Share

Bela

last update publish date: 2026-05-13 15:25:44

Di Pemakaman...

Sebuah buket bunga lili berwarna putih Virgo letakkan di atas batu nisan istrinya. Tangisnya kembali pecah. Ia sungguh tak mampu menahan air matanya. Teringat olehnya bagaimana senyuman cantik itu menyambutnya saat ia memberikan buket bunga lili kesukaannya. Kini, ia sungguh tak menyangka akan memberikan buket bunga itu di tempat yang membuatnya merasakan sakit hati yang tiada tara. Karena perpisahan yang Tuhan berikan adalah perpisahan yang paling sulit untuk diikhlaskan begitu saja, meski telah mencoba untuk mengikhlaskannya.

“Maafkan aku Mika! Aku gagal melindungimu dan anak kita!” ucapnya lirih.

Tak peduli berapa banyak ucapan duka yang terdengar di telinganya dari para pengunjung yang datang di pemakaman Mika hari itu. Virgo hanya terdiam di depan batu nisan bertuliskan nama istrinya. Ia menangis sejadi-jadinya di sana. Ia sungguh berharap bahwa hari ini adalah mimpi buruk yang harus dilewatinya semalam saja.

Lalu, di tatapnya pula batu nisan yang sangat familier di matanya. Sebuah nisan yang selalu Mika hiasi buket bunga lili semasa hidupnya. Yah, di situlah tempat dimana Gerald dikebumikan di sana. Tempat sosok hebat yang membuat Mika selalu merasa aman karenanya.

Melihat batu nisan milik Gerald, Virgo menghapus air matanya dan tersenyum. Ia meletakkan bunga yang sama di atas batu nisan milik Gerald. Ia menahan tangisnya yang sedari tadi terus menetes tanpa ia sanggup untuk menahannya. Di hadapan batu nisan itu ia mencoba bersikap tegar seperti layaknya saat menghadapi Gerald dahulu.

“Hei, Brengsek!” sapanya dengan suara parau karena terlalu banyak menangis.

Ia tersenyum, mengingat bagaimana sosok mengesalkan itu dulu kala. Rival menyenangkan yang membuatnya sangat berterimakasih dalam waktu yang lama. Karena rival itulah ia menyadari bagaimana arti cintanya untuk Mika sebenarnya.

“Ternyata memang kau pemenangnya!” lanjutnya. “Jagalah dia untukku! Dan jangan sekali-kali masuk ke dalam mimpiku dan menggandeng tangannya!”

Setelah berucap sembari menatap batu nisan milik Gerald, ia kembali menatap batu nisan milik istrinya itu. Ia membelai lembut deretan huruf bertuliskan nama lengkap mendiang istrinya itu. Ia mencoba tersenyum sejenak, menghibur hatinya yang dipenuhi luka karena duka.

“Ternyata kau menghianatiku lagi, Sayang!” ujarnya. “Kita sudah bertaruh untuk menemani si brengsek ini! Tapi kenapa kau mendahuluiku tanpa bertanya...”

Baru saja ia ingin mencoba nampak tegar di hadapan batu nisan istrinya, namun lagi-lagi ia tak kuasa menahan tangisannya. Ia lagi-lagi menangis sejadi-jadinya karena kepergian sosok yang teramat dicintainya itu. Lara hati yang begitu dalam seakan sesaat membuat jantungnya tertusuk dan bersimbah darah. Lara yang entah butuh berapa lama untuk menyembuhkannya itu, perlahan mulai mematahkan semangat hidupnya.

Tak lama kemudian, seorang wanita datang menghampirinya. Wanita itu mengenakan sebuah dress berwarna hitam, lengkap dengan sebuah kaca mata yang menutupi dua matanya. Perlahan, wanita itu melepas kacamata miliknya, dan memandangi tubuh Virgo dari belakang. Memandangi sosok perkasa yang kini nampak tak berdaya di hadapannya. Melihat Virgo yang tertunduk menahan sakit hatinya itu, membuat wanita yang sedari tadi hanya memandanginya dari belakang mulai menyapanya dengan menepuk bahu kiri miliknya.

“Vir...” ucapnya pelan.

