Share

BAB IV

Author: Lee
last update publish date: 2026-09-05 08:38:36

“Halo.”

“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”

Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.

“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.

Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.

“Aku tidak ingat pernah memesannya?”

Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.

‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”

Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.

“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.

Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu mengangkat bahunya tetap tidak ingat. Setelah itu Sophia duduk, menatap Kendrik dengan mata khawatir.

“Jujur… aku mengkhawatirkan kondisimu akhir-akhir ini,” kata Sophia lembut.

“Kenapa?” tanya Kendrik merasa baik-baik saja.

“Sejak Sora tidak ada, kamu belum mengambil cuti sama sekali, setiap hari aku harus mengurus jadwal kerjamu dengan sangat padat.” Sophia menghela napas. “Jangan menghukum dirimu begini, Sora akan sedih melihatmu.”

Kendrik terdiam menundukkan kepala.

“Kendrik, kondisimu akhir-akhir ini membuatku khawatir. Kamu banyak melupakan hal-hal kecil, ambil cuti, berkencanlah dengan wanita yang baru, kamu berhak,” nasihat Sophia. Meski jabatannya adalah sekretaris, namun sebenarnya dia adalah orang yang sudah sangat akrab dengan Kendrik maupun Sora. Mereka membangun perusahaan ini bersama-sama.

Kendrik mengangkat kepalanya, sorot matanya berbeda menusuk ke arah Sophia. Dia melangkah ke arah Sophia, kemudian membungkuk ke arah wanita itu. Sophia menarik diri, napas hangat Kendrik terasa menerpa kulit wajahnya.

“Jangan mengguruiku, Sophia. Sebaiknya kamu enyah dari ruangan ini.” Kemudian lelaki itu kembali berdiri tegak dan menuju jendela lebar di samping meja kerjanya.

Wajah Sophia menegang, beberapa saat dia membuka dengan napas tertahan. Selama bertahun-tahun dia mengenal Kendrik, tidak pernah ditemuinya lelaki itu dalam kondisi seperti ini. Tadi itu, seperti emosi paling dalam Kendrik yang begitu lama terpendam dan muncul ke permukaan.

“Maaf,” ucap Sophia kelu, dia bergegas meninggalkan ruangan Kendrik.

***

“Astaga, semalaman aku mengawasi pria yang tidak punya kehidupan menarik sama sekali!”

Launa menjauhkan ponselnya dari telinga saat Ben meninggikan suara, dia menggerutu sepanjang panggilan saat dimintai hasil pekerjaannya.

“Kirimkan hasil fotomu sekarang, Ben!” perintah Launa dengan laptop sudah menyala di meja.

Beberapa saat notifikasi muncul. Launa membuka file dari Ben sambil masih terus terhubung dalam panggilan.

“Kamu tahu? Dia bahkan tidak membawa wanita, bagaimana bisa lelaki hidup sendiri di rumahnya tanpa wanita?” keluh Ben di ujung telepon.

Launa mendengus kesal, “Tidak semua lelaki itu sepertimu, Ben!”

“Launa, apa sebenarnya yang ingin kamu temukan?” Tanya Ben untuk yang kesekian kalinya.

“Aku sudah memberitahumu di kafe!”

“Kau ini cantik, banyak lelaki yang tertarik padamu, untuk apa kamu rela membayarku untuk menguntit Kendrik sih?” protes Ben yang masih juga tak mengerti alasan Launa membayarnya.

Mata Launa memeriksa setiap detail foto yang dikirim oleh Ben, benar memang tidak ada yang menarik sama sekali.

“Apa kamu pikir aku perempuan murahan yang rela melakukan apapun untuk membuat seorang lelaki tertarik?” geram Launa, dia berusaha menahan diri untuk tidak melempar ponsel.

“Jesus!”

“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Launa menuntut hasil kerja Ben yang lebih berguna.

“Besok aku akan menemui sekretarisnya,” jawab Ben santai.

Launa kaget dengan rencana itu, “Ben, jangan konyol! Kendrik bisa tahu.”

“Kurasa tidak, aku menawarkan proyek besar untuk perusahaan itu, namun tentu saja bayarannya ada informasi yang aku butuhkan, kamu tahukan aku makelar juga?”

Launa tidak menjawab, dia bersandar sambil memutar kursinya.

“Ngomong-ngomong.” Ben menggantung ucapannya.

“APA?”

“Bukan hal penting, tapi sepertinya lelaki itu punya kualitas tidur yang jelek ya? Beberapa kali aku melihat lampu kamarnya menyala,” tukas Ben, mulutnya terdengar sambil mengunyah sesuatu.

