共有

Part 199

last update 公開日: 2026-06-27 18:13:19

Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.

​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.

“Ibu jadi pelgi ya?”

“Jadi, Sayang.”

​"Kai mau ikut."

​Ziv
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (8)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
gak rela sih kalau Ziva balikan sama si mantan brengsek nya
goodnovel comment avatar
Adfazha
Mita cari aman ya demi perdamaian dunia boba & kantongnya aman jd ngalah sm CEO wkwkkk Ziva kicep deh Mita gk sekubu lagi
goodnovel comment avatar
can
berharap berakhir seperti kanya davva
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 434

    Dokter sudah mengonfirmasi kesembuhan Ariyan. Dan itu membuat bahagia semua orang.“Secara klinis saya bisa mengatakan dengan yakin, fungsi memori Anda sudah kembali bekerja dengan normal. Semua tes yang kita jalani menunjukkan hasil yang konsisten.”Ariyan menggenggam tangan Zivanya erat, tak berani sepenuhnya percaya pada apa yang baru saja ia dengar.“Jadi saya sudah sembuh, Doc?” “Anda sudah sembuh.” Dr. Brenner tersenyum lebar. “Saya sudah bertahun-tahun menangani pasien dengan kondisi serupa, dan saya jarang melihat pemulihan secepat dan sebaik ini. Saya tidak akan menyebutnya keajaiban dalam istilah medis, tapi saya pribadi percaya, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar terapi yang bekerja di kasus Anda.”“Ariella. Putri saya. Dia lahir dengan membawa banyak anugerah dan keajaiban. Salah satunya kesembuhan saya.”Dr. Brenner mengangkat bahu, senyumnya masih terkembang. “Secara ilmiah, mungkin karena lonjakan emosional luar biasa saat kelahiran memicu jalur saraf yang s

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 433

    Jarum jam menunjukkan hampir pukul empat pagi. Seruni dan yang lain kembali ke apartemen, membawa serta Kaisar yang tertidur pulas setelah malam paling berkesan dalam hidupnya.Yang tersisa di kamar hanya Ariyan, Zivanya, dan Ariella.Ariyan duduk di kursi samping tempat tidur. Ia mengamati setiap gerakan Zivanya yang sedang menyusui Ariella untuk kesekian kalinya."Gimana, masih ada, kan, airnya?" tanyanya meski bertanya hal yang sama berkali-kali dalam satu jam terakhir."Ada Papaaa. Kamu udah nanya ini berkali-kali sejak tadi,” jawab Zivanya sambil tersenyum gemas.Ariyan nyengir kecil. "Aku cuma mau mastiin stoknya banyak. Abisnya dia nggak berhenti nyusu dari tadi.” Dipandanginya putri mungilnya yang menyusu dengan rakus.Begitu Ariella selesai menyusu, Ariyan segera mengulurkan tangan. "Sini, biar aku gendong, kamu istirahat dulu."Zivanya menyerahkan bayinya kemudian merebahkan badan.Ariyan menggendong Ariella sambil bersenandung kecil. Zivanya yang melihat hanya bisa tersenyu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 432

    Setelah mengetahui adiknya lahir, Kaisar tidak sabar ingin bertemu dengannya dan merengek-rengek agar segera dibawa, Kehadiran Ariella yang baru saja menyapa dunia mendatangkan gelombang antusiasme luar biasa bagi sang kakak. Di ruang tunggu luar area persalinan, suasana yang tadinya tenang mendadak riuh oleh tingkah Kaisar yang sudah tidak tahan ingin menemui adiknya. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu terus-terusan menarik-narik ujung baju kakek neneknya. Kakinya melompat-lompat kecil, matanya mencari-cari dengan perasaan tidak sabar. "Omi! Bawa Kai masuk. Kai mau lihat Adek sekarang!" rengek Kaisar hampir menangis karena keinginannya tidak kunjung dituruti. "Sabar sebentar, Sayang. Adek lagi dibersihin. Sebentar lagi pasti dipanggil,” bujuk Seruni sambil mengusap kepala cucunya. "Nggak mau nanti, Omi. Mau sekaraaang,” rengeknya lagi semakin menjadi-jadi. Kaisar menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, enggan dipegang. Kehebohan kecilnya membuat seluruh keluarga di ru

