แชร์

63. Laporan yang Mengubah Arah

ผู้เขียน: malapalas
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-05 17:33:58
Pintu ruangan pribadi itu terbuka tanpa suara. Aldrick melangkah keluar lebih dulu dengan langkah yang tetap terkendali, tetapi sorot matanya jauh lebih tajam dari biasanya. Tidak ada satu kata pun yang terucap saat ia menutup pintu di belakangnya. Ia hanya memberikan satu tatapan singkat yang langsung dipahami oleh Lucien.

​Itu sudah lebih dari cukup. Begitu Aldrick meninggalkan posisinya di depan pintu, Lucien langsung mengambil alih tempat itu. Tanpa kata dan tanpa isyarat berlebihan, pergant
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Anak Rahasia Sang Alpha   253. Peringatan Lima Hari

    Tubuhku jatuh tersungkur. Bahu kiriku menghantam lantai dengan keras hingga rasa nyeri menjalar ke seluruh lengan. Namun refleks bertahanku bekerja cepat, aku memeluk Arsen mati-matian, menjadikan tubuhku sendiri sebagai bantalan agar dia tidak tersentuh sedikit pun.“FAY!”Aku mendengar Aaron memanggilku dengan panik dan khawatir.Dalam sekejap, tubuhku sudah diangkat dari lantai. Aaron meraih tubuhku dan menarikku ke dalam pelukannya, sementara tanganku masih erat memeluk Arsen.“Fay, kamu terluka?”Aku menggeleng cepat meski bahu kiriku masih terasa nyeri.“Aku nggak apa-apa.”Aaron menatapku beberapa detik, memastikan tidak ada luka serius pada tubuhku.Di saat yang sama, aku melihat Lucien meninggalkan posisinya di depan pintu dan langsung mencengkeram leher Lira.Tubuh wanita itu terdorong mundur hingga punggungnya hampir menghantam dinding.“Jangan bergerak.”Suara Lucien terdengar rendah dan mengancam.Tangannya tetap mencengkeram leher Lira dengan kuat, tetapi ia masih menaha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   252. Jangan Sentuh Mereka

    Tanganku semakin erat memeluk Arsen.Belum sempat aku mengatakan apa pun, terdengar langkah kaki dari lorong.Sosok lain muncul di ambang pintu.Seorang pria tinggi melangkah masuk dengan ekspresi dingin. Lucien berada beberapa langkah di belakangnya, memasang wajah kaku.Aku menatap pria itu dengan waspada. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Lucien segera menundukkan kepala kepada Aaron.“Alpha, semua tim prajurit di lantai bawah sudah berhasil menahan rombongan utusan Dewan Tetua di tempat. Hanya saja, Silas berhasil menerobos sampai ke lantai atas.”Nama itu membuatku terdiam sejenak.Silas?Aaron sudah mengenalnya. Dari cara Aaron menatapnya, jelas pria itu bukan orang asing baginya.Aaron hanya memberikan satu jawaban.“Keluar.”Suaranya singkat dan dingin.Cakar Aaron perlahan muncul dari jemarinya. Kilatan tajamnya langsung membuat udara di kamar terasa berat.Silas tetap berdiri di tempat.“Kalian tidak bisa menghalangi kami,” katanya tenang. “Kami adalah utusan resmi dar

  • Anak Rahasia Sang Alpha   251. Mereka Datang untuk Arsen

    Aku mendengar ada suara dari luar pintu.Awalnya hanya terdengar samar, seperti percakapan yang tertahan di balik dinding. Namun, beberapa detik kemudian, suara itu semakin jelas.Suara prajurit dan seorang wanita.Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar sambil menggendong Arsen yang masih berada dalam pelukanku.“Tidak, Nona. Kami tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”Suara prajurit itu terdengar tegas.Aku mengernyit."Siapa wanita itu?" bisikku lirih.Aku melangkah perlahan mendekati pintu. Arsen kugendong lebih erat, memastikan tubuh kecilnya tetap nyaman dalam pelukanku.“Aku sudah mengatakan bahwa aku perlu masuk,” ujar wanita itu dengan nada dingin.“Maaf, Nona. Kami tidak menerima perintah dari Alpha Aaron untuk membuka pintu ini.”“Aku tidak membutuhkan izin dari Aaron.”Jantungku berdegup lebih cepat.Aaron?Wanita ini mengenal Aaron?“Aku datang membawa perintah langsung dari Tetua Utama dan Dewan Klan,” lanjutnya. “Apa kalian pikir aku akan berdiri di depan pintu hanya kare

