تسجيل الدخولBangun pagi di pegunungan datang dengan cara yang berbeda ,tidak tergesa-gesa ,tidak dipenuhi suara klakson kendaraan atau langkah manusia yang sibuk mengejar waktu.
Pagi di tempat seperti ini lahir perlahan seolah alam sengaja membiarkan dunia bangun sedikit demi sedikit ,kabut turun lembut menutupi lembah seperti selimut tipis berwarna abu keperakan ,embun menggantung di ujung daun pinus dan memantulkan cahaya matahari pertama yang mulai menembus pepohonan tinggi ,udara terasa dingin naMalam di tempat seperti ini terasa seperti selimut yang perlahan turun dari langit.Udara menjadi lebih dingin kabut mulai kembali merayap di antara pepohonan“Dingin ya malam di sini.”Aruna mengangguk sambil menghembuskan napas yang berubah menjadi uap tipis.“Tapi enak.”Nina meliriknya.“Kamu kelihatan betah sekali.”Aruna tertawa kecil.“Kalau boleh jujur… aku ingin waktu berhenti di sini saja.”Lampu-lampu kuning hangat menyala di teras, membuat tempat itu terlihat nyaman seperti rumah kecil di tengah hutan ,pemilik penginapan sedang menyalakan api unggun kecil di halaman ,Nina langsung bersorak kecil.“Wah ada api unggun!”Aruna tersenyum mereka duduk di kursi kayu yang menghadap api itu ,api kecil itu menari-nari, memantulkan cahaya hangat di wajah mereka beberapa tamu lain juga duduk di sekitar api unggun, tapi suasananya tetap tenang ,tidak ramai hanya suara kayu yang sesekali berderak saat terbakar Nina mengulurkan tangannya ke
Udara sore di pegunungan mulai berubah lebih dingin langit perlahan berubah warna ,biru terang yang sejak pagi membentang di atas Kawah Sunan Ibu kini mulai bercampur semburat jingga dan abu lembut ,kabut tipis turun perlahan di antara pepohonan, Aruna berjalan pelan di samping Nina sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket ,wajahnya masih menyisakan senyum kecil setelah percakapan mereka tadi ,sudah lama sekali ia tidak tertawa sebanyak hari ini, terlalu lama bahkan sampai rasanya asing mendengar suaranya sendiri terdengar sebebas itu. Aruna dan Nina duduk di batu besar di puncak bukit kecil itu ,beberapa saat yang lalu mereka sempat diam menikmati pemandangan tapi seperti biasa Nina tidak pernah bisa terlalu lama berada dalam suasana yang terlalu serius Nina tiba-tiba menoleh pada Aruna dan menyipitkan mata. “Kamu tahu tidak?” “Apa?” tanya Aruna. Nina menunjuk wajahnya. “Kamu kelihatan jauh lebih cantik kalau ketawa.”
Bangun pagi di pegunungan datang dengan cara yang berbeda ,tidak tergesa-gesa ,tidak dipenuhi suara klakson kendaraan atau langkah manusia yang sibuk mengejar waktu.Pagi di tempat seperti ini lahir perlahan seolah alam sengaja membiarkan dunia bangun sedikit demi sedikit ,kabut turun lembut menutupi lembah seperti selimut tipis berwarna abu keperakan ,embun menggantung di ujung daun pinus dan memantulkan cahaya matahari pertama yang mulai menembus pepohonan tinggi ,udara terasa dingin namun dingin yang menenangkan bukan dingin yang membuat sesak.Aruna sudah terbangun sejak subuh ,ia duduk sendiri di balkon penginapan dengan secangkir teh hangat di tangannya ,uap tipis mengepul dari permukaan cangkir, menari pelan bersama embusan angin pagi yang menyentuh wajahnya ,ia menarik napas panjang seolah ingin memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan sebanyak mungkin sebelum kembali ke kehidupan yang menunggunya di kota ,rasanya tenang dan justru karena itulah dadanya terasa n
Pagi itu datang lebih cepat bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi, Aruna sudah lebih dulu membuka mata ,langit kamar masih sedikit gelap ,udara dini hari terasa dingin ,ia menatap langit-langit kamar seolah sedang memastikan bahwa hari ini benar-benar nyata bahwa setelah sekian lama ia benar-benar akan pergi ,meski hanya dua hari namun bagi Aruna, waktu sesingkat itu terasa seperti celah kecil untuk bernapas di tengah hidup yang terlalu lama menekannya.Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur ,tubuhnya masih menyisakan rasa pegal kelelahan itu belum benar-benar pergi namun anehnya pagi ini dadanya terasa plong sekali.Di luar kamar terdengar suara langkah kaki ,Aruna refleks berdiri dan merapikan kerudung sebelum membuka pintu kamar ,Aroma kopi hitam langsung tercium samar dari arah ruang makan ,seperti biasa Oxavio sudah duduk di sana dengan laptop terbuka di depannya ,cahaya layar memantul di wajahnya yang dingin dan nyaris tanpa ekspresi ,ia tampak sibuk membaca sesuatu
Hujan yang sejak tadi turun perlahan akhirnya mulai reda, menyisakan embun tipis di balik jendela ruang jaga , Aruna duduk diam di kursinya sambil memegang gelas kopi hangat yang sudah hampir dingin ,malam ini ada sesuatu yang sedikit berbeda ,bukan karena pekerjaannya bukan juga karena pikirannya benar-benar tenang tetapi karena setelah sekian lama Aruna memiliki sesuatu yang ingin ia nantikan.Di depannya ada kalender kecil dan matanya langsung tertuju pada dua tanggal yang sudah ia lingkari di akhir minggu ,dua hari libur dinas ,hal yang sebenarnya biasa namun bagi Aruna dua hari itu terasa seperti hadiah kecil yang sangat langka ,karena hidupnya terlalu lama dipenuhi jadwal kerja, tekanan, dan rumah yang tidak pernah benar-benar terasa hangat ,Nina yang sedang menuliskan laporan pasien melirik ke arahnya.“Kamu melamun lagi?”Aruna tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari kalender.“Besok kita off dua hari.”Nina langsung menoleh penuh minat.“Ya
Hujan masih turun pelan di luar jendela kamar ketika Aruna akhirnya memejamkan mata menjelang dini hari ,sementara di sampingnya, Oxavio sudah tertidur lebih dulu dengan napas tenang seolah tidak ada apa pun yang terjadi malam itu.Aruna masih terjaga cukup lama ,duduk diam di tepi tempat tidur dengan tubuh yang terasa nyeri dan pikiran yang terlalu lelah untuk menangis ,ia menatap langit malam di balik kaca jendela ,gelap dan dingin persis seperti beberapa bulan terakhir hidupnya sampai akhirnya rasa lelah mengalahkan semuanya.~Aruna memutuskan tidur lagi setelah selesai sholat magrib rencananya hanya ingin terlelap sebentar karena merasa masih ngantuk, siang tadi tidak terlalu bisa beristirahat banyak hal yang harus ia kerjakan ,ketika alarm berbunyi Aruna terkaget ternyata ia tertidur sudah lebih dari satu jam ,tubuhnya terasa lelah namun seperti biasa ia tetap memaksakan menjalani harinya seolah semua baik-baik saja karena dunia tidak pernah benar-benar peduli ses







