공유

Bab 8

작가: Liontin
last update 게시일: 2026-09-08 19:44:59

Berat yang menyesakkan di dadaku benar-benar nggak tertahankan. Aku pun memutuskan buat nyetir mobil ke sebuah bar mewah yang tenang di dekat pusat kota. Harapanku sederhana, semoga segelas alkohol bisa sedikit meredakan nyeri di hatiku.

Suasana bar itu temaram, ditemani alunan musik jazz lembut di latar belakang. Aku memilih duduk di kursi tinggi berlapis kulit di ujung meja bar, jauh dari kerumunan orang yang berisik.

Nggak lama kemudian, bartender datang menghampiri meja. Aku langsung memesan segelas anggur merah dengan suara pelan.

"Silakan, Nona," ucap bartender itu ramah sambil meletakkan gelas berembun di depanku.

Sambil menggenggam gelas dingin dengan tangan yang masih sedikit gemetar, air mataku nyaris tumpah lagi. Aku meneguknya sedikit, lalu menatap kosong ke arah botol-botol warna-warni yang tersusun di dinding. Kok bisa ya, hidupku berantakan begini?

Tiba-tiba, sebuah suara yang hangat dan sopan membuyarkan lamunanku.

"Kursi ini kosong?" tanya seorang pria dengan nada ramah.

Aku mendongak lalu menoleh ke samping. Di sebelahku sudah berdiri seorang pria tinggi dan tampan yang tersenyum manis.

"Kosong kok, silakan duduk," jawabku pelan sambil ngangguk sopan.

"Makasih ya," katanya sambil duduk dengan tenang. Cowok itu memesan segelas scotch on the rocks ke bartender. "Maaf kalau aku ganggu waktu tenangmu. Tapi keliatannya kamu lagi mikirin beban yang berat banget."

Aku spontan ketawa kecil—lebih ke arah menertawakan diri sendiri—sambil natap gelas.

"Keliatan banget ya?" tanyaku.

"Cuma buat orang yang lagi ngerasain hal yang sama persis," jawabnya dengan tatapan teduh. Dia mengulurkan tangan ke arahku dengan senyuman yang bikin suasananya langsung cair. "Kenalin, aku Johan. Johan Saputra."

"Sherine," balasku sambil menyambut uluran tangannya. Genggamannya terasa mantap, hangat, dan bikin hatiku langsung adem. "Pendatang baru ya, Johan? Kayaknya aku belum pernah lihat kamu nongkrong di sini."

Johan tersenyum ramah sambil menerima gelas minumannya dari bartender. "Iya, aku baru aja mendarat di kota ini kemarin. Asliku dari Singapore, tapi lagi ada tugas kantor buat megang proyek konstruksi di sini."

"Wah, Pantesan keliatan asing," sahutku sambil tersenyum kecil.

Johan menyesap minumannya pelan sebelum kembali menatapku. "Sengaja cari tempat sepi buat nenangin kepala setelah seharian full meeting. Kalau kamu sendiri, sering ke sini?"

"Jarang banget, pas lagi penat aja," jawabku jujur.

Obrolan santai itu ternyata mengalir begitu saja tanpa terasa kaku. Kami malah jadi ngobrol seru, mulai dari hal-hal lucu seputar kota ini sampai hobi.

"Tau nggak, ngobrol sama kamu bikin suasana hati langsung membaik lho," kata Johan sambil tersenyum tulus.

"Ah, bisa aja kamu," tawaku pelan, merasa energi positifnya bener-bener nular ke aku. "Tapi makasih ya, obrolan malam ini bener-bener seru dan menyenangkan."

Nggak terasa waktu berjalan cepat sampai Johan melirik jam tangannya. Dia lantas memanggil bartender untuk membayar tagihan minuman kami berdua.

"Udah, biar aku yang bayar," kata Johan cepat saat aku mau ngeluarin dompet. Dia berdiri, merapikan jasnya, lalu tersenyum hangat padaku. "Aku nginap di hotel dekat sini. Kalau sudi, kapan-kapan kita bisa ngobrol santai lagi sebagai teman."

Johan menyodorkan sebuah kartu nama eksklusif berlogo emas. Aku menerimanya dengan senang hati sambil tersenyum.

"Dengan senang hati, Johan," jawabku mantap.

"Jaga diri baik-baik ya, Sherine," ucapnya ramah sambil melambaikan tangan pelan.

