LOGINThe Hook Maya grew up to be an outcast. Despite being one, she didn't care at all. She got beaten most of the time whether it was in the pack or at school. They've seen her as weak and wolfless. She was to be 18 and none of them had seen her shift. But Maya has already shifted at the age of 3 years old, and constantly shifts whenever she has an opportunity. She was being rejected by the future alpha of her pack. Jacob is a fierce and most powerful alpha wolf, who doesn't believe in mates. He doesn't want one because he thinks it will only make him weak. His father is weakened and has been defeated by his own mother that betrayed them. What will happen when both face each other and find themselves mated to each other?
View MoreMichaels menghembuskan nafas panjang sambil menatap tajam Tristan yang terlihat sudah sangat letih. Mereka sekarang ada di dalam hutan larangan dan sedang melakukan sebuah pertarungan. Pertarungan mereka sangatlah sengit. Bahkan saking sengitnya, semua pohon dan bebatuan besar yang ada di sekitar mereka sampai terbelah menjadi beberapa bagian.
Michaels menggunakan pedang panjangnya yang bernama Raphael. Dan Tristan menggunakan pistol yang disebut oleh Tristan dengan nama Star.
Kedua orang itu dulunya adalah seorang sahabat. Anggota pasukan bayangan yang paling ditakuti dan dihormati di seluruh dunia. Kedua orang itu juga telah menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berat. Dan sudah terbiasa terjun ke dalam medan perang.
Mereka berdua tidak bisa dipisahkan. Setiap ada Michaels di situ ada Tristan. Di mana ada Tristan, di situ pasti ada Michaels.
Tetapi itu dulu. Sebelum Tristan memilih untuk keluar dari pasukan bayangan demi sesuatu yang ia anggap sebagai idealis. Sesuatu yang seharusnya sudah ada sejak lama.
Sesuatu itu adalah sebuah keadilan. Tristan menginginkan sebuah keadilan. Keadilan di mana semua orang bisa sama tanpa harus memikirkan tentang status keluarga mereka.
Dan keadilan itu baru bisa tercipta jika Lima Keluarga Besar hancur. Lima keluarga yang berkuasa atas ekonomi, politik, keamanan, dan keamanan negara. Jadi Tristan berencana untuk menghancurkan Lima Keluarga Besar. Untuk mewujudkan idealismenya.
Tristan tau kalau hal yang ia akan lakukan adalah hal yang akan dianggap sebagai hal kriminal oleh orang lain. Tetapi Tristan tidak memperdulikannya. Karena baginya yang terpenting adalah sebuah keadilan.
Tristan akan melakukan apa pun untuk bisa menciptakan keadilan itu. Termasuk dengan cara memusnahkan seorang laki-laki yang selama ini telah ia anggap sebagai kakak. Michaels.
Tristan sebenarnya tidak mau melukai laki-laki itu, karena laki-laki itu telah banyak membantunya. Tetapi Tristan mau tidak mau harus melukai laki-laki itu. Karena laki-laki itu adalah anak pertama dari keluarga Aurora dan suami dari pemimpin keluarga Gracia.
Membunuh adalah hal yang biasa baginya. Setelah banyaknya orang yang pernah ia bunuh di medan pertempuran, ia sama sekali tidak pernah merasa menyesal atau pun sedih. Tetapi kenapa sekarang tangannya bergetar hebat saat ia harus membunuh Michaels? Apakah memang hatinya terlalu berat untuk melakukan hal itu?
"Hei, Tristan. Kita sudah sahabatan sangat lama. Jadi aku sangat tau kalau rencana kamu ini untuk kepentingan semua orang. Tapi bukannya kita anggota pasukan bayangan? Jadi tugas kita adalah menjaga Lima Keluarga Besar," cetus Michaels sambil mendongakkan kepalanya ke arah atas.
"Aku sudah ke luar dari pasukan bayangan. Jadi aku bebas mau melakukan apa pun yang aku mau," balas Tristan sambil mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepala Michaels.
