Share

Kehidupan Baru

Author: Ainin
last update publish date: 2024-03-07 00:47:01

Beberapa tahun setelahnya, seorang wanita muda terlihat menenteng tasnya dan terlihat kelelahan setelah dia kembali dari universitas dan juga tempat kerja par time yang digelutinya.

Dia mendekati sebuah rumah yang sudah dia tempati selama beberapa tahun ini. Jauh dari kemewahan seperti saat dia belum kuliah di luar kediaman keluarga terpandang yang pernah mengadopsinya sebagai anak angkat. Hanya saja setelah dia keluar dari sana maka semua kemewahan itu sama dengan sirna.

"Bahkan pria tak bertanggungjawab itu tak pernah datang." Wanita itu menghela napas dalam-dalam. "Mana mungkin dia mau mencarimu, Rachel. Kau bahkan hanya seorang anak angkat, tidak ada harga sama sekali dimatanya. Karena dia tak pernah mencarimu sama sekali." Rachel terlihat menarik napasnya pelan.

Dia berdiri di depan sebuah rumah dan tak langsung masuk ke dalam. Wajahnya dia buat sebaik mungkin lebih dulu dan mengusapnya dengan tissue basah, dia tidak boleh menunjukkan kondisi wajahnya pada orang rumah.

Setelahnya, dia tersenyum dan mulai mendekati pintu. Mengetuknya beberapa kali, Rachel menunggu selama beberapa saat dan tersenyum mendengar suara langkah kaki kecil yang berlari-lari menuju pintu. Hingga tak lama kemudian pintu itu terbuka dan dua orang anak kecil laki-laki kembar tampak sumringah melihat kedatangannya.

"Mommy! Mommy akhirnya Mommy kembali!"

"Kenapa lama sekali? Nenek Vee bilang kalau kau akan pulang cepat, kenapa Mommy lama sekali karena hari sudah gelap baru sampai?"

"Benar, bahkan puding yang dibuat oleh nenek sudah mulai habis. Kami tidak sabar mau makannya tapi nenek mau minta agar kami menunggu Mommy."

"Hei, kau hanya tahu makan!"

"Biarkan saja, aku memang suka makan! Kenapa kau suka protes? Mommy bekerja juga untuk mencari uang agar bisa membeli makanan. Mommy mengatakan padaku kalau dia senang melihat kita gemuk!"

Rachel terkekeh melihat perseteruan dua anak kembarnya itu. Dia membawa mereka masuk dan menutup pintu sebelum berlutut di hadapan keduanya.

"Raysan ... Raysen, maaf kalau Mommy pulang lama. Tadi Mommy terjebak macet dan harus menunggu semua lalu lintas bergerak baru bisa pulang ke rumah. Akhir-akhir ini pekerjaan Mommy juga sedikit banyak jadi terpaksa harus lebih lama menyelesaikan pekerjaan itu. Kalian jangan bertengkar," ucapnya lembut seraya mengusap kepala masing-masing putranya.

"Mommy ... Mommy pasti lelah," balas Raysan, si putra sulungnya dengan wajah sedih. "Mommy harus menghidupi kami bertiga dan Mommy juga harus ambil kuliah. Wajah Mommy terlihat semakin berkerut," tambahnya sambil menggerakkan tangan kecilnya itu mengusap pipi ibunya.

Rachel terkekeh kecil, lalu menggeleng. "Mommy memang lelah tapi saat tadi pulang dan bertemu kalian rasa lelah Mommy ini sudah hilang. Mommy sudah melahirkan kalian jadi Mommy harus membuat kalian besar dan mungkin supaya terlihat lebih imut dan menggemaskan. Mommy sama sekali tidak keberatan untuk hal itu, jadi jangan merasa sedih, okay?" ujarnya lembut membuat Raysan menarik napasnya kecil.

"Aku akan seberapa besar dan mencari pekerjaan dan memberikan gajinya untuk Mommy."

Rachel menghela napas dan tersenyum. "Jangan pikirkan itu dulu, kamu masih 5 tahun. Anak usia 5 tahun belum pantas untuk memikirkan semua ini. Jangan khawatir, Mommy masih sangat kuat untuk melakukan apa saja yang diperlukan untuk kalian. Mommy senang melakukannya," ucapnya seraya menatap wajah kedua anaknya itu dengan lembut.

Raysan dan Raysen tampak menatap wajahnya dan tak ada yang bicara selama beberapa saat hingga akhirnya Rachel tersenyum lagi.

"Mommy akan segera mandi jadi kalian main dulu dengan nenek sana. Setelah Mommy mandi kita akan makan pudingnya bersama, okay?"

Raysan dan Raysen mengangguk.

"Kabarkan dan panggil kami kalau Mommy butuh sesuatu. Kami akan segera datang," ucap Raysen penuh perhatian, seraya Rachel dengan lembut.

"Aku juga, Mommy!" Raysan tak ketinggalan dan melakukan hal yang sama.

"Okay, masuklah lebih dulu."

Kedua anak lelakinya itu mengangguk dan berlarian masuk ke dalam. Setelahnya baru Rachel melepaskan napasnya untuk begitu berat. Sudah 5 tahun lebih dia tidak kembali ke kediaman keluarga Stepson, sudah 5 tahun juga dia tidak pernah bertemu dengan salah satu pun di antara mereka.

Walaupun begitu, Rachel tahu sejak kakeknya sakit anak tunggal keluarga itu yang naik tahta menjadi seorang Presdir. Menggantikan kakeknya karena ayahnya memang sudah meninggal lebih dulu beberapa tahun lalu.

Hillen Stepson, Rachel masih ingat wajah dan karakter pria yang merupakan anak sah keluarga Stepson itu. Pria yang sudah mengambil kesuciannya dan tak pernah datang mencarinya. Tak ada sama sekali niatan Hillen untuk menemuinya, meskipun memang hubungan mereka tidak pernah dekat sejak dulu. Hillen sosok yang dingin, berwajah tampan, dan tak pernah mau melihat sesuatu yang tak memiliki nilai penting di matanya.

Seperti contohnya Rachel yang sudah menghilang dan pergi dari tempat tidurnya pagi-pagi sekali kurang lebih lima tahun lalu itu, Hillen bahkan tak pernah ada inisiatif untuk menemuinya sama sekali.

"Dia menjanjikan beberapa hal malam itu padaku dan aku tetap melarikan diri. Tetapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk mencariku padahal mustahil dengan kekuasaannya yang banyak itu dia tidak tahu siapa yang sudah dia tiduri."

Hillen tak menganggapnya berharga makanya pria itu tak peduli dengan kepergiannya. Rachel juga tidak bisa melakukan apa-apa karena tahu kalau dia memang tidak akan pernah ada di dalam hati pria itu.

Memutuskan untuk mandi dan menghilangkan semua pemikirannya barusan, Rachel merasa itu tidak berguna untuk dipikirkan terus-menerus. Dia hanya akan merasa kesal dengan takdir dan hidupnya, dia akan kesal pada anak-anaknya pada mereka sama sekali tidak bersalah. Kedua anak yang terlahir dari rahimnya setelah kejadian malam itu, sama sekali tak bersalah, bukan?

Dia yang salah karena terlalu lemah, bahkan terlalu takut untuk mendatangi Hillen untuk meminta pertanggungjawaban atau setidaknya uang untuk membesarkan anak-anak pria itu. Rachel takut, takut membayangkan bagaimana seandainya pria itu datang dan malah akan mengambil anak-anaknya ini?

Rachel meskipun belum begitu siap selama ini untuk menjadi seorang ibu muda dan ibu tunggal, tapi dia sama sekali tidak ada niatan untuk membuang anak-anak yang sudah dia lahirkan atau besarkan itu. Dia hanya bisa menahan semua rahasia ini dengan hatinya yang terkadang merasa dendam. Dendam karena Hillen Stepson yang tak pernah mau datang padanya dan tak ada menunjukkan diri sama sekali.

Bahkan setelah menidurinya tanpa izin, Hillen tetap saja bersikap angkuh dan tidak mengunjunginya. Membuatnya merasa tidak ada harapan dan lebih baik memulai kehidupan baru seperti saat ini daripada harus mengharapkan pria itu dan kembali lagi pada keluarga Stepson.

"Hah ..." Rachel membuang napas panjang lalu mengusap wajahnya. "Sebentar lagi tahun baru, aku juga akan gajian. Lebih baik lusa aku membawa Raysan dan Raysen belanja pakaian baru ke mall."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Rachel Berkunjung 2

    Rachel turun dari mobil, menatap apartemen yang dia datangi tempat Hillen tinggal kalau menetap di kota ini. Syukurlah, dia tak perlu menemui Tuan Besar Stepson. Rasanya Rachel tak punya kemampuan untuk bertemu pria itu. "Aku tidak tahu di mana unit apartemennya," ucap Rachel membuat Vicky tersenyum sopan. "Silakan, saya akan antarkan sampai di dalam." Rachel mengangguk, berjalan lebih dulu karena Vicky mengulurkan tangannya. Apartemen yang ditempati oleh Hillen benar-benar mewah dan elit, stafnya juga bekerja dengan sangat profesional. Karena diantarkan oleh Vicky jadi Rachel bisa masuk tanpa dicurigai. Itu juga harapannya karena dia tidak mau menjadi sorotan karena akan datang ke unit milik Tuan Muda Stepson. "Apakah ada yang mengurusnya di sini selama kau bekerja?" Rachel bertanya penasaran, membuat Vicky tersenyum. "Tentu, Nona. Pelayan dari kediaman ada salah satu yang mengurus Tuan sejak Tuan mengambil beberapa kendali di dalam rumah. Tuan Besar yang memintanya be

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Rachel Berkunjung 1

    Rachel agak heran beberapa hari ini Hillen tak pernah muncul lagi. Pria itu biasanya selalu memenuhi kehidupan mereka, tapi kini senyap. Vicky yang datang dan mengantar jemputnya dengan mobil mewah itu juga tak banyak bertanya atau bicara. Dia bersikap layaknya ajudan yang tak ingin membicarakan majikannya. Rachel penasaran tapi juga tidak mau bertanya lebih banyak. Walaupun begitu hatinya sedikit tidak tenang, khawatir terjadi sesuatu. "Tuan Hillen tidak muncul beberapa hari ini, bahkan saat Nona bekerja juga dia tidak ada datang. Apakah ada masalah, Nona?" tanya Bibi Vee saat mengantarkan Rachel ke depan setelah memastikan anak-anak makan dengan tenang. Rachel menggeleng pelan. "Entahlah, aku juga merasa aneh tapi mungkin saja dia sibuk. Atau kalau dia berubah pikiran, terserahnya saja. Mungkin ajakanku pada pernikahan membuatnya keberatan," ucapnya membuat Bibi Vee menatapnya cepat. "Nona benar-benar akan menikah?" tanyanya dengan wajah berbinar membuat Rachel menatapnya.

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Pasti Luluh

    Rachel masuk ke kamarnya begitu tiba di rumah, dia melepaskan pakaian luarnya dan menatap wajahnya di cermin. Dia tak begitu jelek sebenarnya, makanya ada beberapa pria saat kuliah yang menyukainya tapi dia hindari. Siapa yang mau dengan wanita yang tak punya suami tapi malah memiliki dua anak kembar? Itu aneh, setidaknya walaupun di negara bebas begini, dia juga akan ditanya. Pintu kamarnya dibuka saat dia hendak melepaskan pakaiannya, tapi ketika melihat itu BIbi Vee, Rachel melanjutkan kegiatannya. "Nona, anak-anak sudah tidur. Saya sudah masak makan malam untuk Anda, Nona mau makan setelah mandi biar saya siapkan?" tanya wanita itu sopan, menatapnya yang sudah menghela napas pelan. "Aku agak kenyang," gumam Rachel lalu menoleh ke arah Bibi Vee. Dia memandang wanita yang sudah bersamanya beberapa tahun ini, menyadari kalau sifatnya semakin formal dan sopan. Padahal bibi Vee bukan pelayannya jika dimaksud secara keseluruhan, wanita ini adalah sosok yang sudah membantun

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Penjelasan Dari Vicky

    Seharian itu Rachel habiskan di dalam kantor dan dia tidak melakukan apa-apa selain bekerja sampai akhirnya rasa lelah menggerogoti. Namun, meski dia merasa lelah saat ini tapi ada rasa senang di hatinya karena tak perlu merepotkan orang lain kelak. Dia juga punya pegangan karena bekerja di perusahaan dan dia tidak akan menjadi gelandangan meski nanti harus luntang-lantung kemana-mana. Saat sedang berhenti dan menunggu taksinya datang, dia melamun sendirian di depan perusahaan sebelum akhirnya dia menghela napas berat. "Entah bagaimana kedepannya akan terjadi, aku tidak tahu. Yang pasti aku masih berdiri tegak dan masih hidup," gumamnya seraya menatap sekitar. Namun, baru saja dia akan menenangkan diri, sebuah mobil mewah berhenti di depannya membuat Rachel mengerutkan dahinya dan menatap siapa yang datang. Rekan bisnisnya yang lainnya tampak berbisik-bisik heboh melihat mobil itu, sampai akhirnya pintu mobil itu terbuka dan Vicky terlihat berjalan sebelum menunduk sopan padanya.

