Share

Part 196

last update publish date: 2026-06-26 21:00:25

Kaivan baru saja melepas kancing teratas kemejanya begitu melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi. Tubuhnya terasa lelah setelah sisa hari yang panjang. Namun, baru saja ia mengistirahatkan punggungnya di sofa, ponselnya berbunyi. Nama mamanya tertera di layar.

Kaivan langsung menjawab.

​"Kai, kamu di mana? Bisa pulang ke rumah sekarang? Mama tunggu, ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Andara di seberang telepon dengan nada suara yang terdengar tidak biasa.

​"Ada apa, M
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
celine
udh Andara mending jodohin kai sm cwe lain aja anak km udh diinjak-injak harga dirinya
goodnovel comment avatar
Milena
udalah Kaiva, Seruni sejengelkan itu buat akuh. ketemuin sm Lakezia ajaa thor...keponakan kesayangannya Tante Rhinon
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
si ikan Seruni yg sekarang nyebelin, songong juga.. mana keras kepala kyk Mak Lampir..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 346

    Tubuh terbalut selimut itu menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terurai oleh lelapnya tidur. Cahaya remang menyelimuti ruangan, hanya dibantu oleh bias pendar lampu-lampu kota Vienna yang menerobos masuk dari balik jendela kaca raksasa suite yang belum tertutup tirai sepenuhnya.Mengulurkan tangan, Zivanya menjangkau ponsel di atas nakas. Setelah layarnya menyala, deretan angka di sana sukses membuat matanya melebar seketika.19.30.Setengah delapan malam?Zivanya mendudukkan dirinya dengan cepat, membuat rambutnya yang terurai jatuh berantakan. Ia termenung beberapa detik. Sudah berapa jam dirinya tertidur? Dan seingatnya, tadi ia cuma rebahan sebentar di sofa, tapi kenapa sekarang berada di kasur?Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanya mengarah pada satu nama. Ariyan.Pria itu telah membopong tubuhnya dari sofa dan mendaratkannya di ranjang ini tanpa membuat Zivanya terbangun sedikit pun. Bayangan bagaimana

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 345

    Rasanya Zivanya ingin mengguncang bahu tegap itu keras-keras dan mengusir Ariyan pindah ke kamar sebelah. Pria itu yang memindahkan hotel mereka dan menyewa suite dua kamar ini, lalu kenapa tempat tidur Zivanya yang dijajah seenaknya?Zivanya baru saja hendak menarik napas untuk menyuarakan kekesalannya ketika matanya menangkap detail di kaki Ariyan. Sepasang sepatu di sana masih melekat dengan sempurna. Ariyan tampaknya langsung tertidur begitu menyentuh kasur karena terlalu lelah hingga tidak sempat melepas alas kakinya.Bayangan saat Ariyan berkali-kali menguap dengan mata merah serta ketulusannya yang menolak tidur demi menjaganya sepanjang penerbangan belasan jam, berputar jelas di depan mata Zivanya. Pria ini memang arogan dan terbiasa berbuat semaunya, tetapi rasa lelah yang meremukkan tubuhnya saat ini murni karena ia memilih pasang badan untuk Zivanya.Dengan dengkusan napas pasrah, Zivanya membuka sepatu Ariyan satu per satu dengan sangat hati-hati agar Ariyan tidak terbangu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 344

    Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Vienna International Airport. Di luar sana, kota Vienna terlihat diselimuti kabut tipis musim gugur.Zivanya terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Di sebelahnya, Ariyan sedang mematikan flight mode di ponselnya. Pria itu mengusap wajah, lalu menguap pelan sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Saat Ariyan mengambilkan tas Zivanya dari kompartemen atas, Zivanya baru menyadari sesuatu, mata mantan suaminya itu tampak agak merah."Kamu nggak tidur sama sekali?” tanya Zivanya melihat Ariyan yang ngantuk berat saat mereka sedang menunggu koper.Ariyan menjawab dengan gelengan kepala.“Kenapa?”“Biar bisa jagain kamu.”“Lebay.”Ariyan hanya tersenyum. Zivanya tidak perlu tahu apa alasan terbesarnya.Setelah koper-koper besar milik Zivanya muncul di conveyor belt, Ariyan dengan sigap mengambilnya. Tanpa membiarkan Zivanya menyentuh satu koper pun, pria itu mengangkat semuanya ke atas troli, lalu mendorongnya melintasi area imigrasi.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 343