Sebuah suara membuat Virgo menghentikan tangisannya. Ia terdiam, tertegun. Kedua tangannya mengepal. Ada perasaan marah dalam benaknya. Ada beberapa kecurigaan yang tak berhenti berkutat di pikirannya.

Betapa marahnya Virgo saat mendengar suara yang dibencinya itu. Ia langsung menoleh dan menghampiri wanita berambut pendek yang sejak tadi sudah berdiri di belakangnya. Dengan sangat tiba-tiba ia mencekik leher wanita itu tanpa peduli wanita itu mulai kesulitan bernapas. Ia menekan leher wanita itu hingga terbatuk-batuk karena tak banyak memperoleh udara untuk bernapas.

“AKU YAKIN KAMU PELAKUNYA, NATA!” sentak Virgo geram.

Wanita yang tak lain ternyata adalah Nata-mantan tunangan Virgo di masalalu itu nampak kualahan menghadapi lelaki di hadapannya. Ia beberapa kali mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Virgo, namun lelaki itu semakin erat menekan lehernya. Nata yang mulai menangis karena rasa sakit yang dirasakannya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan diri sampai akhirnya ia mampu terlepas dari tangan Virgo yang sedari tadi mencekiknya.

“Bukan aku Virgo! Aku tak segila dulu!” ujar Nata marah.

Nata terbatuk-batuk karena sesak. Usai menstabilkan pernapasannya, wanita berusia 35 tahun itu memberanikan diri menatap sepasang mata sinis milik Virgo.

“Sudah cukup sepuluh tahun aku lewati di dalam penjara karena kejahatanku yang kau lumpuhkan! Sudah cukup kau beri keluargaku pelajaran dengan merampas semua yang kami punya! Sudah cukup kau buat keluargaku sebagai budakmu! Aku tak segila itu untuk menambah semua balas dendam gilamu itu Virgo! Aku datang ke sini karena aku merasa bersalah akan diriku di masa lalu!”

“Aku tak mempercayaimu sampai aku dapatkan semua bukti pelaku pembunuhan istriku!” tukas Virgo yang masih dalam amarahnya.

Bagi Virgo, sulit untuk mempercayai sosok Nata yang berulang kali berdusta. Terlalu banyak kejahatan yang ia berikan kepada Mika selama ini. Meski ia sudah melakukan pembalasan dendam atas segala perbuatan mantan tunangannya itu, kemarahannya tak kunjung padam. Kebencian itu tetap terpatri dalam benaknya. Bahkan ia pun menduga bahwa Nata ada di balik tragedi meninggalnya sang istri yang sangat dicintainya.

“Terserah Vir! Aku memang pantas tak di percaya! Tapi bagaimana pun juga aku berhak mengelak, karena aku benar-benar tak melakukannya!”

Merasa kesal dengan Virgo, wanita itu memberikan buket bunga yang dibawanya dengan kasar ke tangan Virgo. Ia melangkah pergi karena kesal dengan tuduhan yang Virgo berikan.

Kesal dengan kehadiran Nata, membuatnya membuang kembali sebuket bunga yang Nata berikan untuk Mika. Sambil memperhatikan langkah Nata yang mulai meninggalkan area pemakaman dari belakang, Virgo merogoh saku bajunya. Ia mengambil sebuah ponsel dan menghubungi seseorang.

Ia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya, ia mencoba menegarkan hati untuk mencari tahu dalang di balik kepergian istrinya itu. Ia tak bisa percaya bahwa Mika meninggal murni karena kecelakaan. Melihat beberapa orang yang terlampau jahat padanya selama ini, Virgo pun mempunyai firasat bahwa ada seseorang di balik peristiwa duka yang menyerangnya itu.

Beberapa menit kemudian, panggilan itu di terima oleh seseorang yang menjadi tujuan utama panggilannya itu. Dengan wajah seriusnya ia pun mulai mengatakan maksudnya kepada si penerima telepon.

“Cari semua bukti! Kalian harus menemukannya secepat mungkin!” perintahnya pada seseorang yang dipercaya olehnya untuk membantu mengusut tragedi kematian istrinya.