  • Anak Rahasia Sang Alpha   250. Hukum Klan yang Terlarang

    Aaron menuruni anak tangga dengan langkah tenang. Baginya, kedatangan para tamu itu tak lebih dari embusan angin lalu yang tidak berarti.Wajah tampannya tampak datar tanpa ekspresi. Namun, begitu tiba di ruang tamu, tatapan dinginnya langsung menyorot tajam. Beberapa orang berdiri di sana mengenakan pakaian formal dengan lambang klan terpasang di dada. Di belakang mereka, sejumlah pengawal berdiri dengan sikap kaku.Dan di antara rombongan itu, manik mata Aaron mengunci satu sosok di barisan belakang.​Stanley.Tubuh pria paruh baya itu kini tampak sedikit membungkuk dan wajahnya terlihat jauh lebih tua dibandingkan kemarin.Kehancuran finansial yang menghantam keluarganya dalam satu malam telah mengikis hampir seluruh kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya.Pria yang dulu membanggakan diri sebagai penguasa klan luar sekaligus investor terkaya, kini berdiri seperti seekor anjing kurus yang baru dibuang pemiliknya.Setelah mencoret Jessi dari garis keturunan dan menolak men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   249. Tamu yang Tak Diundang

    Pagi itu terasa jauh lebih tenang di kediaman pribadi Aaron.Sebelum berangkat ke kantor, Aaron menyempatkan diri menemui Arsen dan Fay.Sang Luna tampak duduk bersandar di kepala ranjang sambil menggendong Arsen. Bayi kecil itu sedang menyusu dengan tenang dalam pelukannya, sementara Aaron tampak berdiri gagah. Pria itu sudah mengenakan pakaian kerja lengkap, setelan kemeja dipadu jas kantor berkualitas tinggi yang terukur sempurna di tubuh atletisnya.​Setiap kali melihat Aaron berpenampilan seperti itu, Fay tidak bisa memungkiri bayangan masa lalu saat ia masih bekerja di kantor Aaron selalu berputar di ingatan.Penampilan elegan itu selalu berhasil melipatgandakan ketampanannya, memancarkan pesona maskulin yang begitu khas dari dirinya. Pembawaan Aaron yang tetap tenang, dingin, dan berwibawa dalam balutan jas kantor selalu sukses membuat jantung Fay berdebar kencang, sama seperti pertama kali ia mengagumi pria itu dari kejauhan."Dia makin mirip kamu kalau lagi tidur begini," gum

  • Anak Rahasia Sang Alpha   248. Jejak Sang Pewaris

    Atmosfer di sayap barat markas utama klan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Pintu ruang kerja Tetua Marcus terbuka kasar.Stanley melangkah masuk dengan napas memburu. Jas mahal yang biasanya selalu dikenakannya dengan sempurna kini kusut. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan sorot matanya dipenuhi kepanikan yang sulit disembunyikan.Pria yang kemarin masih memiliki kekuasaan besar kini datang tanpa sedikit pun wibawa.Marcus tetap duduk di balik meja kerjanya.Tangannya masih memegang cangkir porselen. Ia menyesap tehnya perlahan, seolah kedatangan Stanley yang nyaris kehilangan kendali bukan sesuatu yang penting."Marcus!" Stanley menghampiri meja dengan langkah tergesa. "Kamu harus membantuku!"Marcus mengangkat pandangan dengan tenang."Aku sudah mendengarnya, Stanley.""Kalau begitu lakukan sesuatu!" bentak Stanley. "Aaron menghancurkan perusahaanku! Rekening-rekeningku dibekukan, asetku disita, jalur perdaganganku diputus, dan sahamku jatuh dalam hitungan jam!"Ia men

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

  • Anak Rahasia Sang Alpha   1. Malam yang Seharusnya Tidak Terjadi

    “Hanya menemani beliau sebentar saja, Fay. Lalu kamu bisa pulang. Apa susahnya?”Aku menghela napas pelan mendengar rentetan kalimat dari Bu Sarah, sekretaris senior sekaligus atasanku. Beliau terdengar terburu-buru dan penuh desakan saat memintaku pergi ke ruangan pimpinan perusahaan malam-malam b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status