공유

Bab 7

작가: Liontin
last update 게시일: 2026-09-01 07:55:55

Begitu Andi merapikan dasinya dan bersiap untuk meninggalkan kamar kami, aku merasa sangat curiga. Ia pulang lebih awal, menjilat selangkanganku di atas tempat tidur, dan sekarang ia ingin pergi dengan terburu-buru. Ia beralasan memiliki urusan yang mendesak. Aku langsung berdiri tepat di depan pintu agar ia tidak bisa pergi dengan mudah.

"Mau ke mana buru-buru, Andi?" tahanku sambil menatap lurus ke dalam matanya.

"Sudah kubilang, Sherine, aku ada rapat penting yang harus dihadiri," jawab Andi dengan suara tenang.

"Rapat penting di hari Sabtu siang?" tanyaku lagi sambil melipat tangan di dada. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa yang mau kamu temui? Apa kamu sedang menemui wanita lain?"

"Jangan konyol, Sherine," Andi mendesah. Ia menyentuh pipiku dengan lembut. "Kamu adalah istriku. Aku hanya punya urusan yang harus aku selesaikan."

Ia mencium keningku dengan lembut, melangkah mengelilingiku, lalu turun ke lantai bawah. Namun, aku sama sekali tidak mempercayainya.

William telah berselingkuh dariku dengan Chloe. Baginya, seks hanyalah kesenangan fisik semata, tanpa ada perasaan apa pun. Begitu aku mendengar deru mobil sportnya menyala di luar, aku langsung meraih mantel dan kunci mobilku. Aku bertekad untuk mengikuti ke mana pun ia pergi.

Aku mengemudikan mobilku di belakang mobil hitam Andi, menjaga jarak aman yang cukup. Jantungku berdegup sangat kencang. Ke mana sebenarnya suamiku pergi kali ini?

Dua puluh menit kemudian, Andi memarkirkan mobilnya di dekat sebuah hotel dan restoran mewah. Aku memarkir kendaraanku di seberang jalan di balik sebuah truk besar, mengenakan kacamata hitam, dan keluar dari mobil untuk mengawasinya dari kejauhan.

Aku mengintip melalui jendela restoran. Andi duduk di sebuah meja sudut. Beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik dengan gaun merah yang sangat ketat bergabung dengannya. Itu adalah Vanessa, sekretaris sekaligus rekan kerjanya. Darahku terasa membeku.

Vanessa adalah wanita manipulatif yang selalu berusaha membawa Andi ke atas ranjang. Ia tahu bahwa Andi kaya dan berkuasa. Saat mereka sedang makan siang, Vanessa mulai melancarkan trik-trik nakalnya untuk menggoda pria itu.

Ia sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan, memamerkan dadanya yang besar tepat di hadapan Andi. Ia menjatuhkan garpunya ke lantai, lalu membungkuk perlahan sehingga gaun pendeknya tersingkap tinggi di atas kakinya. Ia bersikap lemah dan tak berdaya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.

"Oh, Tuan Andi... di sini panas sekali," desah Vanessa dengan suara manja yang menggoda. Ia menyentuh lengan Andi dengan kuku panjangnya yang berwarna merah. "Kepalaku terasa pusing. Aku sudah memesan suite VIP pribadi di lantai atas... Kenapa kita tidak ke sana saja supaya aku bisa beristirahat, dan Anda bisa memberiku apa yang kubutuhkan?"

Ia meremas lengan Andi, menggigit bibirnya, dan menatap pria itu dengan tatapan penuh nafsu. Andi menatap tubuh wanita itu. Sama seperti yang ia lakukan pada Chloe sebelumnya, Andi sama sekali tidak peduli pada cinta—ia hanya peduli pada kepuasan seks fisik yang instan.

"Ayo kita pergi," ucap Andi dengan suara dalam dan berat.

Hatiku hancur berkeping-keping saat melihat Andi bangkit berdiri, meraih tangan Vanessa, dan berjalan menuju lift pribadi hotel di lantai atas. Aku diam-diam mengikuti mereka ke lobi hotel dan bersembunyi di balik sebuah pilar dekat lift.