“Baik, Tuan!” jawab si penerima telepon yang tak lain adalah salah seorang yang menjadi kepercayaannya.

Setelah ia memasukkan ponselnya kembali, ia pun meninggalkan pemakaman untuk pergi menemui Sera-anak pertamanya. Ia takut gadis mungil itu masih tak bisa menerima kepergian ibunya. Meski Sera telah mengetahui keadaan ibu kandungnya itu, namun Virgo tetap tak ingin putri kesayangannya itu semakin bersedih melihat ibu yang dicintainya dikebumikan. Jadi, Virgo menitipkan Sera kepada ayah dan ibunya.

Namun langkahnya terhenti sejenak saat melihat satu pemandangan yang tak mengenakan. Di area parkir, ia melihat seorang gadis berusia sekitar 18 tahun tengah beberapa kali mendapat tamparan dari seorang wanita paruh baya yang cukup familier di matanya. Pandangannya pun terarah kepada sosok gadis yang ditampar oleh majikannya itu. Ia melihat sosok gadis yang pernah beberapa kali menolongnya dan juga Mika saat berada di Korea untuk bisnis baru yang diminatinya. Ia pun setengah terkejut karena tak menyangka bahwa sosok pendiam itu banyak mendapat hujatan dan makian serta serangan fisik dari majikannya.

“Bella?” gumamnya mengingat nama sosok yang tengah menjadi korban kebrutalan majikannya itu.

Ia mengubah arah langkah kakinya, namun ia kembali berhenti. Ia menggelengkan kepala, menolak satu tindakan yang hendak diperlihatkannya kepada sosok yang familiar di matanya itu.

“Ini bukan urusanku! Yah, untuk apa aku mencampuri urusan mereka.”

Virgo pun melanjutkan perjalanannya meski ia sesekali menoleh ke arah gadis muda yang tak henti-hentinya mendapatkan cacian bahkan kekerasan fisik dari majikannya. Entah mengapa, mendengar tangisan yang semakin menjadi-jadi dari Bela, membuatnya mengubah arah jalan. Ia menghampiri sosok yang sejenak mengalihkan pandangannya dari rasa duka yang menyelimuti batinnya.

Saat wanita paruh baya itu hendak melayangkan kembali tangannya kepada remaja malang itu, dengan cepat Virgo berjalan dan kemudian menahan tangan itu saat ada di sekitar mereka. Wanita paruh baya itu nampak sangat terkejut melihat kehadiran Virgo yang secara tiba-tiba ada di hadapannya. Sementara Virgo mencoba memasang senyum ramahnya kepada sosok kejam itu.

“Apa kabar Nyonya Arman?” tanyanya ringan.

Wanita paruh baya yang ternyata merupakan salah satu istri dari rekan bisnisnya itu nampak sangat terkejut. Lalu dengan penuh sandiwara ia mencoba tersenyum di hadapan Virgo yang menyapanya.

“Tuan Virgo! Aku pikir siapa!” serunya dengan senyum lebar.

Dengan isyarat mata ia meminta Bitna untuk meninggalkan keduanya.

“Saya turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Mikayla, Tuan.” lanjut Nyonya Arman santai.

Bukannya menatap Nyonya Arman yang mengajaknya bicara, Virgo malah memperhatikan Bela yang berdiri di samping mobil majikannya. Wajah wanita itu memerah karena tamparan yang nampaknya tidak sekali atau dua kali ia dapatkan dari majikannya itu. Bela yang merasa diperhatikan pun langsung menundukkan kepalanya. Ia sungguh takut jika Nyonya besarnya hendak menegurnya lagi dengan cara yang sama.

“Apa kau tertarik dengan pembantuku itu?” sindir Nyonya Arman.

Virgo tersenyum.

“Siapa yang tidak akan tergiur dengan wanita secantik itu Nyonya. Jika aku ingin, aku bisa membelinya kapan saja. Tapi sayang, aku belum ada waktu untuk itu. Istriku saja baru meninggal, dan aku tak mungkin membelinya hanya karena kasihan melihat luka di wajah cantiknya itu.”

