Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 23. Kedaulatan Sang Alpha

Share

23. Kedaulatan Sang Alpha

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-13 07:18:53

Jessi berdiri di balik dahan pohon pinus nan menjulang, tubuhnya tersembunyi sempurna oleh kabut tebal yang menyelimuti pinggiran hutan. Pakaian hitamnya menyatu dengan bayangan batang pohon di sana. Ia tidak butuh teropong untuk melihat rumah kayu tua di ujung kampung itu. Indra penciuman tajam miliknya sudah cukup untuk menangkap aroma yang ia benci.​

Aroma Fay.

​Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Aroma itu tidak lagi sekadar wangi manis bunga hujan. Ada campuran energi ... begitu domi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   77. Saat Bulan Merah Naik

    Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya terjaga.Nenek bergerak di depanku dengan langkah pelan, tangannya cekatan meski usianya sudah tidak muda lagi. Aroma masakan memenuhi dapur, membuat suasana tampak hangat dan akrab. Jika tidak memperhatikan detak jantungku sendiri, aku mungkin akan percaya semuanya baik-baik saja.“Nek,” panggilku lirih, mencoba memecah keheningan, “bulan merah itu muncul lagi malam ini, ya?”​Gerakan pisau di atas talenan itu mendadak berhenti.Ia tidak langsung menoleh, tetapi aku melihat punggungnya menegang. Hanya sesaat, namun cukup untuk membuat dadaku ikut terasa berat.“Kalau memang muncul,” jawabnya singkat, “kamu tetap di rumah.”Aku menghela napas kecil. “Itu lagi.”Nenek akhirnya menatapku. Sor

  • Anak Rahasia Sang Alpha   76. Bidak yang Mulai Bergerak

    Beberapa jam setelah matahari naik....Lorong rumah sakit mulai jauh lebih sepi dibanding pagi tadi. Langkah kaki perawat hanya terdengar sesekali, samar dan cepat, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian bangunan yang dipenuhi aroma obat-obatan.Di dalam kamar rawat itu, Jessi masih duduk di atas ranjangnya. Perban di wajahnya sudah dilepas sepenuhnya. Garis tipis di pipinya kini terlihat jelas saat cahaya siang menyentuh sisi wajahnya. Bekas itu tidak besar. Bahkan bagi orang lain, mungkin nyaris tak berarti. Namun bagi Jessi, garis itu terasa seperti penghinaan yang terus bernapas di kulitnya.Tatapannya mengarah lurus ke depan, namun pikirannya jelas bergerak jauh lebih cepat daripada yang terlihat di permukaan.Lalu....Klik.Suara pintu terbuka sangat pelan.Jessi tidak menoleh, karena bahkan sebelum suara itu muncul, nalurinya sudah lebih dulu mengenali aroma yang masuk ke dalam ruangan.Langkah kaki berat terdengar mendekat dengan tenang. Pria bermantel hitam memasuki ruangan t

  • Anak Rahasia Sang Alpha   75. Potongan yang Menyatu

    ​"Tuan."​Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kita perketat, dia mulai mengubah pola pergerakannya.” Nada suaranya tetap tenang dan terkendali. “Dia menghindari lorong utama dan mulai menggunakan jalur sempit di lantai atas markas.”Aaron bersandar perlahan di kursinya. Jemarinya masih memutar cincin itu dengan gerakan pelan.“Persis seperti dugaanku,” gumamnya. "Tikus selalu mencari lubang terkecil saat mereka merasa terdesak."​Aldrick sedikit menyipitkan mata, menyadari sesuatu di balik ketenangan tuannya. "Anda memang sengaja membiarkan celah itu terbuka, bukan? Anda sengaja memancingnya ke sana."Aaron tersenyum tipis, bukan senyum ramah, melainkan senyum dingin seseorang yang sedang memainkan lawannya perlahan.“Aku hanya mengubah po

  • Anak Rahasia Sang Alpha   74. Pecahan Masa Lalu

    Di ruang kerjanya, Aaron tampak terpaku menatap benda kecil di tangannya. Sebuah ornamen logam halus dengan ukiran yang begitu rapi melingkari batu merah di bagian tengahnya.Sekilas, ia langsung mengenali bentuknya. Itu adalah model cincin wanita.Namun bukan bentuk cincin itu yang menyita perhatiannya, melainkan ukiran kecil di atas batu merah tersebut.Tatapan Aaron perlahan mengeras. Ingatan lama yang selama ini terkubur tiba-tiba menyeruak begitu jelas di benaknya.“Ibu, itu apa?”Suara kecil Aaron yang saat itu baru berusia tujuh tahun memecah keheningan kamar.Wanita cantik yang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebuah cincin perlahan menoleh. Senyum lembut langsung terukir di wajahnya saat melihat putranya berdiri di depan pintu.“Kemarilah,” ucapnya pelan.Aaron kecil segera menghampiri, lalu naik ke pangkuan ibunya tanpa ragu. Bola matanya yang tajam sejak kecil menatap penuh rasa ingin tahu pada cincin di tangan sang ibu.“Ini cincin yang diberikan oleh orang baik kepad

  • Anak Rahasia Sang Alpha   73. Predator yang Terbangun

    Jessi memejamkan mata perlahan. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam tanpa bergerak. Namun perlahan, napasnya mulai berubah lebih berat. Naluri serigalanya bergerak samar di bawah kulit, merespons emosi yang kini tidak lagi kacau, melainkan dingin dan terarah.​Ia bisa merasakannya dengan jelas sekarang.Dendam yang perlahan tumbuh semakin dalam di dalam dirinya. Tekad gelap yang kini tidak lagi dipenuhi kepanikan ataupun tangisan, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan berbahaya.Dan tanpa ia sadari, pikirannya mulai kembali mencari satu sosok yang selama ini bergerak dari balik bayangan.Pria bermantel hitam itu.Sosok yang selalu berbicara dengan tenang di tengah kekacauan. Sosok yang memahami bagaimana rasa sakit dapat mengubah seseorang. Bagaimana kebencian bisa dipelihara, lalu diarahkan.Entah kenapa, ia merasa pria itu pasti mengetahui perubahan yang sedang terjadi di dalam dirinya saat ini.“Aku tahu kamu bisa merasakannya,” bisiknya lirih.Suara itu hampir tak terd

  • Anak Rahasia Sang Alpha   72. Ketenangan yang Berbahaya

    Keesokan harinya....Cahaya pagi yang redup menyelinap masuk melalui celah tirai kamar rumah sakit, jatuh samar di lantai dan dinding yang nyaris tak berwarna.Ruangan itu sunyi.Namun berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini tidak ada ledakan emosi, tidak ada suara benda pecah, tidak ada teriakan histeris yang memenuhi ruangan.Jessi hanya duduk diam di sana, seolah waktu hanya berjalan melewatinya tanpa benar-benar menyentuhnya.Tubuhnya bersandar tenang di kepala tempat tidur, sementara kedua matanya menatap lurus ke depan. Ia tampak jauh lebih tenang dibanding semalam.Terlalu tenang.Seolah seluruh amarahnya telah tenggelam jauh ke dasar dirinya dan berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.Napasnya perlahan teratur. Jemarinya tidak lagi gemetar. Bahkan aura liar yang semalam nyaris meledak kini terasa menghilang, menyisakan ketenangan yang justru membuat suasana di sekitarnya terasa semakin menekan.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkedip perlahan, seolah baru kemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status