Aku menaiki tangga dengan cepat menuju lantai empat dan mengendap-endap menyusuri koridor. Pintu Kamar 402 tidak tertutup rapat. Aku mengintip melalui celahnya, seluruh tubuhku gemetar karena rasa sakit dan kemarahan.

Di dalam kamar, Andi sudah mendorong Vanessa menempel ke dinding. Vanessa mendesah keras saat Andi menarik turun gaun ketatnya, mengekspos payudaranya. Andi tidak mencium bibirnya dengan penuh cinta; ia hanya memperlakukan tubuh wanita itu seperti sebuah objek kotor.

"Hajar aku dengan keras, Tuan Andi!" jerit Vanessa penuh kenikmatan saat Andi mengangkat kedua kakinya dan menghujamkan kejantanannya yang tebal jauh ke dalam selangkangan wanita itu.

Suara hantaman kulit yang saling beradu bergema kencang di dalam ruangan tersebut. Andi menghamili Vanessa dengan liar di dinding, tatapan matanya dingin tanpa emosi, memperlakukannya layaknya seorang pelacur murahan semata-mata untuk melampiaskan nafsu birahinya. Beberapa menit kemudian, Andi mengerang keras dan memuntahkan benihnya jauh di dalam rahim Vanessa, memenuhi bagian dalam tubuh wanita itu.

Vanessa terengah-engah sambil memeluknya. Namun, begitu selesai, Andi langsung menarik diri, membersihkan diri dengan handuk, dan mengenakan kembali celananya tanpa mengucapkan sepatah kata manis pun kepada wanita itu.

"Kenakan pakaianmu dan pergi, Vanessa," kata Andi dingin sambil merapikan dasinya di depan cermin. "Ini tadi hanya sekadar seks. Tidak lebih dari itu."

Vanessa tampak terkejut dan terluka, namun ia tahu bahwa dirinya tidak bisa menuntut apa pun dari pria itu. Ia buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari keluar.

Air mata membanjiri mataku saat aku mundur bersembunyi ke dalam bayang-bayang. Suamiku baru saja berhubungan badan dengan wanita lain tepat di depan mataku sendiri. Ia memperlakukan wanita-wanita bagaikan mainan seksual belaka. Aku bergegas lari kembali ke mobilku, menangis dalam kepedihan yang mendalam.

----

Beberapa menit kemudian, Andi keluar dari hotel dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Aku menyeka air mataku, menyalakan mesin mobilku, dan terus mengikutinya. Ke mana lagi ia akan pergi setelah meniduri sekretarisnya?

Mobilnya melaju meninggalkan area perkotaan menuju ke kawasan pinggiran kota yang tenang. Sepuluh menit berselang, Andi membelokkan mobilnya memasuki halaman Rumah Sakit St. Jude.

Aku memarkirkan kendaraanku dan mengikutinya masuk ke dalam, bersembunyi di balik pilar-pilar lorong rumah sakit. Andi berjalan menyusuri lantai yang tenang dan berhenti di depan kamar 304. Ia melepas jasnya, merapikan rambutnya, lalu mengetuk pintu dengan lembut sebelum melangkah masuk.

Aku mengendap-endap mendekati kamar 304 dan mengintip lewat jendela kaca yang ada di pintu.

Berbaring di atas ranjang rumah sakit adalah ayahku. Beliau telah menderita penyakit jantung selama berbulan-bulan, namun akibat pertengkaranku dengan keluargaku sendiri, aku jadi jarang mengunjunginya. Duduk tepat di sebelah ranjang ayahku adalah suamiku, Andi.

Andi menggenggam tangan ayahku yang melemah dengan lembut dan menuangkan secangkir air hangat untuknya.

"Bagaimana perasaan Anda hari ini, Ayah?" tanya Andi lembut. Sifatnya yang dingin dan gelap seketika sirna, tergantikan oleh rasa hormat dan kepedulian yang tulus.

"Jauh lebih baik, Andi," senyum ayahku lemah. "Terima kasih sudah membayarkan biaya rumah sakitku yang mahal setiap bulannya. Kamu adalah suami yang sangat baik untuk Sherine."

