Share

143. Orang Afrika

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-07-11 13:13:42

Teja tersenyum lebar sambil sejenak melirik ke arah permukaan air kolam renang yang jernih, menampakkan refleksi pantulan siluet tubuh polos mereka berdua yang sedang menyatu erat.

"Lihat ke arah air kolam itu deh, Sar. Sensual banget keliatannya gerakan tubuh kita berdua!" ujar Teja sembari terkekeh pelan menikmati pemandangan eksotis tersebut.

Sari ikut menatap ke arah kolam renang dan menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Kita nikmati aja momen indah ini sampai puas ya, Sayang. Aku udah ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   563. Menyayat Hati

    Namun, meski terlihat pelan dan lembut, dampak yang terjadi sangat mencengangkan.Hawa murni Qi tingkat tujuh yang disuntikkan Teja ke dalam kerikil kecil itu meledak secara internal begitu menyentuh tubuh musuh. Gesekan energi tersebut melipatgandakan daya hantam hingga beribu-ribu kali lipat.Tubuh tegap sang gembong internasional terlempar kencang ke belakang, melayang melintasi udara malam menembus kegelapan pelabuhan. Mantel cokelatnya robek hancur di bagian dada, sementara seluruh pertahanan hawa murni di dalam tubuhnya jebol total dalam satu tarikan napas.Ia kemudian terhempas berkalang tanah sekitar sepuluh meter di belakang sana.Tubuh Blackviper menabrak tumpukan kayu tua dan lantai semen hingga memercikkan tanah berdebu, lalu berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terlentang tak berdaya."Ughh! Ahhh!"Suara erangan samar dan napas terengah-engah yang sangat serak lolos dari tenggorokan Blackviper. Mulutnya memuntahkan lelehan darah segar yang memb

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   562. Aku Bapakmu

    "Bukan! Aku bapakmu!" jawab Teja sinis dengan tatapan mata yang tajam menusuk.Sindirian tajam dan dingin yang meluncur tanpa beban dari mulut pemuda berambut gondrong itu seketika meruntuhkan sisa-sisa harga diri Blackviper. Pria tua yang selama puluhan tahun ditakuti di dunia bawah tanah dan lingkaran kejahatan internasional itu merasa sangat dihina oleh sosok yang ia anggap hanya bocah bau kencur."Bedebah! Kamu cari mati, bocah!" raung Blackviper murka.Wajahnya merah padam, urat-urat di leher dan dahinya menegang menonjol. Tanpa membuang waktu lagi, Blackviper meledakkan energi Qi tingkat empatnya secara maksimal.Gelombang hawa dingin bertekanan tinggi menyembur hebat dari dalam tubuh Blackviper, memancar ke segala arah dan menimbulkan pusaran angin malam yang memutar pasir serta debu di permukaan semen dermaga. Tekanan hawa murni tingkat empat tersebut begitu padat dan tajam, membuat atmosfer di sekeliling pelabuhan tua itu mendadak menjadi teramat berat.Dari balik tumpukan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   561. Melahirkan Rasa Terkejut

    Benny yang tak mengenal wajah Teja hampir mencabut pistol dari pinggangnya.Sensasi bahaya yang teramat pekat seketika menyengat saraf kewaspadaan Benny. Tangan kanannya bergerak cepat merayap ke balik jasnya, hendak menarik gagang pistol laras pendek yang terselip rapi di sana.Namun pergerakan Teja lebih cepat.Teja tidak memberi celah sedikit pun. Aliran hawa murni Qi tingkat tujuh meledak di paha dan lengannya dalam sepersekian detik. Tubuhnya bergerak secepat angin dan langsung menjatuhkan Benny dalam satu pukulan telak.Pukulan jarak dekat yang dilapisi tenaga dalam murni itu menghantam ulu hati Benny dengan kekuatan luar biasa."Ugh...!"Mata Benny mendelik lebar, seluruh udaranya terperas habis dari paru-parunya. Tubuh kekarnya ambruk melengkung ke atas tanah semen yang dingin. Benny pingsan seketika, kehilangan kesadaran penuh bahkan sebelum tubuh dan tangannya sempat menyentuh gagang senjata miliknya. Teja berdiri tegap di atas Benny yang terkulai, menatap lurus ke arah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   560. Cari Siapa, Om?