    Ariyan berjalan tepat di belakang Zivanya membawa koper kabin milik perempuan itu. Saat memasuki pesawat, Zivanya segera menemukan kursinya di dekat jendela dan langsung duduk, berniat memutus interaksi sesegera mungkin. Ia membiarkan Ariyan mengangkat koper miliknya ke kompartemen atas. Saat lelaki itu mendaratkan tubuh di sampingnya, Zivanya langsung membuang muka.Pandangan Ariyan tertuju pada bahu Zivanya yang terbuka. Saat ini Zivanya mengenakan blouse putih dengan model kerah Sabrina hingga mengekspos jelas pundaknya yang putih dan mulus. Ariyan sangat tidak nyaman melihat itu.Ariyan menghela napas pendek. Ia meraih selimut yang disediakan, lalu merentangkannya hingga menutupi dada dan kedua bahu Zivanya.Zivanya langsung menoleh."Pakai selimutnya, Ziva.”Zivanya menepis pelan tangan Ariyan dan menurunkan selimut tersebut ke pangkuannya. "Aku nggak kedinginan."“Tapi baju kamu terlalu sexy. Bagian bahunya terlalu lebar. Semua orang bisa ngeliat pundak kamu. Aku nggak mau kamu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 342

    Zivanya berani bertaruh pasti ini ulah maminya. Rasa kesal Zivanya naik ke ubun-ubun mengingat sikap Seruni yang terlalu mencampuri urusan hidupnya seolah Zivanya adalah anak kecil. “Silakan kalau mau marah,” tantang Ariyan yang sudah menebak sejak awal bagaimana reaksi mantan istrinya. “Ya aku memang marah! Sampai kapan kamu mau jadi antek-antek Mami, hah?!” Tawa Ariyan lepas berderai. Suara beratnya yang renyah sampai mengundang kerlingan penasaran dari beberapa penumpang yang berada di dalam lounge tersebut. Ariyan sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kilatan amarah yang menyala tajam di sepasang mata Zivanya. "Antek-antek?" ulang Ariyan dengan sisa tawa yang masih menghiasi bibirnya. "Agak ekstrem ya istilahnya. Padahal aku cuma memanfaatkan informasi dari Mami secara bijak karena kamu nggak jujur mau ke mana.” "Nggak lucu!” Zivanya semakin ketus. Ia merasa jengkel setengah mati melihat Ariyan menganggap kemarahannya seperti hiburan. "Mami itu makin hari makin kele

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 341

    Waktu bergulir dengan cepat. Zivanya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di Melancholia Music Academy. Sekolah musiknya itu berkembang pesat karena masih sedikit sekolah sejenis, para pengajarnya pun sudah profesional di bidang masing-masing. Selain sebagai owner, Zivanya juga terjun langsung untuk mengajari para muridnya. Zivanya sangat menikmati perannya. Mengajar membawa kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Melihat jemari murid-muridnya menemukan suara jiwa mereka di atas tuts memberi kepuasan tersendiri bagi Zivanya. Dedikasi Zivanya pada musik tidak berhenti di ruang kelas. Di sela-sela mengajar, ia terus mengasah kemampuannya. Ia ingin menjadi pianis profesional seperti cita-cita masa kecilnya yang dulu terpaksa ia kubur dalam-dalam karena maminya tidak setuju. Maminya itu lebih suka Zivanya menekuni dunia bisnis karena menurutnya menjadi pemusik tidak memiliki masa depan. Zivanya telah mendaftarkan diri di ajang International Beethoven Piano Competition

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status