Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 65. Langkah yang Tidak Terlihat

Share

65. Langkah yang Tidak Terlihat

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-06 10:38:57

"Dia tidak meminta maaf," potong Jessi cepat, suaranya mulai meninggi, sarat akan kekecewaan yang mendalam. "Dia tidak menunjukkan keraguan sedikit pun, Ayah."

Cengkeraman tangan Jessi di pangkuan semakin kuat, hingga kain bajunya sedikit kusut.

"Dia bahkan menatapku bukan sebagai seorang wanita atau sekutu yang harus dihormati, melainkan seperti sesuatu yang tidak layak ada di dekatnya."

Stanley terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke jok kulit, memperhatikan setiap perubahan emosi di
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   263. Pertemuan yang Tak Diinginkan

    Elena sedang duduk di gazebo yang menghadap danau kecil buatan. Sedari tadi wajahnya penuh keterpukauan melihat keindahan di sekitarnya. Ia bahkan beberapa kali mengajak Arsen mengobrol dan menunjukkan banyaknya tanaman dan kemegahan bangunan di sana."Lihat, Arsen, ayahmu membangun jembatan itu posisinya sangat tepat," ucapnya sambil menunjuk arah bangunan di depannya. "Jembatannya melengkung di atas aliran sungai yang begitu tenang dan jernih."Elena mengedarkan pandangannya kembali."Selain di rumah kaca, di sini juga banyak bunga yang indah. Pemandangannya sangat menakjubkan, tempatnya juga begitu luas. Nanti kalau kamu sudah bisa jalan, kamu bisa lari-larian bersama ibu dan ayahmu."Tiba-tiba Arsen tertawa kecil.Hal itu membuat Elena terkejut sekaligus terharu.Matanya seketika membelalak lebar, lalu sedetik kemudian binar kebahagiaan yang begitu tulus terpancar dari wajahnya. Elena sempat terpaku, menatap wajah mungil di pelukannya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   262. Papan Catur Sang Alpha

    Aaron tidak langsung menjawab.Ada keseriusan baru yang membuat rasa penasaran Fay semakin besar."Semua ritual itu baru bisa dilakukan setelah seluruh klan menyetujui pernikahan kita dan menerimamu sebagai Luna-ku," lanjut Aaron, memecah keheningan dengan nada suara yang berat.Fay tertegun. Kalimat Aaron barusan bagai menyiramkan air es ke atas kepala, menyadarkannya pada realitas yang kejam."Menyetujui?" tanya Fay, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. "Tapi kamu baru saja bilang kalau Dewan Tetua dan kaummu menentang pernikahan dengan manusia. Bagaimana mungkin mereka akan menyetujuinya dalam waktu lima hari?"Perlahan, Aaron meraih tangan Fay, menempelkan telapak tangan wanita itu tepat di atas dada kirinya, membiarkan Fay merasakan detak jantungnya yang berdegup kuat, dan penuh keyakinan."Karena masalah persetujuan klan inilah, Fay, sekarang aku akan membahasnya bersamamu," ucap Aaron dengan suara rendah yang menenangkan. "Aku minta kamu mendengarkan baik-baik keputusan d

  • Anak Rahasia Sang Alpha   261. The Lunar Oath

    "Kenapa?" Aaron memperhatikan ekspresi Fay yang masih mematung. "Apa kamu nggak mau menikah denganku?"Fay spontan mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat melayang."Bukan begitu. Aku ... aku hanya merasa ini terlalu mendadak. Kita—""Aku tahu ini terlalu cepat," sela Aaron, memotong kalimat Fay dengan nada suara yang mendadak berkejaran dengan waktu. "Tapi kita nggak punya pilihan, Fay. Hanya tersisa beberapa hari sebelum Tetua Marcus dan Dewan Tetua mengambil tindakan."Fay mengernyit bingung, merasakan firasat buruk yang mulai merayap. "Maksud kamu?""Jika kita melewati batas lima hari yang ditentukan, artinya mereka pasti akan mengambil Arsen.""Nggak!" sahut Fay dengan nada tinggi, naluri keibuannya seketika berontak. Ia menggeleng keras. "Nggak akan kubiarkan mereka menyentuh anakku, Aaron. Nggak akan pernah.""Aku juga nggak akan membiarkan itu terjadi," sahut Aaron tegas. "Satu-satunya cara mengunci pergerakan mereka adalah dengan pernikahan k