“Ternyata memang bukan hal penting!”

Ben terkekeh, “Aku mau tidur dulu, kepalaku seperti mau pecah mengawasi rumah itu semalaman!”

Tut tut tut!

Launa meletakan ponselnya ke meja dan menghela napas panjang. Matanya melirik foto di samping laptop, foto dirinya dengan sahabat yang sangat ia sayangi selama ini.

Kemudian bingkai foto itu ia balik, sejurus kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.

‘Ada pesanan bunga lagi atas nama dia!’

Launa tersenyum tipis.

***

Seingat Kendrik tadi dia masih berada di kantor, jam tangan menunjukkan pukul 09.00 PM. Tapi sekarang dia membuka mata sudah berada di meja kerja rumahnya, dengan laptop terbuka dan menayangkan rekaman CCTV rumahnya semalam.

Matanya memicing tajam dan wajahnya mendekat ke arah layar saat sesosok pria terlihat di CCTV-nya sedang berdiri bersembunyi bayangan pohon.

Kendrik mempercepat pemutaran, pria itu tampak berdiri cukup lama dan samar-samar seperti memotret ke arah rumahnya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, saat jam pada CCTV menunjukkan angka 05.00 AM mobil itu beranjak pergi.

Wajahnya tertutup topi, dan mobil miliknya terlalu jauh untuk dilihat plat nomornya.

Kendrik berdecak kesal. Dia lupa dengan rasa herannya kenapa bisa berada di rumah tanpa ingat dia pulang, dan kini lebih heran dengan sosok yang terekam CCTV itu. Beribu pertanyaan berkecamuk di kepalanya.

“Apa dia juga akan membunuhku?” desis Kendrik pelan.

Mendadak Kendrik jadi menyesali kenapa dia tidak menuruti Sora untuk memasang CCTV sejak dulu. Seandainya ada CCTV, mungkin kematian Sora tidak akan meninggalkan begitu banyak pertanyaan bagi Kendrik.

Bahkan bisa dicegah!

Tapi kayu telah menjadi arang, tidak ada yang bisa diulang kembali.

Beberapa kali Kendrik mencoba memperbesar file video dan melihat wajah pria itu tapi tetap gagal karena kondisi yang gelap, dan resolusi CCTV yang tidak begitu besar. Meski menggunakan teknologi night vision namun tetap saja wajah orang itu tidak terlihat jelas.

Kendrik yakin, orang itu pasti punya niat jahat padanya.

Masih dalam kondisi kebingungan, ponsel Kendrik berdering. Nama Sophia muncul di layar panggilan.

“Ya?”

Suara napas Sophia terdengar berat, “Kendrik, aku mau minta maaf atas kejadian tadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu merasa kesal seperti itu.”

Kendrik menahan napas sejenak, diam seribu bahasa.

“Apa kamu masih marah padaku?” tanya Sophia.

“Marah? Kejadian tadi?” ulang Kendrik, kepalanya seperti berputar-putar. Pening. Sakit sekali.

“Kendrik, apa kamu baik-baik saja?”

“Eh, ya, aku hanya sedikit mengantuk. Sophia, siapa yang mengantarkan aku pulang tadi?”

Jeda beberapa lama, “Ehm, kamu bukannya pulang sendiri mengendarai mobil?”

Kendrik mendesis pelan merasakan pelipisnya sakit sekali, semakin dia berusaha mencerna apa yang terjadi, semakin buntu ingatan yang ada di kepalanya.

“Baiklah, aku mau istirahat, selamat malam!”

Lalu Kendrik menekan tombol end call tanpa menunggu respon Sophia.

Napas Kendrik terasa berat, semua yang terjadi akhir-akhir ini membuatnya gila: Email dari Sora, dia yang mendadak jadi sangat pelupa, dan ada orang yang mengawasi rumahnya. Semua bertumpuk menjadi satu.

“Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB V

    Sophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia.“Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya.Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain.“Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar.Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.”“Apa yang ingin kamu ketahui?”“Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat.“Bagaimana bisa hal seperti ini…”Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menur

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB IV

    “Halo.”“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.“Aku tidak ingat pernah memesannya?”Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu menga

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab III

    Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. “Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan b

  • Antara Cinta dan Rahasia   BAB II

    “Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.Kringgg!Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’“Launa?” gumamnya heran.Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang m

  • Antara Cinta dan Rahasia   Bab I

    “SORA!”Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon.Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru.Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah.Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya.Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.“Sora?” Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras.Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman.Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana.“Sayang… bangun!”Kendrik mengangkat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status