Home / Fantasi / Anak Rahasia Sang Alpha / 66. Jejak yang Disembunyikan

Share

66. Jejak yang Disembunyikan

Author: malapalas
last update publish date: 2026-05-06 13:59:44

​Malam telah turun sepenuhnya di markas utama. Lorong-lorong panjang yang biasanya ramai oleh lalu-lalang para penjaga kini terasa sangat sunyi, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu dinding yang terpasang berjarak. Bayangan memanjang di setiap sudut, menciptakan celah-celah gelap yang cukup untuk menyembunyikan sesuatu … atau seseorang.

"Sunyi seperti ini …," bisik Aldrick. "Terlalu sempurna untuk tidak menyembunyikan sesuatu."

Sejenak ia terdiam, membiarkan instingnya membaca keadaan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Sang Alpha   297. Kemunculan Sang Suami

    ​"Benar, Fay. Bahkan setelah pernikahan kami nanti, Arya akan diberikan kepercayaan oleh ayahku untuk memegang kendali penuh atas perusahaan keluarga kami."​Tasya mengangkat dagunya sedikit, menyunggingkan senyum penuh kebanggaan, seolah baru saja menaklukkan dunia.​Sementara aku hanya bisa membeku di tempat.​Jadi, Arya benar-benar akan menikahi Tasya?Dari cara wanita itu berbicara, aku menangkap kesan bahwa jabatan yang akan diberikan ayahnya kepada Arya merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hubungan mereka.Benarkah hanya demi sebuah jabatan dan posisi di perusahaan besar, Arya sampai rela mengorbankan masa depannya?Pria idealis yang kukenal dulu, yang selalu membanggakan kerja keras dan integritas, kini bersedia menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya?Dadaku mendadak terasa hambar. Aku akhirnya mengerti, bahwa di dunia ini, segala sesuatu—bahkan prinsip hidup seseorang—bisa terkalahkan dengan mudah hanya oleh kilauan uang dan kekuasaan.Aku melirik Arya. Raha

  • Anak Rahasia Sang Alpha   296. Kenyataan yang Berubah

    Arya adalah kakak tingkatku. Kami terpaut dua tahun, dan ia waktu itu sangat aktif di BEM.Dari dulu Tasya sangat tergila-gila padanya. Setiap ada wanita yang mendekatinya, ia akan melakukan segala cara agar mereka menjauh dari Arya. Termasuk padaku.Dan aku tidak menyangka, hari ini aku pun bisa bertemu dengannya.Kini, wanita itu berhenti tepat di samping Arya. Tanpa ragu, Tasya langsung mengaitkan tangannya pada lengan pria tersebut dengan gerakan manja."Kamu ternyata di sini. Aku sudah mencarimu dari tadi."Aku menatapnya dengan kening berkerut. Ada sesuatu yang terasa janggal dari pemandangan di hadapanku.Dahulu, Tasya selalu berusaha mencari perhatian Arya. Ia berkali-kali mendekati pria itu di kampus, berusaha mengajaknya berbicara, bahkan menyebarkan rumor bahwa mereka berpacaran. Namun, sejauh yang kuingat, Arya tidak pernah benar-benar menanggapi semua usahanya.Pria itu selalu menjaga jarak dan mengabaikannya dengan sikap yang begitu jelas hingga aku sendiri pernah bertan

  • Anak Rahasia Sang Alpha   295. Pertemuan dengan Masa Lalu

    Aku masih berdiri mematung di tempatku ketika Arya semakin mendekat.Bertahun-tahun telah berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya. Namun, wajah itu masih sama seperti yang kuingat. Tatapan matanya, garis rahangnya, bahkan senyum tipis yang mulai terbentuk di bibirnya ketika jarak kami semakin dekat.Hanya saja, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya sekarang.Arya tidak lagi mengenakan kemeja mahasiswa dengan lambang organisasi kampus di bagian dada. Ia juga tidak membawa tumpukan dokumen yang dahulu hampir selalu berada di tangannya sebagai Ketua BEM.Pria di hadapanku sekarang tampak lebih dewasa.Dan aku tidak tahu mengapa, tetapi menyadari hal itu justru membuatku semakin canggung."Fay?"Suara itu akhirnya memecah keheningan di antara kami.Aku tersentak kecil, seolah baru tersadar bahwa pria yang berdiri di hadapanku benar-benar Arya, bukan sekadar bayangan dari masa lalu."I-iya."Hanya itu yang berhasil keluar dari bibirku.Arya menatapku beberapa saat. Ada keterkejutan yang

  • Anak Rahasia Sang Alpha   294. Kebahagiaan yang Terusik

    Aaron kembali mencium pipi putra kami sebelum perlahan meletakkannya ke dalam kereta bayi.Arsen sempat menggerakkan kedua tangannya, seolah enggan berpisah dari pelukan ayahnya. Namun, ketika Aaron menyerahkan kembali mainan yang tadi dipegangnya, perhatian putra kami segera teralihkan.“Oh, sekarang Ayah sudah nggak menarik lagi?” goda Aaron sambil membetulkan posisi selimut tipis di pangkuan Arsen.Arsen hanya mengoceh kecil tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya.Aku tertawa melihatnya. “Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada ayahnya.”Aaron menghela napas pura-pura kecewa.“Luar biasa. Aku baru saja mendapatkan panggilan pertamaku, tetapi sekarang sudah ditinggalkan.”“Jangan khawatir. Nanti kalau dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan mencarimu lagi.”“Ayah akan selalu siap.”Ia membungkuk sekali lagi untuk mengusap kepala Arsen, lalu kembali berdiri di sampingku.Aku menggandeng lengannya sambil tersenyum. Momen kecil itu terasa begitu berharga

  • Anak Rahasia Sang Alpha   293. Kebanggaan Sang Alpha

    Namun, tiba-tiba....Suara Arsen mengagetkan kami.“A ... yah....”Aku spontan menoleh ke arah kereta bayinya. Arsen yang sejak tadi sibuk memainkan mainan di tangannya kini mengangkat wajah, menatap Aaron dengan mata berbinar.Untuk sesaat, Aaron membeku. Matanya membelalak, seolah-olah ia perlu memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar. Kemudian, keterkejutan itu perlahan berubah menjadi binar kebahagiaan yang begitu jelas terpancar dari wajahnya.“Sayang, kamu dengar itu?” tanyanya kepadaku dengan suara tertahan.Aku mengangguk sambil menahan senyum. “Aku dengar.”Aaron segera mendekati kereta bayi, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Arsen.“Coba katakan sekali lagi, Jagoannya ayah.” Suaranya terdengar begitu lembut. “Kamu tadi memanggil siapa? Ayah ingin mendengarnya lagi.”Arsen menatapnya beberapa saat. Bibir mungilnya bergerak, seolah sedang berusaha menyusun kata yang baru saja diucapkannya.“A ... yah.”Aaron menahan napas.“Ayah!”“Ya, Ayah di sini!

  • Anak Rahasia Sang Alpha   292. Kebersamaan yang Manis

    “Bukankah itu Aaron? CEO yang beberapa waktu terakhir sering muncul di berita bisnis?”“Benar! Aku mengenalinya. Aku pernah melihat fotonya di majalah.”“Jadi, wanita yang bersamanya itu istrinya?”“Sepertinya begitu. Aku dengar dia baru menikah beberapa bulan lalu.”Aku berusaha tetap fokus pada pakaian di tanganku, tetapi percakapan mereka masih terdengar cukup jelas.Wanita yang mengenakan gaun bermerek itu kemudian melirik ke arahku, lalu kembali memandang Aaron.“Dia tampak sangat berbeda ketika bersama istrinya. Aku pernah melihatnya dalam sebuah acara bisnis. Wajahnya begitu dingin sampai nggak ada seorang pun yang berani mendekatinya.”Temannya terkekeh pelan. “Kalau aku menjadi istrinya, aku juga nggak akan keberatan memiliki suami setampan itu.”Aku hampir tersedak mendengar ucapan tersebut.Aaron, yang rupanya juga mendengarnya, justru mendekatkan wajahnya ke telingaku.“Sepertinya aku cukup populer hari ini.”Aku mencubit lengannya pelan. “Jangan besar kepala.”“Aku hanya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   5. Aroma yang Menjerat

    Rapat berlangsung layaknya siksaan yang lambat. Aku berdiri di sudut ruangan, meremas surat pengunduran diri di dalam saku rokku yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam itu sesekali melirikku, seakan memastikan mangsanya tidak melompat keluar jendela.​"Fok

  • Anak Rahasia Sang Alpha   4. Jangan Pernah Berpikir untuk Lari

    Aku menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi. Belum sempat aku menenangkan diri, ponsel di atas meja kamarku bergetar hebat. Sebuah notifikasi masuk.PANGGILAN MENDADAK UNTUK BESOK PAGI: RUANG RAPAT UTAMA - LANTAI 20. SELURUH STAF DIVISI TERKAIT WAJIB HADIR.Jantungku mencelos. Lantai 20 adalah wil

  • Anak Rahasia Sang Alpha   3. Ibu Lebih Takut pada Omongan Orang

    Aku pulang ke rumah dengan kaki gemetar. Tas kerja yang biasanya ringan, kini terasa sangat berat seolah di dalamnya tersimpan bahan peledak yang siap menghancurkan hidupku.Namun, beban terberat sesungguhnya ada di saku jaketku. Sebuah kotak kecil berisi benda dengan dua garis merah yang rasanya l

  • Anak Rahasia Sang Alpha   2. Benih sang Alpha

    ​“A-apa maksud—ah!”​Sentuhan Pak Aaron membuatku terkesiap. Sepasang mataku terpejam merasakan tangan Pak Aaron yang kokoh melingkar di pinggangku, menarikku hingga tidak ada lagi celah yang tersisa di antara kami.​Aroma hutan setelah hujan dan maskulin yang menguar dari kulitnya memenuhi indra p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status