Alpha’s Little Plaything

Alpha’s Little Plaything

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-15
โดย:  Lady Persephoneยังไม่จบ
ภาษา: English
goodnovel18goodnovel
10
4 การให้คะแนน. 4 ความคิดเห็น
101บท
8.6Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Loriah Dee has never truly belonged. Orphaned young, with no family, she clings to the only thing that feels like home—music. Winning a scholarship to one of the country’s most prestigious universities is her one chance to chase her dream of becoming a singer. But campus life brings more than sheet music and rehearsals. It brings Draco Thorne. Draco is the heartthrob of the university—, devastatingly handsome. Only a select few know that he is a werewolf, destined for a Luna chosen by his powerful family. But from the moment he sees Loriah, he wants her. At first, she is just a distraction— a dazzling freshman with innocence in her eyes and the hottest body he has ever seen. Winning her over proves a challenge. Desperate to have her, Draco lies to gain her trust. Slowly, she lets him in. But Loriah’s world comes crashing down one night while working at an upscale restaurant. There, she sees Draco seated at a lavish family dinner, surrounded by wealth and privilege, a stunning fiancée at his side—his future wife. In an instant, every lie begins to unravel. She quietly begins to piece together the truth. Bit. She discovers the deception, the secrets, the double life he has woven around her. She has given everything to him. Her first time, her first kiss, her trust. She had bared her soul to him. But he had left her with nothing else to give, trampling on her love and leaving her to gather the pieces of her soul. By the time Draco realizes Loriah is not just another girl, but the only one he has ever truly loved, she is already gone. And he is left with nothing but regret, longing, and the hollow echo of the song she carried into his life.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Prologue

"Berani sekali kau kembali ke sini! Dasar wanita murahan!”

Grace yang semula sedang termenung di tepi ranjang, tersentak saat mendengar suara bariton nan dominan dari Maxime Rudolf Dicaprio.

Kemarahan pria itu sudah menjadi hal yang Grace duga. Pria mana yang tidak akan marah ketika ditinggalkan oleh sang istri, persis setelah mereka mereguk panasnya malam pertama?

Namun, Grace tidak mencoba menjelaskan ataupun membela diri pada Max. Dia lebih memilih fokus pada tujuannya kembali kali ini.

Kalau bukan karena Leon, dia juga mungkin enggan untuk memijakkan kakinya lagi ke negara ini.

Leon, anaknya dengan Max dulu, yang masih dia rahasiakan keberadaannya, tengah butuh bantuan. Dan hanya Max lah pria yang bisa mewujudkan bantuan itu.

"Ayolah Sayang, lupakan masa lalu.” Alih-alih ciut karena aura kemarahan sang suami, Grace justru semakin berani. Dia melangkah mendekati Max dengan gaya yang begitu memesona. “Apa kau tidak ingin menyentuhku?”

Pakaian minim nan menggoda yang dikenakan Grace tidak boleh jadi hal yang sia-sia. Meski 8 tahun telah berlalu, Grace tetap percaya diri tubuhnya masih tetap memikat dan memesona.

Dia bahkan bertindak semakin liar, dengan melepaskan outer tipis yang membungkus baju minimnya.

Mata Max terlihat membelalak. “Kau benar-benar murahan, Grace!” Pria itu pun murka. "Pergi dari rumahku sekarang!"

Grace tetap bergeming, dia bahkan tidak takut seandainya Max benar-benar mengusirnya. Wanita itu bahkan tidak lagi peduli, meski harga dirinya sekarang jatuh dan terinjak-injak, karena label wanita murahan yang Max berikan.

Baginya, saat ini yang terpenting adalah keberhasilan dia mengulangi satu malam panas hingga menghasilkan benih. Seperti dulu, di mana dia langsung dinyatakan hamil usai sebulan meninggalkan Max keluar negeri.

“Anda harus hamil dalam jangka satu tahun ini, Nyonya.” Grace terus terngiang-ngiang penjelasan dokter yang menangani Leon. “Darah dari tali pusat dari DNA yang sama adalah obat yang paling tepat untuk Tuan Muda Leon.”