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 431

    Malam semakin menua. Suara-suara tidak lagi terdengar. Seluruh penghuni apartemen sudah lelap dalam tidurnya. Hanya Zivanya satu-satunya makhluk bernyawa di tempat itu yang masih betah membuka mata. Bukan betah, tapi lebih tepatnya tidak bisa. Sedangkan di sebelahnya Ariyan sudah lelap sejak tadi. Ariyan terlalu lelah karena sejak kemarin hampir tidak beristirahat. Zivanya memiringkan badannya ke kiri. Mengacu pada saran dokter ia dianjurkan untuk lebih sering berbaring miring ke kiri. Maka Zivanya pun melakukannya. Zivanya mencoba untuk tidur dengan mengatupkan mata. Malam ini terasa berbeda dengan malam-malam lainnya. Perutnya begitu nyeri. Rasa pegal menggerayangi pinggang dan punggungnya. Baru beberapa detik matanya kembali terbuka saat merasakan sesuatu mengalir di area genitalnya. Zivanya mengabaikannya. Berusaha untuk melanjutkan niat untuk tidur, Zivanya memejamkan mata. Dahinya berkerut dalam saat merasakan aliran di bagian kewanitaannya tidak berhenti mengalir. Ini adal

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 430

    Hari-hari menjelang persalinan menjadi masa-masa yang sangat berat bagi Zivanya. Tubuhnya serasa digempur rasa sakit dari berbagai sisi. Tidak ada lagi posisi yang benar-benar nyaman. Duduk salah, berbaring serba serba tidak pas, bahkan sekadar menggeser posisi tidur saja membutuhkan perjuangan besar. Pagi itu di kamar apartemen, Zivanya meringis saat mencoba mengubah posisi miring ke kanan. Kepala bayinya yang sudah turun semakin dalam ke rongga panggul menekan saraf-saraf di area bawahnya secara konstan. Nyeri menusuk di area tulang panggul dan lipatan pahanya terasa seolah-olah sendi-sendinya hendak lepas. “Ari…,” panggil Zivanya lirih dengan mata terpejam rapat, menahan ngilu yang melilit pinggang bawahnya. Ariyan yang membawakan makanan untuk Zivanya langsung mendekat. "Kenapa, Ziva? Yang mana yang sakit?" tanya Ariyan sigap. "Punggung aku, pinggang juga rasanya mau patah," adu Zivanya dengan napas satu-satu. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Beban perutnya yang buncit

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 429

    Suasana terasa sangat sepi. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul empat, tapi langit di luar jendela mulai meredup dipayungi awan mendung tipis. Zivanya duduk sendirian di tepi tempat tidur. Ia bergerak gelisah memegang ponsel. Sejak pagi tadi, hatinya tidak tenang. Pikirannya terus tertambat pada Kaisar. Zivanya membuka kembali aplikasi pesan dan menatap layarnya yang bisu. [Bila, Kai gimana? Masih sedih dan nggak mau makan?] Pesan singkat itu ia kirimkan ke Syabila sejak jam sembilan pagi, tapi sampai sekarang jangankan dibalas, dihitung read pun tidak. Begitu pula saat ia mencoba mengirim pesan pada Seruni. Tidak ada balasan sama sekali. Zivanya menghela napas panjang. Diletakkannya handphone. Rasa cemas bercampur rindu membuat dadanya semakin sesak. Usia kehamilannya yang semakin tua membuat emosinya jauh lebih sensitif. Kakinya terasa pegal, dan perutnya yang membuncit maksimal sesekali tegang karena kontraksi palsu. Sebuah tendangan pelan dari dalam rahim membuatn

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 6

    Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 5

    Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status