Share

37. Racun Perak

Author: malapalas
last update publish date: 2026-04-21 21:30:35

Aku menjerit begitu keras hingga tenggorokanku terasa terbakar dan perih.

​Aaron tersentak hebat. Tubuh serigalanya terlihat goyah, kakinya melemas seakan-akan tusukan pisau panjang pria itu telah melumpuhkan kekuatannya. Aaron jatuh berlutut, darah mulai mengalir deras di antara bulu putih peraknya.

Tetapi bahkan dalam keadaan terluka parah, ia tetaplah sang Alpha. Dengan geraman penuh amarah, Aaron berbalik dan menerjang pria yang menusuknya dengan sisa kekuatannya. Tubuh pria itu terpental j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   68. Umpan yang Berbalik

    ​Suasana di lorong batu itu terasa sunyi. Terlalu sunyi.​Aldrick menghentikan langkahnya di tengah lorong. Otot di rahangnya mengeras samar saat instingnya mulai menangkap ada sesuatu yang tidak beres.Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada pergeseran udara yang mencurigakan sama sekali. Namun, justru karena keheningan itulah instingnya menegang. Markas utama tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada pergerakan, selalu ada embusan napas yang bisa ia tangkap, sekecil apa pun itu. Tapi sekarang, segalanya terasa hampa.Tatapannya bergerak perlahan ke langit-langit lorong. "Kalau semua terasa kosong, berarti seseorang sedang berusaha membuatnya terlihat kosong."Matanya menyipit tipis. Bukan karena tidak ada apa-apa di sana, melainkan karena ada sesuatu yang baru saja menghilang.Aldrick tidak langsung bergerak maju. Ia justru mengubah arah dan kembali ke titik tempatnya berdiri beberapa saat lalu. Langkahnya pelan, terukur, dan nyaris tanpa suara. Tatapannya menyapu setiap sudut rua

  • Anak Rahasia Sang Alpha   67. Ketika Pemburu Mulai Saling Membaca

    ​​Lorong itu kembali sunyi. Namun, atmosfer kali ini terasa sangat berbeda. Keheningan tersebut bukan lagi kehampaan, melainkan sebuah jeda yang sarat akan ketegangan.​Di balik pilar batu yang tinggi, bayangan hitam itu tetap diam beberapa saat lebih lama. Sosok tersebut tampak memastikan bahwa langkah kaki yang tadi menjauh benar-benar tidak akan kembali. Setelah merasa yakin, ia pun melangkah keluar.Sosok pria bermantel hitam itu bergerak perlahan dari balik kegelapan. Kakinya menyentuh lantai dengan ringan, hampir tanpa bunyi, seolah ia mengendalikan setiap pijakan dengan sempurna. Tidak ada ketergesaan. Gerakannya yang luwes dan sunyi membuatnya tampak seperti bagian dari bayangan itu sendiri.Tatapannya terarah ke ujung lorong tempat Aldrick baru saja menghilang. Sebuah senyum tipis, dingin, namun mematikan terukir di sudut bibirnya."Menarik," bisik pria itu. Suaranya sangat rendah, nyaris tertelan oleh dinding-dinding batu yang dingin.​Ia berjalan mendekati titik tempat Aldr

  • Anak Rahasia Sang Alpha   66. Jejak yang Disembunyikan

    ​Malam telah turun sepenuhnya di markas utama. Lorong-lorong panjang yang biasanya ramai oleh lalu-lalang para penjaga kini terasa sangat sunyi, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu dinding yang terpasang berjarak. Bayangan memanjang di setiap sudut, menciptakan celah-celah gelap yang cukup untuk menyembunyikan sesuatu … atau seseorang."Sunyi seperti ini …," bisik Aldrick. "Terlalu sempurna untuk tidak menyembunyikan sesuatu."Sejenak ia terdiam, membiarkan instingnya membaca keadaan. Keheningan bukanlah kekosongan, itu adalah tanda bahwa sesuatu sedang menunggu.​Di antara bayangan tersebut, satu sosok bergerak tanpa suara. Aldrick. Langkah kakinya begitu ringan dan terukur, nyaris tidak meninggalkan jejak. Tidak ada keraguan dalam setiap geraknya, hanya arah yang jelas dan tujuan yang pasti. Bagi Aldrick, perintah Aaron tidak pernah dianggap sebagai tugas biasa. Ini adalah perburuan, dan targetnya bukanlah mangsa yang mudah dikendalikan."Perintahmu selalu menarik, Aaron,"

