannya mengepal. Ada perasaan marah dalam benaknya. Ada beberapa kecurigaan yang tak berhenti berkutat di pikirannya. Betapa marahnya Virgo saat mendengar suara yang dibencinya itu. Ia langsung menoleh dan menghampiri wanita berambut pendek yang sejak tadi sudah berdiri di belakangnya. Dengan sangat tiba-tiba ia mencekik leher wanita itu tanpa peduli wanita itu mulai kesulitan bernapas. Ia menekan leher wanita itu hingga terbatuk-batuk karena tak banyak memperoleh udara untuk bernapas. “AKU YAKIN KAMU PELAKUNYA, NATA!” sentak Virgo geram. Wanita yang tak lain ternyata adalah Nata-mantan tunangan Virgo di masalalu itu nampak kualahan menghadapi lelaki di hadapannya. Ia beberapa kali mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Virgo, namun lelaki itu semakin erat menekan lehernya. Nata yang mulai menangis karena rasa sakit yang dirasakannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri sampai akhirnya ia mampu terlepas dari tangan Virgo yang sedari tadi mencekiknya. “Bukan aku Virgo! Aku tak segila dulu!” ujar Nata marah. Nata terbatuk-batuk karena sesak. Usai menstabilkan pernapasannya, wanita berusia 35 tahun itu memberanikan diri menatap sepasang mata sinis milik Virgo. “Sudah cukup sepuluh tahun aku lewati di dalam penjara karena kejahatanku yang kau lumpuhkan! Sudah cukup kau beri keluargaku pelajaran dengan merampas semua yang kami punya! Sudah cukup kau buat keluargaku sebagai budakmu! Aku tak segila itu untuk menambah semua balas dendam gilamu itu Virgo! Aku datang ke sini karena aku merasa bersalah akan diriku di masa lalu!” “Aku tak mempercayaimu sampai aku dapatkan semua bukti pelaku pembunuhan istriku!” tukas Virgo yang masih dalam amarahnya. Bagi Virgo, sulit untuk mempercayai sosok Nata yang berulang kali berdusta. Terlalu banyak kejahatan yang ia berikan kepada Mika selama ini. Meski ia sudah melakukan pembalasan dendam atas segala perbuatan mantan tunangannya itu, kemarahannya tak kunjung padam. Kebencian itu tetap terpatri dalam benaknya. Bahkan ia pun menduga bahwa Nata ada di balik tragedi meninggalnya sang istri yang sangat dicintainya. “Terserah Vir! Aku memang pantas tak di percaya! Tapi bagaimana pun juga aku berhak mengelak, karena aku benar-benar tak melakukannya!” Merasa kesal dengan Virgo, wanita itu memberikan buket bunga yang dibawanya dengan kasar ke tangan Virgo. Ia melangkah pergi karena kesal dengan tuduhan yang Virgo berikan. Kesal dengan kehadiran Nata, membuatnya membuang kembali sebuket bunga yang Nata berikan untuk Mika. Sambil memperhatikan langkah Nata yang mulai meninggalkan area pemakaman dari belakang, Virgo merogoh saku bajunya. Ia mengambil sebuah ponsel dan menghubungi seseorang. Ia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, ia mencoba menegarkan hati untuk mencari tahu dalang di balik kepergian istrinya itu. Ia tak bisa percaya bahwa Mika meninggal murni karena kecelakaan. Melihat beberapa orang yang terlampau jahat padanya selama ini, Virgo pun mempunyai firasat bahwa ada seseorang di balik peristiwa duka yang menyerangnya itu. Beberapa menit kemudian, panggilan itu di terima oleh seseorang yang menjadi tujuan utama panggilannya itu. Dengan wajah seriusnya ia pun mulai mengatakan maksudnya kepada si penerima telepon. “Cari semua bukti! Kalian harus menemukannya secepat mungkin!” perintahnya pada seseorang yang dipercaya olehnya untuk membantu mengusut tragedi kematian istrinya. “Baik, Tuan!” jawab si penerima telepon yang tak lain adalah salah seorang yang menjadi kepercayaannya. Setelah ia memasukkan ponselnya kembali, ia pun meninggalkan pemakaman untuk pergi menemui Sera-anak pertamanya. Ia takut gadis mungil itu masih tak bisa menerima kepergian ibunya. Meski Sera telah mengetahui keadaan ibu kandungnya itu, namun Virgo tetap tak ingin putri kesayangannya itu semakin bersedih melihat ibu yang dicintainya dikebumikan. Jadi, Virgo menitipkan Sera kepada ayah dan ibunya. Namun langkahnya terhenti sejenak saat melihat satu pemandangan yang tak