LOGINSore hari mulai merambat turun, meninggalkan semburat jingga yang memantul di dinding kaca rumah mewah milik Arsya. Angin berembus pelan di area teras yang luas itu, membuat dedaunan tanaman hias bergoyang lembut.Namun, suasana tenang itu sama sekali tidak memengaruhi Sean.Laki-laki itu berdiri mematung seorang diri di teras rumah sambil sesekali melirik jam mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Wajah tampannya sudah ditekuk kesal sejak beberapa menit terakhir.“Lama sekali sekretaris itu!” pekiknya geram.Kakinya menghentak lantai beberapa kali, seolah sedang melampiaskan emosi yang terus menumpuk di kepalanya.Di tengah kekesalannya, suara gerbang otomatis akhirnya terdengar terbuka.Sean langsung menoleh cepat.Dari kejauhan, mobil hitam milik Ken melaju masuk dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya berhenti tepat di halaman depan rumah.“Akhirnya datang juga badebah satu itu,” dengus Sean pelan dengan wajah masam.Kini suasana rumah Arsya sudah jauh lebih lengang diband
“Apa yang meluber?” tanya Ken polos.“Aaa! Udah diam! Kenapa malah diperpanjang sih?” Sisil menahan malu yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun.Pipinya memerah sempurna. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Ken terlalu lama. Rasanya ingin menghilang saja dari mall itu.Tanpa banyak bicara, Ken langsung melepaskan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dengan gerakan santai, ia melingkarkan jas itu ke pinggang Sisil untuk menutupi bagian belakang rok gadis itu.“Jangan! Nanti jas kamu kena darah juga,” protes Sisil cepat sambil berusaha melepas jas tersebut.Namun, dengan sigap Ken menahan kedua tangan gadis itu. “Itu cuma darah, kan?” tanyanya sambil menatap lekat mata Sisil.Dag!Jantung Sisil langsung berdebar keras.Tatapan Ken terlalu dekat. Terlalu intens. Terlalu membuat napasnya berantakan. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka saling bertatapan sedekat ini, tapi entah kenapa kali ini terasa berbeda. Sangat berbeda.“I-iya … cuma darahku, tapi—”“Tapi apa?” sela Ken pelan deng
Tanpa menunggu lama, Ken melangkah keluar dari butik, lalu berjalan beriringan dengan Sisil menuju area parkir. Sementara itu, Angkasa membuntuti langkah keduanya dari belakang. Laki-laki itu tampaknya memang berniat mengantar mereka sampai ke teras butik.Begitu Ken membuka pintu mobil untuk Sisil, Angkasa tersenyum tipis. “Hati-hati di jalan, Tuan Ken.”Ken hanya menganggukkan kepalanya singkat sebelum masuk ke kursi kemudi. Mesin mobil segera menyala halus, lalu kendaraan mewah itu perlahan meninggalkan area butik.Saat mobil bergerak keluar, Ken sempat menekan klakson pelan sebagai tanda berpamitan. Angkasa yang masih berdiri di teras butik membalas dengan lambaian tangan hormat.Sisil melirik ke arah belakang melalui kaca spion samping.“Oh, ternyata dia masih punya hati,” gumamnya pelan.“Apa?” tanya Ken sekilas.“Bukan apa-apa.”Ken tidak menanggapi lagi. Kedua tangannya fokus menggenggam setir sambil menatap lurus ke jalanan kota yang mulai ramai menjelang sore.Beberapa menit
“Ini tempat apa?” tanya Sisil sambil menatap bangunan megah di hadapannya.Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah butik dengan dinding kaca tinggi dan lampu kristal yang berkilauan dari dalam. Bahkan dari luar saja, tempat itu sudah terlihat sangat mahal.“Kita mau fitting baju hari ini,” jawab Ken singkat.“Fi-fitting baju?” Sisil menoleh cepat dengan mata membulat tidak percaya.Ken hanya menganggukkan kepala pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.“Kenapa secepat ini?” lanjut Sisil heran.“Secepat ini?” Ken akhirnya menoleh. Tatapannya lurus menembus mata Sisil. “Lalu maumu berapa lama?”Glek.Sisil langsung menelan salivanya gugup. Ia sadar, salah bicara sedikit saja bisa membuat laki-laki itu kesal. Dan ia jelas tidak ingin calon suaminya berubah pikiran.“Emangnya kapan?” tanyanya lebih pelan.“Satu minggu lagi.”Duarr!Jawaban itu terasa seperti bom atom yang meledak berkali-kali di dalam kepalanya.“Satu minggu?!” pekik Sisil refleks. “Kenapa
