Aku terbangun saat jarum jam dinding menunjuk ke angka lima. Langit di luar jendela mulai beranjak gelap, menandakan senja akan segera berganti malam. Televisi yang tadi menyala kini sudah mati. Entah siapa yang mematikannya. Aku sedikit bingung, tapi tak terlalu memikirkannya. Mungkin Ibu, mungkin juga suamiku.
"Kok rumah sepi banget? Ke mana ibu?" Aku celingukan. Sempat mencari ibu di beberapa ruangan, termasuk ke kamarnya. Tapi tidak ku temukan ibu di ruangan mana pun. Kamarnya pun terlihat rapi. Sepertinya Ibu sudah merapikannya sebelum dia pergi.
"Hm ... pasti dia ke luar buat ngerumpi lagi sama tetangga," gumamku sendiri.
Tanpa mempedulikan Ibu lagi, aku segera menyambar handuk. Lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi, tubuh terasa lebih ringan. Segala lelah seharian bekerja dan mengurus rumah seakan mengalir bersama air.
Aku mematut diri di depan cermin. Rambut sudah ku sisir rapi, taburan bedak dan olesan lipstik semakin mempercantik wajahku. Aku tersenyum di depan kaca setelah melihat penampilanku sempurna.
Seperti biasa, setelah mandi, aku paling suka menikmati udara sore dengan bersantai di depan rumah, ditemani secangkir kopi hangat dan suara tawa anak-anakku yang bermain di halaman.
Kuseduh kopi dengan gula sedikit lalu mengaduknya pelan. Dengan membawa cangkir itu, aku berjalan menuju teras rumah. Angin sore menyapa wajahku, lembut dan menenangkan. Namun, kedamaian itu hanya bertahan sejenak.
Baru saja aku meletakkan cangkir itu di atas meja kecil dekat jendela, bisik-bisik dari arah rumah sebelah mulai terdengar. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan, tetapi telingaku otomatis menajam ketika kudengar salah satu dari mereka menyebut namaku.
"Kayak ada yang nyebut namaku," gumamku sendiri. Kopi dalam cangkir itu ku seruput pelan-pelan. Dan semakin lama, aku semakin sering mendengar namaku diucapkan.
Ku palingkan tatapanku dari kegiatan anak-anak. Ada yang bermain sepeda dan ada juga bermain bola di jalan depan rumah. Tapi rumpian ibu-ibu terlalu menarik perhatianku. Mau tidak mau, aku beralih memperhatikan mereka.
"Wulan itu sebenarnya anak kandung Ibu atau bukan sih?" tanya Lastri, tetangga yang dikenal manis di depan, tapi tajam di belakang. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengannya. Tapi Ibu sangat dekat dengan dia. Tak jarang, dia bersikap seperti malaikat buat Ibu.
"Iya, anak kandungku. Memangnya kenapa? Bukannya wajahnya mirip denganku?" jawab Ibu. Suaranya lemah tapi berusaha terdengar tenang.
Aku mengintip sedikit dari balik jejeran pot bunga di samping kiriku. Kulihat Ibu sedang dikelilingi oleh tiga ibu-ibu tetangga: Lastri, Bu Yani, dan Bu Nur. Mereka duduk santai di kursi plastik halaman rumah Bu Yani, ditemani sepiring kue, pastel goreng, dan segelas teh manis. Anehnya, semua suguhan itu ditaruh di depan Ibu. Seolah ibu sanggup menghabiskannya seorang diri.
"Kalau dia anak kandung Ibu, kenapa bisa jahat dan pelit banget sama Ibu?" cecar Lastri lagi.
Ibu diam. Beberapa detik berlalu, tidak ada jawaban dari mulutnya. Ia hanya menunduk, memainkan ujung kebaya kunonya yang sudah terlihat lusuh dan sedikit robek di bagian lengan.
Padahal aku penasaran, ingin mendengar jawaban ibu selanjutnya. Apa yang akan dia katakan pada orang-orang tentangku. Apa dia akan menjelek-jelekkanku di depan mereka? Atau menutupi keburukanku selama ini?
Namun sekian detik berlalu, ibu hanya diam dan menunduk. Sampai perempuan-perempuan itu melanjutkan ucapannya.
"Iya. Aku juga dengar Ibu nggak boleh makan pudding yang dia buat. Memangnya harga pudding itu? Mahal banget ya? Sampai nggak boleh dimakan sama Ibu sendiri," sahut Bu Yani, yang duduk di sebelah kiri Ibu.
"Masak sih? Kelewatan banget si Wulan," timpal Bu Nur sambil mencibir.
Aku mengeratkan genggaman tangan. Rahangku mengeras. Bagaimana bisa mereka begitu tega menilai diriku hanya dari satu sisi cerita?
"Iya, sumpah. Aku dengar sendiri tadi pas jemur cucian. Nggak habis pikir aku. Katanya guru, tapi kelakuannya ke orang tua kayak gitu. Perhitungan banget. Masa Ibu disuruh makan nasi dingin sama tempe goreng sisa kemarin?" lanjut Lastri, seperti menambahkan garam ke luka yang sudah terbuka.
"Kalau mau lihat contoh anak durhaka, ya si Wulan itu orangnya. Memangnya dia pikir dulu lahir dari batu?" timpal yang lain.
Aku tahu dari mana mereka tahu semua itu. Dari Ibu sendiri. Siapa lagi yang bisa menceritakan semuanya kalau bukan ibuku sendiri.
"Sudah, Bu. Makan dulu kuenya. Biar perut Ibu kenyang. Nanti kalau dibawa pulang malah dirampas sama Wulan," kata Bu Yani dengan nada kasihan, tapi terdengar seperti sindiran yang ditujukan padaku.
"Iya, Bu. Makan yang banyak. Kalau kita mah nggak pernah pelit soal makanan. Nggak kayak si Wulan."
Rasanya aku ingin keluar dan membantah semuanya. Tapi aku menahan diri. Bukan karena takut, melainkan karena marahku sudah mencapai puncak. Kalau aku keluar sekarang, bisa-bisa aku berkata kasar di depan umum. Lebih baik aku menunggu.
Adzan Maghrib mulai terdengar dari masjid dekat rumah. Ibu bangkit dari tempat duduknya dan pamit pulang. Langkahnya pelan dan goyah, seperti tak kuat menanggung beban tubuh dan perasaannya. Tapi aku tak iba. Tidak setelah semua yang kudengar tadi.
Begitu Ibu sampai di depan pintu rumah, aku sudah menunggunya. Berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang, menatapnya tajam.
"Habis ngadu apa ke tetangga?" tanyaku, nadaku tinggi, penuh kemarahan.
Ibu menggeleng cepat dengan ekspresi panik. "Eng... Enggak ngadu apa-apa, Lan," jawabnya pelan, hampir seperti bisikan. Tubuhnya gemetar.
Ibu menunduk. Tidak berani menatap wajahku. Matanya basah. Tapi tidak ada lagi kata-kata yang ke luar dari bibirnya untuk membela diri.
"Ingat ya, Bu! Ini rumahku. Semua aturan di sini aku yang nentuin. Kalau Ibu nggak betah tinggal di sini, sana pergi tinggal sama anak-anak kesayangan Ibu! Itu pun kalau Ibu diterima sama menantu-menantu ibu." Aku memberinya ultimatum.
***Kutarik napas dalam-dalam. Udara di sini memang masih bersih, belum banyak tercemar polusi seperti di pusat kota, tapi tetap saja dadaku terasa sesak. Ada yang menekan di dalam sana—sesuatu yang tidak bisa kulihat tapi kurasakan jelas. Seperti gumpalan awan kelabu yang menggantung di langit-langit dada, siap menurunkan hujan air mata kapan saja.Aku melirik ke sekeliling. Jalan setapak menuju perpustakaan itu sunyi, hanya ada beberapa murid yang lalu-lalang. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri.Kadang rasa khawatir ini membuatku sulit mengendalikan diri. Seolah ada bara yang tak kunjung padam di dalam hati. Ingin menangis, tapi di sini bukan tempat yang bagus untuk meluapkannya.Langkah kakiku berderap pelan, menyusuri lorong panjang menuju perpustakaan. Aroma buku tua dan AC yang sedikit bocor dari dalam sudah mulai tercium. Tapi justru di sela-sela kesunyian ini, kenangan masa kecilku kembali menyeruak, hadir dengan begitu jelas seolah b
"Harusnya tidak perlu kalau hanya untuk sepotong roti, Bu. Kecuali jika anak ibu terlalu pelit dan perhitungan," ujar Asih dengan nada dingin yang penuh sindiran. Ia memang selalu punya cara menyulut emosi, terutama emosiku."Sudah, sudah. Asih, ayo kita kembali ke depan!" akhirnya ibu kepala sekolah turun tangan, menengahi sebelum percakapan di dapur itu menjadi semakin tak terkendali."Ibu katanya tadi mau ke toilet," celetuk Kinanti dengan polos, entah sengaja atau tidak."Ndak usah. Nanti saja," sahut ibu kepala sekolah cepat-cepat, lalu pergi dengan langkah cepat kembali ke ruang utama.Satu per satu staf dan guru meninggalkan dapur. Beberapa yang tadinya hendak ke toilet mendadak berubah pikiran, mungkin karena ingin menghindari canggungnya suasana. Hening menggantung di udara seperti lem yang menempel di tenggorokan. Anak-anakku membantuku mengeluarkan suguhan ke meja tamu. Tapi saat acara selesai, aku sadar banyak piring masih penuh. Kue-kue yang sudah susah kusajikan tak ter