"Kita yang dulunya tidak sanggup melukai orang, sekarang sudah terbiasa membunuh orang. Dan kita melakukan hal itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Menandakan bahwa hati kita memang sudah benar-benar mati. Tapi entah kenapa, sekarang rasa takut itu muncul lagi. Rasa takut itu muncul lagi saat aku tau kalau kamu adalah orang yang harus gua bunuh."
"Sama. Aku juga. Tapi sekarang kondisinya kita bukanlah seorang sahabat. Aku adalah musuhmu. Dan kamu adalah musuhku. Jadi kita harus melakukannya. Membunuh atau dibunuh. Cuma itu pilihannya."
"Kalau seandainya idealisme mu sudah tercapai. Apakah mungkin dunia ini akan damai seperti yang pernah kamu ceritakan ke aku?"
"Aku tidak bisa jamin. Tapi aku bakalan usahakan."
Michaels tersenyum kecil. Ia teringat dengan cerita-cerita Tristan tentang sebuah dunia yang di dalamnya sama sekali tidak ada diskriminasi dan semua orang di dalam dunia itu mendapatkan sebuah keadilan tanpa memandang status keluarga atau pun keuangan orang itu.
Sebuah dunia yang sangat mustahil untuk diwujudkan. Mungkin dunia itu hanya ada di alam mimpi. Tetapi Tristan sekarang sedang mencoba untuk menciptakan dunia itu. Dan sebagai sahabatnya, Michaels mencoba untuk percaya pada Tristan. Berharap kalau impian Tristan memang benar-benar menjadi sebuah kenyataan.
"Anakku satu bulan yang lalu baru saja lahir. Dan aku tadi pagi baru saja bisa menemuinya. Dia laki-laki. Mungkin kalau dia sudah besar, dia bakalan punya sifat dingin seperti ibunya dan sifat peduli sepertiku. Rasanya aku sudah tidak sabar mau lihat seperti apa anakku saat anakku sudah dewasa," cetus Michaels diakhiri dengan sebuah senyuman.
"Siapa namanya, Kapten?" tanya Tristan sambil menurunkan pistolnya.
Kapten. Itu adalah panggilan Tristan untuk Michaels. Nama panggilan itu diberikan Tristan untuk Michaels karena memang Michaels adalah seorang kapten di pasukan bayangan. Michaels adalah atasannya.
"Namanya aku belum tau. Istriku tidak mau memberitahukannya. Menurut kamu, nama yang bagus untuk anakku apa?" jawab Michaels diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Bagaimana dengan Frey? Artinya adalah yang diagungkan. Menurutku, itu cocok untuk anakmu," jawab Tristan.
"Frey, ya. Tapi bukannya itu nama untuk anak perempuan?"
"Enggak juga. Aku rasa nama itu juga cocok dipakai sama laki-laki."
"Seperti yang diharapkan dari seorang ahli siasat pasukan bayangan. Selalu bisa memikirkan tentang sesuatu dengan cepat dan tepat. Andai saja kamu tidak ke luar dari pasukan bayangan, pasti sekarang pasukan bayangan tidak perlu kebingungan mencari ahli siasat yang baru."
"Kamu harus terbiasa. Karena mulai sekarang semuanya sudah berubah."
"Iya. Aku tau. Makanya sebelum semuanya berakhir, aku mau sedikit mengenang masa lalu. Biar saat semuanya sudah berakhir, aku tidak perlu lagi mengingat hal-hal itu."
Tidak lama setelah mengucapkan hal itu, langit yang tadinya sudah mendung mulai meneteskan air hujan. Membasahi tubuh Michaels dan Tristan. Dan membuat ingatan tentang masa lalu mereka saat mereka sedang dalam masa pelatihan kembali teringat.
Mereka masih mengingat tentang masa-masa itu. Masa di mana mereka baru pertama kali menginjakkan kaki di pelatihan pasukan bayangan. Masa di mana mereka bersaing satu sama lain untuk bisa mengambil posisi ketua. Dan masa di mana mereka mulai mengerti kalau semuanya yang susah akan terasa mudah saat dikerjakan dengan seorang sahabat.
