Share

Chapter 9

Author: Author Mars
last update publish date: 2026-09-12 13:51:37

Bandara.

Chloe Shen berjalan perlahan di tengah keramaian dengan mengenakan masker dan topi yang menutupi sebagian besar wajah serta rambutnya.

Tubuhnya masih lemah setelah melahirkan, tetapi ia terus memaksakan diri untuk berjalan.

Matanya bergerak waspada, memperhatikan setiap orang yang melewatinya.

Sesekali Chloe menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.

"Aku tidak boleh ditemukan."

Tangannya menggenggam erat tali tas kecil yang dibawanya.

Ia terus berjalan menuju ruang keberangkatan sambil menundukkan kepala agar wajahnya tidak mudah dikenali.

Namun, rasa takut masih memenuhi hatinya.

Jika Mike atau Linda menemukannya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.

Chloe menarik napas dalam-dalam.

"Aku harus pergi dari sini sebelum mereka menemukanku."

Ia kemudian mempercepat langkah menuju gerbang keberangkatan.

Hari itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Chloe telah meninggalkan kota kelahirannya.

Ia pergi demi menghindari Mike dan ibu tirinya.

Di dalam pesawat.

Chloe duduk sendirian di dekat jendela. Tatapannya kosong memandang langit di balik kaca.

Tangannya perlahan menyentuh perutnya yang masih terasa nyeri.

"Aku akan kembali dan membalas semua yang telah kalian lakukan kepadaku."

Air mata menggenang di matanya.

"Anakku... maafkan Mama karena tidak bisa mempertahankanmu."

Chloe menundukkan kepala.

"Dalam kehidupan selanjutnya, Mama berharap kita bisa dipertemukan kembali. Mama akan menebus semuanya."

Pesawat terus melaju meninggalkan kota yang menyimpan terlalu banyak luka baginya.

Beberapa hari kemudian.

Vincent membawa bayi yang sebelumnya diadopsi Elvin kembali ke rumahnya.

Ia ditemani Jack dan seorang pengasuh perempuan paruh baya.

Begitu memasuki rumah, Vincent menggendong bayi itu sambil menatap wajah mungilnya.

"Mulai hari ini, kau akan tinggal di sini."

Tangannya menyentuh pipi bayi tersebut dengan lembut.

"Ini rumahmu. Dan mulai sekarang, ini keluargamu."

Jack yang berdiri di sampingnya memperhatikan bayi itu.

"Tuan, sepertinya Tuan Muda belum memiliki nama."

Vincent terdiam sejenak.

"Bryan Lu."

Ia menatap bayi itu.

"Mulai sekarang, namanya Bryan Lu."

"Nama yang bagus, Tuan," jawab Jack.

Vincent kemudian menyerahkan Bryan kepada pengasuh.

"Bibi, bawalah Bryan ke kamarnya."

"Baik, Tuan."

Pengasuh tersebut membawa Bryan menuju kamar bayi.

Dua orang pelayan rumah tangga segera datang menyambut Vincent.

"Tuan!"

Vincent mengangguk.

"Mulai hari ini, siapkan semua kebutuhan Tuan Muda. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku."

"Baik, Tuan!" jawab keduanya serentak.

Jack kemudian memperhatikan wajah Vincent yang terlihat lelah.

"Tuan, beberapa hari ini Anda sudah sibuk mengurus pemakaman Tuan Elvin dan hampir tidak beristirahat. Sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu."

Vincent terdiam.

"Jack..."

"Ya, Tuan?"

"Menurutmu, apakah Chloe masih bisa ditemukan?"

Jack menggeleng pelan.

"Terus terang, selama pencarian kami tidak menemukan jejak apa pun. Bahkan keluarganya sendiri juga sedang mencarinya."

Ia berhenti sejenak.

"Kalau seseorang benar-benar ingin bersembunyi, kita tidak akan mudah menemukannya. Jika Nona Chloe ingin kembali, suatu hari nanti dia pasti akan kembali."

Vincent terdiam cukup lama.

"Benar juga."

Ia menarik napas panjang.

"Kalau begitu, hentikan pencarian."

Jack terkejut.

"Kita tidak akan melanjutkan pencarian lagi?"

"Aku sudah berutang sesuatu kepadanya. Aku akan melunasinya setelah dia kembali."

Tatapan Vincent beralih ke arah kamar Bryan.

"Untuk sekarang, aku akan fokus pada Bryan. Pastikan dia tidak kekurangan apa pun, terutama kasih sayang."

"Baik, Tuan."

Jack mengangguk.

Setelah Jack pergi, Vincent berdiri sendirian di ruang tamu.

Dari kamar bayi terdengar suara tangisan kecil.

"Waaah... waaah..."

Vincent menoleh.

