LOGINDari pantulan cermin rias, Velian membuka suara.
“Besok ada jamuan. Kenapa tidak kamu saja yang hadir? Sekarang kita sudah bisa bertukar peran.” Suaranya tenang, tapi menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Namun jika ditarik beberapa langkah dari pantulan itu, kenyataan yang berbeda terlihat.Eira Shawn berdiri di sana, menyisir rambut gelombangnya yang indah dengan gerakan pelan dan teratur. Wajahnya tenang, seolah tak ada gejolak apa pun—berbanding terbalik dengan apa"Leona. Bagaimana kabar Leona?" Eira bertanya kepada Rhys.Dylen kembali menjawab sebelum Rhys sempat membuka mulut."Nona Leona berada di Akademi Marindor. Jadi, tenang saja."Eira mengangguk lega. Begitu pula Rhys, Raven, dan Garrick. Setidaknya, mereka tidak perlu lagi mengkhawatirkan keselamatan Leona.Untuk sesaat, semuanya dapat mengembuskan napas lega."Akses untuk pulang menjadi sulit karena jalanan rusak parah. Saya akan menghubungi para pengawal untuk mengirim Aeralis agar kita semua bisa kembali dengan aman," ucap Rhys seraya mengambil vox device dari saku dalam jas formal kerajaannya.Sampai di situlah kisah Velian di dunia Morwenia berakhir.Di tempat asalnya yang jauh lebih realistis dan nyata, Velian berada dalam keadaan setengah sadar. Perlahan, ia mulai membuka mata.Cahaya putih menyambut penglihatannya yang masih kabur. Di sekelilingnya terdengar bunyi bip yang terputus-putus, tetapi stabil, berulang dalam jeda yang sama.Velian mencoba menggerakkan tangannya, tetap
Rhys dan Eira tertegun melihat kondisi jalan di hadapan mereka.Jalan raya yang sebelumnya mulus kini nyaris tidak berbentuk. Retakan membelah aspal dari satu sisi ke sisi lainnya, beberapa bagian bahkan terangkat dan mencuat seperti bongkahan batu. Lubang-lubang besar menganga di tengah jalan, memaksa Rhys mengemudi dengan sangat hati-hati agar kendaraan mereka tidak terperosok.“Apa yang terjadi di sini?” batin Eira.Mereka baru melihat dampaknya.Sebelumnya, ratusan meteor telah berjatuhan di berbagai wilayah Morwenia, menghantam daratan tanpa ampun. Ibu kota yang semula dipenuhi gedung-gedung tinggi nan megah kini berada di ambang kehancuran. Beberapa bangunan terbakar, sementara kepulan asap hitam membubung tinggi dan membuat langit yang sebelumnya cerah berubah kelabu.Rhys tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan rendah, memilih jalur yang masih dapat dilewati. Semakin jauh mereka bergerak, semakin parah kerusakan yang terlihat.Hingga akhirnya, dari kejauhan, Rhys melihat se
Alverine mendongak melalui kaca depan. Matanya membesar. Puluhan. Tidak—ratusan meteor memenuhi langit.Bola-bola api kekuningan itu melesat turun tanpa henti, memenuhi pandangannya hingga nyaris tidak menyisakan celah di antara satu meteor dan lainnya.Alverine tahu. Dengan jumlah sebanyak itu, cepat atau lambat mereka pasti akan terkena salah satunya. Dan kali ini, ia melihat sebuah meteor meluncur tepat ke arah mereka.“Tuan Garrick, awas!”Garrick mendongak. Meteor itu sudah terlalu dekat. Tidak ada waktu untuk menghindar.Raven spontan meraih tubuh Alverine dan memeluknya erat. Garrick mencengkeram kemudi, sementara Alverine memejamkan mata. Mereka bertiga bersiap menghadapi benturan yang tidak terhindarkan.Namun ledakan tidak pernah terjadi.Sebuah cahaya keemasan justru muncul di kejauhan. Cahaya itu bergerak seperti gelombang air, menyapu jalan raya dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti mata.Dalam sekejap, gelombang tersebut melewati ken
Saat Rhys membantu Eira berdiri, tiba-tiba terdengar dentuman keras dari luar.Suara itu mengguncang seluruh gua. Air sungai mata air yang semula tenang beriak hebat, sementara tanah di bawah kaki mereka ikut bergetar. Rhys, Eira, Lucien, dan Dylen sempat kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya kembali berpijak dengan kokoh.“Apa itu?” Eira menoleh kepada Lucien dan Dylen.Lucien tidak menjawab. Ia segera berbalik dan membuka pintu gua seperti sebelumnya.Begitu pintu terbuka, mereka dapat melihat kembali lorong taman yang menghubungkan tempat tersembunyi itu dengan area istana.Dylen menyusul ke luar dengan tergesa. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak panik. “Itu energi yang dilepaskan Alverine.”Mata Rhys langsung membesar. “Alverine?”Rhys spontan meraih lengan Eira. “Kita harus keluar. Sekarang.”Eira mengangguk dan Rhys langsung membawanya ke luar dari lorong.“Apa yang terjadi?” tanya Eira sambil mempercepat langkah.“Aku dan Pangeran akan berteleportasi lebih dulu,” jawa
Ruang kesadaran kembali sunyi.Kini hanya Eira yang berdiri di sana.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi berbagi ruang dengan jiwa lain. Dan di tempat yang sunyi itu, Eira menutup matanya.Ia tahu Velian telah pulang. Sementara dirinya sendiri akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali.Dua lembar terakhir dalam buku itu perlahan terisi. Tidak ada lagi catatan mengenai perjalanan Velian di Morwenia. Tidak ada lagi kejadian yang belum terselesaikan. Kedua halaman tersebut menuliskan seluruh akhir perjalanan Velian—tentang bagaimana ia melepaskan tubuh Eira, mengembalikan jiwa Eira ke tempatnya, lalu kembali ke dunianya sendiri melalui jalan yang telah membawanya ke Morwenia.Tulisan terakhir muncul perlahan di halaman paling akhir.Selesai.Setelah kata itu terbentuk sempurna, tidak ada lagi tinta yang bergerak. Buku tersebut menutup dengan sendirinya.Dylen mengulurkan tangan. Buku itu melayang mendekatinya, kemudian berhenti tepat di hadapannya. Dengan gerakan se
Ruang kesadaran itu kembali sunyi. Tidak ada dinding.Tidak ada tanah dan pohon besar yang biasa menjadi tempat mereka berbagi cerita selama ini.Tidak ada langit. Hanya hamparan putih yang seolah tidak memiliki ujung.Velian berdiri di tengah-tengah, di tempat yang selama ini menjadi batas antara dirinya dan Eira. Tempat yang membuatnya bisa bertahan di antara dua dunia ketika tubuh Eira menjadi tempat persinggahannya.Namun kali ini, ia tidak sendirian. Beberapa langkah di depannya, seorang perempuan berdiri dengan rambut yang bergerak perlahan meski tidak ada angin.Eira Shawn.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling memandang. Hanya mereka berdua. Dan untuk pertama kalinya juga, Eira melihat wajah asli Velian Ardyn beserta pakaiannya yang sangat berbeda dari Morwenia.Velian tersenyum kecil. “Akhirnya kita bisa ketemu begini.”Eira ikut tersenyum. “Padahal selama ini kita selalu ada di tempat yang sama.”“Bedanya, sekarang aku tidak sedang m
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,
“Panggil tabib sekarang,” perintahnya rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar seolah menegang.Garrick segera berlari, sementara Rhys tetap menahan Velian di pelukannya—menatap wajah pucat yang berkeringat itu dengan rahang mengeras, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kekhawa
Suara ketukan tiga kali di pintu kamar membuat Velian mengerang pelan. Ia masih ingin melanjutkan mimpi indahnya, tapi bunyi itu terus terdengar.Dengan mata setengah terbuka, Velian duduk, meregangkan tangan malas-malasan ke atas, lalu melangkah gontai menuju pintu. Begitu dibuka, koridor di depa







