Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 33. Bertahan Hingga Pagi

Share

33. Bertahan Hingga Pagi

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-13 19:32:36

“Anu… di-di dekat gedung olahraga, Bos,” jawab pria berkepala botak bernama Bintang tersebut.

Teja tersenyum singkat karena teringat pada sesuatu. “Bintang, apa kalian lupa kejadian pagi hari, beberapa hari yang lalu di belakang gedung olahraga?“ tanya kemudian.

Bintang terdiam sejenak dan berpikir. Ia tiba-tiba menutup mulutnya dengan mata melotot kaget. “Kamu… kamu pemuda yang menghajar lima anak buahku di sana waktu itu?“

Teja mengangguk. “Tepat sekali!“

Mendengar Teja mengiyakan hal itu, Bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   306. Tak Tahan Lagi

    Sari mengepalkan tangan kanannya yang masih gemetaran dengan pendar gairah yang amat pekat. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah jemari Teja yang bersiap memutar kepalan di udara."Batu... Gunting... Kertas!"Teja mengeluarkan batu, sedangkan Sari meluruskan dua jarinya membentuk guntin, namun di detik terakhir ia dengan cepat merubahnya menjadi kertas."Aku menang! Hahaha, aku menang putaran ketujuh ini, Ja!" pekik Sari kegirangan. Suara seraknya bergema riuh di dalam kamar beraroma terapi tersebut.Teja terkekeh pelan sembari menyandarkan punggungnya di bantal ranjang. "Oke, kamu yang menang. Mau minta hukuman apa sekarang, Sar?"Sari memiringkan tubuhnya, menatap lurus ke arah selangkangan Teja yang memamerkan keperkasaan sang pemuda maskulin tersebut. Senyuman sensual terkulum di bibir bergincunya yang kini sedikit basah."Aku mau penetrasi sekarang, Ja! Aku udah nggak tahan lagi, dari tadi dipancing mulu!" tuntut Sari penuh semangat sembari merenggangkan kedua paha mulusnya l

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   305. Hukuman Tampar

    Keduanya kembali mengayunkan kepalan tangan ke udara untuk memulai permainan putaran ketiga."Batu... Gunting... Kertas!"Teja mengeluarkan gunting, sementara Sari mengeluarkan kertas."Aku menang lagi!" seru Teja terkekeh puas.Sari mengerucutkan bibirnya gemas, namun matanya yang sayu tak mampu menyembunyikan pancaran gairah yang semakin membara. "Ya udah, mau nyuruh apa kali ini, Ja?""Kulum punyaku sampai kamu ketagihan," ujar Teja sembari menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.Sari memamerkan senyuman sensualnya. Tanpa membuang waktu, janda muda itu langsung menggeser posisinya berlutut di antara dua paha Teja. Jemari lentiknya menggenggam erat milik Teja yang sudah tegang sempurna, lalu membenamkan bibir bergincunya ke bagian kepala benda tumpul nan tebal tersebut."Ummh... Mmph!" Sari melesakkan milik Teja ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Lidahnya yang lihai bergerak menari-nari melingkari urat-urat menonjol di sepanjang batang keperkasaan itu. Hisapan ketat bercam

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   304. Permainan Simpel

    "Yakin lebih gede punyaku?" Teja terbahak lagi. Pria berambut panjang itu menatap Sari dengan wajah jenaka melihat kekaguman janda muda tersebut."Asli, Ja. Punya dia emang gede, item, tapi lembek. Nggak keras kayak ini. Terus ukurannya juga kalah telak," jujur Sari tanpa ragu sedikitpun. Matanya masih berbinar-binar mengagumi keperkasaan di hadapannya.Dalam pikiran Teja, meski ia tak ingin terkesan menjadi pria gampangan, tetap saja ia butuh tambahan kuota wanita untuk memenuhi targetnya menuju peningkatan energi Qi-nya. Target enam wanita harus segera dituntaskan agar ranah kemampuan energi Qi-nya bisa melesat naik ke tingkat tiga."Sini, Ja," Sari menarik Teja agar rebah di ranjang. Tangannya menggenggam erat jemari Teja, membimbing pria itu untuk tidur terlentang di atas sprei putih yang sejuk.Ia kini gantian bangkit berlutut di samping Teja. Posisinya yang berlutut tanpa sehelai benang pun memamerkan lekuk tubuh instruktur senam yang begitu kencang dan sensual.Perlahan tangan