Mobil Dimas akhirnya memasuki halaman kediaman Arsya yang sore itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya. Deretan mobil mewah terparkir rapi di sepanjang halaman luas rumah tersebut, sementara lampu-lampu taman yang menyala temaram membuat suasana terasa hangat sekaligus elegan.Di dalam mobil, Sinta menarik napas pelan sebelum membuka pintu. Sejak keluar dari rumah tadi, ia memang sengaja memesan taksi online dan meninggalkan mobil pribadinya di garasi. Entah kenapa, ia merasa tidak sanggup menyetir sendiri sore ini.Sementara itu, Dimas turun lebih dulu lalu menoleh ke arah gadis itu. Ia menganggukkan kepala pelan, seolah mencoba memberi kekuatan tanpa perlu banyak bicara.Sinta membalas anggukan kecil itu.Mereka berjalan memasuki rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Hanya langkah kaki yang saling bersahutan di atas lantai marmer.Acara malam itu memang diadakan di aula keluarga yang berada di dalam rumah utama. Arsya sengaja membuat aca
RAWWRRR!Dari dalam kandang besar itu, seekor singa putih betina melompat keluar dengan langkah anggun namun mengintimidasi. Tubuhnya kini jauh lebih besar dibanding terakhir kali Arsya melihatnya. Surai putih di lehernya tampak berkilau terkena cahaya matahari sore.Arsya refleks berjongkok saat Bella berlari cepat menghampirinya.“Bella, akhirnya kita bertemu lagi,” ucap Arsya sambil mengelus lembut bulu putih singa itu.Bella menggesekkan kepalanya manja ke bahu Arsya, bahkan sesekali mengeluarkan suara dengusan kecil seperti kucing raksasa yang sedang dimanja majikannya.Sementara itu, Sean sudah berdiri kaku beberapa langkah di belakang mereka. Matanya membulat sempurna, rahangnya bahkan nyaris jatuh ke tanah.“S-sekretaris Ken, yang benar aja! Dia Bella yang kamu maksud?!” pekik Sean dengan wajah penuh keterkejutan sekaligus pengkhianatan.Ken yang berdiri santai malah tersenyum tipis sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Iya,” jawabnya santai. “Cantik, kan?”Dengus
“Makanlah, Ken. Aku sudah hilang selera,” ucap Arsya dengan nada enteng, seolah apa yang ia minta sebelumnya bukan sesuatu yang merepotkan.“Apaaa!” Ken refleks meninggikan suara, matanya membelalak tak percaya.Setelah melewati drama pencarian rujak buah tengah malam, Ken akhirnya memutuskan untuk
Malam semakin larut, tetapi Ken masih berada di kamar Arsya. Majikannya itu belum mengizinkannya pulang. Entah kuman apa yang sudah menjalar di otak Arsya hingga membuat Ken kewalahan sejak tadi.Tok … tok … tok …Suara ketukan pintu terdengar. Ken bergegas membuka pintu dan mendapati Pak Heru berd
Di sebuah kafe eksklusif di pusat kota, Cassandra dan Riana yang tak lain adalah Mama Arsya sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan VIP. Lampu temaram, aroma kopi mahal, dan alunan musik jazz lembut sama sekali tak mampu meredakan kegelisahan di wajah Cassandra.Riana menyilangkan kaki, lalu mena
Sementara itu, di gedung Arkana Group, Ken telah meliburkan seluruh karyawan sesuai perintah Arsya.Arsya duduk di tengah ruangan dengan tatapan kosong. Matanya memerah, tubuhnya tampak lemas—jauh dari sosok dingin dan perkasa yang biasa terlihat.Suasana gedung mewah itu mendadak hening dan mencek







