LOGINDi rumahnya, Zelena yang pada awalnya menerima telepon sambil berbaring, kini duduk dan menajamkan telinganya. Jarang-jarang menantunya menelepon di waktu seperti sekarang. Apalagi mengatakan ada yang penting dan mengganjal di hati. “Ada apa, Ziva? Ada masalah? Kalian nggak lagi bertengkar, kan?” tanyanya dengan perasaan cemas. Selama ini hubungan anak dan menantunya baik-baik saja. Pernikahan mereka sangat harmonis. Keduanya malah terlihat semakin mesra dari hari ke hari. “Nggak kok, Ma, aku dan Ziva baik-baik aja.” Zivanya sontak terkejut ketika tiba-tiba handphonenya direbut oleh Ariyan. Tadi, Ariyan bergerak secepat kilat. Ia memanfaatkaan situasi saat Zivanya sedikit lengah ketika mendengar suara cemas mamanya. Dengan satu sentakan kasar, ia berhasil merebut ponsel dari genggaman Zivanya. "Halo? Ari? Kok suara kamu yang muncul?" tanya Zelena dari seberang sana. Ariyan menjauhkan tubuhnya dari Zivanya, memberikan ja
Ariyan masih mematung dengan satu tangan menyentuh pipi yang berdenyut panas, sementara matanya menatap nanar pada Zivanya. Pemandangan di depannya benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Istrinya berdiri dengan wajah yang menunjukkan emosi yang begitu besar, rambut berantakan, dan saat ini sedang mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. Ancaman Zivanya untuk membongkar perselingkuhannya dengan Aira mungkin bukan sekadar gertak sambal. Ariyan tidak menyangka istrinya akan seberani itu. Jika rahasia ini sampai ke telinga keluarga besar, bukan hanya reputasinya yang hancur, tapi hubungannya dengan Aira juga akan berakhir. Dan yang paling ditakuti Ariyan adalah menyakiti perasaan kedua orang tuanya, terutama mamanya yang sangat ia sayangi. Setelah berhasil menenangkan diri, Ariyan bangkit dari sofa. Ia berdiri di depan Zivanya. Ditatapnya perempuan itu lekat-lekat. "Kamu sadar apa yang kamu ucapkan? Papi punya riwayat sakit jantung. Kamu mau melihat dia mati cepat karena
"Kamu gila, Ziva.” Kalimat itu yang akhirnya tercetus dari bibir Ariyan. "Kamu benar-benar sudah gila karena laki-laki itu."Zivanya menanggapinya dengan tawa kecil. "Aku nggak gila, Ariyan. Aku hanya sedang belajar menjadi realistis, persis seperti yang kamu ajarkan selama ini. Kamu ingin memiliki segalanya, kan? Kamu ingin lanjut dengan Aira, tapi kamu juga nggak mau kehilangan statusmu sebagai anak dan menantu kesayangan orang tua kita. Jadi aku kasih jalan tengahnya.” Zivanya lalu melihat kuku-kukunya dengan tenang sebelum kembali menatap suaminya. "Kamu tetap bisa bersama dengan selingkuhanmu, dan aku tetap menjadi pajangan cantikmu di depan publik. Adil, kan?""Nggak akan pernah adil kalau ada laki-laki lain yang menyentuhmu!" Ariyan menggebrak meja di dekatnya hingga gelas di atasnya bergoyang. "Aku suamimu, Ziva! Secara hukum, secara agama, kamu milikku!""Status itu nggak akan menghentikanmu untuk tidur dengan wanita lain. Jadi jangan gunakan itu sebagai alasan untuk ego
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Zivanya tiba di rumah. Seluruh lampu telah menyala terang. Begitu kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati penghuninya. Ariyan sedang duduk di sofa sambil merokok. Lelaki itu menunggu istrinya sejak tadi. Zivanya melihat Ariyan. Tapi ia terus melangkah melewati lelaki itu. "Jam berapa ini? Kenapa baru pulang?" tegur Ariyan tidak senang. Meskipun telinganya mendengar dengan baik pertanyaan suaminya, tapi sama sekali tidak menghentikan langkah Zivanya. Ia terus berjalan menuju meja makan untuk meletakkan tasnya lalu mengambil air minum. "Jam yang sama saat kamu biasanya sedang berada di apartemen Aira. Kenapa? Kamu ngerasa ada yang aneh?" Ariyan melangkah lebar. Ia merengkuh bahu Zivanya dan memutar tubuh istrinya itu agar menghadapnya. "Jangan main-main. Siapa perempuan di telepon tadi? Siapa yang berani menyebut kamu sebagai pacar Kaivan? Jawab!" Dengan tangan memegang gelas, Zivanya menatap mata Ariyan tanpa gentar. "Itu
Ariyan bergegas keluar dari restoran dengan napas memburu. Ia tidak memedulikan tatapan heran para pekerja di sana saat hampir berlari menuju pelataran parkir. Matanya mengedar ke mana-mana, mencari mobil hitam Kaivan, namun yang ia cari sudah lenyap dari tempat tersebut. Sementara itu, di dalam mobil Kaivan yang melaju tenang menjauhi area The Heritage Kitchen, suasana terasa jauh lebih damai. Zivanya menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk sembari melepaskan napas lega."Kamu nekat banget, Ziva," ujar Kaivan sambil melirik wanita di sampingnya. "Ariyan pasti ngamuk setelah sadar kita pergi lewat pintu samping.””Ya biarinlah,” jawab Zivanya tidak peduli. “Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku punya kaki untuk melangkah pergi sendiri."Saat mereka sedang berbicara, ponsel Kaivan di tatakan dashboard berbunyi. Nama adik perempuannya muncul di layar."Sebentar, Ziva," ujarnya meminta izin Ialu menjawab panggilan lewat speaker. "Halo.""Abang Kai!" Suara panik perempuan lan
Ariyan mengepalkan tinjunya di dalam saku celana, berusaha keras menjaga agar rahangnya tidak mengeras di depan mertuanya. Kata-kata Zivanya barusan bukan sekadar penolakan, melainkan pengusiran halus yang sangat mematikan harga dirinya. Diusir dari meja istrinya sendiri demi seorang pria yang kini duduk dengan tenang di sana."Ziva benar, Mi," ujar Ariyan akhirnya dengan suara yang ditekan sedemikian rupa agar tetap terdengar biasa. "Aku nggak mau mengganggu obrolan penting mereka. Aku duduk di meja depan aja.”Seruni tampak serba salah. Ia menatap menantu dan anaknya bergantian dengan raut bingung. "Ya sudah kalau begitu. Ari, kamu duduk dulu ya, nanti Mami minta pramusaji segera antar menu. Ziva, jangan lama-lama ngobrolnya, nggak enak suamimu makan sendirian."Begitu Seruni melangkah menjauh, Ariyan tidak membiarkan emosinya pecah. Alih-alih menunjukkan kemarahan yang meluap, ia malah menarik napas panjang dan menampilkan senyum tipis lalu menatap Kaivan dengan ekspresi yang ta







