Share

Bab III

Author: Lee
last update publish date: 2026-09-04 10:19:58

Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.

“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.

Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”

Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.

“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.

Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. 

“Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.

Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan beberapa bulan lalu di telepon?”

Launa mengangguk, tangan kanannya terangkat saat ada waiters dalam jangkauan matanya.

“Kopimu–”

“Ehh, coklat hangat saja!” potong Ben cepat. Pelayan mencatat dan menjauh.

“Sesuai dengan apa yang kita bahas di telepon, kamu sudah pahamkan?” ujar Launa langsung to the point, matanya menatap keluar jendela Atelier du Pain. Langit sudah gelap, lampu-lampu jalanan menyala satu per satu.

“Jujur aku ingin tahu alasanmu,” ujar Ben dengan nada hati-hati. “Tapi apa itu menjadi salah satu bagian dari privasi klien?”

Bibir Launa yang dipoles lipstik warna ungu muda merekah, dia terkekeh mendengar perkataan temannya itu. Memang sebenarnya mereka sudah berteman sejak lama, sejak zaman kuliah. Ben adalah pemuda yang berbakat di bidangnya, Launa percaya kalau keputusannya tidak salah untuk memilih Ben. Obrolan kali ini soal bisnis, bukan temu kangen. Jadi harus profesional satu sama lain.

“Akan aku transfer biayanya malam ini, Ben,” kata Launa tanpa menjawab pertanyaan Ben sebelumnya.

“Baiklah, sebenarnya kamu bisa membayarku saat sudah ada hasilnya.” Ben berseloroh. Kemudian dia menyambut coklat hangat yang diangsurkan tangan waiters.

“Ingat, Ben. Aku tidak main-main untuk yang ini!” desis Launa pelan namun menekan, seperti takut ada orang lain yang mendengarnya.

“Aku paham, tapi sebenarnya dia ini siapa, sih?” tanya Ben dengan tatapan menyelidik.

Launa diam beberapa saat.

“Dia adalah orang yang ingin kupastikan tidak menyembunyikan apapun!” 

“Launa, kamu mengertikan kalau aku mulai bertugas mencari sesuatu, maka aku berhak tahu apa sebenarnya yang sedang kucari?

Launa tidak menjawab, dia menatap cangkir espressonya yang mulai dingin.

“Hmm? Aku tidak peduli alasanmu melakukan ini, tapi katakan, dia ini siapa bagimu?” tekan Ben.

“Baiklah, dia orang yang sangat penting untukku, aku ingin tahu dia benar-benar sesuai dengan yang terlihat selama ini atau tidak,” jawab Launa cepat. Lebih cepat dari yang dibutuhkan.

Ben mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk samar. Mengambil tab yang ada dalam tasnya, mulai membuka beberapa file yang sudah disiapkan sebelum bertemu Launa. Sebuah artikel muncul di layar.

“Namanya Dominic Kendrik, usia 30 sekian, pemilik perusahaan alat berat, menikah sekitar 7 tahun lalu.”

“Aku tahu, Ben!”

“Setahun lalu, istrinya meninggal?”

Launa diam, wajahnya menegang.

“Polisi menganggap ini adalah bunuh diri,” lanjut Ben dengan nada pelan.

“Tapi ada sesuatu yang menarik.” Tatapan Ben beralih ke Launa. “Kendrik adalah orang pertama yang menemukan istrinya.”

Launa membenahi rambutnya sambil mendengus. “Aku sudah tahu itu.”

“Lalu apa yang sebenarnya sedang kamu cari?”

“Apa yang dia lakukan setelah istrinya meninggal.”

***

Kendrik membuka pintu rumahnya, dan sepi menyambut. Tidak ada yang berubah sejak setahun terakhir.

Setelah melempar jasnya ke sofa, dia menuju dapur, membuka kulkas untuk mengambil air. Duduk di meja makan sambil minum air dingin. Bayangan dua cangkir di atas meja itu masih membayangi ingatan Kendrik. 

Sora tidak minum kopi, tapi saat itu ada dua cangkir, satu kopi sudah diminum, dan satu lagi masih penuh. Seperti ada tamu yang datang sebelum Kendrik sampai ke rumah.

Tapi Sora tidak mengatakan apapun soal siapa yang datang, seandainya dia memberitahu Kendrik siapa yang datang malam itu. Mungkin saja orang itu adalah alasan kuat Sora memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Kemudian Kendrik tenggelam dalam pikirannya, mengingat masa-masa itu. Sebelum dia menemukan Sora dalam keadaan paling buruk selama hidupnya, kemana dia? Seingatnya dia pulang dari kantor.

