Share

Pulang

Author: Brown _Sugar
last update publish date: 2026-10-15 11:02:44

Nirmala berjalan gontai menyusuri trotoar. Satu tangannya menarik koper hitam yang rodanya sesekali tersangkut di permukaan jalan yang tidak rata, sementara tangan lainnya tak pernah lepas dari perutnya yang semakin membesar. Wajahnya masih lebam, bibirnya terluka, dan matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Namun, ia tidak lagi memedulikan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Saat ini, hanya ada satu tempat yang ingin ia tuju, yaitu rumah ibunya.

Rumah kecil itu memang bukan miliknya. Hanya sebuah kontrakan sederhana yang disewa ibunya setelah rumah peninggalan ayah mereka dijual demi membiayai pendidikan Nirmala. Namun, di sanalah satu-satunya tempat ia masih berharap bisa menemukan pelukan hangat, tempat ia bisa menangis tanpa perlu berpura-pura kuat di hadapan siapa pun.

"Maafkan aku, Bu," bisiknya di sela isak tangis. "Maafkan Nirmala karena tidak bisa mempertahankan rumah tangga yang seharusnya Nirmala jaga. Maaf karena Nirmala belum bisa menjadi perempuan yang Ibu banggakan."

Langkahnya terhenti sejenak. Ia menunduk, menatap perutnya yang sesekali bergerak pelan, lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang.

"Tidak apa-apa, Nak. Kita masih punya Nenek, kan? Kita pulang ke rumah Nenek dulu, ya. Ibu janji akan baik-baik saja."

Nirmala berusaha tersenyum, tetapi senyum itu justru membuat air matanya kembali mengalir. Bagaimana mungkin ia bisa baik-baik saja ketika lelaki yang selama ini menjadi sandaran hidupnya tega mengusirnya dalam keadaan hamil besar? Bagaimana mungkin ia bisa tetap tegar ketika suaminya sendiri menuduhnya berselingkuh tanpa memberinya kesempatan untuk membela diri?

Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia harus bertahan, setidaknya demi bayi yang tumbuh di dalam rahimnya.

Setelah berjalan cukup jauh, Nirmala akhirnya menghentikan sebuah angkutan umum. Dengan susah payah, ia menaiki kendaraan itu sambil memeluk erat tas kecil yang dibawanya. Koper hitamnya ia letakkan di dekat kaki, lalu ia duduk di bangku paling belakang.

Sepanjang perjalanan, Nirmala hanya menatap keluar jendela. Kendaraan itu melaju melewati deretan pertokoan, persimpangan, dan rumah-rumah penduduk yang mulai dikenalnya. Setiap kali kendaraan melewati jalan berlubang, tubuhnya sedikit terguncang. Ia meringis, kemudian kembali mengusap perutnya dengan lembut.

Sesekali, ia menyeka air mata menggunakan punggung tangan. Beberapa penumpang sempat melirik wajahnya yang lebam, tetapi tidak ada yang bertanya. Nirmala bersyukur untuk itu. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan bahwa luka di wajahnya berasal dari tangan suaminya sendiri.

Lelaki yang dahulu berjanji akan melindunginya, tetapi hari ini justru menjadi orang yang paling menyakitinya.

Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, Nirmala akhirnya turun di dekat gang menuju kontrakan ibunya. Ia membayar ongkos, kemudian menarik kopernya perlahan menyusuri jalan sempit yang sudah sangat dikenalnya.

Namun, baru beberapa langkah memasuki gang, pandangannya mendadak tertuju pada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tidak beraturan.

Sebuah bendera kuning terpasang di depan salah satu rumah warga.

Nirmala berhenti.

Bendera kuning itu berkibar pelan tertiup angin. Beberapa orang tampak berkumpul di depan rumah yang letaknya tidak jauh dari kontrakan ibunya. Suasana yang biasanya ramai oleh suara anak-anak bermain kini terasa berbeda. Ada kesunyian yang aneh, diselingi percakapan lirih dan beberapa isak tangis.

Perasaan tidak enak tiba-tiba merayapi hatinya.

"Siapa yang meninggal?" gumamnya pelan.

Ia berusaha berpikir positif. Mungkin ada tetangga yang meninggal. Mungkin bukan siapa-siapa yang dikenalnya. Namun, semakin lama ia memandang bendera itu, semakin kuat pula firasat buruk yang menyergapnya.

Jangan-jangan ...

"Tidak mungkin," bisiknya, buru-buru menggeleng. "Ibu pasti baik-baik saja."

Tanpa memedulikan rasa sakit di kakinya, Nirmala mempercepat langkah. Koper yang ditariknya berkali-kali membentur permukaan jalan, tetapi ia tidak berhenti untuk memperbaikinya. Napasnya mulai memburu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa sulit bernapas.

Ketika akhirnya sampai di depan kontrakan ibunya, langkah Nirmala mendadak terhenti.

Rumah kecil itu ramai oleh orang-orang. Beberapa tetangga duduk di kursi plastik di teras, sementara yang lain berdiri berkelompok dengan wajah muram. Di dalam rumah, terdengar suara orang-orang membaca doa dan sesekali isak tangis yang tertahan.

Nirmala menggeleng perlahan.

"Tidak ... jangan ..."

Seorang tetangga yang mengenalnya segera menghampiri. Perempuan paruh baya itu tampak terkejut melihat kedatangan Nirmala.

"Nirmala?" panggilnya. "Ya Allah, Nak, kamu baru datang?"

Nirmala mencengkeram lengan perempuan itu dengan tangan gemetar.

"Bu, ada apa ini? Kenapa banyak orang di rumah Ibu? Kenapa ada bendera kuning di depan gang?"

Tetangganya menatap wajah Nirmala dengan iba. Pandangannya sempat jatuh pada bibir Nirmala yang terluka dan pipinya yang membengkak, tetapi ia tidak sempat menanyakan apa pun.

"Kenapa nomor teleponmu tidak bisa dihubungi, Nak?" tanyanya dengan suara lirih. "Kami sudah berusaha menghubungimu sejak tadi."

Nirmala semakin panik.

"Memangnya ada apa, Bu? Tolong jawab aku! Ibu di mana?"

Perempuan itu terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Yang sabar, ya, Nak. Ibumu ... ibumu sudah tidak sakit lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status