"Sherine adalah istriku sekaligus seluruh duniamu—seluruh duniaku," jawab Andi lembut. "Aku mungkin pria yang rusak, tapi aku akan melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan dirinya dan keluarganya, bahkan jika ia tidak pernah tahu tentang hal ini."

Air mata segar kembali menetes membasahi wajahku. Andi adalah sesosok monster yang rumit. Ia berselingkuh dariku demi nafsu fisik semata dengan wanita-wanita seperti Chloe dan Vanessa tanpa perasaan apa pun, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia benar-benar mencintaiku sebagai istrinya dan secara sembunyi-sembunyi merawat ayahku yang sedang sakit di belakangku.

Aku berdiri terpaku di luar kamar, hatiku terobek di antara rasa sakit mendalam akibat pengkhianatannya dan kebingungan yang pekat atas cinta tersembunyinya itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Antara Kita Bertiga   Bab 9

    Keesokan paginya, aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa sangat lelah. Kepalaku berdenyut nyeri akibat terlalu banyak menangis dan berpikir semalam. Namun, rasa sakit itu kini telah berubah menjadi bara api yang membakar dadaku. Aku menolak menyerah pada keterpurukan; misiku sudah sangat jelas: aku butuh bukti nyata untuk menjatuhkan Andi di pengadilan kelak.Aku menoleh ke sisi tempat tidur yang kosong dan dingin. Andi ternyata belum juga pulang ke rumah. Lelaki itu mungkin menghabiskan malam di kantornya atau sibuk dengan urusan perselingkuhan murahan lainnya di luar sana. Aku duduk termenung di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap mengambil langkah pertamaku.Aku butuh tempat bertukar pikiran dengan seseorang yang benar-benar bisa dipercaya sepenuhnya. Tanpa buang waktu, aku langsung menyambar tas, melajukan mobil, dan pergi menemui Clara.Clara adalah satu-satunya orang yang tahu persis masalah pernikahanku sejak awal. Ia selalu memberikan saran yang jujur ta

  • Antara Kita Bertiga   Bab 8

    Berat yang menyesakkan di dadaku benar-benar nggak tertahankan. Aku pun memutuskan buat nyetir mobil ke sebuah bar mewah yang tenang di dekat pusat kota. Harapanku sederhana, semoga segelas alkohol bisa sedikit meredakan nyeri di hatiku.Suasana bar itu temaram, ditemani alunan musik jazz lembut di latar belakang. Aku memilih duduk di kursi tinggi berlapis kulit di ujung meja bar, jauh dari kerumunan orang yang berisik.Nggak lama kemudian, bartender datang menghampiri meja. Aku langsung memesan segelas anggur merah dengan suara pelan."Silakan, Nona," ucap bartender itu ramah sambil meletakkan gelas berembun di depanku.Sambil menggenggam gelas dingin dengan tangan yang masih sedikit gemetar, air mataku nyaris tumpah lagi. Aku meneguknya sedikit, lalu menatap kosong ke arah botol-botol warna-warni yang tersusun di dinding. Kok bisa ya, hidupku berantakan begini?Tiba-tiba, sebuah suara yang hangat dan sopan membuyarkan lamunanku."Kursi ini kosong?" tanya seorang pria dengan nada ram

  • Antara Kita Bertiga   Bab 7

    Begitu Andi merapikan dasinya dan bersiap untuk meninggalkan kamar kami, aku merasa sangat curiga. Ia pulang lebih awal, menjilat selangkanganku di atas tempat tidur, dan sekarang ia ingin pergi dengan terburu-buru. Ia beralasan memiliki urusan yang mendesak. Aku langsung berdiri tepat di depan pintu agar ia tidak bisa pergi dengan mudah. "Mau ke mana buru-buru, Andi?" tahanku sambil menatap lurus ke dalam matanya. "Sudah kubilang, Sherine, aku ada rapat penting yang harus dihadiri," jawab Andi dengan suara tenang. "Rapat penting di hari Sabtu siang?" tanyaku lagi sambil melipat tangan di dada. "Kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa yang mau kamu temui? Apa kamu sedang menemui wanita lain?" "Jangan konyol, Sherine," Andi mendesah. Ia menyentuh pipiku dengan lembut. "Kamu adalah istriku. Aku hanya punya urusan yang harus aku selesaikan." Ia mencium keningku dengan lembut, melangkah mengelilingiku, lalu turun ke lantai bawah. Namun, aku sama sekali tidak mempercayainya. Will

  • Antara Kita Bertiga   Bab 6

    Aku berjalan keluar dari studio yoga dengan perasaan yang sangat terguncang. Kakiku gemetar, dan celana dalamku masih basah oleh sentuhan kotor Leo. Clara sedang menunggu di dekat meja resepsionis, tersenyum sambil merapikan rambutnya di cermin. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampirinya. "Clara, sepertinya aku tidak bisa ikut kelas yoga ini lagi," kataku, berusaha menjaga agar suaraku tetap tenang dan stabil. "Apa? Kenapa?" tanya Clara sambil berbalik dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Kamu suka sekali datang ke sini!" "Punggungku akhir-akhir ini sering sakit, dan kurasa gerakan peregangannya terlalu berat bagiku," akupun berbohong dengan lembut. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa Leo baru saja meraba selangkanganku yang basah tepat di belakang punggungnya. "Tapi kamu harus tetap datang. Kamu kan sangat menyukai cara mengajar Leo." "Kamu yakin, Sherine?" tanya Clara dengan nada khawatir. "Aku bisa mencarikan instruktur lain kalau kamu mau." "Tidak, Cla

  • Antara Kita Bertiga   bab 5

    Keesokan paginya, Clara datang ke rumahku lebih awal sebelum kelas yoga kami. Kami duduk bersama di ruang tamu sambil meminum es kopi. Clara tampak bersemangat, matanya terbuka lebar saat ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepadaku di sofa."Sherine, aku harus memberitahumu sebuah rahasia," kata Clara sambil menyeruput kopi miliknya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Leo.""Leo?" tanyaku, merasakan perutku terasa tegang karena kegugupan yang tiba-tiba muncul."Iya! Dia sangat seksi sekali," kata Clara sambil terkikik dan melambaikan tangannya. "Apa kamu melihat lengannya kemarin? Dan dadanya? Ya Tuhan, aku sangat ingin tidur dengannya.""Apa kamu serius, Clara?" tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku tetap tenang."Serius banget," jawab Clara sambil tersenyum cerah. "Aku akan segera meminta pelajaran privat kepadanya. Aku ingin dia menunggangiku di atas matras yoga. Bayangkan betapa nikmatnya ukuran besar miliknya di dalam diriku!"Aku meremas cangkir kopiku erat-erat. Pikiranku

  • Antara Kita Bertiga   bab 4

    Ruangan yoga itu terasa hangat, dan musik yang tenang mengalun pelan. Orang-orang lain sibuk di atas matras mereka, tetapi Leo berjalan langsung ke arahku. Dia berdiri di belakang matras ungu milikku dan memerhatikan saat aku mencoba membungkuk. "Kau harus membungkuk lebih rendah, Sherine," ucap Leo pelan, melangkah sangat dekat ke punggungku. "Apakah ini sudah cukup rendah?" tanyaku sambil terengah-engah saat aku mendorong pinggulku ke belakang. "Belum. Biar aku menyentuhmu dan menunjukkan caranya," bisiknya. Leo condong mendekat hingga dadanya yang panas menyentuh punggungku. Dia mencengkeram pinggulku dengan kuat menggunakan kedua tangannya. Lalu, dia menggerakkan satu tangannya yang besar dan panas ke bawah, lalu meremas pantatku dengan kencang. Dia meremas kulit lembutku, mendorong tubuhku ke dalam pose tersebut. "Ah... Leo..." aku tersentak keras. Sensasi jari-jarinya yang kuat menekan pantatku membuat jantungku berdegup kencang. "Apakah itu terasa enak?" bisik Leo tepat d

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status