แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ellow_dikata
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-27 14:56:58

Setelah beberapa saat yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya, Tria akhirnya melepas ikatan di antara kami.

Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, seolah semua yang baru saja terjadi adalah hal yang wajar. Ia membantuku mengenakan pakaian kembali, satu per satu, dengan ketelitian yang justru membuat dadaku terasa sesak. Ketelitian yang sama seperti caranya mengambil alih hidupku, pelan, rapi, tanpa izin.

Tak ada kata-kata. Hanya keheningan yang menekan. Ia kemudian membawaku ke kursi pen
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 29

    Setiap kali mereka menetap di suatu tempat, dunia Raiya selalu menyempit menjadi satu ruang yang sama. Tria hampir tidak pernah membiarkannya sendiri. Raiya hanya diberi waktu untuk beristirahat ketika tubuhnya benar-benar tidak memungkinkan, dan bahkan saat itu pun, pengawasan tak pernah lepas dari tubuh Raiya.Setiap kali semuanya usai, Tria selalu menyodorkan pil kecil berwarna hijau gelap ke mulut Raiya.“Kamu harus minum ini,” ucapnya setiap kali, dengan nada yang tidak menerima penolakan.Dokter Pras pernah menjelaskan dengan sangat rinci. Seratus pil. Jika semuanya tertelan, maka proses yang mereka harapkan akan terjadi. Dan bersamaan dengan itu, hasrat Tria diyakini akan menghilang sepenuhnya.Saat pil ke-50 masuk ke tubuhnya, semuanya masih tampak baik-baik saja.Namun setelah pil ke-70, Raiya mulai merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Tubuhnya terasa asing, seolah ada bagian dalam dirinya yang perlahan menolak sesuatu. Meski begitu, ia memilih diam. Melihat waja

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 28

    Setelah menyesuaikan gaun, mereka kembali ke kediaman. Tria menatap Raiya sebentar, mengangguk puas. Mata Raiya menatap Tria dengan bersinar, tetapi masih ada sedikit bayangan yang membuatnya ragu.Keesokan paginya, Raiya bangun lebih awal. Penata pakaian dan perias wajah yang disewa Tria sudah siap. Raiya tersenyum lebar melihat mereka menyiapkan meja rias. Ini adalah pertama kalinya ia mengikuti wisuda setelah melewatkan dua momen wisuda sebelumnya. Gelar magisternya mungkin tidak akan membantu di dunia Veromon, tapi di dunia manusia, itu membuatnya bangga.Setelah berdandan, Raiya bertemu pamannya di ruang tamu.“Paman… bagaimana? Apa aku cantik hari ini?” tanyanya sambil memutar topi toga di kepalanya.“Kamu akan jadi gadis paling cantik, Raiya… bahkan di dunia ini,” ucap Tria sambil membenarkan gaun hitam di tubuhnya. “Ayo, mobil sudah siap.”Raiya menggenggam tangan Tria dengan semangat. “Ayo pergi!” serunya, melompat-lompat kecil. Mereka masuk mobil, diikuti mobil bawahan Tria

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 27

    "Ugh.." Tanpa ragu, Tria menerjang ke arah pria di samping Raiya. Tangannya mencengkeram kerah Zack dan menghantam wajahnya tanpa peringatan. Satu pukulan mendarat, disusul dengan yang lain. Suara benturan menggema, membuat beberapa barang di sekitar tempat tidur Raiya terhempas ke lantai. Raiya terpaku selama beberapa detik. Otaknya berusaha mengejar kenyataan yang bergerak terlalu cepat. Tubuhnya masih berat, pikirannya belum sepenuhnya sadar. Namun suara pukulan itu, terlalu nyata untuk dia abaikan.Awalnya, Tria datang hari ini dengan niat memberi kejutan pada Raiya. Namun semua rencana itu runtuh begitu ia melihat seorang manusia berdiri terlalu dekat dengan Raiya, bahkan berani mencondongkan wajahnya ke arah Raiya. Amarahnya meledak tanpa sisa.Zack jelas tidak siap diserang. Ia menerima empat pukulan berturut-turut di sekitar matanya, hingga penglihatannya berkunang dan kulitnya mulai membiru keunguan. Tubuhnya terhuyung, nyaris jatuh, sebelum akhirnya berhasil bertahan denga