"Mau dengar cerita lucu, tidak? Aku tadi pagi menculik anakku sendiri. Aku bawa kabur anakku dan menitipkannya pada seorang laki-laki yang tadi sempat berpapasan denganku. Dan sepertinya keluarga Gracia lagi kebingungan sekarang," cetus Michaels dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Apa kamu gila? Itu anak kamu sendiri. Kenapa kamu malah memisahkan dia dengan keluarga sendiri?" tanya Tristan kebingungan dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Aku tidak mau anakku terlibat dengan urusan Lima Keluarga Besar. Aku tidak mau anakku tau tentang masa lalu ayahnya yang rela meninggalkan keluarga Virgo hanya untuk bersama pemimpin keluarga Gracia. Aku mau anakku hidup bebas."
"Jadi rencana terakhir kamu apa? Apa kamu akan mengurusnya secara diam-diam?"
"Enggak. Aku bakalan memutuskan seluruh koneksiku dengan dia. Dengan begitu keluarga Gracia tidak akan menyadari posisi anak itu."
"Kamu adalah seorang ayah yang baik. Kamu juga sahabat yang baik. Tapi naasnya kamu ada di lingkungan yang salah. Takdirmu terlalu kejam."
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku sudah terbiasa dengan ini semua. Jadi aku rasamu tidak perlu khawatir dengan kondisiku."
Menurut Tristan, kesalahan terbesar Michaels adalah lahir di keluarga Virgo. Andai saja Michaels tidak lahir di keluarga Virgo, pasti laki-laki itu sudah bisa melakukan apa pun yang ia mau tanpa harus memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya dan keluarganya. Dan andai saja Michaels tidak lahir di keluarga Virgo, maka mereka tidak perlu saling berhadap-hadapan seperti sekarang.
"Tujuh belas tahun. Tunggu tujuh belas tahun setelah sekarang. Kalau memang anakku tidak menghentikan tindakanmu, berarti kamu memang pantas untuk melakukan hal ini. Tapi kalau anakku menghentikan tindakanmu, berarti tindakanmu ini memang adalah sebuah kesalahan," ucap Michaels sambil menatap tajam Tristan.
"Tujuh belas tahun? Itu waktu yang sangat lama. Tidak mungkin aku bisa menunggu selama itu," balas Tristan.
"Kalau kamu memang mau menghabisi Lima Keluarga Besar kamu harus mengumpulkan kekuatan yang besar. Kalau kamu cuma sendiri, sampai kapan pun kamu tidak bakalan bisa mengalahkan mereka dan mewujudkan impianmu. Jadi aku rasa tujuh belas tahun adalah waktu yang tepat."
"Masuk akal. Baiklah, kalau begitu aku bakalan turuti kemauanmu. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah menjadi sahabatku."
"Baguslah. Terima kasih karena kamu sudah mau percaya sama usulanku. Eh ngomong-ngomong, apa di sakumu itu ada sebuah pisau? Itu pisau baru? Beli di mana? Kok kelihatan bagus banget?"
Tristan pun mengalihkan pandangannya ke arah saku celananya. Melihat sebuah pisau yang masih tertutup dengan sebuah kain. Ia tersenyum kecil saat mengingat kalau sahabatnya itu memang sangat suka dengan sebuah pisau. Bahkan saking sukanya, sahabatnya itu sering mengoleksi sebuah pisau-pisau yang bentuknya unik.
Tristan mengambil pisau itu, berencana untuk menunjukkannya kepada Michaels.
"Oh, ini. Aku belum kasih nama nih pisau. Tapi kalau kamu mau kasih nama, kasih aj—" ucapan Tristan terhenti saat melihat tubuh Michaels sudah berada di hadapannya.
Matanya membulat sempurna saat melihat ada sebuah darah muncul dari dalam mulut Michaels. Dan saat ia melihat ke arah tangannya, ternyata pisau yang ia pegang menusuk perut Michaels.
"Aku percaya sama kamu, Sob. Tapi aku juga percaya sama keputusan anakku. Jadi kalau seandainya di tujuh belas tahun yang akan datang, kamu bertemu dengan anakku. Tanyakan kepadanya, apakah memang rencana kamu ini memanglah yang terbaik atau tidak. Terima kasih karena sudah mau menemani orang bodoh ini bersenang-senang," cetus Michaels sebelum dirinya benar-benar ambruk ke tanah.
"Sama-sama. Terima kasih karena sudah percaya sama aku," balas Tristan sambil menutup mata Michaels yang masih terbuka.
Third Person's POV Ken was watching his mate sleeping on his bed. It has been 5 months since the war ended and until now, his mate hadn't talked to him yet and he started to get worried. He was greatly affected by the fact that his mate was pushing him away and Jacob and Dom were worried about him. Although they were sure to get annoyed when he started to brag about his mate, they wanted that rather than seeing him in the state he was now. "How are you?" Ken asked when he saw his mate open her eyes. She looks at him and Ken feels something different with the kind of look she was giving to him. "Is there something wrong?" he asked. His mate shook her head and that made Ken really happy. It was the first time that he got a response from her. His mate sat up and Ken supported her. He sighed in relief when she didn't push him away. With their sudden touch, Ken saw his mate's eyes dilated and he smiled. "You don't have to show up." Ken said, "I know that you wanted us but we need to give
Jacob's POV The king and queen became our closest ally. All the packs around the world knew how much the palace favored us and our neighboring packs had started to contact us to form an alliance with them. I had been appointed as the head ambassador of all regional ambassadors. Everything they wanted to tell the palace, they had to come to me first. That’s why we have started to expect the Were kinds to come and visit us from time to time. My mother was in the pack when we got back and I found out that while the rogue king was busy with the warriors, Maya teleported her to the pack and then came back to the war. She could have stayed there, but because she was planning something else, she did. She wanted to defeat her father, the rogue king. She had been wanting to live in peace so even if it was a little painful for her to help the queen in taking her father’s life, she still did it. SHe thought that the Luna Queen was more hurt because it was her son as the direct descendant of
Third Person's POVJacob was in the palace hospital and was being cared for by the doctors. Maya was a little worried but she knew that he would be fine. She already asked Mirabella for an antidote when she talked to her about bringing Durant back to the rogue king. I told her that someone might be needing the antidote and Maya gave the ingredients for it to Luna Queen Roxy. Everyone who had been affected by it was now under close observation. The only thing that made them calm was the doctors said that they had stabilized them and would only need a rest.Dom and Ken were perfectly fine and Maya was thankful for that. "I'm sorry Luna, we should have not gone too far from Alpha." Ken said."None of these were your fault. Jacob was really the target of the rogue king thinking
Maya's POVI had a feeling that it was about to come. I was in the training ground and everyone was busy and in high spirits. That's what I wanted, it's perfect for this day. The day that we will put an end to the rogue king, the reincarnated son of the moon goddess, my father. I blended well with the others until I managed to conceal myself. I can feel it, his coming. Maybe because he was my father.He is not a witch so I decided to conceal my scent as well. I know that this will be hard for Jacob, Ken and Dom. Not being able to smell me will jeopardize their mission of protecting me. But that is the other thing that made me feel positive about this. The rogue king will never know what to expect.I watched in a distance as I started to smell the rotten scents of
Jacob's POV"Thank you for what?" Maya asked, which made both Ken and I jump. "You look like you have been caught cheating, did you know that?" she asked me.
Jacob's POVI had to think about my mate, Maya. I think she was doing something I didn't know and that scares me more. She loves the pack so much which made me sure that she was planning something and didn't want to let me know. I didn't want to lose her in the end so I had to look after her and watc
Third Person's POVThe rogue king was talking to Divina and he was really mad at her. "Call Mirabella!" he said and she rushed to look for Mirabella. Divina was really pissed with Mirabella especially when s
Maya's POVThe meeting was long and we all had our little arguments. But not in the wrong way because we were able to make the best and possible plan with lesser risk. Although we were included in the plan,






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.