Dia pun berjalan meninggalkan bar dengan langkah tegap. Aku menatap punggungnya sejenak sambil menggenggam kartu nama itu, bersyukur banget karena pertemuan pertama kami malam ini sukses bikin hatiku jauh lebih ringan dan bahagia.

 

Langkah kaki Johan perlahan menjauh, namun kehangatan dari pertemuan singkat kami masih tertinggal di udara. Aku kembali menatap gelas anggur merah yang kini tinggal separuh. Aneh rasanya, di tengah hari-hari paling melelahkan dalam hidupku, semesta justru mempertemukanku dengan seseorang yang begitu asing namun terasa sangat sefrekuensi.

"Minumannya mau ditambah lagi, Nona?" tanya bartender ramah sambil membersihkan meja di depanku.

"Ah, tidak, terima kasih. Ini sudah lebih dari cukup," jawabku sambil tersenyum kecil.

Aku meletakkan lembar uang di atas meja sebagai tanda terima kasih atas pelayanannya yang menyenangkan malam itu. Udara malam yang sejuk langsung menyambut kulitku begitu aku mendorong pintu kaca bar dan melangkah keluar ke trotoar jalanan kota. Biasanya, perjalanan pulang ke rumah selalu diisi dengan pikiran-pikiran suram dan isak tangis yang tertahan. Namun malam ini, genggaman kartu nama Johan di dalam tas tangan terasa seperti jangkar kecil yang memberiku sedikit harapan baru.

Di dalam mobil, aku menyetel musik instrumental bertempo lambat untuk menemani perjalanan pulang. Bayangan obrolan kami yang mengalir tanpa beban tadi terus berputar di kepala, membuat senyuman tanpa sadar tersungging di bibirku. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, aku merasa bahwa dunia ini tidak sepenuhnya kelam dan dingin. Masih ada orang-orang baik di luar sana yang tahu bagaimana cara mendengarkan tanpa menghakimi. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Antara Kita Bertiga   Bab 9

    Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sangat lelah. Kepalaku berdenyut nyeri akibat terlalu banyak menangis dan berpikir semalam. Namun, rasa sakit itu kini telah berubah menjadi bara api yang membakar dadaku. Aku menolak menyerah pada keterpurukan; misiku sudah sangat jelas: aku butuh bukti nyata untuk menjatuhkan Andi di pengadilan kelak.Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong dan dingin. Andi ternyata belum juga pulang ke rumah. Lelaki itu mungkin menghabiskan malam di kantornya atau sibuk dengan urusan perselingkuhan murahan lainnya di luar sana. Aku duduk termenung di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap mengambil langkah pertamaku.Aku butuh tempat bertukar pikiran dengan seseorang yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya. Tanpa buang waktu, aku langsung menyambar tas, melajukan mobil, dan pergi menemui Clara.Clara adalah satu-satunya orang yang tahu persis masalah pernikahanku sejak awal. Ia selalu memberikan saran yang jujur ta

  • Antara Kita Bertiga   Bab 8

    Berat yang menyesakkan di dadaku benar-benar nggak tertahankan. Aku pun memutuskan buat nyetir mobil ke sebuah bar mewah yang tenang di dekat pusat kota. Harapanku sederhana, semoga segelas alkohol bisa sedikit meredakan nyeri di hatiku.Suasana bar itu temaram, ditemani alunan musik jazz lembut di latar belakang. Aku memilih duduk di kursi tinggi berlapis kulit di ujung meja bar, jauh dari kerumunan orang yang berisik.Nggak lama kemudian, bartender datang menghampiri meja. Aku langsung memesan segelas anggur merah dengan suara pelan."Silakan, Nona," ucap bartender itu ramah sambil meletakkan gelas berembun di depanku.Sambil menggenggam gelas dingin dengan tangan yang masih sedikit gemetar, air mataku nyaris tumpah lagi. Aku meneguknya sedikit, lalu menatap kosong ke arah botol-botol warna-warni yang tersusun di dinding. Kok bisa ya, hidupku berantakan begini?Tiba-tiba, sebuah suara yang hangat dan sopan membuyarkan lamunanku."Kursi ini kosong?" tanya seorang pria dengan nada ram

