共有

Wafat

作者: Brown _Sugar
last update 公開日: 2026-10-15 11:03:05

Dunia Nirmala seolah berhenti berputar.

Ia melepaskan tangan tetangganya, kemudian berlari kecil menerobos orang-orang yang memenuhi rumah, tak perduli perutnya nyeri. Koper hitamnya tertinggal di teras, terlupakan begitu saja. Beberapa orang mencoba memanggilnya, tetapi Nirmala tidak mendengar apa pun selain detak jantungnya sendiri.

Sampai akhirnya, ia melihat sosok yang selama ini menjadi tujuan kepulangannya, tempat ia kembali dan berkeluh kesah.

Ibunya terbujur kaku di atas tikar, ditutupi selembar kain panjang berwarna putih. Wajahnya tampak pucat, kedua matanya terpejam, dan kedua tangannya terlipat di atas dada.

Tidak ada lagi suara lembut yang biasa menyambut kepulangan Nirmala. Tidak ada lagi senyum yang selalu menenangkan hatinya. Tidak ada lagi tangan hangat yang akan mengusap kepalanya ketika ia menangis.

"Ibu ...?"

Nirmala melangkah mendekat dengan kaki gemetar dan air mata yang meganak sungai.

"Ibu, Nirmala pulang, Bu."

Tidak ada jawaban.

Nirmala berlutut di samping tubuh ibunya. Jemarinya yang gemetar menyentuh kain putih yang menutupi wajah perempuan yang melahirkannya itu, lalu perlahan membukanya.

Saat wajah ibunya terlihat, tangis Nirmala langsung pecah, sesak memenuhi dada wanita yang tengah hamil besar itu.

"Ibu ...!"

Wajah yang selama ini selalu ia rindukan kini terbaring pucat pasi tanpa kehidupan. Namun, ada ketenangan yang begitu menyakitkan di sana. Bibir ibunya sedikit terangkat, seolah sedang tersenyum. Senyum yang sama seperti ketika perempuan itu berusaha meyakinkan Nirmala bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Nirmala mengenali kain panjang yang menutupi tubuh ibunya. Kain itu dibelinya sekitar satu bulan lalu melalui sebuah toko daring. Saat itu, ia sempat menolak karena merasa ibunya tidak perlu membeli kain baru dalam kondisi keuangan mereka yang serba terbatas. Namun, sang ibu terus memintanya dengan alasan yang membuat hati Nirmala saat itu terasa sesak.

"Ibu takut mati tiba-tiba, Nak. Ibu ingin punya kain panjang yang bagus."

Nirmala masih mengingat percakapan itu dengan jelas. Saat itu, ibunya sedang duduk di tepi ranjang kecil di dalam kontrakan, memandangi layar ponsel yang menampilkan kain pilihan mereka.

"Jangan bicara begitu, Bu," jawab Nirmala waktu itu. "Ibu tidak akan mati. Ibu harus melihat Nirmala jadi sarjana. Ibu juga harus melihat Nirmala jadi dokter. Nirmala sudah hampir selesai, Bu. Sedikit lagi. Ibu tunggu, ya?"

Ibunya tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah.

"Nanti kalau Nirmala sudah jadi dokter, Ibu ingin sekali berangkat umrah bersama kamu. Ibu ingin melihat Ka'bah dengan mata Ibu sendiri."

Nirmala menggenggam tangan ibunya erat-erat.

"Kita pasti umrah bersama, Bu. Nirmala janji. Ibu sudah berkorban begitu banyak untuk Nirmala. Ibu sampai menjual rumah dan semua harta peninggalan Ayah demi sekolah Nirmala. Nirmala tidak akan membiarkan semua pengorbanan Ibu sia-sia. Meskipun Nirmala harus tertatih-tatih menyelesaikan pendidikan ini, Nirmala akan berusaha sampai berhasil. Nanti, setelah Nirmala menjadi dokter, Ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Ibu cukup beristirahat dan menikmati hidup."

Saat itu, ibunya hanya tersenyum sambil mengusap rambut Nirmala.

"Bagi Ibu, melihat kamu bahagia saja sudah cukup, Nak, ibu selalu mendoakan kamu, kelak kamu akan bahagia dan jadi dokter sukses."

Kini, kenangan itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk hati Nirmala secara bersamaan.

Kain yang dulu ia belikan karena permintaan ibunya, yang dahulu ia kira hanya akan menjadi kain biasa untuk disimpan di lemari, kini justru menutupi tubuh perempuan yang paling dicintainya.

