Share

Part 141

last update publish date: 2026-06-10 13:42:27

Setelah mereka berpisah, Zivanya masih melakukan rutinitas seperti biasa. Bekerja di perusahaan yang dulu milik suaminya. Entah mengapa Zivanya merasa sedih. Ia merasa jahat mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Perusahaan ini, gedung tempatnya berada sekarang, serta kursi yang tengah didudukinya adalah hasil kerja keras Ariyan. Ariyan membangun semua ini dengan susah payah di usia yang masih teramat muda. Tapi Zivanya menyerobot kesuksesan Ariyan begitu saja.

Pintu ruang kerja yang diketuk men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
kelakuan si Zevia ini persis seperti Zivanya jilid dua
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
heran sja sm si Ziva sdh di sakiti segitu dalamnya masih belum bisa membuang si Ariyan dari hatinya.. benar benar bucin bloon si Ziva
goodnovel comment avatar
Wulan Purnama sari
Ziva bukanya ksh tahu sama kai supaya adenya tdk terlalu jauh jatuh kedalam jurang malah dism aja… jahat juga ziva
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 429

    Suasana terasa sangat sepi. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul empat, tapi langit di luar jendela mulai meredup dipayungi awan mendung tipis. Zivanya duduk sendirian di tepi tempat tidur. Ia bergerak gelisah memegang ponsel. Sejak pagi tadi, hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertambat pada Kaisar. Zivanya membuka kembali aplikasi pesan dan menatap layarnya yang bisu. [Bila, Kai gimana? Masih sedih dan nggak mau makan?] Pesan singkat itu ia kirimkan ke Syabila sejak jam sembilan pagi, tapi sampai sekarang jangankan dibalas, dihitung read pun tidak. Begitu pula saat ia mencoba mengirim pesan pada Seruni. Tidak ada balasan sama sekali. Zivanya menghela napas panjang. Diletakkannya handphone. Rasa cemas bercampur rindu membuat dadanya semakin sesak. Usia kehamilannya yang semakin tua membuat emosinya jauh lebih sensitif. Kakinya terasa pegal, dan perutnya yang membuncit maksimal sesekali tegang karena kontraksi palsu. Sebuah tendangan pelan dari dalam rahim membuatn

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 428

    Zivanya hampir tidak tidur semalaman karena memikirkan Kaisar dan perasaan rindunya pada anak itu. Sekarang bukan hanya kakinya yang bengkak, matanya juga sembap. Rasa rindu yang membuncah pada putra sulungnya itu berkelindan menjadi beban emosional yang menguras tenaganya. Sepanjang malam, bayangan wajah Kaisar yang menangis di layar ponsel terus membayang, membuat Zivanya tak henti-hentinya berganti posisi tidur dengan cemas di atas ranjang. Pagi itu, saat Ariyan membimbing Zivanya berjalan perlahan di lorong apartemen usai memandikannya dengan air hangat, raut wajah Zivanya tampak begitu lesu. Wajahnya agak pucat, langkah kakinya amat berat karena pembengkakan yang semakin parah, dan kelopak matanya yang sembap menceritakan dengan jelas betapa melelahkannya malam yang baru saja ia lalui. “Masih kepikiran Kai?” tanya Ariyan pada Zivanya yang termenung saat mereka sarapan. Zivanya menjawab dengan anggukan, tidak ingin berbohong. “Aku nggak pernah pisah selama ini sama Kai. Apa

