Share

Part 9

last update publish date: 2026-04-29 18:19:06

Zivanya melangkah anggun memasuki lobi Arkhara Construction. Semua orang yang berpapasan dengannya menyapa dengan sopan.

Zivanya membalas sapaan mereka dengan senyum tipis, meski di balik riasan wajahnya yang sempurna ia sedang menyembunyikan perasaan sedih yang luar biasa. Mengenakan setelan blazer berwarna broken white yang membalut tubuh rampingnya, ia memancarkan aura profesionalisme yang sulit untuk diingkari.

​Di Arkhara Construction, identitasnya begitu berlapis. Ia adalah istri sang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
syukur deh kalau ada orang baik yg peduli sm Ziva si bucin tolol..
goodnovel comment avatar
Julia Rossi R.
anak bapaknya Dari ex istri pertamanya
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
yaaa akhirnya terjadilah malam panas,,, dan dede bayi nya kaivan mantab
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 200

    Zivanya memilih untuk tidak berkata apa-apa.Bukan karena tidak ada yang ingin ia katakan. Ada banyak sebenarnya. Tapi berada di dekat Ariyan selain mengganggu suasana hatinya juga membuatnya kehilangan kata-kata. Maka ia kembali memusatkan perhatian pada aplikasi baca di handphonenya. Tapi entah mengapa, kalimat yang sama sudah ia baca empat kali dan tidak satu pun yang masuk ke kepalanya.Sedangkan di sebelahnya Ariyan duduk dengan tenang tanpa melakukan apa-apa. Hanya duduk diam.Empat puluh menit pertama berlalu seperti itu.Sampai bus berguncang ketika melewati sambungan jalan, dan tumbler kopi Zivanya yang tidak tertutup rapat oleng dari tempat dudukannya. Dengan refleks Ariyan menangkapnya. Tangannya bergerak lebih cepat dari pikiran. Jari-jemarinya menutup di sekeliling tumbler tepat sebelum isinya tumpah. Ia menahannya sesaat sebelum menyerahkannya kembali dengan gerakan yang sama tenangnya dengan segala sesuatu yang ia lakukan."Tutupnya kurang rapat, Ziva.” Ariyan memberik

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 199

    Hari masih sedikit gelap ketika Zivanya menggeret koper kecilnya ke ruang tengah. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung untuk mengikuti acara outing tahunan kantor yang tahun lalu berhasil ia hindari dengan alasan Kaisar demam. Alasan yang tahun ini tidak bisa ia pakai lagi karena Kaisar, dengan tubuhnya yang sekarang jauh lebih tinggi sudah berlari-larian sehat sejak subuh.​Dan sekarang, anak laki-laki itu sedang berdiri di depannya.“Ibu jadi pelgi ya?” “Jadi, Sayang.”​"Kai mau ikut."​Zivanya menatap jagoan kecilnya dan berjongkok di hadapannya. "Kai, Ibu, kan sudah bilang–”​"Kai mau ikuuut." Kaisar mengucapkannya lagi dengan penekanan yang berbeda, seolah versi kedua dari kalimat yang sama secara ajaib akan mengubah keputusan ibunya.​Zivanya menghela napas pelan. Ia mengusap rambut Kaisar yang awut-awutan dan menyisir dengan jari-jemarinya. "Ini acara kantor Ibu, Sayang. Nggak bisa bawa anak-anak."​"Kenapa?"​"Karena memang aturannya begitu."​"Atulannya siapa?"​Astaga, ken

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 198

    “Jadi kapan kita beli furniture?” “Hmm… kayaknya kapan-kapan aja deh, Kai.” “Kok kapan-kapan? Kamu terlalu sibuk atau…” Kaivan menggantung kalimatnya, menatap Zivanya lekat-lekat melalui video call malam itu. ​“Aku cuma ngerasa kita nggak perlu buru-buru. Lagian rumah itu juga nggak ditempati setiap hari.” Kaivan terdiam. Dalam heningnya ia mencoba mengartikan makna perkataan Zivanya. Apa ​Zivanya menyerah karena tertekan maminya? Dan ini adalah cara halus untuk menyudahi hubungan mereka? “Memang nggak ditempati setiap hari, tapi seenggaknya nggak dibiarin kosong. Minimal ada kursi sama meja.” “Ya. Aku setuju. Tapi rasanya untuk beberapa hari ini aku belum bisa fokus ke sana. Kalau kamu mau beli duluan, beli aja. Apa pun pilihan kamu aku pasti suka,” lanjut Zivanya halus. Ia mengembuskan napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya sendiri. Raut lelahnya terlihat sangat jelas di layar. ​“Capek banget ya? Banyak kerjaan di kantor?” ​Di dalam hati

