LOGINLangit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut menanggung beban hati Nayla. Dari balik jendela kamarnya, ia menatap keluar—jalanan basah seusai hujan, pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin, dan langit yang tak jemu menutup sinarnya. Ada kesan muram yang menempel pada udara, membuat ruang sempit itu terasa semakin sesak.
Di meja belajarnya, buku-buku berserakan. Seharusnya ia sedang menyiapkan bahan untuk presentasi kuliah besok, tetapi konsentrasinya buyar sejak tadi. Pena hanya berputar di tangannya, meninggalkan coretan-coretan tak bermakna di pinggir kertas. Pikirannya melayang pada pertemuan terakhirnya dengan Elhan. Tatapan mata lelaki itu masih jelas terbayang—penuh keretakan, penuh beban yang sulit diurai. Kata-katanya terngiang begitu saja, membuat Nayla berkali-kali menelan pahit: “Mamaku nggak akan pernah merestui hubungan kita.” Seketika, Nayla menutup matanya rapat-rapat. Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia benci terlihat rapuh, bahkan oleh dirinya sendiri. Namun, semakin ia mencoba menguatkan diri, semakin nyata luka itu terasa. Ponselnya bergetar di meja. Sebuah pesan masuk. Jantung Nayla berdegup lebih cepat, berharap itu dari Elhan. Namun, saat layar menyala, hanya notifikasi grup kelas. Ia menarik napas panjang, kecewa, lalu meletakkan kembali ponselnya dengan kasar. “Kenapa semua harus serumit ini?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. “Nayla, Mama boleh masuk?” suara ibunya terdengar lembut, tetapi justru membuat Nayla panik. Ia cepat-cepat menghapus bekas air mata di pipinya. “Iya, Ma. Masuk aja,” jawab Nayla dengan suara yang ia paksakan agar terdengar biasa. Pintu terbuka, dan ibunya melangkah masuk dengan senyum tipis. Di tangannya, ada secangkir teh hangat. “Mama bikinin teh, biar kamu lebih rileks. Dari tadi Mama lihat kamu murung terus. Ada apa, Nak?” Nayla menerima teh itu, berusaha tersenyum. “Nggak apa-apa, Ma. Cuma capek aja. Banyak tugas.” Ibunya menatap lekat, seolah tahu ada sesuatu yang lebih besar tersembunyi di balik kata-kata itu. Namun, ia tidak mendesak. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menepuk lembut punggung tangan Nayla. “Capek itu wajar, tapi jangan dipendam sendiri, ya. Kalau ada yang mau kamu ceritakan, Mama selalu siap dengar,” katanya lirih. Nayla mengangguk, meski hatinya justru semakin berat. Ada dorongan besar untuk bercerita, untuk mengatakan bahwa ia sedang hancur karena restu seorang ibu—ibu dari lelaki yang begitu ia cintai—tak pernah bisa ia miliki. Namun, lidahnya kelu. Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini tanpa membuat ibunya khawatir? Teh hangat itu ia teguk perlahan. Rasanya manis, tetapi tak mampu mengusir getir yang bersarang di dadanya. Di dalam hati, Nayla berdoa dalam diam. “Ya Tuhan, kalau memang cinta ini bukan untukku, kenapa Kau pertemukan aku dengannya? Kenapa Kau tanamkan rasa yang begitu dalam, kalau akhirnya harus hancur seperti ini?” Sore itu, angin berembus dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma sisa hujan. Nayla memejamkan mata, membiarkan angin menyapu wajahnya. Ada perasaan aneh—seolah angin itu membawa kabar dari Elhan, kabar yang tak pernah bisa ia terima langsung. Dan tanpa sadar, ia berbisik lirih, “Elhan…” Ibunya menoleh heran. “Kamu bilang apa, Nay?” Nayla tersentak, buru-buru menggeleng. “Nggak, Ma. Cuma… ngomong sendiri.” Ia tersenyum kaku, berusaha menutupi kegugupannya. Ibunya menghela