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 427

    Kehamilan sembilan bulan ternyata jauh lebih berat daripada yang pernah Zivanya bayangkan, bahkan jika dibandingkan dengan saat mengandung Kaisar dulu.Pagi itu ia terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dilindas truk. Kedua pergelangan kakinya bengkak, punggungnya pegal, pinggangnya seakan mau patah. Belum lagi hidungnya yang tersumbat akibat flu ringan yang sudah tiga hari tidak kunjung pergi. Setiap kali ia menarik napas dalam-dalam, anak di dalam perutnya yang sudah turun rendah menekannya hingga ia meringis."Pelan-pelan ya." Ariyan sudah berada di sisinya bahkan sebelum Zivanya sempat mengeluh. Kedua tangannya yang besar menyangga punggung Zivanya, membantunya bangun dari tempat tidur sedikit demi sedikit. "Kita duduk dulu. Tarik nafas. Jangan langsung berdiri.""Aku kayak paus terdampar," ujar Zivanya dengan suara serak sengau."Paus paling cantik yang pernah aku lihat," balas Ariyan tanpa berpikir, membuat Zivanya tertawa lemah di antara batuknya.Tiga bulan terapi di Munch

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 426

    Hari-hari di Munchen berlalu dengan cepat tanpa terasa. Musim berganti, cuaca pun berubah. Salju tipis mulai turun melapisi pepohonan dan atap-atap bangunan bergaya Bavaria di sepanjang jalan Klinikum der Universitat Munchen.Di usia kehamilannya yang kini berada di bulan kedelapan, perubahan fisik Zivanya semakin nyata. Perutnya kini membuncit anggun. Bergerak sedikit saja menuntut energi ekstra. Pinggangnya kerap kali pegal luar biasa, kram di betis sering menyerang di tengah malam, dan kapasitas paru-parunya terasa menyempit membuat napasnya sering kali pendek-pendek. Namun, seluruh keletihan fisik itu menguap setiap kali ia duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, menyaksikan Ariyan yang sedang melatih memorinya. Pada awalnya mereka memang stay di hotel. Tetapi karena Zivanya ingin suasana yang lebih privat, mereka memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen selama berada di sana.Malam itu, Ariyan duduk menghadap meja dengan puluhan kartu bergambar dan deret angka kompleks yang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 425

    Penerbangan dari Santorini menuju Munchen memakan waktu lebih lama dari yang mereka bayangkan, dengan transit singkat di Athena sebelum akhirnya mendarat di Bandara Munchen beberapa jam kemudian. Sepanjang perjalanan, Zivanya memperhatikan Ariyan yang tampak agak gelisah. Matanya sesekali menerawang keluar "Dari tadi aku lihat kamu nggak tenang. Kamu nggak apa-apa?" tanya Zivanya, menggenggam tangan Ariyan. Ariyan menoleh dan memberi senyum tipis. “Harusnya aku yang tanya gitu. Kamu nggak apa-apa? Capek nggak? Mau aku pijitin punggung atau pinggangnya?” “Boleh deh.” Zivanya mengatur posisi agar Ariyan bisa memijitnya. Lelaki itu melakukannya dengan telaten seolah-seolah sudah sangat berpengalaman. Setelah lima jam penerbangan, pendarat yang mereka naiki akhirnya mendarat dengan selamat. Setelah beristirahat di hotel keduanya langsung ke rumah sakit karena sudah membuat janji temu sebelumnya, "Kamu lahir di rumah sakit ini?” tanya Zivanya yang teringat cerita Ariyan s

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 424

    Angin malam berembus lembut. Sinar bulan terpantul di atas permukaan air laut yang tenang, membiaskan cahaya yang menimpa dinding-dinding bangunan putih khas Yunani. Di tepi balkon, Ariyan berdiri membisu. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap lurus ke hamparan samudera yang gelap. Ariyan melamun sangat dalam. Pikiran dan jiwanya seolah terlempar jauh dari keindahan Santorini yang ada di depannya.Zivanya muncul dari dalam. Sejak tadi ia perhatikan Ariyan terus melamun. Ia menatap punggung suaminya dengan perasaan bersalah yang teramat sangat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali melihat heningnya Ariyan. Ia tahu persis apa yang sedang mengganggu pikiran pria itu. Ucapan yang tidak sengaja tadi pasti membuat Ariyan sedih dan insecure. Padahal Ariyan selalu berusaha menjadi suami dan ayah terbaik dengan segala keterbatasannya.Zivanya menelan ludah, mengatur napasnya yang agak berat karena beban perutnya yang membuncit. Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status