LOGINBeberapa hari setelah percakapan itu, sesuatu mulai berubah bukan perubahan besar yang langsung terlihat namun perlahan ,seperti banyak hal lain dalam hidup Aruna yang diambil sedikit demi sedikit tanpa pernah benar-benar diminta persetujuannya.
Hari itu setelah pulang kerja, Aruna sempat mampir ke minimarket dekat rumah sakit ,tubuhnya masih terasa lelah setelah shift yang melelahkan ,punggungnya kadang masih terasa nyeri jika bergerak terlalu cepat meskipun ia berusaha mengabaikannya sAruna menjalani shift malam dengan suasana yang cukup tenang ,ketika tiba di rumah sakit, Aruna menemukan Nina sudah berada di ruang VK sedang memeriksa beberapa berkas sambil sesekali menguap ,begitu melihat Aruna masuk, Nina langsung mengangkat wajah. "Dih baru datang?" Aruna meletakkan tasnya di loker. "Kenapa bu Nina ? ." "Telat tiga menit." Aruna menoleh. "Serius?" "Serius." Aruna melihat jam di dinding ,kemudian menatap Nina. "Kamu menghitung Nin?" "Nggak." "Terus kok tahu?" "Karena aku sudah menunggu." Aruna tertawa kecil. "Haha Drama." Nina mendengus dan tertawa bersama ,lalu kembali beraktifitas seperti biasa . Jaga malam ini tidak sepi ,juga tidak terlalu melelahkan ,beberapa pasien datang ,beberapa membutuhkan perhatian lebih tetapi semuanya masih berada dalam batas yang dapat mereka tangani ,saat Aruna duduk sebentar di ruang istirahat, Nina meletakkan sebotol air mineral di hadapannya.
Aruna pulang ketika langit masih berwarna abu abu, sementara sebagian besar penghuni rumah baru mulai akan beraktifitas, pagi itu ada yang berbeda ,sejak berada diperjalanan pulang,tenggorokannya kering ,tubuhnya juga terasa tidak nyaman, seperti sedang menahan sesuatu yang belum muncul ,mungkin karena kurang tidur ,Aruna berusaha tidak memikirkannya ,ia sempat berniat langsung pulang dan membuatkan bubur untuk ibu mertuanya , Namun begitu melewati penjual bubur yang masih buka di dekat rumah ,ia melambat ,perutnya kosong dan tubuhnya benar-benar tidak memiliki tenaga untuk memasak ,akhirnya ia berhenti ,beberapa menit kemudian ia kembali membawa satu bungkus bubur hangat ,bukan untuk dirinya sendiri ,ia bahkan tidak membeli apa pun untuk dirinya. Setiba dirumah Aruna langsung menuju dapur dan menyiapkanya ,lalu membawa bubur yang baru dibelinya, segelas air hangat, obat penurun tekanan darah, serta vitamin yang biasa dikonsumsi wanita itu ,Helena tampak lebih baik ,meski
Helena mengira kondisinya hanya kelelahan biasa ,beberapa hari istirahat di rumah Oxavio seharusnya sudah cukup membuat tubuhnya kembali bugar ,ia yakin itu hanyalah dampak stres dari kasus Rumah sakit dan masalah adiknya , namun dugaan itu ternyata keliru ,hari demi hari berlalu, tubuhnya justru semakin mudah kehilangan tenaga ,nafsu makannya menurun drastis ,beberapa kali kepalanya berdenyut hebat, nyeri yang menjalar hingga ke tengkuk, hingga membuatnya memilih memejamkan mata hampir sepanjang siang ,cahaya matahari pun terasa menyakitkan ,Aruna sudah berkali-kali menyarankan pemeriksaan lebih lanjut ,suaranya selalu lembut, penuh kekhawatiran tulus seorang bidan sekaligus menantu ,namun setiap kali itu pula Helena selalu memberikan jawaban yang sama ,tembok penolakan yang kokoh. "Tidak perlu." "Ma, paling tidak periksa darah dulu ,tekanan Mama naik turun tidak stabil." "Aku bilang tidak perlu." "Kalau ternyata ada y