Kendrik beranjak dari duduknya, mengambil ponsel dan membuka kalendar setahun lalu, tepat di hari dan tanggal kejadian itu. Hari Sabtu. Pulang dari kantor? Kenapa ingatannya sekacau ini. Sebenarnya mungkin saja dia pulang dari bertemu dengan klien, tapi Kendrik mau memastikannya ke Sophia besok.

Dua cangkir kopi di rumahnya, agendanya di hari itu, Kendrik berusaha kuat menggali ingatan yang telah lama ingin ia timbun dalam-dalam. Kemudian sampai di sebuah kesimpulan dangkal, jangan-jangan orang yang membuatnya keluar rumah hari itu, ada hubungannya dengan orang yang bertamu menemui Sora saat Kendrik tak ada di rumah.

Dalam rasa penat dan bingungnya, Kendrik mendapat sepenggal ingatan yang dia anggap penting. Sora pernah mengatakan sahabatnya akan datang, beberapa hari sebelum kejadian malam itu.

“Agatha,” gumam Kendrik melafalkan nama sahabat Sora yang kataya akan datang.

“Dia pasti ada hubungannya, atau setidaknya tahu alasan Sora melakukan itu!” kata Kendrik dalam kesendiriannya. Mendadak dia seperti mengalami euforia sesaat, seperti seorang detektif yang baru saja menemukan petunjuk.

Kendrik langsung membuka ponselnya, memeriksa satu per satu nomor telepon sahabat Sora yang mungkin saja bisa ditanyai mengenai orang bertama Agatha itu. Tapi jam di sudut layar ponsel membuatnya mengurungkan niat, sudah terlalu malam untuk menghubungi seseorang.

Akhirnya dia memutuskan untuk membuka email dari akun Sora yang masuk sejak siang.

‘Subjek: Kendrik, Kamu Pasti Tahu!

Sudah kubilang jangan percaya siapapun, Kendrik! Kamu Pasti mengenal orang itu!’

Dahi Kendrik berkerut samar, selalu email itu banyak mengingatkan Kendrik untuk tidak percaya siapapun, seolah dia sangat mengenal orang yang telah membuat Sora mengakhiri hidupnya.

Masalahnya, email itu pun Kendrik tidak tahu dikirim oleh siapa. Bisa saja si pelaku yang meretas akun Sora dan membuat keadaan seolah-olah Sora bisa mengirim pesan dari dalam kuburan.

Kemudian mengecohnya, membuat cerita dan ungkapan-ungkapan palsu agar Kendrik semakin jauh dari faktanya.

Dalam setahun ini Kendrik berusaha keras berdamai dengan keadaan, dengan ingatan buruknya, lalu email-email itu datang mengusiknya. Membuat hidupnya semakin tak tenang. Sedikit banyak membuat rasa dendamnya bangkit kembali, ingin rasanya dia bertemu orang yang menjadi alasan Sora melakukan itu dan menghadiahi beberapa pukulan telak di rahangnya.

Tubuhnya bersandar pada sofa yang empuk dan lembut, barang-barangnya dari kantor masih berserakan di sekitar. Rasa lelah menyelimuti, membuatnya ngantuk tak tertahankan. Beberapa kali dia menguap sambil menatap langit-langit, sementara pikirannya melayang entah kemana.

Perlahan kesadarannya menurun, kelopak matanya terasa berat. Sementara orang yang telah menanti dari dalam mobil sejak Kendrik belum pulang dari kantor kini sudah berada di teras rumah.

Dalam bayangan gelap, orang itu mengawasi Kendrik. Napasnya begitu tenang dan terlatih. Tak ada suara yang keluar dari tempat persembunyiannya.

Tak lama Kendrik membuka mata, meregagkan tubuhnya sejenak sementara sorot matanya tajam menyapu sekitar, kemudian dia melangkah ke lantai dua dengan langkah berat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB V

    Sophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia.“Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya.Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain.“Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar.Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.”“Apa yang ingin kamu ketahui?”“Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat.“Bagaimana bisa hal seperti ini…”Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menur

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB IV

    “Halo.”“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.“Aku tidak ingat pernah memesannya?”Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu menga

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab III

    Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. “Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan b

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB II

    “Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.Kringgg!Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’“Launa?” gumamnya heran.Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang m

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab I

    “SORA!”Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon.Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru.Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah.Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya.Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.“Sora?” Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras.Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman.Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana.“Sayang… bangun!”Kendrik mengangkat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status