  • Antara Kita Bertiga   Bab 7

    Begitu Andi merapikan dasinya dan bersiap untuk meninggalkan kamar kami, aku merasa sangat curiga. Ia pulang lebih awal, menjilat selangkanganku di atas tempat tidur, dan sekarang ia ingin pergi dengan terburu-buru. Ia beralasan memiliki urusan yang mendesak. Aku langsung berdiri tepat di depan pintu agar ia tidak bisa pergi dengan mudah. "Mau ke mana buru-buru, Andi?" tahanku sambil menatap lurus ke dalam matanya. "Sudah kubilang, Sherine, aku ada rapat penting yang harus dihadiri," jawab Andi dengan suara tenang. "Rapat penting di hari Sabtu siang?" tanyaku lagi sambil melipat tangan di dada. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa yang mau kamu temui? Apa kamu sedang menemui wanita lain?" "Jangan konyol, Sherine," Andi mendesah. Ia menyentuh pipiku dengan lembut. "Kamu adalah istriku. Aku hanya punya urusan yang harus aku selesaikan." Ia mencium keningku dengan lembut, melangkah mengelilingiku, lalu turun ke lantai bawah. Namun, aku sama sekali tidak mempercayainya. Will

  • Antara Kita Bertiga   Bab 6

    Aku berjalan keluar dari studio yoga dengan perasaan yang sangat terguncang. Kakiku gemetar, dan celana dalamku masih basah oleh sentuhan kotor Leo. Clara sedang menunggu di dekat meja resepsionis, tersenyum sambil merapikan rambutnya di cermin. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampirinya. "Clara, sepertinya aku tidak bisa ikut kelas yoga ini lagi," kataku, berusaha menjaga agar suaraku tetap tenang dan stabil. "Apa? Kenapa?" tanya Clara sambil berbalik dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Kamu suka sekali datang ke sini!" "Punggungku akhir-akhir ini sering sakit, dan kurasa gerakan peregangannya terlalu berat bagiku," akupun berbohong dengan lembut. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa Leo baru saja meraba selangkanganku yang basah tepat di belakang punggungnya. "Tapi kamu harus tetap datang. Kamu kan sangat menyukai cara mengajar Leo." "Kamu yakin, Sherine?" tanya Clara dengan nada khawatir. "Aku bisa mencarikan instruktur lain kalau kamu mau." "Tidak, Cla

  • Antara Kita Bertiga   bab 5

    Keesokan paginya, Clara datang ke rumahku lebih awal sebelum kelas yoga kami. Kami duduk bersama di ruang tamu sambil meminum es kopi. Clara tampak bersemangat, matanya terbuka lebar saat ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepadaku di sofa."Sherine, aku harus memberitahumu sebuah rahasia," kata Clara sambil menyeruput kopi miliknya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Leo.""Leo?" tanyaku, merasakan perutku terasa tegang karena kegugupan yang tiba-tiba muncul."Iya! Dia sangat seksi sekali," kata Clara sambil terkikik dan melambaikan tangannya. "Apa kamu melihat lengannya kemarin? Dan dadanya? Ya Tuhan, aku sangat ingin tidur dengannya.""Apa kamu serius, Clara?" tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku tetap tenang."Serius banget," jawab Clara sambil tersenyum cerah. "Aku akan segera meminta pelajaran privat kepadanya. Aku ingin dia menunggangiku di atas matras yoga. Bayangkan betapa nikmatnya ukuran besar miliknya di dalam diriku!"Aku meremas cangkir kopiku erat-erat. Pikiranku

  • Antara Kita Bertiga   bab 4

    Ruangan yoga itu terasa hangat, dan musik yang tenang mengalun pelan. Orang-orang lain sibuk di atas matras mereka, tetapi Leo berjalan langsung ke arahku. Dia berdiri di belakang matras ungu milikku dan memerhatikan saat aku mencoba membungkuk. "Kau harus membungkuk lebih rendah, Sherine," ucap Leo pelan, melangkah sangat dekat ke punggungku. "Apakah ini sudah cukup rendah?" tanyaku sambil terengah-engah saat aku mendorong pinggulku ke belakang. "Belum. Biar aku menyentuhmu dan menunjukkan caranya," bisiknya. Leo condong mendekat hingga dadanya yang panas menyentuh punggungku. Dia mencengkeram pinggulku dengan kuat menggunakan kedua tangannya. Lalu, dia menggerakkan satu tangannya yang besar dan panas ke bawah, lalu meremas pantatku dengan kencang. Dia meremas kulit lembutku, mendorong tubuhku ke dalam pose tersebut. "Ah... Leo..." aku tersentak keras. Sensasi jari-jarinya yang kuat menekan pantatku membuat jantungku berdegup kencang. "Apakah itu terasa enak?" bisik Leo tepat d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status