Merasa tersindir dengan perkataan Virgo, Nyonya Arman pun mengepalkan kedua tangannya. Ia melampiaskan kekesalannya itu.

“Apa salahnya, Tuan? Lelaki sekaya dirimu bisa menyudahi masa dudamu kapanpun. Dan setelah aku pikir, Bela cukup bagus bila di bandingkan dengan...”

Nyonya Arman menghentikan ucapannya saat ia menyadari betapa kesalnya raut wajah Virgo saat menatapnya. Lelaki itu tersinggung dengan ucapan istri rekan pebisnisnya itu.

“Jika aku bisa membandingkannya dengan istriku, itu berarti tidak memungkiri bahwa bisa saja Tuan Arman membandingkan kecantikannya yang tiada tara dengan Anda.”

“A-apa?” Nyonya Arman semakin terpancing.

Melihat kemarahan Nyonya Arman setelah mendengar perkataannya membuat Virgo tersenyum smirk. Lelaki itu sungguh merasa sangat puas.

Kesal dengan apa yang diucapkan oleh Virgo, Nyonya Aman bergegas masuk ke dalam mobilnya. Ketika Bela hendak ikut masuk ke dalam mobilnya, secara tiba-tiba wanita itu mendorongnya hingga terjatuh mencium tanah. Lalu dilemparkannya beberapa lembar uang seratus ribuan ke wajah Bela yang saat itu masih nampak bingung dengan perlakuan majikannya.

“Pulanglah sendiri ke hotel! Aku tak sudi satu mobil dengan wanita miskin sepertimu!”

‘BRAK!’

Nyonya Arman membanting pintu mobilnya hingga membuat Bela terkejut. Lalu ia meminta sopir pribadinya untuk mulai mengemudikan mobilnya.

Virgo menatap Bela dengan ekspresi datar. Dan tak lama setelahnya wanita itu menoleh ke arahnya. Menatap mata Virgo dengan ekspresi diluar dugaan. Wanita itu nampak sangat marah karena Virgo terlalu banyak ikut campur dengan masalah yang di hadapinya.

“Harusnya aku tak semarah ini di hari Tuan berduka!” ucap Bela dengan logat khas sunda yang masih kental meski ia berbahasa Indonesia. “Tapi lihat! Ini yang aku dapatkan karena Tuan terlalu banyak ikut campur!”

Virgo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ia menatap gadis yang terlampau jauh lebih muda darinya itu dengan wajah yang sangat santai.

“Setidaknya kau membiarkan aku ikut campur sampai kau menemukan jalan pulang ke tempat majikanmu menginap...”

Tak ada kata yang terucap dari mulut Bela, wanita itu menatap wajah Virgo dengan sangat sinis.

“Beri aku tumpangan!”

Mendengar perkataan Bela setelah beberapa menit terdiam karena kesal, Virgo tersenyum. Dengan isyarat matanya ia meminta gadis itu mengikutinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menginginkanmu   Kenangan Apa Yang Aku Lupakan?

    “Sekarang ikutlah denganku, kita akan mengantar ibumu terlebih dahulu.”Pertengkaran yang begitu hebat, membuat Tuan Arman bersedia melepaskan Bela dan ibunya. Ia tak ingin membuat Virgo berlama-lama menyaksikan bagaimana keributan yang ada di rumahnya. Ia bisa membawa Bela dan ibunya keluar dari rumah itu dengan kesepakatan yang sudah ia sepakati bersama dengan Tuan Arman untuk melunasi semua hutang pembantunya itu hari ini. Kini, Bela ada di dalam mobil bersama Virgo dan ibunya. Ia duduk di depan bersama Virgo sesuai dengan permintaan sang ibu. Sementara Asih-ibunya, duduk di kursi belakang bersama beberapa barang yang dibawahnya menuju ke rumah baru. Meski sudah terbebas, Asih hanya ingin kembali ke rumahnya yang dulu. Tempat itu terletak di sebuah pemukiman kecil dengan hamparan pantai yang luas. Tempat dimana dahulu Bela dilahirkan dan menikmati masa kecilnya sebelum kemudian keluarganya pindah ke Jakarta untuk bekerja dengan keluarga Tuan Arman.Di dalam mobil, Bela tampak tak

