Share

Apa Kata Ibu

Author: Brown _Sugar
last update publish date: 2026-10-15 11:01:31

Nirmala berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap lelaki itu lama sekali, mencoba menghafal wajah yang dahulu selalu membuatnya merasa aman.

Dulu, ia percaya bahwa Darma adalah tempat pulang terbaik baginya. Dulu, ia rela mengorbankan banyak hal demi mempertahankan pernikahan mereka, bahkan ketika harus menelan kekecewaan karena suaminya lebih sering membela sang ibu daripada dirinya.

Kini, lelaki itu sendiri yang menghancurkan tempat pulang tersebut.

"Aku terima kalau Mas mengusirku dari rumah ini," ucap Nirmala akhirnya. Suaranya masih bergetar, tetapi kali ini ada ketegasan yang perlahan tumbuh di dalamnya. "Aku terima kalau Mas tidak lagi menginginkanku sebagai istri. Namun, satu hal yang harus Mas ingat seumur hidupmu, aku tidak pernah berselingkuh!"

Darma mendengkus.

"Mas boleh mengambil semua yang Mas berikan kepadaku. Mas boleh mengusirku tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri. Namun, Mas tidak berhak menghina anak yang sedang kukandung!" Nirmala mengusap perutnya dengan lembut. "Anak ini tidak bersalah. Dia tidak pantas diragukan hanya karena ayahnya lebih memilih mempercayai foto-foto daripada perempuan yang selama lima tahun hidup bersamanya."

"Jangan sok suci! Siapa yang tahu kalau anak itu memang anakku?"

Nirmala terdiam sesaat. Lalu, ia mengangkat wajahnya, menatap Darma dengan mata yang masih basah.

"Kurang ajar, Mas!"

Untuk pertama kalinya, Nirmala berani meninggikan suaranya di hadapan lelaki itu.

"Aku mungkin tidak punya banyak harta. Aku mungkin hanya perempuan sederhana yang tidak punya siapa-siapa untuk membelaku di rumah ini. Namun, aku bukan perempuan murahan seperti yang Mas tuduhkan! Aku berani bersumpah, seratus persen anak ini adalah anakmu!"

Darma menatapnya tajam, tetapi Nirmala tidak lagi menunduk.

"Aku tidak akan memohon kepadamu lagi, Mas. Tidak hari ini, tidak juga di kemudian hari. Mulai sekarang, anak yang ada dalam kandunganku adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Aku akan menjadi ibu sekaligus ayah baginya jika memang itu yang harus kulakukan."

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan tangis yang kembali mendesak keluar.

"Dan setelah anak ini lahir, jangan pernah berharap aku akan memohon agar kamu mengakuinya. Jika suatu hari nanti kamu datang untuk mencari anak ini, ingat baik-baik bagaimana kamu memperlakukan ibunya ketika dia bahkan belum lahir ke dunia."

Nirmala menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tetapi ia memaksa dirinya menyelesaikan kalimat terakhirnya.

"Anak ini tidak akan pernah kubiarkan menjadi alat untuk menyakiti atau mempermainkan perasaannya. Kamu boleh tidak menginginkannya sekarang, tetapi aku tidak akan membiarkan siapa pun merampas haknya untuk hidup dengan penuh kasih sayang. Kamu sudah menghancurkan hatiku, Mas. Jangan berharap aku akan membiarkanmu menghancurkan hidup anakku juga."

"Dramatis sekali!" Fatma menyahut dengan sinis. "Sudahlah, Darma. Tidak perlu meladeni perempuan seperti ini. Semakin lama dia bicara, semakin jelas kebusukannya!"

Nirmala menoleh kepada ibu mertuanya.

"Bu, selama ini aku selalu berusaha menghormati Ibu. Aku tidak pernah membantah ketika Ibu mengatur keuangan rumah tangga. Aku juga tidak pernah mengeluh ketika harus menahan keinginanku sendiri karena Ibu mengatakan pengeluaran kami harus dihemat."

Ia mengusap air matanya.

"Bahkan, ketika aku ingin membeli makanan karena mengidam, aku harus meminta izin terlebih dahulu. Ketika aku ingin menjenguk ibuku yang sakit, aku harus menunggu waktu yang tepat. Aku menahan semuanya karena aku pikir, selama aku bersabar dan menghormati Ibu, suatu hari nanti Ibu akan menganggapku sebagai anak sendiri."

Suara Nirmala patah.

"Ternyata, selama ini aku salah. Bagi Ibu, aku tidak pernah lebih dari perempuan miskin yang kebetulan menikah dengan anak Ibu."

Fatma terdiam sejenak, tetapi kemudian mendengus tidak peduli.

"Kalau kamu tahu diri, seharusnya sejak awal kamu sadar bahwa kamu tidak pantas berada di keluarga ini!"

Nirmala tersenyum getir. Senyum yang justru membuat wajahnya tampak semakin menyedihkan.

"Baik, Bu. Aku akan pergi. Mulai hari ini, Ibu tidak perlu lagi melihat perempuan miskin yang Ibu benci ini."

Ia membungkuk perlahan untuk meraih gagang koper. Namun, karena tubuhnya lemah dan perutnya semakin berat, ia kesulitan mengangkat koper tersebut. Tangannya bergetar, napasnya memburu, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Tak seorang pun bergerak membantu.

Darma hanya memalingkan wajah, sedangkan Haidar berdiri dengan tangan bersilang di dada.

Akhirnya, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Nirmala mulai menyeret koper itu menuju gerbang.

Setiap langkah terasa berat. Bukan hanya karena tubuhnya sedang mengandung, melainkan juga karena hatinya baru saja kehilangan satu-satunya tempat yang selama ini ia sebut rumah.

Di belakangnya, Darma mengusap wajah dengan kasar. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya ketika melihat punggung istrinya semakin menjauh. Namun, ia terlalu gengsi untuk memanggil perempuan itu kembali.

Ia memilih mengeraskan hatinya.

Sementara itu, Fatma mendekati anak tunggalnya sambil tersenyum puas.

Matanya mengikuti sosok Nirmala yang perlahan ditelan gerbang.

"Ibu tidak pernah setuju kamu menikahi perempuan seperti dia."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status