"Kenapa setiap kali melihat Bryan, wajah Chloe selalu terlintas di pikiranku? Bahkan setiap malam ketika tidur, aku selalu mendengar suara tangisan bayi dalam mimpi? Ada apa denganku? Kenapa hatiku selalu gelisah?"

Vincent tidak pernah tahu bahwa Bryan yang kini berada di sisinya sebenarnya adalah darah dagingnya sendiri.

Ia juga tidak tahu bahwa bayi yang ia anggap sebagai anak sahabatnya memiliki saudara kembar.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari kota...

Nasib bayi yang satu lagi masih belum diketahui.

Tidak ada yang tahu di mana ia berada.

Tidak ada yang tahu siapa yang menemukannya.

Dan tidak ada yang tahu apakah bayi kecil itu masih hidup atau justru harus menghadapi dunia seorang diri.

Dua bayi yang lahir dari ibu yang sama kini berada di tempat yang berbeda.

Satu tumbuh di tengah kehidupan mewah bersama ayah kandungnya.

Sementara yang lainnya...

Menghilang tanpa jejak.

***

Tiga tahun kemudian.

Mansion Vincent.

Seorang anak laki-laki tampan berusia tiga tahun terlihat berlari ke sana kemari di dalam mansion.

Beberapa pria berpakaian hitam terus mengejarnya.

"Tuan Muda, jangan lari!"

Bryan Lu justru tertawa semakin keras dan mempercepat langkahnya.

"Hahaha! Tangkap aku kalau bisa!"

Para pria itu saling berpandangan.

Mereka adalah anak buah Vincent yang ditugaskan khusus untuk menjaga Bryan.

Bryan memang masih kecil, tetapi kecerdasannya sering membuat mereka kewalahan.

Di usianya yang baru tiga tahun, ia sudah sangat pintar, aktif, dan sangat berani.

Bahkan para pengawal sering kewalahan menghadapi tingkahnya.

"Tuan Muda lagi-lagi membuat kita kesulitan," keluh salah seorang pengawal.

Bryan menoleh sambil tersenyum jahil.

"Kejar aku!"

Ia kemudian kembali berlari dengan tawa riang.

Anak itu benar-benar seperti tidak pernah kehabisan energi.

***

Di sebuah desa terpencil.

Sebuah rumah papan tua berdiri di tengah permukiman yang jauh dari keramaian.

Di dalam rumah, terdapat meja dan beberapa kursi lama yang sudah usang. Seorang pria dan wanita paruh baya sedang makan bersama.

Di dekat mereka, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun duduk di lantai.

Wajahnya kotor, rambutnya berantakan, dan pakaiannya sudah lusuh.

Wajah anak itu terlihat sangat mirip dengan Bryan.

Di depannya terdapat beberapa potong pao yang sudah hancur dan jatuh ke lantai.

Anak itu menatap makanan tersebut dengan lapar.

Tangan mungilnya perlahan meraih potongan pao dari lantai.

Terlihat jelas beberapa bekas lebam di tangannya yang kecil.

Namun, anak itu tidak memedulikannya. Ia memasukkan potongan pao ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan lahap.

Setelah habis, tangannya kembali meraih potongan pao lainnya.

Pria dan wanita paruh baya yang sedang makan hanya melirik sebentar, kemudian kembali menikmati makanan mereka.

Anak itu tetap duduk di lantai, memakan sisa makanan yang jatuh tanpa berani meminta apa pun dari meja.

Tidak ada yang tahu bahwa anak laki-laki berusia tiga tahun itu adalah saudara kembar Bryan Lu.

Dan selama tiga tahun terakhir, ia tumbuh jauh dari kemewahan yang dinikmati saudara kembarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 9

    Bandara.Chloe Shen berjalan perlahan di tengah keramaian dengan mengenakan masker dan topi yang menutupi sebagian besar wajah serta rambutnya.Tubuhnya masih lemah setelah melahirkan, tetapi ia terus memaksakan diri untuk berjalan.Matanya bergerak waspada, memperhatikan setiap orang yang melewatinya.Sesekali Chloe menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya."Aku tidak boleh ditemukan."Tangannya menggenggam erat tali tas kecil yang dibawanya.Ia terus berjalan menuju ruang keberangkatan sambil menundukkan kepala agar wajahnya tidak mudah dikenali.Namun, rasa takut masih memenuhi hatinya.Jika Mike atau Linda menemukannya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.Chloe menarik napas dalam-dalam."Aku harus pergi dari sini sebelum mereka menemukanku."Ia kemudian mempercepat langkah menuju gerbang keberangkatan.Hari itu, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa Chloe telah meninggalkan kota kelahirannya.Ia pergi demi menghindari Mike dan ibu tirinya.D

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 8

    Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 7

    "Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 6

    Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 5

    Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.

  • Anak Sang Konglomerat Yang Hilang   Chapter 4

    Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status