Hari-hari berlalu dengan ritme yang terasa semakin melelahkan bagi Aruna. namun hanya Aruna yang tahu bahwa kelelahan itu perlahan mulai menggerogoti tubuhnya ,siang hari yang seharusnya menjadi waktu beristirahat hampir tidak pernah benar-benar menjadi miliknya ,akibatnya setiap malam ia berangkat bekerja dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih apalagi selama beberapa minggu terakhir, Aruna hampir tidak pernah lagi berbincang lama dengan Rani dan teman-teman praktik lainnya ,paling hanya sesekali berpapasan saat Aruna hendak pulang di pagi hari ,ruang VK terasa sunyi tanpa suara-suara riuh yang biasanya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan ,keheningan itu membuat hari-harinya terasa semakin tidak berwarna.~Ia baru saja meletakkan tas di dalam loker ketika suara yang sudah lama tidak didengarnya menyapa dari belakang."Run."Aruna menoleh ,senyumnya langsung mengembang."Ah, Nina."Nina berjalan menghampiri sambil membawa map pasien."Akhirnya.""Ak
Meski kasus yang sempat mengguncang rumah sakit perlahan mulai mereda dan pemberitaan media tidak lagi seramai beberapa hari sebelumnya, bukan berarti semuanya benar-benar selesai ,justru setelah sorotan publik meredup, pekerjaan yang jauh berat dimulai di balik pintu tertutup. Audit internal berjalan tanpa henti ,satu demi satu dokumen lama kembali dibuka, dibedah, dan dicocokkan dengan bukti fisik ,rapat berlangsung hampir setiap hari, nama-nama yang selama bertahun-tahun dipercaya mulai diperiksa kembali dan di antara semuanya nama Bima tetap menjadi perhatian utama ,belum ada keputusan final yang dijatuhkan ,justru penantian itulah yang membuat suasana keluarga semakin mencekam ,ketidakpastian adalah siksaan yang paling menyakitkan bagi Helena. Oxavio hampir tidak pernah berada di rumah ,pagi buta ia sudah berangkat, sering kali Aruna hanya sempat melihat meja makan yang masih dipenuhi cangkir kopi dingin dan berkas-berkas yang belum sempat dibereskan ,malam hari pun tak jauh b
Dua hari setelah konferensi pers, suasana perlahan mulai kembali tenang. Pihak rumah sakit merilis kronologi lengkap penanganan pasien beserta hasil evaluasi medis yang telah diverifikasi oleh tim independen ,rekaman CCTV pada beberapa titik kunci juga ditunjukkan secara tertutup kepada pihak keluarga korban untuk transparansi ,tidak seluruhnya dipublikasikan ke publik demi privasi medis, namun cukup untuk memperlihatkan bahwa tenaga kesehatan memang telah bekerja sesuai prosedur prioritas kegawatdaruratan, tidak ada penelantaran ,tidak ada birokrasi yang menghambat nyawa.Keluarga pasien akhirnya memberikan pernyataan kepada media melalui pengacara mereka ,dengan wajah lelah namun lebih tenang, mereka mengaku emosi sesaat dan terpancing suasana duka saat kehilangan anggota keluarga ,mereka juga menyampaikan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara baik-baik bersama pihak rumah sakit melalui jalur mediasi, termasuk kompensasi ,perlahan nada pemberitaan mulai berub
Pagi di Pratama Medical Center selalu dimulai dengan kesibukan Para perawat berjalan cepat di koridor ,dokter keluar masuk ruang pemeriksaan suara mesin medis dan percakapan pelan bercampur menjadi satu ,di ruang bersalin, Aruna Larasati sedang memeriksa peralatan seperti biasa ,ia selalu datang
Malam sudah turun ketika Pratama Medical Center mulai sedikit lebih tenang ,koridor yang tadi siang dipenuhi langkah kaki kini hanya terdengar sesekali dilewati oleh perawat yang sedang bertugas malam ,lampu-lampu putih di langit-langit membuat suasana terasa dingin dan steril ,di lantai paling a
Hari di Pratama Medical Center berjalan seperti biasa Koridor rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki yang tergesa, bunyi roda ranjang pasien yang didorong perawat, dan percakapan pelan antara keluarga pasien yang menunggu kabar dari dalam ruangan ,Bagi banyak orang, suasana itu terasa menegangka
Delapan tahun bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang ,beberapa luka memudar beberapa mimpi akhirnya tercapaiDan beberapa kenangan… tetap tinggal seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Pagi itu, udara di kota jakarta masih terasa dingin ketika Aruna Larasati berdiri







