LOGINTeja dan dua tangan kanannya menghentikan langkah. Seorang pria tua berambut dan berjenggot serba putih muncul dari bagian dalam rumah. Diperkirakan usianya sudah di atas delapan puluh tahun.Pria tua itu mengenakan beskap dan blangkon tradisional berdesain batik gelap. Meskipun usianya sudah sangat senja, postur tubuhnya masih tampak kokoh dan gesit.Setiap langkah kakinya di atas lantai keramik seolah menyebarkan tekanan udara yang berat di sekeliling ruangan perjamuan."Siapa kamu?" tanya Teja. Pemuda bertubuh tegap itu menatap pada sosok sesepuh yang baru muncul tersebut. Buan dan Budi di sampingnya seketika memperketat kewaspadaan, merasakan adanya bahaya baru yang jauh lebih besar dari keberadaan Johar sebelumnya."Aku Joharsyah, kakek sekaligus yang paling senior di keluarga ini," jawab pria tua itu dengan tekanan suara yang dalam dan berat.Joharsyah menghentikan langkahnya tepat di samping tubuh Johar yang masih terbaring lemah. Pandangan matanya menyapu kondisi cucunya ya
Teja maju memburu lagi. Langkah kaki pemuda bertubuh tegap itu membelah lantai keramik dengan kecepatan yang sukar dipercaya. Hawa murni berwarna biru keemasan membungkus rapat seluruh raga tegapnya, memancarkan tekanan atmosfer yang begitu berat hingga membuat puluhan tamu undangan tertahan napasnya."Kali ini balasan buat serangan yang tadi bikin dua tanganku lemas!" seru Teja tegas.Teja melakukan pukulan melingkar mengincar dua tangan Johar.KRAK!Dua pukulan beruntun yang dialiri tumpuan hawa murni tingkat lima lebih sepertiga itu mendarat telak di persendian siku dan lengan Johar. Benturan dahsyat tersebut menghancurkan tulang dan jaringan otot sang pimpinan keluarga dalam sekejap mata.Tak hanya lemas, dua tangan Johar langsung patah saat itu juga.Kedua lengan milik Johar kini terkulai ke bawah dalam sudut yang tak wajar. Tulang-tulang di lengannya patah, tak sanggup lagi menahan gempuran tenaga dalam Teja yang begitu kuat."Arghh!" Johar meraung kesakitan dengan pikiran ma
"Waktu habis, Anak Muda. Sudah waktunya kau bertemu ajalmu," ucap Johar sembari melompat, mengarahkan tinju bersalut aura merah energi Qi-nya ke arah tempurung kepala Teja. Gerakannya menunjukkan keyakinan diri tinggi.Pria paruh baya itu meluncur dari udara dengan wajah yang dipenuhi senyum kemenangan. Hantaman hawa murni berwarna merah pekat membungkus rapat kepalan tangan kanannya, memicu tekanan udara yang cukup berat dan mematikan, mengincar kepala pemuda yang terbaring lunglai di atas lantai tersebut.DUAR!Tinju Johar membentur, namun bukan pada kepala Teja, melainkan pada lantai keramik yang langsung rusak porak-poranda terkena pukulan itu. Tubuh Teja sudah menghilang dari sana!Pecahan keramik dan debu tebal tercipta seketika di titik benturan. Johar merasakan tinjunya hanya menghantam udara kosong."Ke-kemana dia?!" pekik Johar kaget setengah mati.Mata pria paruh baya itu membelalak lebar. Rasa percaya diri yang tinggi seketika sirna digantikan oleh kepanikan yang luar bia
Perlahan wajah tiga makhluk yang berkelebat itu semakin terlihat nyata.Dalam ruang batin Teja yang gelap, gambaran samar itu bertransformasi menjadi visualisasi yang meningkat jelas. Surai keemasan dari dua singa raksasa dan sisik putih dari buaya putih mulai muncul. Sosok-sosok perkasa dari alam liar itu berdiri gagah, memancarkan aura perlindungan yang sangat kuat.'Sahabat-sahabatku dari Hutan Camar Hitam!' pekik Teja dalam hati.Getaran emosional meluap luas di dalam dadanya. Ingatan Teja melayang pada ikatan batin yang telah terjalin kuat bersama tiga binatang penjaga tersebut. Kehadiran mereka di alam bawah sadarnya seolah menjadi jembatan penyelamat di tengah ancaman jurang kematiannya.Ia teringat kembali pada tiga hewan penjaga tersebut yang sudah mengikat batin dengannya. Ia juga teringat bahwa dengan ikatan batin itu ia bisa memanggil setidaknya satu tingkatan energi Qi mereka di saat terdesak.Sebuah pemahaman besar mendadak menyengat pikiran Teja dengan sangat kuat.
Kali ini tendangan Johar melesat menumbuk perut Teja.Sapuan kaki besar yang dilapisi hantaran hawa murni tingkat lima itu menghantam telak rongga perut pemuda bertubuh tegap tersebut. Dampak benturan yang teramat keras itu seketika memecahkan sisa pertahanan tenaga dalam Teja.Ia kembali terlempar membentur dinding dan luruh di lantai tanpa bisa bergerak sama sekali.BUK!Dua tangan Teja yang sudah lemas terkulai tanpa daya di sisi badannya. Kesadarannya goyah, sementara rasa sakit yang luar biasa membakar dari rongga dada hingga ke seluruh organ dalam perutnya."Bos Teja!" teriak Budi dan Buan sangat panik namun tak berani bergerak sedikit pun dari tempat mereka.Kedua pengelola SPN itu berdiri kaku di tempatnya dengan raut wajah pucat pasi. Ancaman mematikan dari Johar serta dominasi tekanan energi tingkat lima yang melingkupi ruangan membuat Buan dan Budi terkunci, tak sanggup melangkah maju sedikit pun meski hati mereka teriris melihat pimpinan mereka terkapar tanpa daya.Tawa
Teja tak menanggapi, ia memejamkan mata di atas pangkuan Buan.Napas pemuda bertubuh tegap itu berhembus sangat pelan dengan raut wajah yang kian memucat. Lelehan darah segar masih tersisa di sudut bibirnya, mengalir lambat menetes ke baju hitamnya.Kondisinya yang seperti itu lebih membuat keduanya panik. Budi langsung membuka kemeja hitam Teja dan menemukan luka memar menghitam sebesar tinju tangan.Bercak memar pekat itu tercetak jelas tepat di tengah dada bidang Teja, menandakan betapa parahnya hantaman hawa murni tingkat lima milik Johar yang merusak organ dalam dan aliran darahnya."Bos, bertahanlah!" bisik Buan yang masih memangku kepala Teja.Suara pria paruh baya itu terdengar bergetar hebat, menahan rasa cemas dan ketakutan yang begitu tinggi tatkala melihat pimpinan tertinggi SPN itu terkulai lemas tanpa daya.Tak lama kemudian Teja membuka matanya, meski sorot matanya tampak sedikit redup akibat rasa sakit yang membakar seluruh rongga dadanya. Teja menghembuskan napas b
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih







