LOGINBunyi kunci pintu bergema halus di dalam ruangan yang sejuk. Desy memutarkan badannya perlahan, menyandarkan punggung seputih porselennya pada daun pintu yang tertutup rapat.Paras ayunya yang masih menyisakan lelehan air mata haru kini merona merah padam.Jemari lentiknya yang gemetar dengan berani merayap turun melintasi tali gaun feminin berwarna merah muda yang dikenakannya sejak pagi. Dengan satu tarikan halus, kain gaun berpotongan anggun itu meluncur mulus melintasi pinggul padatnya, merosot jatuh menumpuk di atas lantai granit yang sejuk.Di balik gaun tersebut, Desy rupanya sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun. Keindahan tubuh polos seputih porselen miliknya, dengan gumpalan dada mengkal yang ranum, perut ramping yang rata, serta celah kewanitaannya yang polos gundul, terpampang nyata."Mas Teja... hhh..." bisik Desy parau dengan suara yang teramat halus dan manja. Sepasang mata bulat beningnya menatap redup lurus ke arah sepasang mata keemasan sang pemuda.Gadis
Sore hari mulai menjelang di kawasan Surabaya Timur. Setelah seluruh proses penataan perabot, pemasangan pendingin udara, serta penyusunan peralatan elektronik di rumah minimalis dua lantai Blok A8 selesai dengan sempurna, Teja mengajak Desy untuk bergegas. Mereka menjemput Desan.Pajero Sport putih milik Teja meluncur tenang membelah jalanan kota menuju Sekolah Dasar Negeri tempat Desan mengenyam pendidikan. Di pelataran sekolah yang mulai senggang, tampak Desan berdiri tegap menanti dengan tas punggung barunya. Begitu melihat kendaraan gagah sang pemuda perkasa berhenti tepat di depan gerbang, binar gembira seketika memancar jernih dari sepasang mata bulat bocah berusia dua belas tahun itu."Mas Teja! Mbak Desy!" seru Desan riang seraya berlari kecil dan melompat masuk ke dalam kabin mobil yang sejuk."Gimana sekolahnya hari ini, Desan?" sapa Teja ramah dari balik lingkar kemudi, mengusap pelan kepala klimis bocah tersebut."Seru banget, Mas! Tadi aku dapet teman baru banyak. Terus
Pagi yang cerah di kawasan Surabaya Timur menyambut kedatangan SUV Mitsubishi Pajero Sport berwarna putih mengilap milik Teja. Usai mengantarkan Desan melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah barunya dengan seragam rapi, Teja melajukan kendaraan bertubuh gagah itu menuju salah satu perumahan elit yang sedang berkembang pesat di wilayah tersebut.Teja melangkah tegap melintasi pintu kaca otomatis kantor pemasaran berpendingin udara itu. Jemari kekarnya menggenggam erat telapak tangan halus Desy, saling bertaut mesra tanpa jarak. Desy yang mengenakan gaun feminin berwarna merah muda tampak bersandar anggun di samping lengan berotot Teja, memancarkan pesona yang memikat. Seorang petugas pemasaran pria berseragam rapi langsung bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan mereka berdua dengan senyuman hangat dan bungkukan hormat yang amat dalam."Selamat pagi, Bapak, Ibu! Selamat datang di Marketing Gallery Perumahan Cluster Grand Residence. Ada yang bisa saya bantu untuk hunian impiann
Teja tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya secara halus sembari menatap wajah sang ayah yang penuh kehangatan."Enggak usah, Yah. Desy tadi pagi sudah masak banyak di klinik, jadi aku mau makan di sana saja," tolak Teja dengan nada baritonnya yang lembut.Toni yang mendengar alasan tersebut seketika menghentikan langkahnya menuju dapur. Pria tua itu memutar badan, menyunggingkan senyuman jahil."Cieee… ada yang masakin nih ye sekarang?!" goda sang ayah terkekeh-kekeh, memandangi Teja yang mendadak salah tingkah.Garis wajah tegap Teja seketika merona tipis. Sang pemuda berambut dreadlock panjang itu tersenyum malu-malu, lalu dengan cepat meraih telapak tangan kanan sang ayah untuk diciumnya kembali sebagai tanda pamit."Aku berangkat dulu, Yah!" seru Teja terburu-buru.Tanpa menunggu balasan sang ayah yang makin tertawa terkekeh di ambang pintu, Teja berlari terbirit-birit menuju pelataran parkir, melompati anak tangga teras dan langsung melesat masuk ke dalam mobil Pajero Sport p
Teja melajukan Pajero Sport putihnya membelah jalanan kota Surabaya yang mulai berangsur sepi dari kepadatan siang. Sinar matahari sore membias hangat di atas kaca depan mobil, memancarkan pantulan cahaya keemasan yang menenangkan.Perjalanan sore itu terasa begitu tenang bagi sang pemuda berambut dreadlock panjang tersebut. Di sepanjang jalan, pikiran Teja melayang pada rentetan pencapaian akademis dan dinamika hidup yang dijalaninya belakangan ini.Draft berkas skripsi yang baru saja dituntaskannya di perpustakaan kampus bersama Nana benar-benar tersusun dengan argumentasi hukum dan manajemen bisnis yang tajam. Beban pikiran mengenai tugas akhir akademisnya perlahan terangkat, memberikan ruang bernapas yang cukup lega di tengah kesibukannya mengelola organisasi bela diri dan urusan bisnis.Ia juga merasa sangat terbantu oleh dukungan Nana, Jesen, dan juga Endro, padahal ketiganya juga pasti pusing dengan persiapan skripsi mereka masing-masing.Teja menyunggingkan senyum tipis tatk
“Siang, Na," balas Teja hangat. Jemari kekarnya mengusap pelan puncak kepala Nana, memberikan gestur perhatian sederhana yang seketika membuat senyuman manis Nana kian mengembang anggun.Jesen yang berdiri di sebelah Endro langsung menyenggol lengan sahabatnya itu seraya terkekeh pelan."Waduh, waduh... Yang ketua asosiasi bela diri sekaligus pemegang saham Grup Yulio baru nyampe nih! Aura Bos Besar memang beda ya, Ndro!" goda Jesen seraya menepuk bahu tegap Teja."Iya nih, Jo. Udah kayak adegan film aja pas kamu turun dari Pajero tadi," timpal Endro tertawa terkekeh. "Gimana kabarmu, Jo? Urusan kemarin lancar kan?"Teja tersenyum tipis, menyambut tinju santai dari kedua sahabatnya. "Lancar, Bro. Semua udah terkendali dengan baik. Kalian sendiri gimana? Ada kendala?""Aman, Jo! Yang penting sekarang kita langsung masuk kelas aja yuk, dosennya udah mau jalan ke kelas nih," ajak Jesen seraya melirik jam di pergelangan tangannya.Mereka berempat kemudian melangkah bersama menyusuri kori
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha







