登入Aku berjalan keluar dari studio yoga dengan perasaan yang sangat terguncang. Kakiku gemetar, dan celana dalamku masih basah oleh sentuhan kotor Leo. Clara sedang menunggu di dekat meja resepsionis, tersenyum sambil merapikan rambutnya di cermin. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampirinya.
"Clara, sepertinya aku tidak bisa ikut kelas yoga ini lagi," kataku, berusaha menjaga agar suaraku tetap tenang dan stabil. "Apa? Kenapa?" tanya Clara sambil berbalik dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Kamu suka sekali datang ke sini!" "Punggungku akhir-akhir ini sering sakit, dan kurasa gerakan peregangannya terlalu berat bagiku," akupun berbohong dengan lembut. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa Leo baru saja meraba selangkanganku yang basah tepat di belakang punggungnya. "Tapi kamu harus tetap datang. Kamu kan sangat menyukai cara mengajar Leo." "Kamu yakin, Sherine?" tanya Clara dengan nada khawatir. "Aku bisa mencarikan instruktur lain kalau kamu mau." "Tidak, Clara. Kamu tetaplah di sini. Aku hanya perlu istirahat di rumah," kataku, memberinya senyuman meyakinkan sebelum berbalik pergi. Aku segera meninggalkan tempat kebugaran tersebut. Dalam hatiku, aku tahu bahwa berhenti adalah keputusan yang paling tepat. Clara adalah sahabatku, dan membiarkan Leo menyentuh tubuhku sementara Clara menginginkannya terasa sangat salah. Namun, saat aku mengemudi pulang, tubuhku terasa bagaikan terbakar. Jari-jari kasar Leo dan bisikan-bisikan kotornya terus terngiang di kepalaku, membuatku hampir gila karena hasrat yang belum tersalurkan. ---- Menjelang siang, aku sudah kembali berada di vila ku yang tenang. Aku pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, mencoba mengalihkan perhatianku. Aku memotong sayuran dan menggoreng beberapa potong ayam, tetapi aku tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali aku bergerak, paha atasku yang rapat saling bergesekan, mengingatkanku pada tangan besar dan hangat Leo yang mencengkeram pantatku. Aku mematikan kompor, meninggalkan makanan itu begitu saja di atas meja counter. Aku sudah tidak tahan lagi. Ketegangan seksual yang menumpuk di dalam diriku untuk Leo terasa begitu kuat. Tubuhku memohon untuk segera dilepaskan. Aku bergegas naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama dan mengunci pintunya—atau setidaknya kupikir aku telah menguncinya. Aku menendang sepatuku, melepas celana ketat yang ku pakai, dan melemparkan bajuku ke lantai. Hanya mengenakan pakaian dalam renda hitam, aku merebahkan diri di atas ranjang besar dan membuka kedua kakiku lebar-lebar. Aku menarik celana dalamku ke samping dan menyelipkan jari-jariku ke dalam selangkanganku yang basah dan panas. Aku melepaskan erangan keras tanpa napas saat jari tengahku mulai menggosok klitoris yang membengkak dengan gerakan cepat dan ketat. "Ah... sial..." rintihku dengan suara lantang di dalam kamar yang kosong. Di dalam pikiranku, yang menyentuhku bukanlah tanganku sendiri. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan membayangkan Leo berdiri di atasku, mendorong jari-jarinya yang tebal jauh ke dalam lubangku yang sempit. Aku teringat sensasi kejantanannya yang keras menekan pantatku selama kelas tadi, dan aku menggosok klitorisku semakin cepat, memasukkan dua jari jauh ke dalam selangkanganku yang basah kuyup. "Ah! Leo... Leo..." tahanku terengah-engah, pinggulku terangkat dari kasur saat kenikmatan luar biasa membanjiri tubuhku. Apa yang tidak kusadari adalah pintu kamar tidur ternyata tidak tertutup dengan rapat. Andi telah pulang lebih awal dari kantor untuk mengambil beberapa berkas. Ia telah menaiki tangga dan berhenti tepat di luar celah pintu yang terbuka. Ia berdiri di sana dalam diam, menyaksikan istrinya sendiri membuka kedua kaki dan menyentuh dirinya dengan liar di atas tempat tidur. Mata Andi membelalak dengan hasrat gelap dan posesif. Ia mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka dan melangkah masuk. Suara langkah kakinya yang berat membuat mataku terbuka secara tiba-tiba. "Andi!" kataku terkejut, berusaha merapatkan kedua kaki untuk menutupi selangkanganku yang basah. "Jangan ditutup," kata Andi dengan suara rendah dan serak, melangkah lebih dekat ke arah tempat tidur. "Aku sudah melihatmu, Sherine. Kamu terlihat seperti pelacur murahan yang menyentuh dirinya sendiri seperti itu." "Aku... aku tadi hanya..." Wajahku merona merah padam, namun tubuhku terlalu bernafsu untuk melawan. "Diam," perintah Andi pelan. Ia langsung berlutut di antara kedua pahaku yang terbuka. "Biar kutuntaskan apa yang sudah kamu mulai." Andi condong ke depan dan membenamkan wajahnya langsung ke selangkanganku. Ia membuka mulutnya lebar-lebar dan memisahkan bibir kewanitaanku yang basah dengan jari-jarinya. Kemudian, ia menekan lidahnya yang hangat tepat pada klitorisku yang sensitif dan membengkak, lalu menjilatnya panjang dan kuat. "Ahhh! Andi!" teriakku, mencengkeram rambutnya saat gelombang kejut kenikmatan yang dahsyat menghujam tulang belakangku. Andi tidak berhenti. Ia menjilat selangkanganku dengan lahap, menghisap klitorisku dalam-dalam ke dalam mulutnya dan memutar lidahnya dengan cepat. Ia mendorong dua jarinya jauh ke dalam lubangku yang sempit dan basah, menggerakkan jari-jarinya keluar-masuk sementara lidahnya terus melahap selangkanganku dengan kasar. "Sial... kamu basah banget, Sherine!" geram Andi pada kulitku, wajahnya dipenuhi oleh cairan basahku. "Apa kamu jadi segairah ini hanya karena memikirkanku?" "Ya... ah! Ya, Andi!" aku berbohong dengan suara lantang, menjerit dalam ekstasi yang luar biasa. Kenyataannya, aku sama sekali tidak sedang memikirkan Andi. Saat Andi menjilat selangkanganku dengan liar, aku memejamkan mata dan membayangkan wajah Leo. Aku berpura-pura bahwa itu adalah lidah Leo yang melahap tubuhku yang basah, melampiaskan seluruh hasrat kotor yang tertahan yang selama ini ku pendam untuk instruktur yoga tampan tersebut. "Ahhh! Sial! Aku mau keluar!" jeritku, seluruh tubuhku bergetar hebat saat orgasme besar dan luar biasa meledak di dalam diriku. Selangkanganku meremas erat jari-jari Andi, menyemburkan cairan basah ke seluruh bibir dan dagunya. Andi menghisap klitorisku untuk terakhir kalinya sebelum menarik wajahnya mundur, menyeka mulutnya yang basah dengan punggung tangannya, lalu menatapku dengan senyuman bangga dan arogan. "Lihat? Tidak ada yang bisa membuatmu klimaks seperti suamimu sendiri," seringai Andi dengan arogan, lalu berdiri untuk merapikan jasnya. Aku berbaring kembali di atas tempat tidur, terengah-engah dengan kaki yang masih terbuka lebar. Aku membalas senyumannya dengan lemah, namun di dalam hati, aku tertawa dingin. Ia mengira dirinya adalah seorang raja, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya baru saja menggunakan mulutnya untuk memuaskan hasratnya terhadap pria lain.Suasana di ruang persemayaman yang hening itu terasa semakin sesak oleh kehadiran Andi. Aku menatap pria yang selama ini menjadi sumber air mataku, namun kini berdiri dengan sorot mata yang tampak berbeda—jauh lebih tenang, tidak ada kilat arogansi yang biasanya selalu melekat pada dirinya setiap kali kami berdebat."Terima kasih sudah mengurus pemakaman Ayah," ucapku dingin, berusaha menjaga jarak dan mempertahankan harga diriku di hadapannya.Andi tersenyum tipis, sebuah senyuman lelah yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Aku melakukannya bukan untuk mencari pujian darimu, Sher. Aku tahu aku salah besar padamu. Kebodohanku kehilanganmu adalah hal paling disesali dalam hidupku."Mendengar kata-kata penyesalan itu meluncur begitu saja dari bibir pria yang dulu hobi berselingkuh, aku mendengus sinis. "Penyesalanmu sudah terlambat, Andi. Proses perceraian kita tetap jalan terus.""Aku tahu," balas Andi lirih, melangkah lebih dekat hingga aroma parfum maskulinnya menguar ke udara. Ia m
"Panggilan video dari siapa, Sher?"Suara Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi membuyarkan lamunanku. Ponsel di genggamanku terus bergetar menampilkan layar hitam dengan teror pesan singkat tersebut. Tanpa ragu, aku langsung menekan tombol merah untuk menolak dan mengabaikan panggilan itu, lalu melemparkan ponsel ke atas sofa dengan tangan yang sedikit bergetar."Bukan siapa-siapa, cuma nomor spam," jawabku berbohong, berusaha menyembunyikan kepanikan yang mendadak mencengkeram dadaku. Aku tidak mau membuat Clara cemas, apalagi hari ini ia berencana keluar untuk menenangkan diri.Setelah Clara pergi, aku memutuskan untuk bersiap-siap membersihkan diri dan mandi pagi agar pikiran-pikiran buruk akibat teror pesan tadi bisa sedikit mereda. Namun, baru saja handuk melilit di tubuhku dan aku melangkah keluar kamar mandi, suara dering telepon berbunyi dan ini dari nomer rumah sakit dimana ayahku dirawat. Dering itu memecah kesunyian, menciptakan firasat buruk yang langsung mendesir
"Siapa yang datang, Sher?"Suara serak khas orang baru bangun tidur terdengar dari arah kamar tidur dalam. Clara melangkah keluar dengan rambut dicepol seadanya dan mata yang masih menyipit, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang menerobos masuk dari jendela dapur. Pandangan sahabatku itu langsung tertuju pada map cokelat asing dan raut mukanya yang masih masam.Aku menggeleng pelan, berjalan lemes menuju dapur untuk melanjutkan niat bikin sarapan yang sempat tertunda. "Bukan siapa-siapa. Cuma Johan dan... Sasa."Nama terakhir yang kuucapkan membuat Clara langsung terkesiap, kantuknya menguap seketika. "Sasa?! Mantan nya Leo si brengsek itu? Ngapain dia ke sini pagi-pagi buta bareng CEO seram yang kamu ceritain kemarin?!" tanya Clara heboh, langsung menyusulku ke area dapur dengan langkah cepat."Mereka cuma mengantar berkas ini," jawabku singkat, meraih cangkir berisi air hangat yang sempat kuabaikan tadi.Clara langsung menyambar map cokelat di atas meja, membukanya deng
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna pemandangan gila di luar pintu apartemen sempit Clara.Apa-apaan ini? Johan datang ke apartemen murah kami bersama Sasa—wanita yang pernah membuat keributan besar rumah lama Clara sebelumnya karena urusan lelaki buaya darat bernama Leo?Dengan tangan bergetar karena emosi yang mendadak meluap, aku langsung menarik gagang pintu dan membukanya lebar-lebar. Udara dingin koridor apartemen langsung menyergap wajahku."Apa maksud kalian datang ke sini pagi-pagi buta?!" kataku tajam, menatap Johan dan Sasa bergantian dengan tatapan tidak suka.Johan menurunkan ponsel dari telinganya. Senyum tipis terukir di bibirnya, sama sekali tidak terpengaruh oleh nada suaraku yang ketus. Pria itu tampak begitu kontras dengan dinding koridor yang kusam, memancarkan aura dominasi yang langsung membuatku merasa kecil, namun di saat yang sama juga memicu rasa jengkel yang luar biasa."Selamat pagi juga, Sherine," sapa Johan tenang, mengabaikan pertanyaanku dan m
Sentuhan bibir kami yang mendadak beradu di balik meja bar yang remang-remang langsung memadamkan segala perdebatan sengit di antara kami. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan ringan; itu adalah ledakan dari rasa rindu, frustrasi, amarah, dan keinginan mendalam yang selama berbulan-bulan kami pendam rapat-rapat.Johan sempat tertegun sepersekian detik karena terkejut atas inisiatifku yang begitu liar. Namun, dominasi pria itu langsung mengambil alih. Tangannya yang semula mencengkeram pinggangku kini merayap naik ke tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa lari, sementara bibirnya balas melumat bibirku dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan menghanyutkan.Desahan tertahan lolos begitu saja dari sela-sela bibirku saat lidah Johan mendesak masuk, mengeksplorasi setiap inci rongga mulutku tanpa ampun. Suasana bising di dalam The Velvet Lounge—mulai dari dentuman musik jazz hingga riuh rendah suara para tamu—seolah lenyap tak bersisa. Dunia di sekeliling kami seakan berhenti b
"Tidak, Tuan Arman. Sepertinya malam ini saya sudah cukup melayani Anda," kataku dengan suara dingin, mendadak kehilangan selera untuk pura-pura ramah.Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menyambar nampan perak di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan sofa nomor dua belas. Arman sempat memanggil namaku pelan, namun aku sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatian dan fokusku kini sepenuhnya tersedot ke arah sofa VIP di seberang ruangan—tempat di mana Johan dan Sasa duduk terlalu dekat, tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.Aku berjalan cepat menuju area bar utama, meletakkan nampan dengan sedikit sentakan keras hingga pelayan lain menoleh kaget. Napasku memburu, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena gejolak emosi aneh yang mendadak membakar dada. Cemburu? Apakah aku baru saja merasa cemburu melihat Johan bersama wanita lain?Tidak mungkin! batinku menyangkal keras. Aku yang memilih kabur darinya. Aku yang menolak sangkar emasnya demi kebebasan. Jadi