napas, seakan ingin menanyakan lebih jauh, tetapi memilih untuk tidak melanjutkan. Ia hanya berdiri, merapikan sedikit buku-buku di meja, lalu berkata pelan, “Ya sudah, kalau butuh Mama, panggil aja. Jangan terlalu keras sama diri sendiri, Nak.” Setelah ibunya keluar, Nayla menatap cangkir tehnya yang masih mengepul. Hatinya semakin bergetar. Malam ini, ia tahu, tidur tidak akan datang dengan mudah. Sebab bayangan Elhan selalu hadir, bersama restu yang hilang di antara mereka. Malam turun perlahan, membawa gelap yang dingin. Kota kecil itu terbungkus dalam hening, hanya sesekali terdengar deru kendaraan yang melintas. Di kamar Nayla, lampu meja belajar menyala temaram. Buku-buku tetap terbuka, tetapi tak satu pun yang benar-benar ia baca. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. Pikirannya berkelana jauh, kembali pada semua momen bersama Elhan. Senyumnya, caranya berbicara, bahkan nada suaranya saat memanggil namanya—semua itu terus berulang, seperti rekaman yang tak mau berhenti. Nayla menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. Ia benci merasa selemah ini. Namun, bagaimana bisa ia tidak hancur, ketika orang yang paling ia percaya, yang paling ia cintai, justru harus menjauh bukan karena tak lagi cinta, melainkan karena restu yang tak pernah ada? Di meja, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, ia tak berani langsung melihat. Hatinya terlalu lelah berharap. Tapi dorongan itu terlalu kuat—akhirnya ia meraih ponsel dan membuka layar. Sebuah pesan singkat. Dari Elhan. “Maaf, Nay. Aku butuh waktu.” Hanya itu. Empat kata yang terasa seperti palu besar menghantam dadanya. Tangannya gemetar, matanya panas. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali, berharap ada kata lain yang terlewat. Namun tidak. Hanya empat kata yang dingin, yang mengiris lebih tajam dari pisau. Nayla menarik napas panjang, mencoba membalas, tapi jemarinya ragu di atas layar. Apa yang harus ia tulis? “Jangan pergi”? “Aku butuh kamu”? Semua kata terasa sia-sia. Pada akhirnya, ia hanya mengetik satu kalimat pendek: “Aku tunggu.” Jempolnya ragu sebelum menekan tombol kirim. Tapi ia tahu, itu satu-satunya kalimat yang bisa ia sampaikan tanpa terdengar memaksa. Ponsel kembali ia letakkan di meja. Tubuhnya ia rebahkan di ranjang, menatap langit-langit kamar yang redup. Air mata akhirnya jatuh, satu per satu, tanpa bisa ia cegah. Dalam keheningan itu, ia mendengar suara hatinya sendiri: “Kalau cinta ini hanya akan jadi angin… semoga ia tetap singgah di antara kita.” — Di sisi lain kota, Elhan duduk di dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan. Lampu-lampu kota berkilau di kejauhan, tetapi hatinya terasa gelap. Ponselnya tergeletak di kursi samping, masih menampilkan pesan balasan Nayla: Aku tunggu. Matanya memanas. Jemarinya mengetuk setir berulang kali, mencoba mengalihkan gejolak dalam dadanya. Ia ingin membalas lebih banyak, ingin berkata jujur bahwa ia pun hancur dengan semua ini. Tapi bayangan wajah ibunya kembali hadir—wajah keras yang tak pernah memberi ruang sedikit pun untuk kelembutan. “Kenapa harus serumit ini…” gumamnya lirih. Ia bersandar, menutup mata. Kepalanya penuh suara-suara: suara Nayla, suara ibunya, dan suara hatinya sendiri yang terus bertarung. Andai saja restu itu ada, mereka tak perlu seperti ini. Andai saja cinta cukup, mereka tak perlu mengalah pada keadaan. Tapi kenyataan tak bisa diubah hanya dengan “andai.” Elhan membuka matanya, menatap layar