/ Romansa / Antara Kamu dan Putraku / Bab 56 Rasa Cinta yang Meluap

공유

Bab 56 Rasa Cinta yang Meluap

작가: Weneedta
last update 게시일: 2026-01-16 23:57:39

Semua mata memandang Elena, tidak sabar menanti penjelasannya. Namun wanita itu malah termenung.

Tadi secara implisit, dia mengakui adanya pria lain yang dekat dengannya. Kini dia tersadar akan posisi dan statusnya. Belum tentu dia akan terus bersama Aldo, mengingat sesuatu yang membuatnya sulit bercerai dengan Damar.

‘Kenapa aku mengiyakan kehadiran Aldo?’ sesalnya. ‘Mestinya aku bisa menahan diri. Tapi sepertinya aku tidak bisa menutupi perasaan cintaku.’

“Len!” panggil Melinda yang sudah tid
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 109 Memendam Segala Rasa

    “Apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?” tanya Susan yang tidak dapat menahan rasa curiga.Tatapan Aldo berubah tajam. Dia tidak suka ibunya masih menyebut Elena dengan panggilan ‘wanita itu’.“Aku pernah bilang Papa, aku dan Lena sudah putus. Aku yakin, Mama sudah mendengarnya dari Papa.”Susan menyadari perubahan suara dan tatapan Aldo. Seketika dia teringat ucapan suaminya untuk tidak menyinggung kembali masalah percintaan putra mereka.Tanpa bertanya lagi, Susan meninggalkan Aldo. Dia tidak ingin hubungan mereka menjadi tegang dan dingin seperti sebelumnya. Apa enaknya didiamkan oleh anak kandung sendiri? Toh sekarang hubungan putranya dan Elena sudah berakhir.Dia hanya berharap, Aldo bisa segera melupakan wanita itu, dan mau membuka hati terhadap perempuan lain.***Elena mematut dirinya di depan cermin. Gaun midi kasual berwarna biru muda yang dikenakan, membuatnya terlihat segar dan lebih muda. Setelah puas dengan penampilannya, dia keluar kamar menuju ruang keluarga.“

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 108 Pupus Sudah

    Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 107 Buka-bukaan

    “Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 106 Kekhawatiran Aldo

    “Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 105 Bangkit

    Keesokan harinya Elena kembali bekerja. Kemarin dia terpaksa izin kepada Brenda, dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Biarlah, toh atasannya sudah tahu permasalahan rumah tangganya, kecuali fakta mengenai ayah kandung Justin.Elena juga menceritakan masalahnya pada Asya. Bagaimanapun, hanya Asya yang menjadi teman baiknya. Meskipun awalnya menutup diri, pada akhirnya Elena mengakui bahwa dia membutuhkan seorang teman.Asya mengembuskan napas panjang. “Ada-ada saja ya, Len. Tapi menurutku, kamu tidak bisa diam saja. Kamu harus melakukan sesuatu.”“Aku tahu, Sya. Aku harus memikirkan rencana untuk mengambil kembali kepercayaan Justin. Juga rencana untuk berpisah dari Mas Damar. Meskipun semuanya membutuhkan waktu.”“Setuju. Aku dukung sepenuhnya kamu cerai dengan Damar. Maaf ya Len, suami dan mertua kamu benar-benar toxic.”Elena mengangguk. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Bukan dendam, dia hanya tidak mau menjadi wanita lemah lagi. Dia harus bangkit untuk Justin dan dirinya

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 104 Meninggalkan Rumah

    Elena masih berdiri terpaku dan menatap nanar putranya. Perasaan sakit langsung menusuk ke relung hatinya.“Kamu mengusir Mama, Justin?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. Dia tidak percaya telah diusir oleh putranya sendiri.“Iya! Lebih baik aku tidak punya ibu seperti Mama. Ayah kandungku saja tidak jelas. Kalau orang lain tahu, mereka akan mengatai aku anak haram.” “Tidak seperti itu, Justin. Di rumah sakit, Mama sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Rangga, ayah kandung kamu, tidak pernah menolak kehadiran kamu. Seandainya Rangga tidak meninggal, kami sudah pasti menikah.”“Tidak ada gunanya Mama ngomong begitu sekarang. Kenyataannya aku bukan anak Papa Damar. Tapi Papa Damar sayang sama aku. Tidak pernah marah, dan sering mengajak aku jalan-jalan.”Justin menatap ibunya. Wajahnya memerah karena marah, dan matanya sudah berkaca-kaca.“Tapi Mama masih berhubungan dengan Kak Aldo. Padahal aku sudah minta Mama putus. Mama egois! Hanya memikirkan diri Mama sendiri! Mama tidak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 78 Sebagai Teman

    “Serius, kamu di bawah?” tanya Elena untuk meyakinkan pendengarannya.[Aku tidak bercanda, Sayang. Malah sudah hampir setengah jam aku nunggu. Kamu pulang sekarang?]Elena melirik arlojinya. “Masih empat menit lagi.”[Oh, berarti jamku kecepatan. Tidak apa-apa, aku tunggu kamu. Depan lobi ya!]Elen

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 77 Menjemput

    “Masih. Hubungan aku dan Lena baik-baik saja.”Aldo menjawab seperti itu karena hati kecilnya menolak untuk berpisah dengan Elena.“Lalu bagaimana dengan suaminya? Mereka masih bersama ‘kan?”“Laki-laki itu?” Aldo menatap Thomas yang menyinggung tentang Damar. “Aku berharap mereka segera bercerai.”

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 76 Mengundurkan Diri

    Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesungguhnya keheningan ini menyiksa batin Elena. Namun dia tidak berani mengeluarkan kata-kata, khawatir dirinya akan goyah atas keputusan yang telah dibuatnya.Setengah jam berlalu, akhirnya mob

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 75 Antara Kamu dan Putraku

    Elena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status