  • Aku Menginginkanmu   Dia Tahu Luka Lama yang Aku Lupakan

    Asih masih tak percaya jika anaknya akan menikah dengan salah seorang pengusaha yang terkenal dengan kesuksessannya. Ia memandangi Asih , yang kini menyeringai di hadapannya, karena tanpa sadar kedatangan Virgo di antara mereka membuat ibunya sangat terkejut. Lalu dengan bahasa isyaratnya pun, Asih mulai menanyakan keheranannya itu kepada Bela-anaknya.“Apa ini sungguh-sungguh Bela? Bagaimana bisa kamu dan Tuan Virgo tiba-tiba saja memutuskan hal ini?”Bela mendekati ibunya yang ada di hadapannya. Ia meraih tangan ibunya dan mendekapnya di depan dada. “Ibu, berjanjilah untuk tak lagi menanyakan mengapa dan bagaimana ini terjadi mulai detik ini juga.” ucapnya pelan. “Hanya satu yang harus ibu ketahui, Bela hanya ingin kita kembali bahagia seperti dulu. Bela hanya ingin melihat senyuman ibu dan amarah ibu kepadaku seorang. Bela hanya ingin penderitaan ini berakhir. Dan Bela berharap, ibu tidak menanyakan lagi tentang apa yang ada di dalam hati ini sesungguhnya. Anggap saja, aku telah b

  • Aku Menginginkanmu   Kedatangan Virgo

    Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar Bela. Bela membuka perlahan kedua matanya sembari memegangi pipinya yang kian hari semakin terasa sakitnya. Hari ini ia harus mengantar Nyonya Arman ke salon untuk membawakan barang belanjaannya seperti biasa. Namun ketika ia membuka matanya.“Selamat pagi Nona Bela!”“AAAAAAAAAAAAAAAAA!” Ia berteriak karena terkejut melihat Virgo yang tiba-tiba saja ada di hadapannya. Lelaki itu sejak tadi sepertinya tengah memperhatikan wajahnya ketika tertidur. Melihat Bela yang terkejut, Virgo menatapnya dengan tatapan anehnya. Satu alisnya terangkat menatap wanita muda di hadapannya.Merasa tak nyaman dengan kehadiran sosok Virgo, Bela beranjak dari tidurnya dan menutup dadanya dengan selimut yang masih dipakainya. Kedua matanya terbelalak lebar menatap lelaki yang kini tengah memandanginya dengan ekspresi biasa saja.“Haish, apakah aku sejelek itu sampai kau berteriak?” sindir Virgo yang sudah berdiri dan melipat kedua tangannya di depa

  • Aku Menginginkanmu   Alasan Mengapa Harus Menikah

    Arya masih tak menyangka bahwa wanita yang pernah singgah di hatinya itu merobek buku rekeningnya begitu saja. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana sorot mata Bela yang menatapnya tajam. Wanita itu tak seperti biasanya. Ia memperlihatkan rasa bencinya terhadap Arya yang baru saja beberapa jam menyakitinya.“Bela, aku bisa mengerti jika kau masih sangat kesal bahkan mungkin membenci diriku.” ucap Arya pelan. “Tapi bagaimanapun juga, uang itu adalah milik kita. Dan sebagian besar adalah milikmu, hasil dari kerja kerasmu selama ini. Seharusnya kamu...”“Maka karena itulah aku harus menghancurkannya.” potong Bela kemudian. “Aku bekerja, mengumpulkan semua itu karena pernah memiliki mimpi yang indah denganmu. Tapi apa gunanya itu sekarang.”“Setidaknya, dengan uang itu kamu bisa menyelesaikan masalahmu dengan keluarga Arman, Bela.”Bela tersenyum smirk. Ia merasa aneh dengan wujud perhatian yang Arya tunjukkan kepadanya. Berminggu-minggu lelaki itu tanpa kabar, bahkan sedetik pun tak pe

