Share

BAB II

Author: Lee
last update publish date: 2026-09-03 07:23:06

“Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.

“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”

Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.

Kringgg!

Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.

Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.

Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.

‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’

“Launa?” gumamnya heran.

Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang mereka bicarakan saat itu. Sampai Kendrik benar-benar merasa tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.

Tidak ada nomor telepon yang bisa Kendrik hubungi. Launa, benar-benar membuatnya merasa penasaran.

Lelaki itu beranjak dari kamarnya menuju dapur, biasanya Sora ada di sana, selalu bangun lebih awal, menyeduhkan kopi hangat yang wanginya semerbak membuat mata terbuka lebar. 

Kali ini dia harus menyeduhnya sendiri. Sambil sibuk meracik kopi, Kendrik membuka satu per satu notifikasi yang muncul pada layar ponselnya. Email dari Sora ada lagi di sana. Dia terdiam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk langsung menghapus email itu tanpa membaca.

Ada satu notes penting yang tidak akan dia lewatkan, ‘ulang tahun Sora’. Mungkin karena hal itu juga dia jadi lebih sering memimpikan Sora akhir-akhir ini.

Hari ini Kendrik ingin ke makam Sora, dia sudah memesankan bunga juga di toko bunga langganan mereka.

***

Launa sibuk membenahi beberapa pot bunga yang media tanamnya mulai erosi, ada juga yang perlu dibubuhkan pupuk. Mata indahnya sesekali melirik kupu-kupu yang iseng hinggap di atas kelopak marrygold.

Dia tampak tenang di greenhouse sementara terik matahari pagi mulai menyengat, saat tubuhnya kembali berdiri, Launa mendapati staf-nya berdiri tak jauh dari sana, sedang mencari keberadaannya.

“Ada apa?!” tanyanya sedikit berteriak.

Gadis berperawakan kecil itu berlari menuju Launa dan sedikit berbisik, “Tamu yang Nona tunggu sudah datang, tadi aku lihat di parkiran!”

Alis Launa terangkat, “Kendrik?”

Gadis itu mengangguk. Launa langsung meminta tukar kostum; apron, dan bandana dia pakai cepat, lalu terburu-buru menuju area toko bunga.

Saat pintu belakang toko dibuka oleh Launa, sosok Kendrik sudah ada di bagian rak-rak bunga potong berwarna-warni. Namun dia tidak menyadari keberadaan Launa.

“Halo, bisa dibantu?” sapa Launa natural.

Kendrik menoleh, mendadak lupa apa yang ingin dia ucapkan saat menyadari sosok yang menyapanya adalah Launa.

“Launa?” 

Wanita itu berusaha tenang, “Iya, emm… selamat datang, kamu mencari bunga?”

“Tunggu-tunggu! Sebelumnya aku ke sini, bahkan sering sekali aku ke sini, yang melayani bukan kamu, sejak kapan kamu bekerja disini? Di mana Serena?” kata Kendrik gusar, dia merasa kemunculan Launa di toko bunga ini terlalu kebetulan.

“Ohh, tenang dulu. Aku memang baru bekerja di sini sekitar seminggu yang lalu, menggantikan orang yang mungkin namanya Serena itu, hehe!” terang Launa berusaha menenangkan Kendrik yang wajahnya terlihat bingung.

“Aku harus mengambil pesanan bungaku segera!” kata Kendrik cepat. Dia mendadak merasa tidak nyaman dengan pertemuan serba kebetulan ini.

“Baik, tunggu sebentar ya?” Launa berbalik ke arah rak buket bunga dan mengambil satu buket berisi tuberose dan baby breath yang dirangkai indah.

“Sebelumnya, kamu kerja di mana?” selidik Kendrik.

Launa membawa pesanan Kendrik ke meja kasir, memasukkan transaksi ke komputer, lalu Kendrik melangkah mendekatinya.

“Aku kuliah, di kota lain, setelah lulus aku memutuskan untuk kembali ke sini,” jawabnya dengan nada hangat.

“Ngomong-ngomong, aku memasan bunga itu bukan atas namaku, bagaimana kamu bisa tahu itu pesananku?” tanya Kendrik semakin curiga.

Launa memeriksa secarik kertas yang tersemat di bunga itu, tertera nama Sora. Wajahnya mendadak tegang sesaat, sebelum akhirnya kembali tersenyum cantik.

“Manager sudah memberikanku informasi pesanan yang akan diambil hari ini, termasuk pesanan milikmu tentunya, yang atas nama Sora ini.” Sesaat setelah menjawab, Launa terlihat menelan ludah samar-samar.

