共有

Kenangan

作者: Brown _Sugar
last update 公開日: 2026-10-26 17:55:53

Darma tidak menjawab.

"Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru."

Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik.

"Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele."

"Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita."

"Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya."

"Ya Allah, tega sekali. Padahal beliau sedang mengandung cucu sendiri."

"Sudah, jangan keras-keras. Kalau ketahuan, kita bisa dipecat."

Keduanya kembali bekerja dengan hati iba, hanya bisa menyaksikan Nirmala pergi tanpa tahu ke mana perempuan itu akan bernaung.

---

Darma menjatuhkan tubuhnya ke sofa, melonggarkan dasi yang terasa mencekik, lalu mengembuskan napas panjang. Hari itu seharusnya ia menghadiri rapat penting bersama jajaran direksi, tetapi semuanya berantakan setelah ponselnya dibanjiri pesan dari nomor tak dikenal. Isinya foto-foto Nirmala bersama seorang pria yang tidak ia kenal. Awalnya ia mengira itu upaya menjatuhkan nama baik keluarganya, tetapi foto serupa terus dikirim dari berbagai sudut hingga kemarahannya tak lagi terbendung.

Fatma datang membawa segelas air dan duduk di sebelahnya.

"Minumlah. Kamu pasti lelah. Lupakan Nirmala. Perempuan jalang itu memang sudah sepantasnya kamu usir. Untung urusan uang di rumah ini Ibu yang atur. Kalau semuanya kamu serahkan kepadanya, siapa tahu hartamu sudah habis untuk laki-laki itu."

Darma menatap gelas di tangannya. Entah mengapa, ucapan ibunya justru membuat pikirannya semakin kacau.

"Kalau bukan karena kamu menabrak ayahnya sampai meninggal, Ibu sudah sejak dulu melarangmu menikah dengannya," lanjut Fatma. "Kamu ingat, kan? Kecelakaan itu membuatnya cacat, lalu dia meninggalkan surat wasiat agar kamu menikahi putrinya. Sekarang, kalau terbukti istrimu yang bermasalah, soal wasiat itu tak perlu lagi kamu pikirkan. Dia sendiri yang merusak rumah tangganya!"

Darma memejamkan mata. "Ibu, aku mau sendiri dulu."

Fatma berdiri. "Baiklah. Ibu hanya tidak ingin kamu dimanfaatkan."

Darma melangkah ke kamar tidurnya. Begitu pintu terbuka, kesunyian langsung menyambutnya. Kamar itu didominasi warna putih dengan sentuhan abu-abu lembut, seprai tertata rapi, dan tirainya menjuntai indah. Sederhana, tetapi nyaman. Nirmala yang memilih warna dan mengatur setiap perabotnya. Selama ini Darma tak pernah memperhatikan hal-hal kecil itu, terlalu sibuk bekerja dan terbiasa membiarkan istrinya mengurus rumah seorang diri.

"Seleranya bagus," gumamnya tanpa sadar. Ia terdiam begitu menyadari ucapannya sendiri.

Pandangannya jatuh pada bingkai foto di atas nakas: foto pernikahan mereka. Nirmala mengenakan kebaya putih sederhana dengan senyum malu-malu yang tulus, sementara Darma berdiri kaku di sampingnya tanpa kebahagiaan berarti. Pernikahan itu memang sederhana, tanpa pesta mewah, tanpa banyak tamu, tanpa perayaan setelah akad.

Darma masih ingat bagaimana ibunya memandang rendah keluarga Nirmala saat itu.

"Malu, Darma. Kasta kita berbeda," ucap Fatma di rumah Nirmala.

"Aku menikahinya karena harus bertanggung jawab," jawab Darma.

"Bertanggung jawab bukan berarti harus menikahinya! Kamu bisa membantu dengan uang. Kenapa harus mengorbankan masa depanmu?"

Darma tidak pernah menjawab pertanyaan itu.

Ayah Nirmala celaka karena mobil yang dikendarai Darma, dan sejak itu tak lagi mampu bekerja seperti dulu. Merasa bersalah, Darma berjanji akan bertanggung jawab atas keluarga itu. Ketika kondisinya memburuk, sang ayah memintanya menikahi putrinya, yang saat itu masih kuliah semester lima, agar putri kesayangannya tidak hidup sendirian tanpa perlindungan. Darma menyanggupi. Ia berjanji menjaga Nirmala, memenuhi kebutuhannya, dan membiayai pendidikannya sampai selesai.

Namun, setelah pernikahan, janji itu perlahan terlupakan. Nirmala tak pernah lagi melanjutkan kuliah. Darma selalu beralasan pekerjaannya menumpuk, sementara Fatma berulang kali mengatakan istri seharusnya mengutamakan rumah tangga daripada pendidikan. Bahkan ketika ibu Nirmala sering jatuh sakit, tak sepeser pun uang dari keluarga Darma mengalir untuk pengobatannya. Nirmala sudah berkali-kali meminta izin menjenguk ibunya dan berharap suaminya mau membantu, tetapi Darma selalu menolak dengan alasan yang sama: sibuk.

Kini kenangan itu muncul satu demi satu, seolah sengaja mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini ia abaikan. Ia mengambil bingkai foto itu dan mengusap kaca yang menutupi wajah Nirmala.

Mengapa perempuan itu tak pernah menuntut lebih darinya?

Mengapa ia tak pernah marah ketika uang belanja dibatasi ibunya?

Mengapa pakaiannya begitu sederhana, padahal ia tak pernah kekurangan uang?

Dan yang paling mengganggu, mengapa Nirmala tetap bersikeras tak bersalah, bahkan ketika ia sudah kehilangan rumah dan harga dirinya?

Darma menggeleng, berusaha menyingkirkan semua pikiran itu. "Tidak. Aku sudah melihat buktinya."

Ia meletakkan bingkai itu kembali, tetapi matanya masih tertuju pada senyum Nirmala. Sejak mengusir istrinya, dadanya terasa sesak, seolah sebagian dirinya ikut pergi bersama perempuan itu.

Namun, ia tidak tahu bahwa foto-foto yang menghancurkan rumah tangganya hanyalah awal dari sebuah kebohongan besar. Ia tidak tahu bahwa perempuan yang baru diusirnya sedang membawa anaknya dalam kandungan, berjalan sendirian tanpa tempat berlindung.

Dan ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik semua tuduhan itu, ada seseorang yang sejak awal memang menginginkan Nirmala pergi dari rumah ini.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status