ponsel sekali lagi. Pesan Nayla yang sederhana justru membuat hatinya semakin sakit. Karena ia tahu, selama Nayla menunggu, semakin besar luka yang akan ditorehkan waktu. “Maafkan aku, Nayla…” bisiknya, hampir tak terdengar. Ia memutar kunci mobil, mesin menyala, dan roda mulai bergerak. Namun ke mana pun ia pergi malam itu, satu hal pasti hatinya tertinggal pada seseorang yang sedang menangis di kamarnya. Rumah itu sunyi, hanya terdengar detik jam dinding yang berdetak lambat. Elhan melangkah masuk pelan, melepas sepatunya dengan hati-hati. Namun ia tahu, sepelan apa pun gerakannya, ibunya selalu bisa merasakan kehadirannya. Dan benar saja—belum sempat ia menaruh tas, suara tegas itu terdengar dari ruang keluarga. “Elhan, kamu dari mana?” Elhan terdiam sejenak, menarik napas, lalu berjalan masuk. Ibunya duduk di sofa, dengan sikap anggun dan wajah dingin yang nyaris tak pernah berubah. Matanya tajam, seolah bisa menembus lapisan apa pun yang coba disembunyikan Elhan. “Baru pulang, Ma,” jawabnya singkat. “Pulang dari mana?” Nada ibunya meninggi sedikit. “Jangan bilang kamu habis ketemu… dia.” Ada jeda panjang sebelum Elhan menjawab. Tatapan ibunya menusuk, membuat kata-kata tercekat di tenggorokan. Akhirnya, ia hanya mengangguk kecil. Ibunya menghela napas kasar, lalu menegakkan tubuh. “Berapa kali Mama bilang, perempuan itu bukan untuk kamu. Dia tidak selevel dengan kita, Han. Kamu masa depan keluarga ini. Jangan buang waktu untuk sesuatu yang nggak mungkin.” Elhan mengepalkan tangan. Kata-kata itu sudah terlalu sering ia dengar, tapi setiap kali diucapkan, luka yang ditorehkan tetap terasa baru. “Ma, Nayla bukan ‘sesuatu yang nggak mungkin’. Dia nyata. Dia… satu-satunya yang bikin aku merasa hidup.” “Cukup, Elhan!” suara ibunya menggema di ruang keluarga, tajam seperti cambuk. “Kamu buta. Mama nggak akan pernah izinkan hubungan itu. Titik.” Elhan menatap ibunya lama, matanya berkaca-kaca tapi penuh perlawanan. “Kenapa, Ma? Karena status? Karena keluarga? Apa semua itu lebih penting daripada kebahagiaan anakmu sendiri?” “Mama tahu yang terbaik,” jawab ibunya datar, tanpa ragu. “Dan yang terbaik bukan dia.” Hening. Hanya ada suara detik jam yang kembali terdengar, seolah ikut menekan dada Elhan. Ia ingin berteriak, ingin melawan, tapi suaranya seakan hilang. Akhirnya ia hanya berkata pelan, hampir seperti bisikan, “Kalau begitu… izinkan aku memilih jalanku sendiri.” Ibunya mendengus, menatapnya tajam, lalu berdiri. “Selama kamu masih anak Mama, kamu harus ikut aturan Mama. Ingat itu.” Langkah ibunya meninggalkan ruang keluarga, meninggalkan Elhan yang berdiri sendiri dengan napas berat dan hati yang remuk. Ia duduk, menunduk, menekan wajahnya dengan kedua tangan. Dunia terasa semakin sempit, semakin sesak. Cinta di satu sisi, restu di sisi lain. Dan keduanya, seolah mustahil dipertemukan. Malam itu Elhan tak bisa tidur. Ia berulang kali berguling di ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa semakin menekan. Bayangan wajah Nayla terus muncul di pikirannya—senyumnya, matanya yang bening, juga suara rapuhnya yang memohon agar ia jangan pergi. Tapi di sisi lain, suara ibunya pun masih menggema, dingin dan tegas, seakan tak memberi celah sedikit pun untuk bernegosiasi. Elhan bangkit, duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. Jemarinya bergetar ketika ia meraih ponsel. Sudah hampir tengah malam, tapi ia tahu Nayla pasti masih terjaga. Pesan-pesan di layar membuat dadanya makin