    Di atas balkon, Teja menyunggingkan senyum tipis penuh cemoohan mendengar protes sang gembong internasional."Master tenang saja. Kalaupun pemuda itu tak datang, setelah urusan jam 2 pagi nanti selesai, kita bisa langsung meluruk kamar hotelnya di pusat kota. Saya sudah punya semua data tentang nomor kamar dan akses aman menuju ke kamar itu," tanggap Joni taktis."Bagus, Joni! Kamu ternyata sudah menyiapkan plan B. Nggak rugi aku menugaskan kamu!" puji Blackviper terbahak puas, menepuk-nepuk bahu Joni di tengah keheningan malam pelabuhan.Teja dan Berliana saling bertukar pandang di bawah temaram lampu balkon. Binar mata keemasan Teja berkilat dingin.Sang 'hantu' pelabuhan sama sekali tidak menyadari bahwa mangsa yang sangat ingin ia habisi saat ini tidak sedang bersembunyi di pusat kota, melainkan sedang mengawasinya dari atas ketinggian, siap menggulung seluruh jaringannya saat kontainer utama merapat nanti.—Kegelapan malam di kawasan pesisir utara Jakarta kian pekat, diiringi h

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   559. Sudah Cukup!

    Napas Berliana masih berhembus kencang dan tersengal-sengal di atas dada bidang Teja. Raga molek perwira intelijen militer itu terkulai lemas, merasakan sisa-sisa getaran klimaks dahsyat yang baru saja menyapu seluruh sel saraf tubuhnya. Lelehan cairan kehangatan mereka mengalir pelan, membasahi keramik dingin teras balkon.Teja mengelus lembut punggung mulus Berliana yang dipenuhi bulir-bulir keringat nikmat. Sensasi rapat dari dinding kewanitaan Berliana yang masih menjepit ketat keperkasaannya perlahan mereda seiring dengan kesadaran sang wanita yang berangsur pulih."Kayaknya sudah cukup, Berli," ucap Teja tenang.Teja menepuk bokong montok wanita di atasnya agar bangkit.Tepukan pelan nan renyah di pinggul padat sang perwira menjadi isyarat halus bagi Berliana untuk menyudahi pergumulan panas mereka. Berliana mengerjapkan matanya yang redup, mendongak menatap sepasang mata keemasan Teja dengan raut heran sekaligus juga merasa bersalah."Lho… kamu kan belum keluar, Sayang," uc

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   558. Sensasi Terbaru

    Teja menyunggingkan senyum tipis yang penuh pesona. Tanpa membuang waktu, pemuda berambut gondrong itu menarik keperkasaannya secara perlahan dari lorong hangat Berliana.Desahan pasrah meluncur dari bibir merah sang perwira TNI tatkala sensasi hampa mendadak menyergap relung liangnya yang licin dan membara. Teja segera merebahkan tubuh tegap berototnya, bertelentang di atas keramik teras balkon yang dingin. Posisi kepalanya sedikit terangkat menyandar pada bingkai pintu kaca, membiarkan dada bidang dan otot perut enam perseginya tetap tertutup pakaian bagian atasnya.Berliana yang pakaian bawahnya masih menumpuk di sekitar pergelangan kaki segera merangkak naik. Raga molek dan padat milik perwira intelijen militer itu mengangkangi paha kekar Teja, lalu duduk bertumpu tepat di atas pangkuan sang kekasih.Dengan jemari halusnya yang sedikit bergetar oleh gejolak gairah yang membuncah, Berliana memegang keperkasaan Teja yang berdiri kokoh, keras seperti tembok beton, dan membara han

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status