LOGINBianca menyunggingkan senyum tipis, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Teja tanpa berkedip. Cahaya lampu kafe yang temaram memantul lembut di manik matanya, memancarkan pesona anggun yang memikat."Tahu nggak, Ja? Dari sekian banyak cowok yang pernah ajak aku jalan, cuma kamu yang bisa bikin aku ngerasa bener-bener nyaman tanpa perlu jaga gengsi," tutur Bianca dengan nada suara yang makin lembut. Tangannya bergerak pelan di atas meja, memberanikan diri menyentuh punggung tangan Teja yang kekar.Teja membalas sentuhan itu dengan mengelus jemari lentik Bianca menggunakan ibu jarinya. "Mungkin karena kita udah kenal dari lama, Bi. Di depanku, kamu nggak perlu jadi putri CEO. Jadi Bianca yang biasa aja udah lebih dari cukup."Sensasi hangat dari usapan jari Teja seketika menjalar ke seluruh tubuh Bianca. Pipi mulus wanita muda itu memerah merona, menunduk malu namun tak berniat mengelakkan genggaman tangan Teja. Kehangatan energi Qi murni yang tak kasat mata dari t
"Bianca?" Teja kaget. Pria berambut panjang itu menatap lekat gadis anggun yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.Bianca adalah teman masa SMA Teja dulu. Sejak menginjak di bangku kuliah, mereka sudah putus komunikasi karena kesibukan masing-masing dan perbedaan jalur hidup."Kamu tinggal di kota ini, Bi?" tanya Teja heran. Pria itu sedikit tidak menyangka akan bertemu wajah lama dari masa lalunya di hotel berbintang empat ratusan kilometer dari kota asalnya.Bianca mengangguk pelan. "Iya, Ja. Keluargaku dulu kan cuma pendatang di kotamu," jawab Bianca dengan senyuman indah yang mengulas di bibir tipisnya.Bianca adalah sosok gadis muda berusia sembilan belas tahun yang tenang, dewasa, tegas, dan anggun. Latar belakang keluarganya yang kaya raya membentuk perilakunya yang seperti itu sejak dini.Bianca adalah putri seorang CEO perusahaan perhotelan. Parasnya cantik setara para wanita Teja lainnya, tubuhnya tinggi, dan ukuran tubuh sangat proporsional. Buah dada dan bokongnya
"Kalian akan menginap selama seminggu di kota ini. Untuk urusan hotel dan konsumsi sudah disiapkan oleh panitia pertandingan sebelumnya," terang Budi sembari menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi kwitansi kamar dan voucher makan kepada Teja."Karena hari sudah mendekati sore, kalian silakan beristirahat dulu di hotel. Kebetulan hotelnya ada persis di sebelah gedung ini. Besok pagi jam 8 aku harap kalian sudah siap berkumpul di sini lagi buat bergabung dalam latihan," imbuh Buan mengakhiri pengarahan singkat tersebut.Mereka pun pamit undur diri dan melangkah menuju hotel yang sudah ditentukan. Gedung hotel berbintang empat itu berdiri megah, hanya terpisah oleh sebuah taman asri dan pagar pemisah dari kompleks Asosiasi Bela Diri Nasional.Di bagian front office, resepsionis menyerahkan dua kartu akses. Panitia menyediakan dua kamar untuk pria dan wanita. Satu kamar berukuran besar untuk tiga pria, dan satu kamar khusus untuk Linda dan Panda.Namun, demi keleluasaan serta kebutuhan
Teja, Panda, Linda, Bintang, dan Pedro berjalan santai menuju pintu keberangkatan pesawat saat mendengar pemberitahuan dari pengeras suara bahwa pesawat akan segera tinggal landas. Suara dengung mesin jet dari luar kaca tebal bandara terdengar semakin keras, mengiringi langkah kelima anggota tim yang membawa tas pakaian masing-masing."Seneng banget rasanya bisa dapet tiket gratis kayak gini. Jarang-jarang lho ada kesempatan sebaik ini buat ikut latihan bela diri di asosiasi nasional," ucap Linda saat mereka telah duduk di kursi bisnis pesawat. Gadis cantik itu menyandarkan punggungnya pada jok yang empuk, memasang sabuk pengaman dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.Teja yang duduk di sampingnya mengulas senyum tipis. Pria berambut panjang itu menatap lurus ke arah kabin yang mewah sebelum menanggapinya."Hidup adalah ruang belajar. Kata orang terdahulu, kejarlah ilmu sampai ke negeri China," tutur Teja.Semua anggota timnya mengangguk setuju. Kalimat singkat dari Teja seol
"Ja, kamu masih inget perkataan Kusna dan Kusni, pendukungnya Denny dulu?" tanya Toni tak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Pria paruh baya itu menatap dalam ke arah manik mata Teja, memancarkan kearifan seorang pria tua yang kenyang akan asam garam kehidupan.Teja terdiam dan mengingat. Kenangan atas pertarungan sengit di masa lalu serta lontaran kalimat dari dua orang pendukung musuhnya itu kembali berputar di dalam ingatan."Di atas langit masih ada langit," ucap Teja mengingat."Bener banget. Meski mereka musuh, tapi kalimat itu benar adanya, Nak. Di atas bukit masih ada gunung, di atas langit masih ada langit, bahkan di atas bumi masih ada antariksa," Toni mengangguk pelan."Itu artinya, setinggi apa pun pencapaianmu hari ini, masih ada orang di luar sana yang lebih hebat dari kamu. Itulah kenapa Ayah selalu mengajarkan buat mawas diri dan nggak boleh sombong," imbuh Toni bertutur bijak dengan raut wajah tenang.Teja mengangguk pelan. Pemahaman mendalam meresap halus ke dala
Teja akhirnya memutuskan untuk segera mandi karena rasa lengket usai orgasme solonya. Pria berambut panjang itu melangkah perlahan menuju kamar mandi dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Gemercik air dingin dari shower menyiram kepala hingga ujung kakinya, membasuh habis sisa-sisa peluh dan cairan sperma yang mengering di kulit. Sensasi sejuk air dingin kini terasa begitu menyegarkan, tak ada lagi rasa menggigil kedinginan ataupun suhu tubuh panas mendidih yang membakar seperti beberapa saat lalu.Usai mandi, Teja melilitkan handuk di pinggangnya lalu melangkah keluar. Pria itu mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil, lalu berganti pakaian tidur yang longgar.Sembari duduk di tepi ranjangnya yang kini sudah diganti dengan sprei baru yang bersih, ia merenung. Tatapannya menerawang menatap langit-langit kamar.'Kenapa sama tubuhku? Apa aku mengalami peningkatan energi Qi tingkat tiga?' gumam Teja lirih.Rasa penasaran yang begitu besar menggelitik benaknya. Kejadian
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri