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 26

    Dosen pembimbingku berkata, jika karyaku bisa disukai oleh banyak orang, maka kelulusanku bisa dipercepat, dan kini aku memegang kalimat itu erat-erat.Kami pulang sekitar pukul sepuluh malam setelah makan malam bersama. Sebelum masuk ke rumah, aku meminta mereka menginap di rumah sebelah, rumah yang memang sudah lama disiapkan paman untuk mereka jika datang mengunjungiku. Untungnya mereka langsung setuju, jadi suasana malam itu tetap terasa tenang tanpa banyak perdebatan.Setelah semuanya selesai, aku masuk ke kamar dan seperti biasa, aku langsung mencoba menghubungi paman. Namun panggilanku hanya berakhir dengan nada sambung tanpa jawaban. Aku mencoba lagi untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya, sampai tanpa sadar sudah belasan kali kulakukan, tetapi tetap tidak ada respons sama sekali darinya.Rasa tidak nyaman perlahan muncul di dadaku. Paman bukan tipe orang yang membiarkan telepon dariku begitu saja, apalagi sampai selama ini.Aku menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akh

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 25

    “Sudah sampai, Nona,” suara Waxi terdengar tenang, seolah perjalanan panjang barusan tak berarti apa-apa.Aku mengangguk pelan sebelum turun dari pesawat.Dia mengantarku ke kediamanku di Torobo, rumah lama orang tuaku di dunia manusia yang telah sepenuhnya direnovasi oleh paman. Bangunannya masih mempertahankan garis-garis lama yang kukenal sejak kecil, namun sentuhan baru membuatnya terasa asing sekaligus aman. Setelah memastikan aku tiba dengan selamat, Waxi tidak berlama-lama, ia kembali ke Amelo pada malam yang sama.Aku hanya tersenyum melihat kepergiannya. Meskipun dia manusia biasa, bukan Veromon sepertiku dan paman, tubuhnya jauh lebih kuat dariku. Bayangkan saja, delapan jam terbang tak membuatnya kelelahan. Aku yakin, setibanya di sana, ia akan langsung menuju perusahaan paman, kembali tenggelam dalam rutinitas yang tak pernah berhenti.“Kamu sudah sampai?” tanya Tria ketika aku sudah berada di kamarku.“Sudah,” jawabku singkat, sambil menyembunyikan lelah.Hari-hari beriku

  • Aku bukan yang Pamanku Mau   Bab 24

    Hari-hari berlalu begitu cepat di Pulau Jewo. Raiya tampak selalu ceria, tangannya nyaris tak pernah lepas dari kamera, mengabadikan setiap senyum, tawa, dan momen kebersamaan mereka. Setiap potret seolah menahan waktu agar tak berlari terlalu jauh.Tria, meski kerap menahan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan, ikut larut dalam kebahagiaan sederhana itu. Ia sering berdiri sedikit di belakang Raiya, mengawasi dengan tatap yang tenang, namun menyimpan banyak hal di balik diamnya. Dari kejauhan, siapa pun yang melihat mereka mungkin akan mengira mereka sepasang kekasih yang baru jatuh cinta, begitu alami dan penuh kehangatan."Paman… cepat kemari. Ayo kita foto bersama,” ucap Raiya sambil menarik lengan Tria.Tria mengangguk, lalu ikut berpose di depan kamera yang dipegang Raiya.Mereka menghabiskan hari itu bersama, hingga senja perlahan datang.Malam sebelum kepulangan tiba dengan angin laut yang lembut. Cahaya lampu kamar meredup, menyisakan bayang-bayang panjang di dinding

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status