Sedangkan yang lain masih tertegun berdiri di tempatnya, Asih langsung menyelonong melewatiku tanpa peduli pada tatapan semua orang. Dia melangkah cepat, nyaris tergesa, seolah ingin segera menghapus pemandangan yang tak layak dari depan matanya.Ia menghampiri ibu yang terduduk lemas di lantai. Ibu sedang berusaha membersihkan bungkus roti bluder yang jatuh dan kini kotor terkena debu. Tangannya gemetar, bukan hanya karena usia, tapi karena malu. Mata ibu menunduk, seakan ingin lenyap dari tempat itu."Ayo saya bantu bangun, Bu!" ucap Asih sembari meraih tangan ibu. Nadanya terdengar tegas, tapi juga menyiratkan amarah yang dipendam. Ia mengangkat tubuh ibu perlahan. Ibu berdiri dengan terbata, lalu meletakkan kembali roti bluder itu ke atas piring.“Jangan dikembalikan, Bu! Ambil saja. Biar saya yang bayar!” kata Asih, tajam.Tangannya menyelusup ke dalam tas selempang cokelatnya, lalu mengeluarkan dompet bermerk yang seolah ikut bicara bahwa dia punya cukup—atau lebih—untuk mengat
Satu minggu kemudian...Sejak pulang kerja, aku sibuk wira-wiri mengambil pesanan makanan untuk acara arisan guru hari ini. Beberapa penjual bersedia mengantar ke rumah, tapi ada juga yang menolak pengantaran, jadi aku harus mengambilnya sendiri. Badanku lelah, tapi kupaksakan demi jamuan yang sempurna. Aku ingin semuanya tampak rapi dan enak disajikan. Tidak boleh ada yang kurang."Satu, dua, tiga ..." Aku menghitung satu-satu makanan apa yang sudah tersaji di meja. Di ruang makan, beberapa buah segar sudah siap tersusun di atas meja. Anak-anak membantuku menatanya ke dalam piring-piring saji. Mereka tampak semangat, walaupun sesekali tangan mereka hendak mencomotnya. Kue-kue basah baru saja diambil oleh Danar dan langsung dipindahkan ke nampan panjang berlapis renda. Aku mengatur semuanya dengan detail, seolah ini bukan sekadar arisan, tapi pesta penting yang harus sempurna."Tinggal bluder yang belum datang," gumamku sambil melihat jam dinding."Tolong coba hubungi kontak karyawa
Pagi yang dimulai seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri di balik jendela kamar, tapi suara aktivitas dari dapur dan jalanan kecil di depan rumah sudah mulai terdengar. Aku tengah bersiap untuk berangkat kerja. Baju kerja sudah rapi tergantung di gantungan belakang pintu, tas sudah aku susun sejak malam. Anak-anak sudah berangkat lebih dulu bersama ayahnya. Rumah terasa sedikit lebih sepi setelah kepergian mereka.Namun, ada satu suara yang sedari malam belum juga hilang—tangisan bayi yang memekakkan telinga.Sejak semalam, suara itu tak berhenti. Tangisan panjang, sesenggukan, lalu kembali meraung. Ibu bolak-balik ke ruang tamu, sesekali mengintip dari balik gorden. Wajahnya muram. Aku yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya membuka suara."Anak siapa sih yang nangis terus dari tadi malam, Bu? Bikin tidur nggak nyenyak," gerutuku sambil memijat pelipis. Mataku terasa berat. Kepala pun berdenyut. Rasanya aku hanya sempat tidur satu atau dua jam malam tadi."Ya
Tanpa mencium tangannya seperti biasa, aku menyalakan motor dan melesat pergi. Mood-ku sudah rusak sejak sore, dan sekarang makin keruh. Aku benci diceramahi. Aku bukan anak kecil. Aku tahu apa yang aku lakukan. Dan Lastri... dia memang sudah keterlaluan. Dia yang duluan memulai drama itu di depan ibu-ibu kompleks."Kenapa dia selalu dibela? Selalu dianggap baik sedangkan aku adalah sebaliknya. Padahal aku nggak pernah ngusik hidup orang lain. Soal bagaimana perlakuanku pada ibu, itu urusanku." Aku mendumel sepanjang jalan. Entahlah ... rasanya ibu dan suamiku selalu memihak pada Lastri. Padahal dia bukan siapa-siapa. Sengaja kupacu motor dengan kecepatan tinggi meski dingin angin terasa menyiksa. Sesampainya di rumah Kinanti, suasana lebih hangat. Rumah kecilnya penuh suara tawa dan obrolan para guru. Sejenak, beban yang menyesakkan dadaku sedikit terangkat."Kenapa, Buu, kok wajahnya ditekuk begitu? Biasanya datang sumringah," goda Kinanti yang menyambutku di depan. "Lagi bete,"