  • Anak Rahasia Sang Alpha   260. Dosa yang Tak Terhapus

    Aaron masih menggenggam kedua tangan Fay. Namun, kali ini tidak ada lagi senyum di wajahnya.Raut wajah pria itu tampak begitu serius, seolah apa yang akan diceritakannya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan luka yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar sembuh.“Fay...,” panggil Aaron pelan."Ya?"“Apa kamu masih ingat saat aku pernah menceritakan bagaimana kedua orang tuaku meninggal malam itu?”Fay menelan ludah.Tentu saja ia masih mengingatnya.Bagaimana mungkin ia melupakan kisah tentang seorang anak berusia delapan tahun yang pulang untuk menemui kedua orang tuanya, tetapi justru mendapati rumahnya telah berubah menjadi tempat kematian?“Aku ingat,” jawab Fay lirih.“Malam itu juga....” Suara Aaron terdengar begitu berat. “Tubuh kecilku akhirnya kehilangan kendali.”Fay terenyak. Detak jantungnya seolah berhenti sesaat mendengar pengakuan itu.Aaron menghela napas pelan, lalu mulai menceritakan apa yang selama ini tersimpan jauh di dalam dirinya.“Malam itu huj

  • Anak Rahasia Sang Alpha   259. Masa Lalu yang Terkubur

    “Aku nggak cemburu,” gumam Fay, menyuarakan pembelaan terakhirnya yang terdengar rapuh.“Fay,” panggil Aaron pelan.Lengan kokohnya yang melingkar di pinggang Fay sedikit mengetat, seolah menuntut kejujuran tanpa perlu ada dusta di antara mereka.Fay meremas pelan kemeja Aaron, menyalurkan rasa sesak yang mulai membelit. “Aku cuma nggak suka dia.”“Kenapa?” tanya Aaron. Pria itu sedikit memiringkan kepala, berusaha menangkap ekspresi Fay yang mulai meredup.“Karena dia juga nggak suka aku.”Aaron terdiam. Sorot matanya melembut, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam saat menyadari ada luka tersembunyi di balik kemarahan wanitanya.Fay melanjutkan dengan wajah semakin murung. Ia menatap lurus pada kancing kemeja Aaron dengan tatapan terluka.“Dia datang ke kamar Arsen, mengancam mau mengambilnya, menyebut darah anak kita sebagai masalah, lalu bicara kepadamu seolah aku ini nggak ada.”Aaron mendengarkan tanpa menyela, membiarkan perempuan itu menumpahkan seluruh unek-uneknya.“Aku tahu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   258. Kecemburuan Sang Luna

    Aaron mengernyit. “Fay?”Nada suaranya begitu tenang dan sabar.“Kenapa harus menikah denganku?” tanya Fay tiba-tiba, terdengar tajam dan menusuk.Alis Aaron bertaut bingung. Ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan itu.“Karena aku mencintaimu.”Fay menepis tangan Aaron dari dagunya, berusaha tak terpengaruh akan jawaban pria itu.“Harusnya kamu nikahi Lira saja,” sahutnya dengan bibir cemberut.​Aaron tercengang sesaat. Lira?Kali ini ia benar-benar tidak menyangka nama itu akan muncul.Fay sendiri merasa dadanya semakin panas setelah mengucapkannya. Ia tahu dirinya terdengar kekanak-kanakan. Namun, setiap kali mengingat cara wanita itu berbicara kepada Aaron, bagaimana ia menyebut nama Aaron dengan begitu lembut, dan bagaimana ia mengungkit bahwa Aaron pernah melindunginya, hatinya terasa sakit.Yang paling membuatnya kesal adalah Aaron tidak menjelaskan siapa wanita itu.Dan semakin Aaron diam, semakin banyak hal yang berputar di kepala Fay.“Kenapa diam?” tanya Fay ketus.I

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

  • Anak Rahasia Sang Alpha   81. Ancaman dari Dalam Rahim

    "Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.​Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."​Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   77. Saat Bulan Merah Naik

    Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status