sesak: “Han, aku takut ini semua benar-benar berakhir.” “Kamu masih milih aku kan, Han? Katakan iya, walaupun cuma sekali lagi.” Elhan menutup mata, menahan gejolak yang membuat dadanya bergetar hebat. Ia ingin membalas, ingin menenangkan, tapi jemarinya ragu di atas papan ketik. Kata-kata yang ingin ia tulis terasa sia-sia, karena kenyataan tetap akan memisahkan mereka. Akhirnya ia hanya mengetik singkat: “Aku sayang kamu.” Hanya itu. Sederhana, tapi penuh luka. Pesan terkirim, dan ia meletakkan ponsel di meja. Elhan menengadah, menatap langit-langit sekali lagi. “Kalau cinta ini memang harus berakhir sekarang… semoga angin masih bisa membawaku kembali padanya suatu hari.” Suara angin di luar jendela berembus lembut, seakan menjawab doa yang ia titipkan. Namun Elhan tahu, esok pagi, ia harus kembali menjalani peran: menjadi anak yang taat, menyembunyikan cintanya, dan menanggung luka sendirian. Dan di sudut kota lain, Nayla pun memandang layar ponselnya dengan air mata. Pesan singkat itu baginya bukan jawaban, melainkan janji samar—janji yang mungkin bisa ia pegang, atau justru hancur bersama waktu. Malam pun semakin larut, meninggalkan dua hati yang saling mencinta, tapi dipaksa berjauhan oleh restu yang tak kunjung datang.Sam tidak pernah menyangka bahwa keputusannya menerima tawaran kerja sama jangka panjang dari Elhan semalam akan membuat kepalanya penuh semalaman. Bukannya gelisah… tapi terlalu banyak hal yang ikut berputar bersamaan. Antara profesional dan personal, antara kepercayaan dan keberanian, antara dirinya yang dulu dan dirinya yang mulai berubah sekarang. Pagi ini, Sam masuk kantor dengan napas yang terasa lebih mantap dari biasanya. Banyak beban yang secara perlahan terangkat. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka—apa pun ini nanti disebut—Elhan memberi kepastian yang konkret. Bukan hanya kata-kata, tapi tindakan yang nyata. Saat Sam melewati koridor lantai tujuh, ia melihat—seperti sudah menjadi kebiasaan baru—ruang kerja Elhan pintunya sedikit terbuka. Lampu di dalam sudah menyala. Elhan sudah datang. Sam berniat langsung ke mejanya… tapi Elhan memanggil dari
Sam rasa hidupnya berubah terlalu cepat dalam beberapa minggu terakhir. Bukan perubahan yang membuatnya terengah–engah, tapi perubahan yang justru membuatnya… bernapas lebih nyata. Tidak sesak. Tidak menunggu badai datang.Perubahan yang sebagian besar—disengaja atau tidak—gara-gara Elhan.Pagi itu, Sam sudah di kantor lebih awal. Biasanya dia datang mepet jam, tapi sejak bekerja dekat dengan Elhan akhir–akhir ini, ia mulai menata ulang ritme hidupnya. Tidak dipaksa, tapi seperti tubuhnya sendiri yang mendorongnya bergerak lebih rapi.Ia sedang membuka laptop ketika seseorang mengetuk pintu.“Masuk.”Pintu terbuka, dan Elhan muncul. Dengan kemeja abu gelap, lengan tergulung, rambut sedikit acak tapi entah kenapa tetap enak dipandang.Sam mengerutkan dahi. “Kamu biasanya nggak datang sepagi ini.”“Ada rapat jam sembilan.” Elhan menutup pintu. “Dan aku mau bicara dulu sama kamu.”Sam langsung waspada. “Tentang apa