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 197

    “Sekarang tolong ceritain ke Mama gimana kejadian sebenarnya?” pinta Andara setelah Seruni pergi.“Apanya yang harus aku ceritain, Ma? Kan, udah jelas.”“Belum. Mama nggak tahu hubungan kamu sama Zivanya udah sejauh ini. Bahkan kalau Tante Seruni nggak datang menemui Mama, Mama juga nggak tahu kalau Zivanya udah cerai sama Ariyan.”​​Mendengar kalimat mamanya, Kaivan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengaku. "Ziva cerai udah hampir satu tahun, Ma.”“Hampir satu tahun?”Kaivan mengiakan dengan anggukan. “Sepuluh bulan lebih tepatnya. Dan yaa… aku sama dia memang lagi menjalin hubungan.”​"Mama nggak melarang kalau memang kamu suka sama dia, Kai," ujar Andara dengan nada suara yang tenang dan meneduhkan. "Mama nggak masalah kalau memang dia yang jadi pilihan kamu. Tapi kamu juga nggak boleh tutup mata terhadap realita yang ada di depan kamu sekarang."​Kaivan bergeming, mendengarkan dengan saksama setiap untaian kata yang diucapkan mamanya.​"Orang tuanya nggak setuju. Bahkan sam

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 196

    Kaivan baru saja melepas kancing teratas kemejanya begitu melangkah masuk ke dalam apartemennya yang sepi. Tubuhnya terasa lelah setelah sisa hari yang panjang. Namun, baru saja ia mengistirahatkan punggungnya di sofa, ponselnya berbunyi. Nama mamanya tertera di layar. Kaivan langsung menjawab. ​"Kai, kamu di mana? Bisa pulang ke rumah sekarang? Mama tunggu, ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Andara di seberang telepon dengan nada suara yang terdengar tidak biasa. ​"Ada apa, Ma? Apa nggak bisa lewat telepon aja?" tanya Kaivan sembari memijat pelipisnya. "Aku agak capek, Ma. Kalau nggak mendesak, besok pagi aku mampir ke rumah.” ​"Nggak bisa, Kai. Ini penting dan harus dibicarakan sekarang. Langsung. Mama tunggu.” ​Kaivan menatap layar ponselnya yang menggelap dengan helaan napas panjang. Kepatuhannya yang tinggi pada sang mama membuat pria itu tidak memiliki pilihan lain. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali menyambar kunci mobil, meninggalkan kenyamanan apartem

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 195

    “Waktu Kai video call sama kamu, Mami dengar katanya ada Ariyan. Itu gimana ceritanya kalian bisa makan siang bertiga?” Seruni memulai sesi interogasinya. Wanita itu sudah tiba di Indonesia. Ia sudah sangat tidak sabar ingin tahu kronologinya. “Kebetulan aja, Mi.” Zivanya menjawab singkat. Ia sedang mematut diri di depan cermin, mencoba kimono bermotif sakura pilihan buah hatinya. “Kebetulan gimana?” ulang Seruni belum puas, menuntut penjelasan lengkap dari Zivanya. Zivanya mengembuskan napas pelan. Ia merapikan ikatan obi pada kimono berwarna pink pastel tersebut sebelum berbalik menghadap sang mami yang kini duduk bersedekap di tepi ranjang. ​“Jadi Kaivan datang ke kantor buat jemput aku makan siang, Mi. Tapi kebetulan ada Ariyan di ruangan aku,” jelas Zivanya dengan nada selembut mungkin, berusaha meredam rasa penasaran maminya yang menggebu-gebu. ​Seruni langsung menegakkan punggungnya, wajahnya yang semula tegang kini berubah melunak penuh minat. “Ariyan? Dia ngajakin

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 141

    Setelah mereka berpisah, Zivanya masih melakukan rutinitas seperti biasa. Bekerja di perusahaan yang dulu milik suaminya. Entah mengapa Zivanya merasa sedih. Ia merasa jahat mengambil sesuatu yang bukan haknya. Perusahaan ini, gedung tempatnya berada sekarang, serta kursi yang tengah didudukinya a

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 144

    Ariyan menepati kata-katanya. Lelaki itu tidak pernah lagi menunjukkan batang hidungnya pada sidang-sidang selanjutnya. Ketidakhadirannya yang sengaja memangkas semua birokrasi yang melelahkan. Sehingga Zivanya melalui semua dengan lancar tanpa ada berkas replik atau duplik yang berbelit-belit. Pro

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 143

    Hari Selasa yang dinanti akhirnya tiba. Kompleks Pengadilan Agama sejak pagi sudah dipadati oleh lalu lalang orang yang menunggu antrean sidang. Selain didampingi Kaivan, Zivanya ditemani oleh kedua orang tua dan adiknya. Seruni terus menggenggam erat jemari putrinya yang terasa dingin, sementarai

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 142

    Seumur hidup, tidak sekali pun terlintas di pikiran Zivanya akan melewati fase perceraian, apalagi di usia yang sangat muda. Sejak lahir ia memiliki kehidupan yang sangat indah dan bisa dikatakan sempurna untuk ukuran manusia. Cantik, kaya-raya dan memiliki segalanya. Di matanya, takdir selalu berpi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status