  • Aku Menginginkanmu   Datangnya Keberanian

    Bela masih terperangah menatap Fani-majikannya yang nampak sangat marah padanya. Rasa nyeri yang luar biasa ia rasakan di pipinya. Kini, pipi itu tak hanya memerah, tapi keadaannya sudah semakin parah. Tak hanya sekedar bengkak, pipi yang ditampar oleh Fani sedikit tergores dengan cincin yang dikenakannya.“Dasar anak pembantu gak tau malu! Berani-beraninya kamu merayu lelaki yang ku sukai!”Bela terdiam, ia menundukkan kepalanya karena takut. Tangannya pun gemetaran. Namun, entah mengapa ia teringat dengan perkataan Virgo saat di mobil.‘Terkadang kita harus menunjukkan sikap yang sesungguhnya, alih-alih hanya mampu menerima untuk selalu disakiti.’ Kalimat itu terus menggema dalam pikiran Bela. Perkataan Virgo ada benarnya. Selama ini ia hanya diam saja ketika majikannya itu memaki bahkan memukulnya meski ia tak melakukan kesalahan. Tapi, perkataan Virgo di mobil tadi membuat Bela merasa bahwa sudah saatnya ia berhenti berdiam diri. Ia harus mempertahankan haknya sebagai seorang ma

  • Aku Menginginkanmu   Harga diri

    “Sekarang, aku akan mengantarmu ke rumah keluarga Arman. Aku akan membelimu hari ini juga.” ucap Virgo tegas saat keduanya ada di dalam mobil.“Bisakah Tuan tidak mengatakan hal itu lagi?” Nampaknya Bela tidak menyukai perkataan Virgo. Namun Virgo nampaknya masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bela. Ia tak merasa bahwa telah melakukan kesalahan. Baginya, ia hanya mengungkapkan hal yang memang akan dia lakukan.“Apa aku melakukan kesalahan?”Bela menghela napas sejenak. Meski ia tak berhak marah, namun baginya ia tetap harus mempertegas perkataan yang pantas. “Berhentilah berkata bahwa Tuan akan membeliku, meski itu memang kenyataan yang aku hadapi.” jawab Bela. “Setiap Tuan mengatakannya, aku merasa bahwa aku benar-benar manusia yang tidak punya harga diri.”CKIIT!Tiba-tiba saja Virgo menghentikan laju mobilnya. Perkataan Bela membuatnya tertegun. Apa yang dikatakan wanita itu sepenuhnya benar. Tanpa sadar Virgo terjebak dalam sikap angkuhnya. Perlahan ia menoleh ke arah Be

  • Aku Menginginkanmu   Diperlakukan seperti Kotoran

    Bela menggelengkan kepalanya. Ia sungguh menolak keras ajakan yang Rio maksudkan itu. “M-maaf Tuan, Saya harus...” Belum sempat Bela berpamitan, pemuda itu sudah menariknya, lalu melemparnya ke atas ranjang. Bela yang menyadari situasi tak mengenakan itu, dengan cepat beranjak dari tempatnya ka

  • Aku Menginginkanmu   Budak yang Diinjak

    Bela sampai dikediaman keluarga Arman. Ia masih membawa kebingungannya akan ajakan menikah itu. Dan ketika ia masuk melalui pintu dapur keluarga Armah, ia melihat satu pemandangan yang cukup menyayat hatinya. Ia melihat Asih-ibunya, duduk sambil menangis di bawah kaki Nyonya Arman. Bela pun terh

  • Aku Menginginkanmu   Bimbang

    “APA?” Keterkejutannya itu tanpa sadar membuat Bela berteriak. Menyadari bahwa Virgo sangat terganggu dengan responnya, Bitna menutup kedua mulutnya. Ia menundukkan kembali wajahnya sejenak.‘Kau mau mati ya Bela?’ gumamnya dalam hati.Kini tak hanya gemetaran, jantung Bela pun seakan tengah terom

  • Aku Menginginkanmu   Ajakan Menikah

    1 tahun kemudian ‘PLAK!’Dia adalah Bela, Adelia Amabella. Gadis berusia 19 tahun itu membantu ibunya yang merupakan pembantu rumah tangga di keluarga Arman. Gadis itu memiliki perawakan cantik nan putih bak bidadari, sehingga berulang kali orang yang berjumpa dengannya mengira bahwa dirinya adala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status