LOGINBeberapa hari setelah percakapan itu, sesuatu mulai berubah bukan perubahan besar yang langsung terlihat namun perlahan ,seperti banyak hal lain dalam hidup Aruna yang diambil sedikit demi sedikit tanpa pernah benar-benar diminta persetujuannya.
Hari itu setelah pulang kerja, Aruna sempat mampir ke minimarket dekat rumah sakit ,tubuhnya masih terasa lelah setelah shift yang melelahkan ,punggungnya kadang masih terasa nyeri jika bergerak terlalu cepat meskipun ia berusaha mengabaikannya sPagi datang terlalu cepat ,cahaya matahari sudah menyelinap masuk melalui celah tirai ,Aruna perlahan membuka matanya ,ada sesuatu yang terasa berbeda tubuhnya terasa sangat berat seolah ada yang meletakkan beban besar di atas dadanya sepanjang malam ,Aruna mengerjapkan mata beberapa kali ,kepalanya berdenyut ,bukan pusing biasa melainkan nyeri tumpul yang terasa menekan dari belakang mata hingga tengkuknya ,ia mencoba bangun ,satu tangan bertumpu pada kasur ,baru saja tubuhnya terangkat sedikit, pandangan di depannya langsung berputar ,Aruna kembali terduduk napasnya tertahan sesaat ,ia memejamkan mata sambil menunggu rasa pusing itu mereda ,tangannya perlahan terangkat menyentuh dahi ,kulitnya terasa panas bahkan di bawah sentuhannya sendiri ,Aruna mengerutkan kening " lagi lagi demam " tubuhnya menggigil meskipun udara pagi tidak terlalu dingin ,selimut yang menutupi tubuhnya hangat, tetapi tetap tidak mampu menghilangkan rasa dingin yang merayap dari dalam tulang ,semalam ia ham
Setelah kalimat terakhir Oxavio menggantung di udara .. "...aku bisa mendorongnya sampai hancur." Aruna tidak langsung bergerak ia hanya berdiri di ruang keluarga dengan tubuh yang terasa semakin ringan dan berat pada waktu yang sama ,jari-jarinya tanpa sadar menggenggam tali tas yang masih tersampir di bahunya ,buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang ia berikan sendiri ,Oxavio menatapnya tatapan itu sulit ditebak lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya ,langkahnya terdengar teratur seolah percakapan barusan hanyalah sesuatu yang biasa, Aruna tetap diam hingga suara pintu kamar Oxavio tertutup pelan dan setelah itu rumah kembali tenggelam dalam keheningan ,keheningan yang terasa besar ,Aruna menelan ludah namun tenggorokannya terasa kering kata-kata Oxavio terus berputar di dalam kepalanya. "Tempat itu tidak berada di luar jangkauanku." Rumah sakit ,tempat ia bekerja ,tempat
Hari-hari Aruna semakin terasa seperti lingkaran yang tidak pernah selesai ,bangun ,bekerja dan pulang ,tidur beberapa jam lalu kembali bekerja. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang sama hingga kadang Aruna sendiri tidak lagi tahu hari apa yang sedang ia jalani ,tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang tidak bisa lagi disembunyikan ,lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas ,pipinya sedikit tirus dibanding beberapa bulan lalu bahkan seragam kerjanya terasa lebih longgar ketika dikenakan namun satu yang tidak pernah berubah , Aruna tetap datang bekerja ,tetap mendampingi ibu yang akan melahirkan ,tetap menggenggam tangan pasien yang ketakutan ,tetap tersenyum ketika mendengar tangisan bayi pertama yang memenuhi ruang bersalin ,seolah rumah sakit itu adalah satu-satunya tempat di mana ia masih bisa menjadi dirinya sendiri dan Oxavio mulai menyadarinya. Setelah berminggu-minggu menjalani jadwal yang padat, Aruna mendapatkan dua hari libur ,tidak ada jadw
Beberapa minggu setelah perubahan jadwal itu, kehidupan Aruna benar-benar berubah hari-harinya seperti tidak lagi memiliki jeda ,pagi sering kali berakhir menjadi siang tanpa ia sadari ,siang berubah menjadi malam lalu malam kembali menjadi pagi tanpa benar-benar memberi kesempatan bagi tubuhnya untuk beristirahat ,Aruna mulai hafal berbagai macam rasa lelah ,lelah karena berdiri berjam-jam mendampingi proses persalinan ,lelah karena harus memantau beberapa pasien sekaligus ketika ruang VK sedang penuh ,lelah karena menyelesaikan laporan pelayanan yang tidak pernah habis ,lelah karena mengatur jadwal dinas bidan yang sering berubah mendadak dan ada satu jenis lelah lain yang jauh lebih menguras yaitu lelah yang datang ketika pikirannya terlalu penuh, tetapi tidak memiliki waktu untuk beristirahat ,kini hampir setiap hari dimulai dengan laporan pergantian shift belum selesai memeriksa kondisi ibu pascamelahirkan, panggilan dari ruang observasi sudah datang ,belum selesai mengurus adm
Sejak keluar dari ruang Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan pagi itu, langkah Aruna terasa berat ,map berisi pembagian tugas baru masih berada di tangannya ,kertas-kertas itu terlihat biasa saja ,tidak tebal ,tidak juga berat namun isi di dalamnya terasa seperti sesuatu yang perlahan ditumpukkan di atas pundaknya ,ia berhenti sejenak di lorong matanya memandang aktivitas rumah sakit yang sudah mulai sibuk ,perawat berjalan cepat sambil membawa berkas pasien suara roda brankar terdengar sesekali melewati koridor ,seorang dokter muda berlari kecil menuju ruang tindakan ,semuanya terlihat normal sama seperti hari-hari sebelumnya namun bagi Aruna ada sesuatu yang berubah pagi ini ,sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain ,ia menarik napas panjang lalu melangkah kembali menuju ruang jaga begitu masuk, Nina langsung mengangkat kepala ,perempuan itu sedang mengunyah roti sambil membaca laporan pasien. "Lama banget ,urusan apa sampai hampir setengah jam?" Aruna d
Aruna datang ke rumah sakit seperti biasa langit masih pucat ketika ia turun dari ojek di depan gerbang rumah sakit ,kabut tipis masih menggantung di udara ,beberapa perawat yang baru datang terlihat berjalan cepat sambil membawa tas kerja mereka suara ambulans terdengar samar dari kejauhan ,hari baru dimulai namun tubuh Aruna terasa belum benar-benar beristirahat ia merapikan lengan panjang kemejanya sebelum melangkah masuk bekas cengkeraman di lengannya masih terlihat samar berwarna merah kebiruan ,masih terasa nyeri ketika tersentuh namun untungnya tertutup sempurna oleh kain seragam yang ia kenakan ,tidak ada yang perlu tahu Aruna sudah terlalu lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya ,ia menarik napas panjang lalu melangkah masuk ke dalam rumah sakit Aroma antiseptik yang familiar langsung menyambutnya entah kenapa aroma itu selalu membuat pikirannya sedikit lebih tenang karena hanya di tempat ini ia merasa dirinya masih ber