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Rachel Yang Masin Sama

    Rachel menyentuh dahinya dengan wajah yang masih diam saja di kamarnya. Dia teringat dengan apa yang dilakukan Hillen tadi makanya saat ini dia merasa seperti kehilangan kemampuan untuk menyembunyikan sedikit saja perasaan aneh di dadanya. Dia belum keluar sejak tadi, masih memakai seragam kerjanya. Tetapi sekarang dia masih mempersiapkan mentalnya untuk bertemu dengan anak-anaknya dan Hillen. "Non ..." Rachel menoleh sambil memasukkan notebook, dia menemukan Bibi Vee tengah bergerak masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa, Bi?" "Sudah siap? Tuan dan anak-anak sudah menunggu di bawah untuk sarapan bersama." Rachel menghela napasnya. "Bibi turun saja dulu, bilang supaya mereka mau sarapan lebih dulu dan tidak usah menungguku. Aku akan turun setelah menyelesaikan apa saja yang kubutuhkan," ucapnya membuat Bibi Vee menatapnya. "Bibi melihat Nona berubah akhir-akhir ini, ada masalah apa?" Rachel menggeleng, lalu tersenyum menatap Bibi Vee tanpa ada niatan menjelaskan apa yang dia rasakan

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Sambutan Pagi

    Rachel membuka mata dan mengusap wajahnya perlahan. Dia membuka matanya ketika mendengar suara alarm, tidurnya benar-benar lelap saat ini dan itu cukup membuat yang rasa lebih baik sebelum akhirnya bangkit duduk. Sudah tidak ada suara anak-anaknya yang membangunkan setiap hari, Rachel sebenarnya merasa rindu tapi kalau mereka juga tak mau menemuinya itu juga bukan sebuah hal yang harus dia pikirkan lagi. Mungkin dia memang benar-benar belum dewasa tapi dia tidak mau mendapatkan penolakan dari anak-anaknya masih kecil. Itu hanya akan melukai hatinya yang sudah merawat mereka dengan sepenuh hati. "Mungkin setelah menikah nanti dan mereka semakin tidak mau denganku, aku akan memutuskan untuk berpisah. Aku lelah kalau harus menjalani hidup dalam permainan, masih banyak hal yang bisa aku gapai dan aku bisa melakukan semua itu dengan leluasa." Bangkit dari duduknya, Rachel menuju kamar mandi dan langsung membersihkan diri karena dia harus bekerja hari ini. Dia masih memiliki pekerjaan

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Kembali Berpikir

    Hari itu Hillen tidak pulang, dia tetap berada di rumah Rachel dan entah menunggu apa. Raysan dan Raysen sudah bermain lagi dengannya setelah sarapan, sementara Rachel sedang bersiap karena dia akan pergi bekerja. "Ra ... bisa kamu datang ke rumah nanti malam? Biar bagaimanapun, Kakek juga harus ta

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Perjodohan Bisnis Stepson?

    Rachel menarik napasnya dan menatap wajahnya yang ada di cermin. Dia sudah mulai masuk kerja jadi saat ini dia tidak punya waktu untuk memikirkan apa-apa.Beberapa hari sebelumnya dia bekerja dengan cukup baik dan tak ada satupun yang membuatnya kesulitan. Setidaknya tidak ada satupun senioritas di d

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Biarkan Saja Dulu

    "Maksudnya, Mommy? Apakah kita akan pindah dan tinggal bersama Daddy?"Rachel terdiam dan tak bisa lagi menjawab apa yang dikatakan oleh putranya ini. Dia takut kalau bicara malah salah dan Raysan malah akan memikirkan yang lainnya, putranya ini termasuk anak yang kritik dan mudah untuk memahami apa

  • Anak Kembar Milik Sang Presdir   Aku Suka, Jika Mommy Suka

    Mendengar ucapan Raysan, Hillen diam untuk berpikir selama beberapa saat karena dia takut nanti Rachel malah marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk didengar oleh putranya ini.Saat ini dia sedang melakukan pendekatan dan tidak bisa kalau sembarangan dalam mengatakan apa yang bisa dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status