LOGINZivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik
Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”"Kai mau ikut."Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak.""Kenapa?""Karena memang aturannya begitu.""Atulannya siapa?"Astaga, ken
“Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. “Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. “Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” Di dalam hati
“Sekarang tolong ceritain ke Mama gimana kejadian sebenarnya?” pinta Andara setelah Seruni pergi.“Apanya yang harus aku ceritain, Ma? Kan, udah jelas.”“Belum. Mama nggak tahu hubungan kamu sama Zivanya udah sejauh ini. Bahkan kalau Tante Seruni nggak datang menemui Mama, Mama juga nggak tahu kalau Zivanya udah cerai sama Ariyan.”Mendengar kalimat mamanya, Kaivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengaku. "Ziva cerai udah hampir satu tahun, Ma.”“Hampir satu tahun?”Kaivan mengiakan dengan anggukan. “Sepuluh bulan lebih tepatnya. Dan yaa… aku sama dia memang lagi menjalin hubungan.”"Mama nggak melarang kalau memang kamu suka sama dia, Kai," ujar Andara dengan nada suara yang tenang dan meneduhkan. "Mama nggak masalah kalau memang dia yang jadi pilihan kamu. Tapi kamu juga nggak boleh tutup mata terhadap realita yang ada di depan kamu sekarang."Kaivan bergeming, mendengarkan dengan saksama setiap untaian kata yang diucapkan mamanya."Orang tuanya nggak setuju. Bahkan sam
Kaivan baru saja melepas kancing teratas kemejanya begitu melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi. Tubuhnya terasa lelah setelah sisa hari yang panjang. Namun, baru saja ia mengistirahatkan punggungnya di sofa, ponselnya berbunyi. Nama mamanya tertera di layar. Kaivan langsung menjawab. "Kai, kamu di mana? Bisa pulang ke rumah sekarang? Mama tunggu, ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Andara di seberang telepon dengan nada suara yang terdengar tidak biasa. "Ada apa, Ma? Apa nggak bisa lewat telepon aja?" tanya Kaivan sembari memijat pelipisnya. "Aku agak capek, Ma. Kalau nggak mendesak, besok pagi aku mampir ke rumah.” "Nggak bisa, Kai. Ini penting dan harus dibicarakan sekarang. Langsung. Mama tunggu.” Kaivan menatap layar ponselnya yang menggelap dengan helaan napas panjang. Kepatuhannya yang tinggi pada sang mama membuat pria itu tidak memiliki pilihan lain. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali menyambar kunci mobil, meninggalkan kenyamanan apartem
“Waktu Kai video call sama kamu, Mami dengar katanya ada Ariyan. Itu gimana ceritanya kalian bisa makan siang bertiga?” Seruni memulai sesi interogasinya. Wanita itu sudah tiba di Indonesia. Ia sudah sangat tidak sabar ingin tahu kronologinya. “Kebetulan aja, Mi.” Zivanya menjawab singkat. Ia sedang mematut diri di depan cermin, mencoba kimono bermotif sakura pilihan buah hatinya. “Kebetulan gimana?” ulang Seruni belum puas, menuntut penjelasan lengkap dari Zivanya. Zivanya mengembuskan napas pelan. Ia merapikan ikatan obi pada kimono berwarna pink pastel tersebut sebelum berbalik menghadap sang mami yang kini duduk bersedekap di tepi ranjang. “Jadi Kaivan datang ke kantor buat jemput aku makan siang, Mi. Tapi kebetulan ada Ariyan di ruangan aku,” jelas Zivanya dengan nada selembut mungkin, berusaha meredam rasa penasaran maminya yang menggebu-gebu. Seruni langsung menegakkan punggungnya, wajahnya yang semula tegang kini berubah melunak penuh minat. “Ariyan? Dia ngajakin
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
“Selamat ulang tahun, Ibu. Kai sayang Ibu. Mmuaah… mmuaah…”Zivanya tersenyum haru melihat wajah anaknya di layar handphone yang terlihat sangat menggemaskan saat meruncingkan bibir ke arahnya, seolah-olah sedang menciumnya.“Makasih sayangnya Ibu. Ibu juga sayang sama Kai. Baik-baik ya di sana. Ka
Matahari siang itu bersinar terik di atas kompleks playgroup tempat Kaisar bersekolah. Bel pulang sekolah baru saja berdentang nyaring, memicu keriuhan dari puluhan anak kecil yang berlarian keluar kelas dengan tas ransel berkarakter kartun di punggung mereka. Di antara kerumunan itu, Kaisar be