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   303. Kalah Jauh

    Sari menutup pintu kamar lalu berjalan santai menuju ranjang berukuran besar di tengah ruangan. Tanpa sedikit pun rasa canggung, janda muda itu melepaskan gaun santainya, disusul dengan bra dan celana dalam tipis yang melekat pada kulit mulusnya.Sari memang santai melepas semua pakaiannya tanpa canggung karena sudah pernah bercinta dengan Teja sebelumnya. Tubuh indahnya yang kencang khas instruktur senam kini terpampang polos di bawah sinaran lampu kamar."Aku langsung rebahan di sini ya, Ja?" tutur Sari santai sembari menelungkupkan tubuhnya di atas kasur berlapis sprei lembut.Teja tersenyum tipis lalu melangkah mendekat. Pria berambut gondrong itu mengeluarkan botol berisi gel pelicin pijat khusus dari tas perlengkapannya, lalu menuangkannya secukupnya ke atas telapak tangan.Menggunakan gel pelicin pijat, Teja memijat semua anggota tubuh Sari tanpa terlewatkan. Jemari Teja mulai mendarat di area pundak, menekan titik-titik saraf yang tegang dengan tekanan yang terkendali agar ti

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   302. Baru Bisa Komunikasi

    Tak terasa tumpukan kesibukan Teja berangsur terselesaikan. Mulai dari menghadapi Suko, berlanjut pertandingan bela diri Nusantara yang dimenangkan timnya kemarin. Ketegangan fisik dan mental yang menguras energi selama beberapa pekan terakhir kini perlahan mencair berganti ketenangan.Pagi ini, Teja duduk seorang diri di ranjang kamarnya. Ia tidak berangkat kuliah karena hari libur. Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis, menerangi ruang kamarnya yang begitu luas dan tertata rapi.'Sejauh ini aku sudah berhubungan badan sama Nana, Panda, Linda, dan Susan buat memenuhi target enam wanita menuju peningkatan energi Qi tingkat tiga,' batinnya. Pria berambut panjang itu mengelus dadanya sembari menghitung pencapaian syarat warisan lilitan kain leluhurnya yang sedang ia jalani.'Melihat kondisi di pertandingan kemarin, peningkatan energi Qi-ku ini harus segera diupayakan. Mata batinku kemarin enggak bisa menembus dinding tebal gua. Aku juga kalah pas bertarung sama gorila gede i

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   301. Sambal Terong

    Rombongan Teja melangkah santai mengikuti ritme gerakan tiga hewan pendukung mereka. Suasana malam Hutan Camar Hitam yang semula begitu mencekam kini berubah menjadi sangat bersahabat di sepanjang tepi aliran air telaga.Jalur yang mereka lalui merupakan cerukan celah alami yang tersembunyi rapat di balik kerimbunan semak belukar dan lebatnya pohon-pohon purba. Jika bukan karena bimbingan Buaya Putih serta sepasang singa keemasan itu, tidak akan ada satu pun kelompok asosiasi lain yang mampu menemukan celah tersembunyi itu."Enak banget ya jalan di sini, nggak ada tanjakan terjal kayak di jalur pendakian utama tadi," celetuk Bintang sembari bersiul pelan. Pria bertato itu menikmati hembusan angin malam yang menyapu hawa hangat di sepanjang badan jalan."Iya, lagian nggak ada hewan buas atau gangguan tim lain. Sepi banget serasa jalur VIP," timpal Pedro terkekeh puas. Tangkai kapak besar yang semula ia genggam erat kini hanya disandarkan santai di bahu tegapnya.Teja berjalan paling

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status