مشاركة

Bab 50

مؤلف: Adelia
last update تاريخ النشر: 2026-05-24 17:00:05

Malam merayap lambat di atas langit Jakarta, menyisakan kepekatan yang tak mampu diusir oleh jutaan lampu merkuri dari gedung-gedung pencakar langit. Di dalam kamar utama penthouse lantai tertinggi menara Tri Utama, keheningan terasa begitu padat dan beracun. Aku berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menatap lurus ke arah luar. Hujan baru saja reda, meninggalkan jejak-jejak air yang meluncur lambat di permukaan kaca, persis seperti ai

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 53

    Gelombang kasak-kusuk langsung meledak di antara barisan pengunjung dan wartawan. Di kursi terdakwa, Baskoro tampak terpukul, mulutnya terbuka sedikit seolah pasokan oksigennya baru saja diputus sepihak oleh hukum. Pengacaranya, Taufik, mencoba menenangkannya dengan menepuk bahunya, namun pria tua itu menggelengkan kepala dengan frustrasi yang murni.​Aku melirik ke arah Arkana. Wajahnya tetap lurus menatap ke depan, datar tanpa riak kemenangan sedikit pun, seolah-olah hukuman dua puluh tahun untuk mantan rekan bisnisnya hanyalah sebuah formalitas administrasi yang membosankan. Namun, di bawah meja, tangannya yang besar tiba-tiba merayap ke atas pahaku. Ia mencengkeram kulit di balik rok kerjaku dengan tekanan yang kuat dan posesif, sebuah proklamasi terselubung di depan ruang sidang yang penuh sesak bahwa akulah bidak terbaiknya yang telah menyelesaikan tugas dengan sempurna.​Aku tidak bergerak, tidak juga mencoba melepaskan tangannya. Aku membiarkan rasa sakit d

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 52

    Pagi di Jakarta tidak pernah menyambutku dengan kelembutan. Ketika matahari terbit membelah kabut polusi dan sisa hujan semalam, aku sudah berdiri di depan cermin wastafel penthouse, menatap bayangan diriku yang kaku. Kulit di sekitar leher dan bahuku masih menyisakan rona kemerahan yang samar, jejak dari kebrutalan ego Arkana di atas meja kerja jati beberapa jam lalu. Aku mengambil kuas, memulas concealer tebal dengan gerakan menekan yang berulang-ulang, seolah-olah aku sedang menghapus paksa sisa-sisa eksistensi pria itu dari tubuhku.​Hari ini adalah hari pembacaan tuntutan untuk Baskoro.​Blazer hitam bergaris tegas yang kupilih pagi ini terasa seperti pelindung yang berat. Di dalam saku dalamnya, ponsel rahasia itu bertumpu dengan dingin di atas dadaku. Logamnya yang beku menjadi pengingat konstan bahwa di balik kepatuhan yang kutunjukkan di depan publik, aku sedang menggenggam sumbu ledak yang bisa meruntuhkan seluruh menara ini. Aku menarik napas panjang, me

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 51

    Rahang Arkana mengeras, urat di pelipisnya menegang selama satu per sekian detik, sebuah respons murni dari seorang predator yang dominasinya mulai terusik oleh mangsa yang ia asah sendiri taringnya. ​"Dan di mana wanita malang yang menangis di bar itu sekarang, Anindya?!" geramnya rendah, suaranya seperti desis ular yang siap menyuntikkan bisa. Cengkeraman tangannya di pinggangku mengencang begitu brutal, mengangkat tubuhku sedikit hingga aku terpaksa bertumpu pada dadanya yang sekeras karang. "Dia sudah mati! Aku yang membunuhnya! Dan sebagai gantinya, aku memberimu zirah ini. Aku memberimu kekuasaan yang membuat orang-orang sepertimu merangkak di bawah kakimu. Kau membenci caraku, tapi kau meminum racun yang kuberikan dengan rasa haus yang luar biasa. Kau menikmati setiap detik saat kau menelanjangi faksi Baskoro di ruang sidang tadi siang!" ​"Aku melakukannya untuk bertahan hidup dari kegilaanmu!" teriakku pelan, emosi yang kupendam seja

  • Amnesti Sang Eksekutor    Bab 50

    Malam merayap lambat di atas langit Jakarta, menyisakan kepekatan yang tak mampu diusir oleh jutaan lampu merkuri dari gedung-gedung pencakar langit. Di dalam kamar utama penthouse lantai tertinggi menara Tri Utama, keheningan terasa begitu padat dan beracun. Aku berdiri mematung di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menatap lurus ke arah luar. Hujan baru saja reda, meninggalkan jejak-jejak air yang meluncur lambat di permukaan kaca, persis seperti air mata yang enggan kutumpahkan lagi sejak setahun lalu. Di jariku, cincin berlian hitam pemberian Arkana berkilau dingin di bawah temaram lampu ruangan. Berlian itu adalah simbol dari segala hal yang telah kucapai: kursi Wakil Direktur di Jakarta, jabatan CEO regional di Singapura, dan pengakuan dari dewan komisaris yang dulu memandangku sebelah mata. Namun, di saat yang sama, kristal gelap itu adalah borgol paling kokoh yang ditanamkan oleh sang algojo tepat di nadiku.

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 49: Ruang Sidang Merah

    ​Bau kayu jati tua, kertas-kertas formal, dan ketegangan yang pekat menyambutku begitu pintu ruang sidang utama Pengadilan Tipikor Jakarta didobrak terbuka oleh petugas. Hari yang dinanti telah tiba. Blazer hitamku terpasang kaku, melingkari tubuhku layaknya baju zirah seorang gladiator sebelum memasuki colosseum. Di saku dalam, tepat di atas jantungku yang berdegup kaku, ponsel rahasia itu terasa sangat berat. Senjata pemungkas yang siap merubuhkan menara gading.​Aku melangkah menyusuri koridor tengah, di bawah kilatan lampu kamera para jurnalis yang tertahan di balik pagar pembatas. Semua mata tertuju padaku, Anindya Larasati, Wakil Direktur muda yang menjadi kunci dari skandal korupsi jutaan dolar Tri Utama Group.​Di kursi barisan depan penonton sidang, Arkana sudah duduk dengan keanggunan seorang kaisar. Setelan jas hitamnya tanpa cela, rambutnya rapi, dan sepasang matanya yang sedalam obsidian mengunci pergerakanku sejak aku melangkah masuk. Ia tidak memberi

  • Amnesti Sang Eksekutor    Chapter 48: Simulasi di Atas Bara

    Suara langkah kakiku di atas lantai marmer lobi utama kantor pusat Tri Utama Group pagi ini terdengar seperti ketukan palu hakim yang menggema di dalam lorong sepi. Blazer hitam yang kukenakan terasa kaku, membungkus tubuhku seperti sebuah zirah besi. Di balik lapisan kain mahal itu, tepat di atas jantungku, ponsel rahasia berisi rekaman dosa Arkana terasa menghangat, sebuah bom waktu yang hanya perlu kutahan selama dua puluh empat jam lagi sebelum sidang dengar pendapat resmi esok hari.​Ketika aku melangkah masuk ke ruang konferensi utama lantai eksekutif, atmosfer di dalam ruangan langsung terasa mencekik. Ruangan itu telah diubah menjadi replika ruang sidang. Pak Handoko, kepala divisi hukum kami, duduk di balik meja panjang bersama tiga orang asistennya. Di sudut lain, dua pengacara senior yang disewa khusus untuk mewakili kepentingan Tri Utama menatapku dengan pandangan menilai yang tajam.​Dan di tengah-tengah mereka semua, duduk Arkana. Ia mengenakan setela

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status