Masuk“Bagaimana pendapat Alverine? Saya yakin kau sudah memberitahunya,” ucap Rhys, kembali menatap Raven. “Alvie mengerti.” Tangan Rhys perlahan mengepal di atas pahanya. Lagi-lagi, Alverine harus menyesuaikan diri dengan keadaan orang tuanya. Selama hampir enam tahun, Raven telah menjadi sosok yang selalu ada di sisinya. Wajar jika Rhys khawatir kepergian Raven akan membuat Alverine sulit menerima perubahan itu. Terlebih, gadis kecil itu sudah begitu terbiasa memiliki Raven di rumah, menemaninya setiap hari. Rhys tidak ingin Alverine kembali kehilangan sosok yang selama ini ia anggap sebagai ibunya. “Sekarang, kembalilah ke meja makan dan bersiap untuk sarapan,” titah Rhys sembari beranjak dari kursinya. Selama Rhys berbicara dengan Raven dan Leona, Garrick berada di lantai atas, tepatnya di kamar Alverine. Begitu tiba di depan kamar, ia mendapati gadis kecil itu sedang menggunakan kekuatannya untuk merapikan mainan dokter-dokteran. Kotak perlengkapan medis mainan yang bers
“Kau tidak kesal, jengkel, atau marah kepadaku karena sudah membohongimu?”“Semua sudah terjadi.” Rhys menatapnya tenang. “Apa lagi yang membuat saya harus kesal, selain karena saya tidak bisa mengembalikanmu ke duniamu?”Velian terdiam semakin dalam.Rhys melanjutkan dengan suara rendah, “Saya ingin Eira yang terus berada di sisi saya.”Velian menarik selimut hingga membalut tubuhnya, lalu membawanya sampai ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket setelah berkeringat sepanjang malam, sehingga ia ingin segera membersihkan diri.Sementara itu, Rhys juga bersiap kembali ke kamarnya. Ia mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam sebelum menggantinya dengan setelan yang lebih santai.Sehari sebelumnya, Rhys telah mengosongkan jadwalnya agar dapat memberikan waktu sepenuhnya untuk keluarganya. Namun, pagi ini beberapa urusan sudah menantinya.Begitu memasuki bangunan utama, pandangan Rhys langsung tertuju pada ruang pertemuan keluarga—ruangan yang biasa
“Jadi, pikirkan baik-baik. Apa pun pilihanmu, aku akan tetap berada di sisimu.”Rhys menundukkan kepala, lalu mengecup kening Eira dengan lembut. “Akan saya pikirkan malam ini."Eira mengangguk kecil. Kelopak matanya mulai terasa berat. Ia bersiap memejamkan mata ketika leher Rhys sedikit terangkat untuk melihat wajahnya. "Sudah mau tidur?” “Aku mengantuk.” “Jangan tidur dulu,” cegah Rhys. Eira mendongak dengan wajah bingung. “Kenapa?” “Nanti ketika kau bangun, yang hadir Velian. Suasananya pasti lebih canggung.” Rhys menghela napas pelan. “Tidurnya nanti saja.” “Kalian juga pernah bercin—” Eira belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rhys buru-buru membekap mulutnya. “Jangan dilanjutkan.” Eira terkikik di balik telapak tangannya. Rhys akhirnya melepaskannya. “Saya tidak tahu saat itu,” katanya membela diri. “Oh, ya?” Eira mengangkat alis, jelas sedang menggoda. Rhys menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum nakal. “Bagaimanapun, saat itu saya tidur denganmu karena
Cara Rhys memandang Eira.Cara pria itu selalu mencarinya di tengah keramaian. Cara suaranya berubah ketika berbicara kepada Eira. Cara ia melindungi, mengkhawatirkan, bahkan kehilangan ketenangannya ketika Eira terluka.Raven tidak perlu bertanya kepada Rhys untuk mengetahui jawabannya.Hati pria itu memang tidak pernah berada di tempat lain.Hatinya hanya untuk Eira.Dan untuk pertama kalinya, Raven tidak merasa marah karena menyadarinya.Ia justru merasa lega.Sebab selama ini, tanpa sadar, ia masih hidup dengan kemungkinan bahwa mungkin suatu hari Rhys akan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar ibu bagi Alverine atau istri yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keluarga.Kini Raven tahu bahwa kemungkinan itu tidak pernah ada.Ia tidak ingin merebut tempat Eira.Tidak ingin menunggu seseorang yang hatinya sudah memilih perempuan lain.Dan yang paling penting, ia tidak ingin Alverine kelak tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti bertahan di tempat yang tidak lagi
“Alverine. Kau sudah tahu bahwa ibu kandungmu telah tiada setelah melahirkanmu, dan Dame datang atas perintah Raja Aethelred IV serta Ratu Isolde VI untuk menyusuimu.”Raven berhenti sejenak, memastikan Alverine masih menyimak setiap perkataannya.“Oleh karena itu, Dame kemudian diangkat menjadi istri Papa Rhys. Sebelumnya, Dame hanyalah seorang bangsawan biasa yang hidup sederhana di wilayah timur Morwenia. Mereka memanggil Dame ke istana dan mempercayakan satu hal kepadaku—menjadi ibu sambungmu.”Alverine masih diam. Tatapannya tidak beralih dari wajah Raven.“Ketika pertama kali melihatmu, kau begitu mungil, lucu, dan sangat cantik.” Senyum tipis terukir di wajah Raven saat mengingatnya. “Kulitmu sama seperti Papa Rhys. Sementara warna iris matamu yang biru indah sama persis dengan ibumu.”Tangannya perlahan meraih tangan kecil Alverine.“Dame menerimamu tanpa berpikir panjang. Sejak saat itu, Dame melihatmu tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu. Dari seorang bayi kecil yang ha
Rhys mengangkat dagu Eira dengan lembut. Tatapan mereka bertemu, penuh cinta yang selama ini sempat tertutup oleh kesalahpahaman—seperti bunga peony yang kembali bermekaran setelah lama menunggu musimnya. “Malam ini saya tidur bersamamu, ya?” Eira terdiam sesaat. Tatapannya masih terpaku pada mata Rhys. Satu tangan Rhys terangkat, menyelipkan rambut Eira yang jatuh di sisi wajahnya ke belakang telinga. Wajahnya bergerak perlahan mendekat, sementara tatapannya sempat jatuh pada bibir Eira sebelum kembali menatap kedua mata wanita itu. Eira tanpa sadar memejamkan mata. Jarak di antara mereka menghilang. Bibir Rhys menyentuh bibirnya dalam kecupan lembut yang perlahan menjadi lebih dalam. Kedua tangan Eira ikut bergerak, melingkar di leher Rhys seolah tubuhnya tahu apa yang harus dilakukan bahkan sebelum pikirannya sempat menyadarinya. Rhys kemudian mengecup pipi kanannya, lalu pipi kirinya, keningnya, sebelum kembali menemukan bibir Eira. Setiap kecupan terasa seperti cara merek
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







