LOGIN"Masalah ini sebaiknya Pak Yulio saja yang memutuskan," ucap Teja. Pria berambut panjang itu melangkah mundur perlahan, mengembalikan kewenangan eksekutif penuh kepada sang CEO yang berdiri tegap di sampingnya."Pak Yulio, mohon berdiskusi dengan manajer keuangan dan yang lainnya untuk memeriksa sepak terjang dua manajer ini sebelumnya," imbuhnya dengan nada tenang nan tegas.Yulio mengangguk paham. Pengalaman pahitnya hampir terbunuh oleh pengkhianatan keluarga membuat pria berjambang lebat itu semakin peka terhadap potensi kebusukan di dalam lingkar bisnisnya."Kamu mau pulang dulu atau mau ke ruanganku, Ja?" tanya Yulio menatap sahabat sekaligus pemilik separuh saham perusahaannya itu."Aku balik aja, Pak. Oh iya, sekalian aku mau nitip dua sahabatku ini buat ikut wawancara seleksi karyawan," Teja menunjuk ke arah Endro dan Jesen yang masih berdiri mematung kaku di dekat pintu.Yulio menoleh pada Sri, memberikan tatapan dingin yang langsung membuat tubuh wanita paruh baya itu berg
"Apa itu, Ja?" tanya Yulio penasaran. Sorot mata pria bercljambang lebat itu menajam, bersiap mendengarkan pengungkapan baru yang dibawa oleh pemilik setengah saham perusahaannya tersebut.Teja tak langsung menjawab. Ia justru memutar tubuh untuk menatap Maya. Pria berambut panjang itu mengamati raut wajah mahasiswi sombong yang kini sudah memucat pasi akibat runtuhnya keangkuhan sang ayah."May, kamu masih punya ibu?" tanya Teja tenang.Maya mengangguk sopan, tidak seperti sebelumnya. Gadis itu menundukkan kepalanya, menyahut dengan suara pelan dan bergetar. "Masih, Jo. Ibuku ada di rumah."Teja melirik Sri. Manajer HRD itu langsung menunduk semakin dalam tatkala manik mata Teja mengunci pandangannya secara dingin."Bu Sri, tindak skandal di lingkungan kerja apa sanksinya?" pancing Teja."Dipecat dengan tidak hormat, Pak Teja," jawab Sri pelan, menyuarakan aturan tertulis yang selama ini sering ia gunakan untuk menindak para bawahan."Oke. Sekarang Bu Sri dan Pak Mali silakan kemasi
"P-Pak Yulio kenal sama pemuda ini?!" Mata Mali terbelalak lebar. Lidahnya serasa kelu hingga kalimat sederhana itu terdengar terputus-putus.Begitu juga dengan Sri yang mulai terlihat tak tenang tatapan matanya. Manajer HRD itu mengepalkan kedua tangannya yang mendadak dingin dan basah oleh peluh, menyadari kejanggalan besar sedang terjadi di depan matanya.Nana, Endro, Jesen, Maya, dan Lia masih diam di tempat masing-masing. Mereka menatap takjub sosok CEO perusahaan besar itu yang biasanya begitu sulit untuk ditemui oleh orang biasa, bahkan oleh karyawan tingkat menengah sekalipun."Bukan hanya kenal. Dia sudah seperti anakku sendiri!" terang Yulio yang terdengar seperti ledakan bom di telinga semua orang.Kalimat tegas itu membahana di sekeliling ruang kerja, meruntuhkan seluruh keangkuhan Mali dan Sri yang sempat meluap-luap beberapa menit lalu."Di-dia… dia kerabatnya Pak Yulio?" Sri ikut bertanya memastikan dengan suara parau yang dipaksakan.Yulio tersenyum sinis. Pria berjamb
"Jo, kendalikan dirimu, Jo. Kita bisa kena masalah kalau kamu ngeyel terus," tegur Endro. Pria itu mengusap pelipisnya yang mulai dibasahi peluh dingin, merinding membayangkan dampak buruk yang bisa menimpa mereka."Iya, Jo. Mending kita pulang aja yuk. Nggak apa-apa kami gagal dapet kerja, yang penting kamu nggak kena masalah," timpal Jesen dengan raut cemas yang begitu kentara. Pria itu menarik-narik pelan ujung kemeja Teja, berusaha membujuk sahabatnya agar segera menyudahi perdebatan berbahaya tersebut.Nana juga terlihat panik dengan menggenggam jari Teja meski tak buka suara. Genggaman erat dari tangan halus sang penyanyi cantik itu menyalurkan rasa khawatir yang amat sangat, terpancar jelas dari manik matanya yang berkaca-kaca menatap Teja."Jo, kamu udah mengusik ayahku juga Bu Sri sebagai manajer HRD di sini. Bener-bener nggak punya malu kamu itu!" cibir Maya. Gadis itu menyilangkan tangan di dada sembari melayangkan pandangan penuh kejijikan pada Teja."Makanya, nggak usah
Mali adalah sosok pria dengan postur tubuh tinggi besar seperti Bintang dan Pedro. Orang yang melihatnya pasti berpikir kalau ia lebih cocok menjadi preman daripada manajer distribusi. Pria paruh baya itu bersandar santai di kursi kulit mewahnya dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian dada, memancarkan kesan garang dan menekan."Siapa temanmu yang ragu itu, May?" tanya Mali. Suara beratnya yang serak bergema memenuhi seisi ruangan.Maya menunjuk Teja dengan tatapan penuh ketidaksukaan. "Dia namanya Teja, Yah. Katanya mana mungkin sekelas manajer distribusi saja bisa punya hak rekrut calon karyawan!""Kamu meragukanku, Nak?" Mali menatap Teja. Manik matanya menajam, melemparkan pandangan mengintimidasi yang biasa ia gunakan untuk menundukkan para bawahannya."Bukan ragu, tapi penasaran. Ini penyalahgunaan jabatan, Pak," sahut Teja tenang. Pria berambut gondrong itu berdiri tegak di depan meja kerja Mali tanpa menunjukkan rasa gentar sedikitpun."Kurang ajar! Berani banget kamu
"Aku kan udah bilang tadi, Jo. Ayahku itu manajer distribusi. Hal kayak gitu mah gampang buat beliau," balas Maya dengan nada pongah sembari membusungkan dada."Jo, saranku, nggak usah ngajak Maya adu argumentasi deh. Kamu itu siapa? Ayahnya Maya punya jabatan lho di sana, Jo!" Lia ikut angkat bicara, menatap Teja dengan pandangan meremehkan.Nana yang mendengar itu akhirnya ikut menengahi. Gadis cantik itu mengusap pelan lengan Teja sembari berbisik halus. "Jo, serahin aja sama Maya. Ayahnya punya kuasa di sana."Teja tersenyum pelan. Pria berambut panjang itu menggelengkan kepala perlahan, menyikapi ketidaktahuan orang-orang di sekitarnya."Justru itu yang aku pertanyakan. Kuasa apa yang bisa bikin manajer distribusi saja bisa ngatur calon karyawan yang masuk?!" bantah Teja dengan nada bicara yang tenang namun menohok."Manajer distribusi saja katamu?! Itu jabatan tinggi di sana!" Wajah Maya semakin merah padam, merasa harga diri keluarganya baru saja diinjak-injak oleh seorang maha
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







