共有

Sangat sedih

作者: Brown _Sugar
last update 公開日: 2026-10-26 18:00:41

Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin.

"Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."

Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu.

"Nirmala!"

Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.

Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.

Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.

Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.

Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulangannya.

***

Pemakaman akhirnya selesai menjelang sore.

Langit tampak kelabu, seolah turut merasakan kehilangan yang menyelimuti hati Nirmala. Orang-orang mulai meninggalkan pemakaman satu per satu, menyisakan beberapa tetangga yang masih berdiri di dekat gundukan tanah yang baru saja ditimbun.

Nirmala duduk di samping makam ibunya. Wajahnya masih pucat, matanya bengkak, dan tubuhnya tampak begitu lelah. Sejak siuman, ia hampir tidak berbicara. Ia hanya mengikuti prosesi pemakaman dengan langkah gontai, seolah sebagian dari jiwanya ikut dikuburkan bersama perempuan yang kini terbaring di bawah tanah itu.

Jemarinya menyentuh nisan sederhana yang bertuliskan nama ibunya.

"Ibu ..."

Suaranya begitu pelan, hampir tenggelam oleh desir angin.

"Semua orang sudah pulang, Bu. Tapi Nirmala masih di sini. Nirmala belum siap meninggalkan Ibu."

Ia menunduk, mengusap tanah di dekat nisan dengan ujung jemarinya.

"Dulu, setiap kali Nirmala sedih, Ibu selalu bilang kalau hidup tidak akan selamanya mudah. Ibu bilang Nirmala harus kuat, harus sabar, dan jangan pernah menyerah meskipun orang lain merendahkan Nirmala."

Air mata kembali jatuh membasahi pipinya.

"Tapi, Bu, bagaimana Nirmala bisa kuat kalau Ibu sudah tidak ada?"

Nirmala terdiam lama. Ia memandang gundukan tanah di hadapannya, mencoba menerima kenyataan yang masih terasa mustahil.

Ia teringat bagaimana ibunya rela menjual rumah peninggalan ayah demi membiayai pendidikannya. Ia teringat bagaimana perempuan itu menyembunyikan rasa sakitnya agar Nirmala tidak khawatir. Bahkan ketika kondisi tubuhnya semakin melemah, ibunya tetap berusaha tersenyum setiap kali Nirmala datang menjenguk.

Semua itu dilakukan agar Nirmala bisa meraih cita-citanya.

Dan kini, ketika ia masih memiliki begitu banyak hal yang ingin diberikan kepada ibunya, semuanya sudah terlambat.

Nirmala mengusap air matanya, kemudian meletakkan telapak tangannya di atas perut.

"Bu, Nirmala janji akan menyelesaikan pendidikan Nirmala. Nirmala akan menjadi dokter seperti yang selama ini Ibu impikan. Nirmala ingin membantu banyak orang, terutama mereka yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Nirmala ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain."

Ia menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian yang hampir habis.

"Nirmala juga akan membesarkan anak ini dengan baik, Bu. Meskipun tanpa suami di samping Nirmala, meskipun nanti Nirmala harus berjuang sendirian, Nirmala akan berusaha menjadi ibu yang baik untuknya."

Tangannya mengusap perutnya dengan lembut.

"Anak ini akan tahu bahwa dia dicintai. Nirmala tidak akan membiarkan dia tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya tidak diinginkan. Nirmala akan menjaganya, Bu. Sama seperti Ibu menjaga Nirmala selama ini."

Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat berikutnya.

"Doakan Nirmala dari sana, ya, Bu. Kalau suatu hari nanti Nirmala berhasil, kalau suatu hari nanti Nirmala benar-benar menjadi dokter, Nirmala ingin percaya bahwa Ibu bisa ikut bahagia melihatnya. Meskipun Nirmala tidak bisa lagi memeluk Ibu, Nirmala akan selalu membawa nama dan semua nasihat Ibu di dalam hati."

Angin berembus lebih kencang. Nirmala merapatkan kedua lengannya, berusaha melindungi tubuhnya yang mulai menggigil. Ia tidak menyadari bahwa hujan telah turun perlahan, membasahi rambut, pakaian, dan tanah di sekeliling makam.

Beberapa saat kemudian, hujan semakin deras.

Rintik-rintik yang semula lembut berubah menjadi curahan air yang membasahi seluruh pemakaman. Suara hujan beradu dengan bunyi gemuruh dari kejauhan, sementara Nirmala masih duduk di sisi makam ibunya.

Seorang tetangga yang sejak tadi mengawasinya akhirnya menghampiri.

"Nirmala, Nak, ayo pulang. Hujannya semakin deras. Kamu sedang hamil besar. Jangan sampai kamu sakit."

Nirmala menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada nisan di hadapannya.

"Sebentar lagi, Bu. Saya masih ingin menemani Ibu."

"Sudah, Nak. Ibumu sudah tenang. Kamu harus menjaga dirimu dan bayi di dalam kandunganmu. Ibumu pasti tidak ingin melihatmu jatuh sakit."

Kalimat itu membuat Nirmala kembali menangis. Pada akhirnya, ia mengangguk lemah, lalu bangkit dengan susah payah.

Sebelum meninggalkan makam, ia menunduk sekali lagi.

"Assalamu'alaikum, Bu. Nirmala pulang dulu, ya. Besok Nirmala datang lagi."

Ia menyentuh nisan itu untuk terakhir kalinya sebelum mengikuti tetangganya meninggalkan pemakaman.

***

Kontrakan kecil itu terasa jauh lebih sunyi ketika Nirmala kembali.

Dulu, meskipun rumah tersebut sederhana, selalu ada suara ibunya yang menyambut setiap kali ia membuka pintu. Kadang ibunya sedang memasak di dapur, kadang duduk di dekat jendela sambil melipat pakaian, atau sekadar berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sering terasa lemah.

Kini, semuanya senyap.

Nirmala membuka pintu perlahan. Bau khas rumah yang sudah sangat dikenalnya menyambutnya, membuat dadanya terasa semakin sesak. Ia menutup pintu, kemudian menyandarkan punggungnya pada daun pintu itu.

Air matanya kembali mengalir.

"Ibu, Nirmala pulang ..."

Tidak ada jawaban.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status