Ada hal-hal yang tidak pernah Sam kira akan ia alami seperti duduk bersebelahan dengan Elhan di ruang kerja kecilnya sambil sama-sama membaca laporan, tetapi tanpa ada jeda canggung di antara mereka. Padahal dulu, kedekatan lima menit saja bisa membuat seluruh tubuh Sam tegang. Sekarang? Tenang. Tidak sepenuhnya santai—Elhan terlalu… intens untuk membuat seseorang santai sepenuhnya—tapi nyaman dengan cara yang membuat Sam heran pada dirinya sendiri.Elhan membaca cepat, menandai beberapa catatan di tablet, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Yang ini perlu direvisi. Formatting-nya kacau.”Sam mengangguk. “Kau sudah periksa bagian belakang?”“Sudah,” jawab Elhan tanpa melihat. “Tinggal ini.”Mereka bekerja beberapa menit dalam hening. Hening itu bukan kosong—lebih seperti ritme baru yang sedang mereka temukan bersama. Sampai akhirnya Sam sadar sesuatu: ia tidak lagi menunggu Elhan tiba-tiba berubah, pergi, atau menjauh. Tidak ada ketakutan yang meng
Sam selalu mengira setelah Elhan akhirnya jujur, segalanya akan langsung terasa ringan. Nyatanya tidak. Bukan dalam arti berat—lebih seperti… kerasanya denyut baru dalam hidupnya, sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi begitu datang malah membuat dadanya penuh cara yang tidak ia mengerti.Elhan berubah. Bukan drastis, tapi nyata.Ia lebih hadir. Lebih memperhatikan. Lebih sering memastikan Sam benar-benar baik, bukan sekadar menjawab “baik” untuk mengakhiri pembicaraan. Tapi belum sempat Sam benar-benar menyesuaikan diri dengan versi baru Elhan itu, semesta seperti memutuskan untuk mengetes mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.⸻Hari itu Sam sedang sibuk dengan laptopnya ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Ia tidak menoleh, hanya menjawab, “Masuk aja.”Pintu terbuka—dan seseorang berdiri di sana. Seseorang yang membuat Sam otomatis menegang.Damar.“Kamu sibuk?” tanyanya, suaranya seperti biasa—tenang, rapi, dan t
Elhan tidak pernah membayangkan hari itu akan datang hari ketika semua kebisuannya akhirnya menuntut jawaban. Hari ketika ia tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Sam, dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik ketakutannya sendiri.Sejak kejadian malam itu—ketika Sam menangis tanpa suara di depan pintu rumah sakit, sementara Elhan hanya bisa mengusap punggungnya seperti orang pengecut yang tidak tahu harus berkata apa—pikiran Elhan terus berputar liar. Tidak pernah ada satu malam pun yang benar-benar ia lalui tanpa memikirkan Sam.Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, ia berhenti melarikan diri.⸻Sam baru saja keluar dari ruangannya ketika Elhan sudah berdiri di depan pintu, bersandar dengan tangan menyilang. Bukan dingin. Bukan acuh. Tapi seperti seseorang yang sudah siap membongkar semua yang ia simpan selama ini.“Sam,” panggilnya pelan.Sam berhenti. Jantungnya menegang, seolah tubuhnya tahu lebih dulu bah
Sulit untuk benar-benar memahami bagaimana seseorang bisa menghilang, tapi tetap hadir di setiap ruang yang kita lewati. Elhan mungkin tak lagi menyapa, tak lagi muncul dalam keseharian Nayla, namun jejaknya… entah kenapa justru terasa semakin nyata belakangan ini.Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada langit senja—hari itu berjalan biasa saja. Tapi justru karena “biasa”, semuanya terasa makin kosong.Nayla baru keluar dari kelas ketika pundaknya hampir bersenggolan dengan seseorang. Ia menoleh—dan jantungnya berdegup lebih keras dari seharusnya.Bukan Elhan.Tapi tubuh tinggi itu, cara dia berdiri, cara ia memegang tas di satu sisi bahu… semuanya mengingatkan pada orang yang sudah berminggu-minggu menghilang. Sekilas saja cukup untuk membuat seluruh pertahanan yang ia bangun rapuh lagi.“Sering banget ya, kamu ngeliatin orang tapi kayak kecewa sendiri,” suara Rara muncul dari belakang, membuat Nayla tersentak.“Aku nggak ke