mengenakan. Di area parkir, ia melihat seorang gadis berusia sekitar 18 tahun tengah beberapa kali mendapat tamparan dari seorang wanita paruh baya yang cukup familier di matanya. Pandangannya pun terarah kepada sosok gadis yang ditampar oleh majikannya itu. Ia melihat sosok gadis yang pernah beberapa kali menolongnya dan juga Mika saat berada di Korea untuk bisnis baru yang diminatinya. Ia pun setengah terkejut karena tak menyangka bahwa sosok pendiam itu banyak mendapat hujatan dan makian serta serangan fisik dari majikannya. “Bella?” gumamnya mengingat nama sosok yang tengah menjadi korban kebrutalan majikannya itu. Ia mengubah arah langkah kakinya, namun ia kembali berhenti. Ia menggelengkan kepala, menolak satu tindakan yang hendak diperlihatkannya kepada sosok yang familiar di matanya itu. “Ini bukan urusanku! Yah, untuk apa aku mencampuri urusan mereka.” Virgo pun melanjutkan perjalanannya meski ia sesekali menoleh ke arah gadis muda yang tak henti-hentinya mendapatkan cacian bahkan kekerasan fisik dari majikannya. Entah mengapa, mendengar tangisan yang semakin menjadi-jadi dari Bela, membuatnya mengubah arah jalan. Ia menghampiri sosok yang sejenak mengalihkan pandangannya dari rasa duka yang menyelimuti batinnya. Saat wanita paruh baya itu hendak melayangkan kembali tangannya kepada remaja malang itu, dengan cepat Virgo berjalan dan kemudian menahan tangan itu saat ada di sekitar mereka. Wanita paruh baya itu nampak sangat terkejut melihat kehadiran Virgo yang secara tiba-tiba ada di hadapannya. Sementara Virgo mencoba memasang senyum ramahnya kepada sosok kejam itu. “Apa kabar Nyonya Arman?” tanyanya ringan. Wanita paruh baya yang ternyata merupakan salah satu istri dari rekan bisnisnya itu nampak sangat terkejut. Lalu dengan penuh sandiwara ia mencoba tersenyum di hadapan Virgo yang menyapanya. “Tuan Virgo! Aku pikir siapa!” serunya dengan senyum lebar. Dengan isyarat mata ia meminta Bitna untuk meninggalkan keduanya. “Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Mikayla, Tuan.” lanjut Nyonya Arman santai. Bukannya menatap Nyonya Arman yang mengajaknya bicara, Virgo malah memperhatikan Bela yang berdiri di samping mobil majikannya. Wajah wanita itu memerah karena tamparan yang nampaknya tidak sekali atau dua kali ia dapatkan dari majikannya itu. Bela yang merasa diperhatikan pun langsung menundukkan kepalanya. Ia sungguh takut jika Nyonya besarnya hendak menegurnya lagi dengan cara yang sama. “Apa kau tertarik dengan pembantuku itu?” sindir Nyonya Arman. Virgo tersenyum. “Siapa yang tidak akan tergiur dengan wanita secantik itu Nyonya. Jika aku ingin, aku bisa membelinya kapan saja. Tapi sayang, aku belum ada waktu untuk itu. Istriku saja baru meninggal, dan aku tak mungkin membelinya hanya karena kasihan melihat luka di wajah cantiknya itu.” Merasa tersindir dengan perkataan Virgo, Nyonya Arman pun mengepalkan kedua tangannya. Ia melampiaskan kekesalannya itu. “Apa salahnya, Tuan? Lelaki sekaya dirimu bisa menyudahi masa dudamu kapanpun. Dan setelah aku pikir, Bela cukup bagus bila di bandingkan dengan...” Nyonya Arman menghentikan ucapannya saat ia menyadari betapa kesalnya raut wajah Virgo saat menatapnya. Lelaki itu tersinggung dengan ucapan istri rekan pebisnisnya itu. “Jika aku bisa membandingkannya dengan istriku, itu berarti tidak memungkiri bahwa bisa saja Tuan Arman membandingkan kecantikannya yang tiada tara dengan Anda.” “A-apa?” Nyonya Arman semakin terpancing. Melihat kemarahan Nyonya Arman setelah mendengar perkataannya membuat Virgo tersenyum smirk. Lelaki itu sungguh merasa sangat puas. Kesal dengan apa yang diucapkan oleh Virgo, Nyonya Aman bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ketika Bela hendak ikut masuk ke dalam mobilnya, secara tiba-tiba wanita itu mendorongnya hingga terjatuh mencium tanah. Lalu dilemparkannya beberapa lembar uang seratus ribuan ke wajah Bela yang saat itu masih nampak bingung dengan perlakuan majikannya. “Pulanglah sendiri ke hotel! Aku tak sudi satu mobil dengan wanita miskin sepertimu!” ‘BRAK!’ Nyonya Arman membanting pintu mobilnya hingga membuat Bela terkejut. Lalu ia meminta sopir pribadinya untuk mulai mengemudikan mobilnya. Virgo menatap Bela dengan ekspresi datar. Dan tak lama setelahnya wanita itu menoleh ke arahnya. Menatap mata Virgo dengan ekspresi diluar dugaan. Wanita itu nampak sangat marah karena Virgo terlalu banyak ikut campur dengan masalah yang di hadapinya. “Harusnya aku tak semarah ini di hari Tuan berduka!” ucap Bela dengan logat khas sunda yang masih kental meski ia berbahasa Indonesia. “Tapi lihat! Ini yang aku dapatkan karena Tuan terlalu banyak ikut campur!” Virgo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia menatap gadis yang terlampau jauh lebih muda darinya itu dengan wajah yang sangat santai. “Setidaknya kau membiarkan aku ikut campur sampai kau menemukan jalan pulang ke tempat majikanmu menginap...” Tak ada kata yang terucap dari mulut Bela, wanita itu menatap wajah Virgo dengan sangat sinis. “Beri aku tumpangan!” Mendengar perkataan Bela setelah beberapa menit terdiam karena kesal, Virgo tersenyum. Dengan isyarat matanya ia meminta gadis itu mengikutinya.“APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terombang-ambing dalam dasar laut yang gelap. Debaran tak terkendali itu benar-benar menyesakkan dadanya. “Me-menikah T-Tuan?”Kedua mata Bela terbelalak lebar setelah mendengar hal yang baginya sangat aneh. Benar-benar sangat aneh, karena tiba-tiba saja, lelaki berperawakan tampan itu menyatakan maksud hatinya untuk menikahi Bela. Virgo memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Ia menatap mata gadis itu lekat-lekat. Wajahnya mendekat, hingga kini keduanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari hidung ke hidung. Sungguh jelas napas demi napas yang Virgo dan Bela hirup dan hembuskan. Bahkan tiba-tiba saja hal itu membuat jantung Bela kembali berdebar semakin hebat. Takut Virgo mendengar debara
1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adalah anak dari Nyonya Arman majikannya. Gadis berdarah asli Sunda-cina itu tak seberuntung teman-temannya. Ia harus merelakan dirinya membantu kedua orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Arman. Tak di sangka, untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari majikannya. Nyonya Arman kesal saat salah seorang penata busana mengira bahwa Bela adalah salah satu anaknya. Oleh karenanya ketika keduanya keluar dari butik yang megah itu, Nyonya Arman tak segan mendaratkan tamparannya di pipi gadis muda itu.“Beraninya kau!” umpat Nyonya Arman.Bela hanya tertunduk karena tak kuasa menahan ketakutannya akan sikap kasar Nyonya Arman padanya. Ini untuk kesekian kalinya ia mendapatkan tampar
Di Pemakaman... Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya. “Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih. Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja. Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat famil
‘Lima belas tahun aku lewati bersamamu, tak ku sangka untuk pertama kalinya kamu membuatku takut kembali setelah waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Aku sungguh tak menyangka akan berlari seperti ini lagi untukmu setelah waktu bahagia yang kita lewatkan bersama-sama.’ Virgo kala itu baru saja pulang dari Korea ketika ia mendengar kabar tak mengenakan tentang istrinya-Mika. Dengan peluh yang tak berhenti membasahi tubuhnya, ia berlarian menyusuri lorong rumah sakit tempat dimana Mika di rawat setelah kecelakaan yang menimpanya. Kedua matanya pun tak berhenti menitikkan air mata karena kekhawatiran yang ia rasakan. “Mika! Ku mohon...” ujarnya sembari terus berlarian mencari ruang dimana istrinya tengah di operasi. Kekhawatiran yang sungguh menyiksa, apalagi mengingat bahwa saat ini Mika tengah mengandung anak keduanya. Pagi tadi, ia berencana untuk membeli beberapa hadiah untuk menyambut kedatangan suaminya. Tanpa di dampingi siapapun di sampingnya, ia mengoperasikan kursi rodanya







