LOGIN"Percayakan sama aku, Pak Jim," ucap Teja tenang diikuti tatapan penuh ketegasan.Pria berambut panjang ala dreadlock itu melangkah mendekati Jim, menepuk pelan bahu pria paruh baya yang masih berdiri kaku di dekat meja kerjanya. Mata Teja yang tenang dan tajam seolah menyalurkan kedamaian jiwa yang mendalam, memupuskan rasa ketakutan yang sempat disebarkan oleh Johar beberapa saat lalu.Mendengar keyakinan Teja, Jim mulai berkurang rasa paniknya.Jim menghembuskan napas panjang, menyapu peluh dingin yang sempat membasahi dahinya. Ia menyadari betul bahwa pemuda di hadapannya ini bukanlah sosok yang suka berbohong atau mengumbar janji kosong. Keajaiban-keajaiban yang pernah Teja tunjukkan, mulai dari menyembuhkan penyakit kronisnya hingga melumpuhkan petarung sekelas Beno, menjadi bukti nyata betapa luar biasanya potensi yang dimiliki oleh pemuda tersebut."Tapi aku mau minta tolong sama Pak Jim," pangkas Teja memecah keheningan ruangan.Jim dengan cepat menegakkan posisi berdiriny
"Pertama, kamu mempermalukan Denny di kotamu!" bentak Johar dengan telunjuk teracung lurus ke arah dada Teja. Matanya membelalak lebar, memancarkan amarah yang telah membakar habis sisa-sisa kesabarannya."Kedua, kamu juga mempermalukan Beno dan dua anak kembarnya beberapa hari yang lalu!" lanjut Johar, menghentakkan kakinya ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi dentuman yang nyaring."Dan ketiga, Johan juga kamu perlakukan dengan hina!" jerit Johar penuh tekanan emosi. Suaranya menggelegar memantul di dinding-dinding kaca ruangan kerja tersebut, meluapkan seluruh kekesalan atas runtuhnya martabat keluarga besar yang selama ini ia agung-agungkan.Teja tetap berdiri tegap dengan posisi tubuh yang teramat stabil. Pria berambut gondrong ala dreadlock itu sama sekali tidak bergeser satu sentimeter pun dari tempatnya berdiri. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menusuk lurus ke dalam manik mata Johar tanpa ada sedikit pun rasa keraguan."Jangan merasa paling benar dan suci, Pak J
Siang harinya, Bintang dan Pedro sudah berangkat membawa tiga wanita Teja menuju kota asal Teja.Sebuah SUV hitam bertubuh bongsor dan berpenampilan gagah membelah jalanan kota dengan mulus. Di balik kemudi, Bintang mengendalikan kendaraan dengan sangat sigap, sementara Pedro duduk di kursi samping memperhatikan situasi sekitar. Di kursi belakang yang lapang dan nyaman, Bianca, Linda, dan Panda duduk berdampingan sembari bercengkerama hangat. Pengawalan ketat dua tangan kanan Teja di geng Surya tersebut memastikan perjalanan darat lintas kota itu akan berlangsung aman tanpa gangguan berarti.Sepeninggal rombongan wanitanya, Teja segera melangkah meninggalkan komplek SPN Company.Pria itu kemudian menemui Jim yang sudah aktif berkantor di puncak hotel tempat Teja menginap.Ruang kerja eksekutif di lantai paling atas hotel berbintang lima itu menyajikan pemandangan kota yang amat memukau dari balik dinding kaca raksasa. Jim, yang kondisi fisiknya telah pulih total berkat keajaiban e
"Pak Budi, Pak Buan… kejadian yang menimpa tiga wanitaku tadi malam jangan sampai terulang lagi. Mulai detik ini berikan pengawalan yang ketat buat mereka dari jarak yang aman agar nggak mengganggu privasi mereka!" ucap Teja pagi itu di ruang CEO SPN Company.Pria berambut panjang ala dreadlock itu berdiri tegap di balik meja kerjanya yang luas. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela kantor, menyorot raut wajah tegas Teja yang memancarkan kewibawaan seorang pimpinan tertinggi. Meskipun peristiwa penangkapan Johan tadi malam berjalan sukses tanpa ada cedera fisik pada para wanitanya, ancaman di dunia luar tetap tidak bisa dianggap remeh begitu saja.Budi dan Buan menatap Teja dengan tak enak hati karena tadi malam sampai kecolongan.Dua mantan pelatih senior itu menundukkan kepala sedikit dengan raut wajah yang diliputi rasa penyesalan mendalam. Sebagai pemegang komando operasional di SPN Company, mereka merasa bertanggung jawab atas kelengahan sistem pengawasan yang sempat membu
Teja langsung melompat dari taksi begitu usai membayarnya.Tanpa menunggu pintu mobil ditutup sempurna oleh sang sopir yang masih gemetar heran, langkah kaki Teja menapak cepat di atas aspal pelataran kafe. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling area parkir yang diterangi pendar lampu sorot kekuningan.Namun, suasana sudah sangat kondusif. Bianca sudah ada di pelukan Panda dan Linda meski masih menangis ketakutan.Isak tangis halus dari mulut Bianca terdengar mengalun di antara keheningan malam yang mulai kembali tenang. Pakaian gaun mewahnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, tanda sempat terjadi tarikan paksa sebelum bala bantuan tiba. Linda dan Panda mengelus lembut punggung serta rambut bob milik Bianca, berusaha memberikan rasa aman dan ketenangan jiwa bagi saudari baru mereka."Kalian nggak apa-apa?" tanya Teja bergegas mendekat. Suaranya serak basah dipenuhi dengan rasa kecemasan.Mendengar suara familiar yang teramat dicintainya, Bianca mendongakkan kepala. Beg
Teja bergegas mandi air dingin untuk menyegarkan tubuh.Guyuran air bersih yang menetes keras dari pancuran kristal kamar mandi seketika membasuh sisa-sisa ketegangan dan kelelahan fisiknya. Sensasi dingin dari air tersebut meresap ke pori-pori kulitnya, menyelaraskan kembali pusaran hawa murni energi Qi kebiruan bercampur keemasan di dalam tubuhnya agar kembali mengalir tenang dan seimbang.Ketika keluar dari kamar mandi dan masih berbalutkan handuk, ponsel Teja di meja nakas bergetar.Suara dengungan kencang dari getaran ponsel pintarnya membuat pria berambut gondrong itu mempercepat langkahnya menuju nakas di samping ranjang.Teja ponsel tersebut dan melihat siapa gerangan yang sedang menghubunginya. Muncul nama Panda di sana. Teja pun segera menggeser tombol hijau di layar kaca ponselnya, menempelkan benda pipih itu di daun telinganya dengan senyum tipis yang menduga wanitanya pasti ingin memamerkan suasana jalan-jalan malam mereka."Halo, Nda. Gimana jalan-jalannya?""Tejaaa! A
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan
Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter







