INICIAR SESIÓNPagi itu datang lebih cepat bahkan sebelum alarm ponselnya berbunyi, Aruna sudah lebih dulu membuka mata ,langit kamar masih sedikit gelap ,udara dini hari terasa dingin ,ia menatap langit-langit kamar seolah sedang memastikan bahwa hari ini benar-benar nyata bahwa setelah sekian lama ia benar-benar akan pergi ,meski hanya dua hari namun bagi Aruna, waktu sesingkat itu terasa seperti celah kecil untuk bernapas di tengah hidup yang terlalu lama menekannya.
Ia duduk perlahan di tepi tempatNamun .. Aruna tidak pernah memohon ,dan justru itulah yang membuat Oxavio semakin ingin menekanya ,selama ini Aruna selalu menemukan cara setiap kali Oxavio memberinya tekanan, ketika ia ingin Aruna bergantung kepadanya, Aruna memilih bertahan sendiri ,ketika ia membuka satu-satunya jalan keluar, Aruna justru memilih menjual sesuatu yang masih menjadi miliknya ,bahkan yang harus dikorbankan adalah mas kawinnya sendiri. Oxavio menatap tangga yang baru saja dinaiki Aruna, rahangnya mengeras ,ia bisa saja memaksa ,bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk menutup semua celah, membuat Aruna benar-benar tidak memiliki pilihan ,namun apa gunanya? Oxavio tidak ingin Aruna datang kepadanya karena dipaksa sampai ke titik itu , ia tidak ingin kemenangan yang terasa seperti perampasan ,ia ingin Aruna menundukkan kepalanya karena akhirnya menyadari bahwa tidak ada lagi tempat lain untuk dituju ,ia ingin perempuan itu menyerahkan dirinya dengan kemauannya sendiri ,itulah satu-satunya kemen
Sebelum berangkat bekerja, Aruna masih duduk dalam diam di kamarnya ,ia bersandar pada sisi tempat tidur, punggungnya menempel pada kasur yang dingin ,lampu hanya menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding ,ponselnya tergeletak di samping dengan layar mati sejak lama, seolah menolak dunia luar masuk ke dalam kesunyiannya ,jam dinding berdetak pelan ,setiap detiknya terasa menekan dada ,menghimpit napas "sembilan puluh juta " Angka itu terus berputar di dalam kepalanya seperti pita rusak yang macet , Aruna sudah menghitung semua kemungkinan ,tabungan? Habis ,rekening? Kosong ,uang pinjaman? Tidak akan ada yang memberinya sebanyak itu dalam waktu semalam ,Bank pun butuh proses yang tidak mungkin selesai dalam semalam. Aruna menutup wajahnya dengan kedua tangan ,air mata jatuh perlahan, membasahi telapak tangannya yang dingin karena kenyataan pahit bahwa hidupnya tidak pernah benar-benar lepas dari masa lalu ,setiap kali ia merasa bisa bernapas, masa lalu selalu d
Aruna keluar dari rumah makan itu dengan langkah yang terasa tidak nyata, karena Aruna tahu betul ibunya tidak pernah mengancam tanpa benar-benar melakukannya ,jika Saraswati mengatakan akan datang dan membuat keributan di tempat kerja Aruna, maka kemungkinan besar ia benar-benar akan melakukannya "Sembilan puluh juta " angka itu terasa seperti sesuatu yang tidak mungkin ia dapatkan dalam waktu semalam ,gajinya cukup untuk hidup ,cukup untuk membantu kebutuhan sehari-hari ,cukup untuk memberikan sebagian kepada ibunya namun tidak pernah cukup untuk menyelesaikan masalah sebesar ini ,tangannya sedikit gemetar ketika ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya ,ia memeriksa rekeningnya satu per satu ,menghitung tabungan ,menghitung uang yang bisa ia gunakan ,menghitung segala kemungkinan namun hasilnya tetap sama jumlahnya bahkan tidak sampai sepersepuluh dari yang diminta Saraswati ,Aruna menutup layar ponselnya ia berdiri cukup lama di depan rumah makan itu ,orang-orang berlalu-lalan
Aruna pulang ketika matahari mulai naik ,rumah masih cukup tenang begitu memasuki kamar, ia langsung meletakkan tas dimeja ,ia bahkan tidak langsung mengganti pakaian hanya duduk sebentar di tepi tempat tidur kemudian mandi ,setelah itu ia memeriksa Helena yang masih tidur ,wanita itu belum bangun dan Aruna tidak membangunkannya hanya memastikan obat dan air minum sudah tersedia di dekat tempat tidur setelah semuanya selesai, barulah Aruna kembali ke kamarnya ,ia mengisi daya ponselnya yang hampir habis kemudian berbaring dan akhirnya ia tertidur. -- Pagi berlalu dengan tenang, Aruna baru terbangun beberapa jam kemudian ia menghabiskan waktu dengan rutinitas biasa merapikan tempat tidur ,membantu menyiapkan makanan ,memeriksa kondisi Helena kemudian duduk sebentar sambil menikmati sarapan dan mungkin justru karena itulah pagi itu terasa menyenangkan Aruna bahkan sempat berbicara dengan Ibu mertuanya meskipun tetap tidak terlalu ramah ,Helena masih memasang wajah
Aruna menjalani shift malam dengan suasana yang cukup tenang ,ketika tiba di rumah sakit, Aruna menemukan Nina sudah berada di ruang VK sedang memeriksa beberapa berkas sambil sesekali menguap ,begitu melihat Aruna masuk, Nina langsung mengangkat wajah. "Dih baru datang?" Aruna meletakkan tasnya di loker. "Kenapa bu Nina ? ." "Telat tiga menit." Aruna menoleh. "Serius?" "Serius." Aruna melihat jam di dinding ,kemudian menatap Nina. "Kamu menghitung Nin?" "Nggak." "Terus kok tahu?" "Karena aku sudah menunggu." Aruna tertawa kecil. "Haha Drama." Nina mendengus dan tertawa bersama ,lalu kembali beraktifitas seperti biasa . Jaga malam ini tidak sepi ,juga tidak terlalu melelahkan ,beberapa pasien datang ,beberapa membutuhkan perhatian lebih tetapi semuanya masih berada dalam batas yang dapat mereka tangani ,saat Aruna duduk sebentar di ruang istirahat, Nina meletakkan sebotol air mineral di hadapannya.
Aruna pulang ketika langit masih berwarna abu abu, sementara sebagian besar penghuni rumah baru mulai akan beraktifitas, pagi itu ada yang berbeda ,sejak berada diperjalanan pulang,tenggorokannya kering ,tubuhnya juga terasa tidak nyaman, seperti sedang menahan sesuatu yang belum muncul ,mungkin karena kurang tidur ,Aruna berusaha tidak memikirkannya ,ia sempat berniat langsung pulang dan membuatkan bubur untuk ibu mertuanya , Namun begitu melewati penjual bubur yang masih buka di dekat rumah ,ia melambat ,perutnya kosong dan tubuhnya benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memasak ,akhirnya ia berhenti ,beberapa menit kemudian ia kembali membawa satu bungkus bubur hangat ,bukan untuk dirinya sendiri ,ia bahkan tidak membeli apa pun untuk dirinya. Setiba dirumah Aruna langsung menuju dapur dan menyiapkanya ,lalu membawa bubur yang baru dibelinya, segelas air hangat, obat penurun tekanan darah, serta vitamin yang biasa dikonsumsi wanita itu ,Helena tampak lebih baik ,meski
Malam di penginapan kecil itu berakhir dengan tawa yang masih tersisa di udara ,api unggun perlahan mengecil, para tamu satu per satu kembali ke kamar masing-masing, dan pegunungan kembali tenggelam dalam kesunyian yang damai.Aruna tidur nyenyak malam itu mungkin karena sebagian beban yang
Langit sudah mulai berubah jingga ketika Aruna berjalan pulang dari sekolah ,Langkahnya pelan, tapi pasti. Tas sekolahnya terasa lebih berat, meskipun isinya tidak bertambah apa-apa. Mungkin karena pikirannya yang penuh oleh kata-kata yang masih terngiang di kepalanya ,Perempuan malam ,
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang tenang.Tempat di mana aku bisa melupakan rumah kecil yang selalu penuh dengan orang asing.Tapi kenyataannya… tidak pernah benar-benar seperti itu ,Aku berjalan melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat ,Matahari pagi masih hangat, dan halaman s
Malam di rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi ,Selalu ada suara. Kadang suara tawa laki-laki yang berat dan kasar ,Kadang suara gelas yang beradu di meja kayu tua ,Kadang juga suara pintu kamar ibuku yang tertutup keras diikuti suara yang membuatku menutup telinga dengan kedua tangan. Aku sud