"Ibu ... kenapa Ibu pergi meninggalkanku sekarang?" Nirmala mengguncang pelan bahu ibunya. "Nirmala belum jadi dokter, Bu. Nirmala belum membahagiakan Ibu. Bukankah Ibu sudah berjanji akan menunggu Nirmala sampah lulus jadi dokter?"

Tangisnya semakin keras, begitu pilu dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.

"Bangun, Bu. Tolong bangun. Nirmala sudah pulang. Nirmala sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu. Kalau Ibu ikut pergi, Nirmala harus pulang ke mana, Aku bingung?"

Beberapa tetangga mulai terisak melihat Nirmala memeluk tubuh ibunya. Salah seorang dari mereka mencoba menenangkan, tetapi Nirmala seolah tidak mendengar apa pun.

Ia meraih tangan ibunya, menggenggamnya erat-erat, lalu menempelkannya ke pipi.

"Tangan Ibu dingin sekali ..."

Suaranya patah.

"Biasanya tangan Ibu selalu hangat kalau mengusap kepala Nirmala. Biasanya Ibu selalu bilang Nirmala tidak boleh menangis terlalu lama karena nanti matanya bengkak. Tapi sekarang, kenapa Ibu diam saja, bangun Bu ..."

Nirmala menundukkan kepala, mencium tangan ibunya berkali-kali, seolah olah apa yang ia lakukan akan membuat ibunya terbangun dan melihat dirinya yang sedang meratap.

"Maafkan Nirmala, Bu. Maafkan anakmu ini. Nirmala belum sempat membahagiakan Ibu, dan selalu membuat ibu susah karena akh. Nirmala belum sempat membawa Ibu berobat ke rumah sakit yang bagus. Nirmala bahkan belum sempat mewujudkan satu pun keinginan Ibu."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 11. Kamu ...

    "Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 10. Mulai berani

    Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,

  • Anak CEO Yang Terlantar   Bab 9. Siapa?

    "Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sebuah wasiat

    Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat

  • Anak CEO Yang Terlantar   Sangat sedih

    Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya terasa sesak, pandangannya berkunang-kunang, dan kedua tangannya semakin dingin."Bu, jangan tinggalkan Nirmala ..."Kalimat itu menjadi suara terakhir yang sempat keluar dari bibirnya sebelum tubuhnya ambruk di samping jenazah sang ibu."Nirmala!"Beberapa tetangga bergegas menolong. Ada yang menopang tubuhnya, ada yang mengambil air, sementara yang lain berusaha memberi ruang agar Nirmala bisa mendapatkan udara.Namun, perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.Hari yang seharusnya menjadi tempatnya pulang setelah diusir dari rumah suaminya justru berubah menjadi hari ketika ia kehilangan satu-satunya orang yang masih ia miliki.Dalam satu hari, Nirmala kehilangan rumah tangganya, harga dirinya, dan ibunya.Ia tidak tahu berapa lama lagi kesedihan itu akan membebaninya. Ia hanya tahu bahwa ketika membuka mata nanti, ia harus menghadapi kenyataan bahwa perempuan yang selama ini menjadi tempatnya bersandar tidak akan pernah lagi menyambut kepulang

  • Anak CEO Yang Terlantar   Kenangan

    Darma tidak menjawab. "Ibu hanya ingin melindungimu. Kamu pemilik perusahaan besar. Banyak perempuan yang jauh lebih pantas menjadi istrimu daripada dia. Kalau sejak awal kamu tidak keras kepala, kamu tidak akan mengalami penghinaan seperti ini." Fatma menepuk pundak anaknya. "Sudahlah, lupakan dia. Sekarang kamu bisa memulai hidup baru." Di dekat ruang tengah, dua asisten rumah tangga saling bertukar pandang. Setelah memastikan Darma dan Haidar tidak memperhatikan, salah satunya berbisik. "Kasihan Non Nirmala. Selama ini beliau yang selalu mengalah. Aku sering melihat Nyonya Besar memarahinya hanya karena hal sepele." "Benar. Siapa sangka perempuan sesederhana itu istri pemilik perusahaan besar? Pakaiannya saja lebih sederhana daripada pakaian kita." "Bagaimana mau nyaman? Semua pengeluaran diatur Nyonya Besar. Aku pernah dengar Non Nirmala ingin membeli siomay karena mengidam, tapi uangnya tidak diberikan. Beliau sampai mengurungkan niatnya." "Ya Allah, tega sekali. Padahal b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status