“Kita bisa bersatu lagi seperti dulu, Max.” Grace tetap mencoba merayu pria itu, meski tatapan menusuk terus saja mengarah padanya.

“Cih! Aku muak melihatmu!” Max tersenyum mengejek Grace. “Katakan apa maumu sebenarnya, dan cepat pergi dari sini!”

“Oh, Max… jangan terlalu keras.” Dengan lembut, Grace berkata. Dia mencoba menyentuh Max dengan jari telunjuknya yang menari-nari di atas dada pria itu.

Max mencekal tangan Grace, menahannya. "Sialan! Apa maumu, hah?!"

Pria itu kemudian melepas cekalannya, namun dengan cepat Max mencengkram dagu Grace sangat kuat, hingga wanita itu mundur beberapa langkah merasa terhimpit.

Di antara rasa sesak itu, Grace berusaha memberontak, mendorong Max.

Namun, tetap saja usahanya sia-sia. Tenaganya tidak sebanding dengan Max yang bertubuh kekar. "Le-lepaskan aku, Max!"

Max menatap tajam bola mata Grace mencari jawaban. Ada gejolak rasa yang berbeda dirasakannya, tetapi sebelum rasa itu semakin terangkat ke permukaan, pria itu cepat-cepat menghempaskan cengkraman. "Cepat keluar sekarang! Atau kau kulempar!"

"Aku akan pergi, tapi…" rayu Grace lagi. Wanita itu tidak akan menyerah demi putranya. "Sentuh aku dulu, Max. Ayo ulangi malam panas itu."

Grace benar-benar menguji kesabaran Max hingga membuat napas pria itu menjadi berat. “Apa kau sudah tidak punya malu, Grace? Oh, aku tau… apa kau akan melakukan cara yang sama seperti delapan tahun lalu?” tantang pria itu.

Sejenak, Grace mengerjap. Akan tetapi, dia kembali mencoba mengontrol ekspresinya. “Max, sudah kubilang, masa lalu biarlah berlalu. Kali ini, aku sungguh-sungguh ingin membangun rumah tangga kita lagi." Tentu saja itu hanya alibi Grace.

Ucapan Grace membuat Max ingin tertawa. "Apa dunia luar membuatmu tidak waras?" ejek Max.

"Tidak, tentu saja aku masih waras, Max. Ayo kita buat anak."

Max menaikkan sudut bibirnya. "Hh ..., anak? Kamu ingin punya anak denganku?" Pria itu serasa tergelitik dengan ocehan Grace. Namun sedetik berikutnya, wajahnya berubah menjadi datar. "Pergilah! Aku tidak bisa memberimu!"

"Kenapa? Kau tidak mencintaiku? Atau ... kau punya wanita lain?" cecar Grace semakin ingin tahu.

"Pergi! Kau tidak akan dapatkan apapun!"

Ucapan Max semakin membuat Grace penasaran. Mengapa dia tidak bisa mendapatkan anak dari Max?

Tatapan Max semakin tajam, dia semakin marah jika mengingat kejadian yang lalu. "Biar kuberitahu, aku mandul, Grace! Aku mandul!"

"Apa?! Mandul?"

Ucapan Max seperti sambaran petir di siang hari. Bagaimana mungkin Max mandul, sedangkan Grace memiliki Leon?

Wanita itu kemudian menggeleng kuat. "Tidak mungkin! Ini pasti akal-akalanmu saja, kan?! Kau pasti bohong!"

***

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

ความคิดเห็น

Lala
Lala
64 chapters as of 10.03.2025
2025-10-03 19:31:46
1
0
Derena Marie
Derena Marie
can you please finish this already
2026-03-08 12:16:43
0
0
Derena Marie
Derena Marie
I really wish this updated more.. disappointing.
2025-11-11 10:46:57
1
0
Derena Marie
Derena Marie
I am absolutely in love with this book.. hoping for big and often updates
2025-10-31 21:11:02
1
0
101
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status