LOGINSophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.
“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia. “Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya. Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain. “Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar. Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.” “Apa yang ingin kamu ketahui?” “Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat. “Bagaimana bisa hal seperti ini…” Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menurutmu tawaran ini tidak sebanding dengan informasi yang ingin kudapatkan, lupakan saja. Aku akan mencari perusahaan lain yang bersih!” “Dia hanya berubah menjadi lelaki kesepian yang pendiam, dan sedikit depresi,” jawab Sophia cepat. Ben merasa menang, dia tahu data perusahaan Kendrik sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, mereka sedang membutuhkan suntikan dana besar, dan apa yang Ben bawakan untuk mereka merupakan harta karun berharga. “Apakah ada yang tidak biasa terjadi padanya?” lanjut Ben menyelidiki. Sophia menggeleng mantap. “Tidak, dia tetap profesional, semua bagian pekerjaannya selesai dengan baik, hanya saja memang persaingan membuat langkah kami sedikit terasa berat.” “Kamu pernah melihatnya membawa wanita?” “Tidak, dia pria yang sulit didekati wanita, bahkan dia juga tidak punya banyak teman,” terang Sophia. Sejujurnya dia merasa ada yang tak biasa dengan Ben, baru kali ini dia bertemu untuk urusan bisnis namun yang dibahas soal pribadi atasannya. Tapi, dia merasa harus membantu Kendrik menyelamatkan perusahaan ini. “Menurutmu, apa Kendrik pemarah? Selama kamu bekerja dengannya, apa pernah dia memarahimu?” “Tidak pernah. Aku bersama Kendrik dan Sora sejak perusahaan ini masih sangat kecil, kemudian berkembang seperti sekarang. Jabatanku memang tidak ikut naik, tapi itu bukan karena Kendrik, itu karena aku sendiri yang memintanya.” Sophia minum orange jus untuk menenangkan rasa gelisahnya. “Benar-benar bukan pria yang menarik,” desis Ben frustasi sendiri. “Sudah kubilang, kerjasama ini tidak akan terganggu dengan kasus yang pernah menimpanya,” ujar Sophia meyakinkan Ben. “Mengenai kasus itu, apa Kendrik begitu terpukul?” Ben masih mencoba menggali informasi apapun yang mungkin bisa diserahkan pada Launa. “Kurasa begitu. Dia menghukum dirinya dengan terus bekerja, sampai kurasa dia mulai stress dan jadi pelupa,” jawab Sophia sambil mengingat-ingat kejadian akhir-akhir ini yang dialami bersama Kendrik. “Stress dan pelupa bagaimana?” Tubuh Ben maju karena tertarik. “Hal yang normal saja, stress seperti dia jadi sering mabuk, dan lupa dengan apa yang dia lakukan,” terang Sophia santai, dia melirik jam di tangan kirinya. “Apa kau sudah harus kembali ke kantor?” nada Ben terdengar kecewa. Dia bahkan belum mendapatkan apa-apa. “Ya, sesuai arahanmu kalau Kendrik tidak boleh tahu, jadi aku juga tidak bisa pergi terlalu lama, nanti dia curiga!” tegas Sophia, lagi pula ini sudah lewat jam makan siang. “Ini,” Ben mengulurkan kartu nama. “Hubungi dia untuk melanjutkan kerjasama kalian, aku harap bisa bertemu denganmu lagi.” Sophia mengangguk dan menerima kartu nama dari Ben, lalu dia beranjak meninggalkan Ben yang menatap punggungnya dengan sorot mata menerawang jauh. Dia langsung menghubungi Launa. *** “Halo, ada apa?” bisik Launa. “Aku baru saja bertemu dengan Sophia, sekretarisnya!” “Nanti aku hubungi lagi!” potong Launa dan segera menekan tombol end call. “Kenapa dimatikan?” tanya Kendrik yang berada tak jauh dari Launa, tadinya mereka berdekatan, dan Launa menjauh saat mengangkat telepon. “Tidak apa, bukan hal penting, nanti aku hubungi dia lagi!” jawab Launa kaku. “Sebenarnya aku memesan bunga itu hanya untuk alasan saja,” cetus Kendrik, dia memejamkan mata dan menghirup setangkai mawar merah yang terpajang di rak. “Alasan?” ulang Launa tak mengerti. “Ya, aku hanya ingin bertemu denganmu,” kata Kendrik, dia mendekati Launa yang menuju meja kasir. “Kukira kau ingin memberikan bunga itu untuk istrimu lagi,” tebak Launa, dia tahu Sora sudah tiada, dia hanya berpura-pura agar Kendrik tidak curiga. “Sora? Oh, kurasa kamu salah sangka, dia sudah berpulang setahun lalu,” ucap Kendrik sambil memberikan kartu debetnya untuk membayar pesanan bunganya. “Oh, maaf, aku tidak bermaksud,” sesal Launa. Kendrik menggeleng tak masalah, “Aku sudah terbiasa.” “Ada yang bisa dibantu lagi?” tanya Launa karena transaksi sudah selesai. “Ayo makan malam bersamaku!” ajak Kendrik tanpa basa-basi, tatapannya menusuk ke arah Launa. “Aku? Ehm, kapan?” Launa menjawab dengan canggung. “Nanti malam, bagaimana?” tawar Kendrik dengan nada dibuat sehangat mungkin. Bola mata Launa melirik ke kanan samar, “Baiklah, kamu punya rekomendasi makan malam yang enak?” “Sure, nanti ku jemput?” Mendadak jantung Launa berdegup kencang, lelaki itu tak boleh tahu rumahnya. “Tidak usah, kita bertemu di tempat saja!” cepat-cepat Launa menjawab sedikit panik. Kendrik memiringkan kepalanya sedikit, heran dengan sikap wanita di hadapannya itu. Tapi kemudian dia tersenyum menyeringai, membuat siapapun yang melihatnya mungkin akan merasa tak nyaman. “Berapa nomor teleponmu?” Kendrik memberikan ponselnya. Launa mengetik 11 digit nomor telepon, lalu mengembalikan ponsel Kendrik dengan gugup. Ponsel itu tidak menggunakan wallpaper, hanya layar polos hitam, Kendrik benar-benar sosok dingin dan tak terbaca bagi Launa. “Sampai jumpa nanti malam ya?” pamit Kendrik meninggalkan Launa yang hanya tersenyum tipis. Setelah sosok Kendrik menjauh, dia segera menghubungi Ben. “Astaga! Aku tidak pernah mendapatkan target semembosankan ini!” komplain Ben di ujung telepon. Launa menjauhkan ponsel dari telinganya. “Ada apa?” “Sophia tidak banyak membantu, dia hanya bercerita kalau Kendrik semakin penyendiri sejak istrinya meninggal, dia depresi, dan terus bekerja sampai stress dan pelupa,” papar Ben dengan apa yang telah dia dapatkan. Dalam pikiran Launa, rasanya Kendrik adalah pria cerdas yang tidak mungkin terkena penyakit ingatan. Tapi salah satu orang terdekatnya justru bilang dia stress dan menjadi pelupa. Tapi ini sama sekali tidak bisa dijadikan petunjuk atau apapun atas kematian Sora. “Nanti malam dia mengajakku makan malam,” kata Launa sambil membereskan bekas-bekas potongan bunga di meja kasir. Sudut matanya melihat stafnya mendekat. “Kencanilah! Dengar, aku rela jika kamu ingin aku mengembalikan uangmu, jujur aku bosan!” teriak Ben dengan nada merengek seperti anak kecil. “Kupikir kamu ini private investigator bersertifikat, Ben!” ledek Launa puas. “Kudoakan semoga nanti malam penyakit pelupanya kambuh dan kamu menunggu di resto itu hingga tutup!” kutuk Ben sebelum akhirnya sambungan telepon terputus sepihak. Launa hanya meringis. Tatapan matanya beralih ke pantulan dirinya di cermin, memikirkan gaun seperti apa yang akan dia pakai untuk nanti malam. Kemudian dia terpikirkan untuk memakai gaun saat pertama kali dia menghampiri Kendrik di bar. Kesempatannya untuk semakin dekat dengan Kendrik sudah terbuka lebar, tapi dia tetap membutuhkan Ben untuk mencari informasi apapun mengenai Kendrik. Sebanyak mungkin yang dia bisa kumpulkan. Tring! Suara pesan masuk. ‘Kendrik: ini lokasi restonya, tidak jauh dari bar itu kok, see you!’ Launa membalas singkat. “Ok!”Sophia terlihat kurang nyaman saat bertemu dengan Ben, meskipun proyek yang lelaki itu tawarkan mempunyai nilai fantastis tapi menceritakan hal-hal yang terjadi pada Kendrik terasa ilegal baginya.“Kenapa temanmu itu sangat ingin tahu mengenai Kendrik?” selidik Sophia.“Dia hanya tidak mau perusahaannya terlibat skandal, atau nilai fantastis yang kamu lihat itu melayang begitu saja ke pihak yang salah,” jawab Ben santai sambil memakan spageti pesanannya.Sophia bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain.“Tapi itu tidak ada hubungan dengan kehidupan pribadi bosku, kan?” sanggah Sophia dengan nada tak enak didengar.Ben terkekeh. “Sophia… jangan menyangkal bahwa nama perusahaan ini juga tergantung pada siapa yang duduk di posisi tertinggi.”“Apa yang ingin kamu ketahui?”“Setelah istrinya meninggal, bagaimana keseharian Kendrik menurutmu?” tanya Ben, sebelah alisnya terangkat.“Bagaimana bisa hal seperti ini…”Ben mengangkat wajahnya angkuh. “Aku tidak punya banyak waktu, jika menur
“Halo.”“Paket? Suruh Sophia bawa ke ruanganku saja!”Kendrik menurunkan gagang telepon dan tak lama kemudian Sophia mengetuk pintu, setelah dipersilakan masuk, wanita dengan perawakan tinggi semampai itu masuk membawa box paket berwarna coklat.“Sepertinya ini pesananmu tempo hari,” ujar Sophia sambil memberikan paket pada Kendrik.Kendrik menerimanya dan membaca label alamat juga isi paket. Parfum. Alisnya terangkat sebelah heran.“Aku tidak ingat pernah memesannya?”Sophia mengambil ponsel dalam saku celana kerjanya dan menunjukkan chat Kendrik padanya.‘Tolong pesan ini dan kirim ke kantor saja!”Raut wajah Kendrik bingung, kapan dia mengirim pesan itu pada Sophia. Sambil mengingat lagi, dia membuka paket itu hati-hati, sekotak parfum teronggok di dalamnya. Ini kesukaan Sora.“Mungkin saat kau mabuk tidak sadar memintaku memesannya, untuk ulang tahun Sora?” kata Sophia yang masih berdiri di depan meja Kendrik dengan wajah tenang.Kendrik memikirkan ucapan Sophia sejenak lalu menga
Pelayan dengan apron coklat meletakkan dua porsi brioche ke atas meja, dengan dua cangkir espresso hangat. Launa mengangguk sopan tanda terimakasih sebelum pelayan itu pergi meninggalkannya.“Maaf aku terlambat,” kata seorang pemuda dengan setelan casual, napasnya terengah-engah seperti habis berlari dikejar anjing.Launa mengedikkan dagu ke kursi di depannya, “Duduklah! Aku sudah pesan untukmu juga.”Pemuda itu segera duduk dan menatap roti manis dengan tekstur lembut yang masih hangat, dan secangkir kopi pekat. Dia menggeleng pelan.“Aku suka rotinya, tapi maaf aku sekarang tidak minum kopi,” tolaknya segan.Launa menarik tubuhnya ke sandaran, teringat seseorang yang juga tidak bisa minum kopi. Namun segera mengalihkan pikiran itu ke arah pemuda di hadapannya. “Ben, aku hanya punya waktu sebentar jadi sebaiknya kita langsung saja!” kata Launa tanpa basa-basi. Mengesampingkan keluhan Ben tentang kopinya.Raut wajah Ben berubah serius, “Apa ini soal orang yang pernah kamu ceritakan b
“Kendrik, tolong aku! Aku belum mati, Sayang!” suara Sora bergema di dalam kepala Kendrik, di kejauhan wanita itu mengulurkan tangan yang berdarah-darah ke arahnya. Sementara kegelapan mendekap mereka dengan erat.“JANGAN PERCAYA SIAPAPUN!”Wajah Sora muncul cepat di depan Kendrik. Membuatnya tersentak mundur.Kringgg!Alarm berdering. Waktu menunjukkan pukul 05.00 AM.Kendrik mengerutkan keningnya, mengumpulkan kesadaran. Matanya perlahan terbuka, ini jelas ada di kamarnya. Perabotan serba warna abu-abu dan hitam itu ia kenal sekali. Tapi, ingatan terakhirnya berada di bar.Perlahan dia duduk, mengetuk layar ponsel sampai dering alarmnya berhenti. Dari matanya yang masih buram, dia melihat ada selembar notes berwarna ungu dengan tulisan tangan tertempel di samping ponsel.‘Semalam kamu mabuk berat, aku khawatir sekali. Jadi aku antar kamu pulang. — Launa’“Launa?” gumamnya heran.Darimana dia mengetahui alamat Kendrik. Mereka bahkan baru kenal semalam, di bar, dan tidak banyak yang m
“SORA!”Walaupun dalam kondisi gelap dan hanya ada cahaya dari senter ponselnya, Kendrik bisa melihat jelas istrinya tergeletak di dalam bathtub dengan kondisi shower yang masih menyala. Panggilannya tidak direspon.Kakinya melangkah dengan gemetar, cahaya sempit dari ponsel dia arahkan ke tubuh wanita itu. Gaun merahnya basah kuyup, wajah sudah pucat dengan bibir membiru.Kendrik tersentak mundur saat mendapati pergelangan tangan Sora yang terkulai ke lantai dan mengeluarkan darah.Bau anyir tersapu air dari shower di atas kepalanya.Napasnya tercekat, Kendrik menggeleng cepat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.“Sora?” Suaranya bergetar dan serak, berbarengan dengan air mata yang menetes deras.Kendrik memberanikan diri untuk mendekati istrinya, memegang bahunya yang dingin dan basah. Diguncang pelan, tak ada respon sama sekali. Hati Kendrik mulai tak nyaman.Jarinya menekan lekukan di leher Sora, tak ada denyut di sana.“Sayang… bangun!”Kendrik mengangkat tan







