Share

Part 199

last update publish date: 2026-06-27 18:13:19

Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.

​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.

“Ibu jadi pelgi ya?”

“Jadi, Sayang.”

​"Kai mau ikut."

​Ziv
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
gak rela sih kalau Ziva balikan sama si mantan brengsek nya
goodnovel comment avatar
Adfazha
Mita cari aman ya demi perdamaian dunia boba & kantongnya aman jd ngalah sm CEO wkwkkk Ziva kicep deh Mita gk sekubu lagi
goodnovel comment avatar
can
berharap berakhir seperti kanya davva
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 349

    Langkah tegap Ariyan terus membawa mereka melintasi jalanan Vienna yang kian sepi, hingga tidak lama kemudian hotel mereka mulai terlihat.Menyadari mereka sudah semakin dekat dengan area hotel, Zivanya mendadak panik. Ia menepuk-nepuk pelan bahu Ariyan. "Ari, udah mau nyampe hotel. Turunin aku."Ariyan sama sekali tidak memperlambat langkahnya. "Tadi siapa yang mencibir waktu aku bilang nggak bakal capek?""Ariyan! Turunin, ih! Malu dilihat orang hotel!" Zivanya menegang, menyadari langkah Ariyan sudah menyeberangi pelataran hotel.Alih-alih menurut, Ariyan malah sedikit menyentak paha Zivanya ke atas agar posisinya semakin kokoh. Zivanya yang kaget refleks memekik kecil. Ia mempererat pelukannya di leher Ariyan sembari menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik kerah mantel pria itu.Pintu kaca otomatis hotel terbuka, menyambut mereka dengan kehangatan lobi ultra mewah. Seorang petugas concierge dan resepsionis berseragam rapi membungkuk hormat. Mata mereka sempat membelalak kage

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 348

    Zivanya sedang mengikuti latihan untuk acara besok. Sesi latihan ini sebenarnya steril dan tertutup ketat untuk umum, namun Ariyan bisa duduk tenang di deretan kursi penonton yang temaram berkat companion pass khusus peserta yang tergantung rapi di dadanya.Zivanya duduk di depan piano. Bersama puluhan musisi orkestra pendamping dan aba-aba tegas dari konduktor, dentingan jemari Zivanya menyatu sempurna membawakan babak konserto Beethoven. Setiap ketukan nada yang meluncur dari jemarinya terdengar teratur, kuat, dan mengalun indah.Dari tempat duduknya, tatapan Ariyan tertuju sepenuhnya pada Zivanya. Ia bangga melihat mantan istrinya itu. Tetapi ia tidak memungkiri bahwa saat ini ia juga sedang gelisah. Sesekali matanya mengedar ke sudut-sudut gedung, memastikan tidak ada sosok asing yang berani menyusup dan mengusik ketenangan mantan istrinya. Ariyan tidak ingin terjadi kekacauan di hari besar Zivanya nanti.Setelah sesi latihan bersama dan briefing teknis berakhir, Zivanya melangkah

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 347

    Pagi-pagi sekali Zivanya sudah bangun dan stand by di depan piano. Lalu sore nanti ia ia sudah dijadwalkan menghadiri latihan akustik sekaligus sesi briefing latihan bersama orkestra di gedung Wiener Musikverein.Tidak jauh dari sana, Ariyan duduk di sofa. Tidak sedetik pun Ariyan melepaskan tatapannya dari Zivanya, seolah jika ia berkedip sedikit saja maka ia akan rugi karena melewatkan pemandangan indah di hadapannya.Di tengah permainan Zivanya, keasyikan Ariyan terganggu karena bunyi ketukan di pintu.Ariyan berdiri mendahului, tidak ingin fokus latihan Zivanya terganggu. Ia membuka pintu dan mendapati seorang petugas concierge berseragam rapi berdiri membungkuk hormat, menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar."Good morning, Herr von Westergaard. A special delivery for you, Sir," ujar petugas hotel dengan sopan sembari menyodorkan buket tersebut.“For me? Who sent this? I didn't order any flowers,” heran Ariyan yang merasa tidak memesan bunga."The sender reques

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 346

    Tubuh terbalut selimut itu menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terurai oleh lelapnya tidur. Cahaya remang menyelimuti ruangan, hanya dibantu oleh bias pendar lampu-lampu kota Vienna yang menerobos masuk dari balik jendela kaca raksasa suite yang belum tertutup tirai sepenuhnya.Mengulurkan tangan, Zivanya menjangkau ponsel di atas nakas. Setelah layarnya menyala, deretan angka di sana sukses membuat matanya melebar seketika.19.30.Setengah delapan malam?Zivanya mendudukkan dirinya dengan cepat, membuat rambutnya yang terurai jatuh berantakan. Ia termenung beberapa detik. Sudah berapa jam dirinya tertidur? Dan seingatnya, tadi ia cuma rebahan sebentar di sofa, tapi kenapa sekarang berada di kasur?Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanya mengarah pada satu nama. Ariyan.Pria itu telah membopong tubuhnya dari sofa dan mendaratkannya di ranjang ini tanpa membuat Zivanya terbangun sedikit pun. Bayangan bagaimana

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 345

    Rasanya Zivanya ingin mengguncang bahu tegap itu keras-keras dan mengusir Ariyan pindah ke kamar sebelah. Pria itu yang memindahkan hotel mereka dan menyewa suite dua kamar ini, lalu kenapa tempat tidur Zivanya yang dijajah seenaknya?Zivanya baru saja hendak menarik napas untuk menyuarakan kekesalannya ketika matanya menangkap detail di kaki Ariyan. Sepasang sepatu di sana masih melekat dengan sempurna. Ariyan tampaknya langsung tertidur begitu menyentuh kasur karena terlalu lelah hingga tidak sempat melepas alas kakinya.Bayangan saat Ariyan berkali-kali menguap dengan mata merah serta ketulusannya yang menolak tidur demi menjaganya sepanjang penerbangan belasan jam, berputar jelas di depan mata Zivanya. Pria ini memang arogan dan terbiasa berbuat semaunya, tetapi rasa lelah yang meremukkan tubuhnya saat ini murni karena ia memilih pasang badan untuk Zivanya.Dengan dengkusan napas pasrah, Zivanya membuka sepatu Ariyan satu per satu dengan sangat hati-hati agar Ariyan tidak terbangu

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 344

    Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Vienna International Airport. Di luar sana, kota Vienna terlihat diselimuti kabut tipis musim gugur.Zivanya terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Di sebelahnya, Ariyan sedang mematikan flight mode di ponselnya. Pria itu mengusap wajah, lalu menguap pelan sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Saat Ariyan mengambilkan tas Zivanya dari kompartemen atas, Zivanya baru menyadari sesuatu, mata mantan suaminya itu tampak agak merah."Kamu nggak tidur sama sekali?” tanya Zivanya melihat Ariyan yang ngantuk berat saat mereka sedang menunggu koper.Ariyan menjawab dengan gelengan kepala.“Kenapa?”“Biar bisa jagain kamu.”“Lebay.”Ariyan hanya tersenyum. Zivanya tidak perlu tahu apa alasan terbesarnya.Setelah koper-koper besar milik Zivanya muncul di conveyor belt, Ariyan dengan sigap mengambilnya. Tanpa membiarkan Zivanya menyentuh satu koper pun, pria itu mengangkat semuanya ke atas troli, lalu mendorongnya melintasi area imigrasi.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status