ログインBeberapa lembar foto berhamburan di atas lantai.
Nirmala menunduk. Matanya langsung membelalak ketika melihat foto-foto tersebut. Dalam foto itu, seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengannya tampak berada dalam pelukan seorang pria. Ada foto yang memperlihatkan mereka duduk berdekatan, saling merangkul, bahkan beberapa gambar menampilkan keduanya berada di atas ranjang dalam posisi yang membuat siapa pun bisa salah paham. Darah Nirmala seolah berhenti mengalir. Lututnya melemas, dan dadanya terasa sesak seperti ditindih batu besar. Ia menatap wajah perempuan di dalam foto itu berulang kali. Rambutnya, senyumnya, bahkan bentuk dagunya, semuanya begitu mirip. Seakan ada bayangan dirinya yang hidup di tempat lain, melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. "Ini ..." Ia berjongkok dengan susah payah, mengambil salah satu foto menggunakan tangan gemetar. Air matanya jatuh membasahi permukaan gambar tersebut. "Tidak mungkin ..." "Nah, sekarang kamu masih mau menyangkal?" Darma menunjuk foto-foto itu dengan wajah merah padam. "Semua ini bukti! Aku tidak mungkin menuduhmu kalau tidak punya alasan!" Nirmala menggeleng kuat-kuat. Napasnya tersengal, suaranya pecah di antara isak yang tak bisa ditahan. "Ini fitnah, Mas! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti ini! Aku bahkan tidak mengenal laki-laki yang ada di dalam foto-foto ini!" "Lalu siapa yang ada di sana? Hantu?" "Mas, lihat aku!" Nirmala berusaha meraih tangan suaminya, tetapi Darma segera menepisnya hingga tubuhnya kembali terhuyung. "Mas sudah mengenalku selama lima tahun. Apa selama itu Mas tidak pernah mengenali perempuan yang Mas nikahi sendiri? Apa Mas benar-benar berpikir aku sanggup melakukan hal seperti ini?" "Jangan sentuh aku!" Darma mengibaskan tangannya dengan kasar. "Keluar dari rumahku sekarang juga!" Nirmala membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya mampu menatap wajah suaminya, berharap lelaki itu akan menarik kembali ucapannya. Berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir begitu ia membuka mata. Namun, Darma justru menunjuk pintu dengan wajah penuh kemarahan. "Pergi! Aku tidak sudi lagi melihat wajahmu. Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini lagi. Perempuan sepertimu tidak pantas menjadi istriku!" "Mas ..." Bibir Nirmala bergetar. "Aku sedang mengandung anakmu." "Siapa yang menjamin anak itu anakku?" balas Darma tanpa ragu. Kalimat itu menghantam Nirmala jauh lebih keras daripada semua tamparan yang baru saja diterimanya. Ia refleks memegangi perutnya yang mulai membesar. Bayi di dalam kandungannya bergerak pelan, seolah merasakan kesedihan yang sedang dialami ibunya. "Mas tega mengatakan itu?" Suaranya nyaris tidak terdengar. "Anak ini darah dagingmu. Anak yang selama ini kita tunggu. Anak yang selalu aku doakan agar kelak bisa memanggilmu Ayah." "Sudah cukup!" Darma berjalan menuju lemari pakaian, membuka pintunya dengan kasar, lalu menarik sebuah koper hitam dari sudut ruangan. Tanpa memedulikan kondisi istrinya yang sedang hamil besar, ia mulai mengeluarkan pakaian-pakaian Nirmala dan melemparkannya ke dalam koper. Baju demi baju jatuh dengan berantakan. Beberapa bahkan terseret di atas lantai. Nirmala hanya bisa berdiri mematung sambil menangis. Tubuhnya terasa semakin lemah, tetapi ia tidak berani mendekat. Ia takut Darma kembali melayangkan tangan kepadanya. Ketika memasukkan pakaian-pakaian itu, Darma sempat menghentikan gerakannya. Ia memperhatikan isi lemari istrinya. Hanya ada beberapa potong pakaian yang terlihat cukup bagus, sementara sebagian besar lainnya sudah usang dan warnanya memudar. Bahkan, pakaian yang dikenakan Nirmala saat ini pun tampak sederhana, jauh dari kesan mewah yang seharusnya melekat pada seorang istri pemilik perusahaan besar. Darma mengerutkan kening. Bukankah aku pemilik perusahaan? Ke mana saja uang yang selama ini kuberikan untuk kebutuhan rumah tangga? Kenapa pakaian istriku bahkan tidak lebih bagus daripada pakaian para pekerja di rumah ini? Pikiran itu sempat melintas, tetapi segera ditepisnya. Mungkin Nirmala memang pandai menyembunyikan sesuatu. Mungkin selama ini perempuan itu berpura-pura miskin di hadapannya, sementara di luar sana ia menghabiskan uang untuk bersenang-senang bersama laki-laki lain. Darma menutup koper dengan kasar. "Sudah! Bawa semua barangmu dan pergi!" Ia mengangkat koper itu, menyeretnya keluar kamar, lalu melemparkannya di dekat pintu utama. Nirmala berjalan tertatih-tatih mengikutinya. Satu tangannya memegangi perut, sementara tangan lainnya berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan. Di ruang tengah, dua asisten rumah tangga yang sedang bekerja langsung menghentikan aktivitas mereka. Keduanya terkejut melihat Nirmala berjalan dengan wajah lebam, bibir berdarah, dan mata sembap akibat menangis. Tidak ada yang berani bersuara. Mereka tahu bagaimana Nirmala diperlakukan selama ini. Namun, mereka hanyalah pekerja yang menggantungkan hidup pada keluarga itu. Sedikit saja salah bicara, pekerjaan mereka bisa melayang. Darma berdiri di depan pintu utama sambil menunjuk ke luar. "Pergi!""Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar
Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,
"Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad
Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat
Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang
Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b







