MasukAku hanya punya waktu tiga jam untuk memejamkan mata dalam ketakutan. Begitu alarm berbunyi, aku langsung mandi air dingin, berharap rasa menggigil ini bisa melunturkan sisa aroma kayu cendana yang masih menempel di kulitku.
Pakaian formal yang kupakai pagi ini terasa seperti baju zirah yang sesak. Di depan cermin, aku memoles lipstik merah sedikit lebih tebal untuk menutupi bibirku yang masih terasa sensitif akibat kejadian semalam. "Kamu bisa, Anindya. Jangan biarkan dia menang," bisikku pada bayangan di cermin, meski jantungku berdegup tidak keruan. Tepat jam delapan pagi, aku sudah berdiri di depan pintu ruang rapat utama. Seluruh rekan timku tampak pucat karena mereka tahu hari ini adalah penentuan apakah divisi pemasaran akan tetap ada atau dilikuidasi selamanya. Pintu terbuka, dan aroma yang sangat kukenali itu kembali menyerang indra penciumanku. Di sana, di kursi utama, duduk pria yang semalam menekanku ke dinding penthouse-nya dengan penuh gairah. Arkana Wijaya tampil sangat mengintimidasi dalam balutan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tidak menatapku sama sekali saat aku masuk, jemarinya sibuk membalik-balik dokumen seolah aku hanyalah debu yang lewat. "Silakan dimulai. Saya tidak punya waktu seharian untuk mendengarkan rencana yang tidak menghasilkan angka," suaranya dingin, sangat kontras dengan bisikan rendah yang ia berikan di telingaku semalam. Aku melangkah ke depan meja proyektor dengan kaki yang terasa lemas. Saat aku menyambungkan laptop, tanganku bergetar begitu hebat hingga kabelnya nyaris terjatuh. Pandangan kami akhirnya bertemu sejenak. Arkana mengangkat sebelah alisnya, sorot matanya yang tajam seolah sedang menelanjangiku di depan semua orang. "Asisten Manajer Larasati, fokus Anda sepertinya tertinggal di tempat lain pagi ini," tanyanya tiba-tiba dengan nada datar. Seluruh ruangan mendadak sunyi. Rekan-rekanku saling berpandangan bingung, sementara jantungku serasa berhenti berdetak saat mendengar sindiran terselubungnya itu. "Maaf, Pak. Saya hanya memastikan data di slide ketiga sudah akurat," jawabku sekuat tenaga, berusaha menjaga suaraku agar tidak pecah. Arkana menyandarkan punggungnya ke kursi, menyatukan jemarinya di depan dada sambil terus menatapku tanpa berkedip. "Ketidaktelitian adalah kesalahan fatal. Saya harap Anda tidak terbiasa membuat keputusan impulsif yang memalukan seperti yang Anda tunjukkan sejak saya masuk ke ruangan ini." Kalimat itu bagai tamparan keras di tengah rapat yang sangat formal ini. Hanya aku yang tahu bahwa kata "impulsif" dan "memalukan" itu merujuk pada caraku menyerahkan diri di bar semalam. Aku menarik napas panjang, mencoba mengabaikan rasa panas yang menjalar di pipiku. Aku mulai memaparkan strategi pemasaran dengan suara yang dipaksakan stabil, meski matanya terus mengikuti setiap gerak-gerikku. Setengah jam berlalu seperti neraka, dan Arkana tidak memberikan satu pun kelonggaran. Ia terus melontarkan pertanyaan tajam yang memojokkan, seolah sedang menikmati proses penyiksaan mental yang ia lakukan padaku. "Cukup," potongnya saat aku baru saja akan menutup presentasi. "Keluar semuanya, kecuali Anindya Larasati." Rekan-rekanku langsung bergegas keluar seolah nyawa mereka sedang terancam, meninggalkanku sendirian di ruangan yang terasa semakin sempit. Pintu tertutup rapat, dan Arkana bangkit dari kursinya dengan gerakan yang sangat tenang namun berbahaya. Ia melangkah mendekat, mengitari meja hingga ia berdiri tepat di hadapanku, aroma cendananya kini kembali mencekikku. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, mengurungku dalam jarak yang sangat intim, persis seperti di penthouse semalam. "Jadi, Anindya, berapa harga yang harus kubayar agar kamu berhenti menatapku dengan mata penuh dendam itu?" bisiknya tepat di depan wajahku. Aku mengepalkan tangan di balik punggung, menahan diri agar tidak meledak di depannya. "Saya di sini untuk menyelamatkan departemen saya, Pak Arkana. Bukan untuk membicarakan kejadian semalam." Arkana tertawa rendah, sebuah tawa dingin yang sama sekali tidak sampai ke matanya. Ia merogoh saku jasnya dan meletakkan sebuah benda kecil di atas tumpukan dokumen pemecatan yang sudah ada di depannya. Itu adalah anting perakku yang hilang semalam, benda yang terjatuh di atas tempat tidurnya saat aku nyaris kehilangan akal sehat. "Ambil ini, dan datanglah ke kantorku jam delapan malam nanti," ucapnya sambil berbalik pergi tanpa menoleh lagi. "Jika kamu telat satu menit, surat pemecatan seluruh timmu akan kutandatangani saat itu juga."Dengan satu gerakan kuat yang sarat akan kekuasaan absolut, Arkana mengangkat tubuhku, mendudukkanku di atas meja rapat granit hitam yang sedingin es. Lembaran kertas catatan kosong dan pulpen montblanc-ku tersenggol, jatuh berhamburan ke atas lantai marmer di bawah kaki kami. Kontras antara dinginnya batu granit yang membekukan paha dalamku dan panas tangan besarnya yang merayap kasar merobek belahan rok kerjaku hingga ke pangkal paha membuatku melengkungkan punggung dengan pasrah.Arkana merenggut pakaian dalamku dengan gerakan tidak sabar yang kasar, melepaskan ikat pinggang dan kancing celananya dengan ketenangan seorang pria yang sedang mengambil hak miliknya secara mutlak. Saat ia membenamkan dirinya ke dalam tubuhku dalam satu hunjaman yang dalam, kuat, dan penuh kuasa, aku memekik kecil, menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya yang basah oleh peluh. Aku mencengkeram bahu bidangnya dengan kuku-kukuku, meninggalkan bekas merah yang dalam di kulitnya, seolah-olah aku
Ruangan rapat itu mendadak menjadi sangat sunyi, seolah-olah seluruh pasokan oksigen baru saja disedot keluar dari ventilasi udara. Wajah William seketika berubah abu-abu, kepalan tangannya di atas meja bergetar menahan malu dan amarah yang diredam oleh otoritas jabatanku. Mr. Chen memeriksa dokumen di layar selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk perlahan dengan senyum tipis yang sarat akan rasa hormat yang baru."Eksekusi yang sangat bersih, Ibu Anindya," ucap Mr. Chen, menutup berkas di depannya. "Merlion Ventures menyetujui percepatan merger ini. Jadwal penandatanganan final akan tetap dilakukan minggu depan di Jakarta."Rapat resmi dibubarkan pukul sebelas siang. Para direksi regional melangkah keluar ruangan dengan kepala menunduk saat melewati kursiku, menyisakan ruang pertemuan yang luas dan kaku itu dalam kesunyian yang pekat. Aku tetap duduk di kursi kebesaran, membiarkan seluruh tubuhku lemas pasca-tekanan psikologis yang luar biasa sejak fa
Lampu kristal di ruang pertemuan utama Merlion Ventures memancarkan pendar putih yang kaku, memantul di atas permukaan meja granit hitam yang panjang. Di sekelilingku, sepuluh orang direksi regional Singapura duduk dengan posisi tegak, mata mereka terpaku pada layar proyektor yang menampilkan grafik pergerakan saham Tri Utama Group pasca-eksekusi faksi Baskoro di Jakarta. Angka-angka itu bergerak naik, hijau dan agresif, namun bagiku, setiap digit yang tertera di sana terasa seperti hitung mundur menuju ledakan baru. Aku duduk di kepala meja, dibalut blazer sewarna darah yang kancingnya kututup rapat hingga ke batas kerah. Tangan kananku menggenggam sebuah pulpen montblanc hitam, menekannya dengan ritme yang konstan ke atas permukaan kertas catatan kosong. Di bawah lipatan kain blazer, tepat di atas kulit dadaku, diska lepas perak yang dilemparkan Arkana subuh tadi terasa dingin, sebuah simbol kekalahan kecil yang kuterima pagi ini, sekaligus pengingat bahwa pria itu
Kata-kataku bertindak sebagai pemantik badai di dalam dirinya. Seringai Arkana memudar, digantikan oleh ekspresi murni dari seorang predator yang wilayah kekuasaannya baru saja diinvasi dengan lancang. Ia tidak menjawab dengan ancaman hukum baru; ia justru membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan sarat akan dominasi yang mutlak. Lidahnya menjelajah dengan kekasaran yang menuntut penyerahan diri secara total atas kelancangan kata-kataku tadi. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, tanganku yang awalnya menahan pergelangan tangannya kini merayap naik, mencengkeram kerah kemeja hitamnya dengan erat, merobek kancing atasnya hingga terlepas dan berdenting nyaring di atas lantai marmer ruangan. Tubuhku kembali menjadi musuh terbesar bagi akal sehatku. Panas tubuhnya yang mendekapku erat mematikan seluruh logika tentang kejaksaan, tentang manifes, dan tentang masa lalu yang kotor. Dengan satu gerakan kuat yang memanfaatkan keputusasaan
Bunyi mesin pencetak dokumen di sudut ruang CEO regional Singapura bekerja dengan irama yang konstan, memecah keheningan subuh yang dingin. Aku berdiri di dekat dinding kaca, menatap hamparan laut Teluk Marina yang masih diselimuti kabut tipis. Sinar matahari pertama belum sepenuhnya sanggup mengusir kegelapan yang menggantung di langit, persis seperti rasa muak yang kian mengental di dalam dadaku sejak kembali dari Jakarta dua hari lalu. Di atas meja kerja kaca, draf laporan likuidasi perusahaan cangkang yang ditunjukkan Arkana sebelum RUPSLB kemarin berserakan. Jejak kepemilikan mantan istri Baskoro itu memang sudah dihapus dari peladen resmi bursa efek Jakarta, namun di tanganku, sebuah salinan manifes pengiriman dana manual yang sempat kuselamatkan sebelum peladen dibersihkan kini tergeletak bisu. Potongan teka-teki terakhir. Aku melirik pantulan diriku pada kaca jendela yang buram karena embun AC. Setelan blazer sewarna darah yang kukenakan pagi ini memberikan kesan angkuh,
"Kau melangkah terlalu jauh ke dalam ruang gelapku, Anindya," geramnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang mematikan. Ia maju satu langkah, mencengkeram pinggangku dengan kasar, menarik tubuhku hingga menempel pada kemeja hitamnya yang hangat oleh peluh. "Aku menyukai taringmu, tapi jika kau menggunakannya untuk menggigitku, aku tidak akan ragu untuk mencabutnya dari mulutmu." "Maka cabutlah, Arkana!" teriakku pelan, memukul dadanya dengan tinjuku yang bergetar. "Hancurkan aku seperti kau menghancurkan Pandu! Tapi ingat, kali ini kau tidak menghadapi wanita lemah di bar kotor itu. Aku memegang kendali atas Singapura sekarang!" Arkana tidak menjawab dengan ancaman baru. Ia justru membungkam bibirku dengan ciuman yang brutal, lapar, dan penuh dengan dominasi yang mutlak. Lidahnya menjelajah dengan paksa, meruntuhkan seluruh argumen korporat dan kewarasan yang kutampilkan di depan para komisaris tadi. Aku mengerang rendah di dalam tenggorokannya, ta