“Hmmm,” Kendrik mengangguk namun tetap tidak bisa langsung percaya.

“Tuberose dan baby breath, agak tidak biasa ya?” komentar Launa pada pesanan Kendrik.

“Favorit istriku.”

“Kenapa dia tidak ikut?” Launa menengok ke arah parkiran, seolah memastikan tidak ada orang lain yang bersama Kendrik.

“Aku hampir lupa soal semalam, bagaimana kamu bisa mengetahui alamat rumahku?” kata Kendrik dengan wajah semakin masam. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Launa, tidak mau membahas itu lebih jauh lagi.

Launa menghela napas panjang.

“Kartu nama di saku kemeja mu, aku menelepon ke sekretaris mu tadi malam dan menanyakan alamatmu, kamu bisa konfirmasi ke Sophia kalau tidak percaya,” jawab Launa sambil mengangkat bahunya sebelah.

Ekspresinya lebih santai dari beberapa saat lalu.

“Apa ada yang ingin kamu tanyakan lagi?”

Kendrik menggeleng cepat, mengambil pesanan bunganya, dan membayar dengan kartu. Setelah transaksi selesai, dia bergegas meninggalkan toko bunga dan Launa di belakangnya. 

Wanita itu menatap Kendrik dengan tatapan tak terbaca.

Setelah Mobil Kendrik meninggalkan area parkir, Launa kembali ke dalam toko dan melepas apron juga bandana yang dikenakannya. Staf yang tadi di greenhouse sudah kembali ke meja kasir.

“Beritahu aku lagi ya kalau ada pesanan atas nama dia,” perintah Launa lembut.

Gadis kasir itu tersenyum, “Baik, Nona!”

***

Langkah Kendrik menyusuri jalan setapak dengan rumput-rumput kecil tumbuh di sela bebatuan, dia berada di pemakaman pinggir kota tempat Sora terlelap abadi. Lelaki itu melewati beberapa patung malaikat yang sayapnya sudah patah dimakan usia.

Tidak terlalu jauh dari pintu masuk, makam dengan nisan terukir nama Sora terlihat. Dedaunan kering mengotori area sekitarnya, saat Kendrik sampai sana, ada beberapa ekor burung hinggap di atas pohon dan berkicau riang seperti menyambut.

“Wow, kamu siapkan itu untukku?” ucap Kendrik dalam kesendirian.

Hening menjawabnya dengan desir suara angin yang meniup pohon,

Kendrik meletakkan bunga di atas makam Sora, lalu duduk di sisinya. Sorot matanya redup saat menatap nisan bertuliskan nama istri yang paling dia cintai itu.

“Sampai saat ini aku masih belum percaya kamu melakukan itu padaku,” bisik Kendrik, menelan kesedihannya sendirian.

Pemakaman ini selalu sunyi setiap Kendrik berada di sana, dia sengaja memilih memakamkan Sora di tempat itu karena Sora pernah bilang suatu saat dia ingin tinggal di tempat dimana dia bisa tidur nyenyak tanpa suara alarm, tanpa suara kendaraan, dan tanpa hingar bingar kehidupan.

“Selamat ulang tahun, Sora.” Tangis Kendrik pecah, air matanya mengalir melewati pipinya.

Tenggorokan Kendrik terasa pedih, napasnya tersengal, ada duka yang mengganjal dalam dadanya. Dia bersumpah akan mencari orang yang menjadi alasan Sora melakukan hal itu.

Ping! Suara email masuk di ponsel.

Kendrik menyeka air matanya sejurus kemudian mengambil ponsel dalam kantong celananya.

‘Subjek: My Birthday!

Harusnya kita merayakan ulang tahunku bersama di villa itu kan? Sekarang apa yang sedang kamu lakukan? Menangisiku? Atau malah sudah menemukan wanita lain?’

“Oh yang benar saja! Kalau kamu benar bisa mengirimkan email ini, apa kamu tidak melihat aku ada di sini, hah?!” bentak Kendrik penuh nada emosi, dia menekan tombol off pada ponselnya karena muak dengan pesan-pesan aneh itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB V

    Sophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia.“Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya.Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain.“Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar.Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.”“Apa yang ingin kamu ketahui?”“Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat.“Bagaimana bisa hal seperti ini…”Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menur

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB IV

    “Halo.”“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.“Aku tidak ingat pernah memesannya?”Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu menga

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab III

    Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. “Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan b

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB II

    “Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.Kringgg!Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’“Launa?” gumamnya heran.Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang m

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab I

    “SORA!”Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon.Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru.Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah.Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya.Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.“Sora?” Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras.Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman.Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana.“Sayang… bangun!”Kendrik mengangkat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status