  • Anak Rahasia Sang Alpha   65. Langkah yang Tidak Terlihat

    "Dia tidak meminta maaf," potong Jessi cepat, suaranya mulai meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Ayah."Cengkeraman tangan Jessi di pangkuan semakin kuat, hingga kain bajunya sedikit kusut."Dia bahkan menatapku bukan sebagai seorang wanita atau sekutu yang harus dihormati, melainkan seperti sesuatu yang tidak layak ada di dekatnya."Stanley terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, memperhatikan setiap perubahan emosi di wajah putrinya tanpa menyela.Tatapannya perlahan turun ke sisi wajah Jessi. Bekas cakaran itu masih terlihat jelas, garis dalam yang merobek kulitnya, kini hanya tertutup perawatan sementara, namun belum sepenuhnya pulih. Jejak itu bukan sekadar luka, melainkan penghinaan. Tanda dominasi yang ditinggalkan secara sengaja.Rahang Stanley mengeras. Pemandangan itu masih terpatri di ingatan, darah di wajah Jessi, tatapan para tetua, dan keheningan yang dipenuhi tekanan. Itu bukan sekadar serangan.

  • Anak Rahasia Sang Alpha   64. Retakan di Balik Kesepakatan

    Mobil mewah berlapis kaca gelap itu meluncur mulus meninggalkan markas utama klan tanpa pengawalan yang berlebihan. Langit di luar tampak mendung, awan kelabu menggantung rendah, menekan cahaya hingga jalanan terasa redup dan dingin. Suasana itu seolah sejalan dengan kabin mobil yang sama-sama terasa menyesakkan, seolah dinding kendaraan ikut menyerap sisa tekanan yang belum sempat hilang dari aula tadi.​Stanley duduk tegak di kursi belakang, satu tangannya masih mencengkeram map hitam yang baru saja diserahkan oleh Aldrick. Buku-buku jarinya mengeras, sesekali meremas sudut dokumen itu tanpa sadar. Tatapannya lurus ke depan, namun jelas pikirannya tidak berada di jalan.​Di sampingnya, Jessi duduk diam.​Cadar hitam transparan yang menutupi separuh wajahnya sedikit bergeser, menampakkan jejak kemerahan dari luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, rasa sakit fisik itu bukanlah hal yang paling mendominasi. Ada sesuatu yang jauh lebih panas dan liar mengalir di dalam darahnya, sebuah

  • Anak Rahasia Sang Alpha   63. Laporan yang Mengubah Arah

    Pintu ruangan pribadi itu terbuka tanpa suara. Aldrick melangkah keluar lebih dulu dengan langkah yang tetap terkendali, tetapi sorot matanya jauh lebih tajam dari biasanya. Tidak ada satu kata pun yang terucap saat ia menutup pintu di belakangnya. Ia hanya memberikan satu tatapan singkat yang langsung dipahami oleh Lucien.​Itu sudah lebih dari cukup. Begitu Aldrick meninggalkan posisinya di depan pintu, Lucien langsung mengambil alih tempat itu. Tanpa kata dan tanpa isyarat berlebihan, pergantian penjagaan terjadi secara alami. Kini, Aldrick berada di luar, sementara Lucien masuk ke dalam ruangan.Pintu kembali tertutup rapat, mengisolasi ruangan tersebut dari dunia luar. Suasana di dalam terasa sunyi. Aaron berdiri tepat di dekat jendela dengan punggung menghadap pintu. Sosoknya terlihat tegar dan mendominasi, tetapi ada aura berat yang masih menguar dari tubuhnya, seolah ketegangan di aula tadi belum benar-benar lepas dari benaknya.​Lucien berhenti beberapa langkah di belakang san

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status