LOGIN"Kau gagah sekali, Bos!" Gary tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum dan harunya saat melihat Leo dalam balutan jas formalnya pagi itu. Tentu saja ini bukan pertama kalinya Gary melihat Leo serapi ini. Sebagai seorang bos besar, Leo sudah terbiasa tampil rapi, tapi kali ini, momennya berbeda. Leo akan menikah dan itu membuat Gary terharu. "Aku masih tidak menyangka kau menikah juga, Bos. Selama bersamamu, yang aku tahu hanya ada dendam di hatimu, sampai kau tidak pernah memikirkan masa depan bersama wanita. Aku terharu sekali, Bos. Akhirnya ada Bu Elisa yang akan mengurusmu seumur hidupmu." Leo memicingkan mata mendengarnya. "Ada Elisa? Lalu kau sendiri? Kau sudah lelah mengurusku sampai mau menyerahkan aku pada Elisa, hmm?" Gary tertawa sambil mengusap matanya. "Siapa yang bilang aku lelah? Aku hanya bersyukur ada yang bisa kuajak berbagi karena kau sangat merepotkan! Menjadi asistenmu harus siap 24 jam, siap kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala, harus siap mendaki gunung
"Anda cantik sekali, Bu Elisa!" pekik Ririn bahagia. Hari itu, akhirnya hari yang dinantikan tiba yaitu hari pernikahan Leo dan Elisa. Sejak pagi, Elisa sudah bangun dan dibawa ke ruang VIP hotel untuk dimake up. Ada Bik Imah, Nila, Daisy, dan Ririn yang menemaninya di sana. "Terima kasih, Ririn. Tapi gaun ini mendadak sesak sekali, aku menjadi cebol dengan perut besarku." "Haha, tidak ada yang aneh, Elisa," seru Bik Imah. "Kau sangat cantik." "Itu benar, Bu Elisa. Justru saat hamil besar, aura Anda sangat memancar," timpal Nila. "Aku saja tidak berhenti mengagumi Anda yang masih begitu cantik dengan kehamilan sebesar itu, Bu Elisa," sahut Daisy juga. "Semoga saat aku hamil nanti, aku juga bisa secantik Anda." "Haha, itu pasti, Daisy. Tapi aku tegang sekali. Apa para tamu undangannya sudah datang?" "Sebagian besar sudah. Mereka menginap di hotel ini dan mereka sudah duduk di venue acara sejak tadi," lapor Ririn. "Oh, jantungku makin tidak karuan." "Sekali lagi selamat, Bu El
"Terima kasih, Leo! Terima kasih!" Elisa tidak berhenti menangkup tangan Leo saat mereka sudah berdua lagi di mobil. Elisa tidak menyangka Leo akan mengijinkan Arman menjadi pendampingnya pada pernikahan nanti. "Terima kasih untuk apa, Sayang?" "Untuk semuanya, Leo. Untuk setuju menjadikan ayahku pendampingku di pernikahan." "Seperti katamu, tidak ada yang lebih pantas mengantarmu ke altar selain dia, Sayang." "Leo ...." Elisa menatap Leo penuh syukur. "Tapi apa nanti polisi akan mengijinkannya keluar?" "Aku akan mengurusnya. Mungkin tidak bisa lama, tapi aku pastikan dia akan tetap mengantarmu ke altar pada pernikahan kita besok." "Oh, Leo! Kau tahu kalau semakin hari aku semakin mencintaimu?" Elisa membuka tangannya dan langsung memeluk calon suaminya itu dengan penuh cinta. Tawa dan air mata haru tidak berhenti menghiasi wajah Elisa hari itu, dan Leo sendiri juga selalu bahagia melihat calon istrinya bahagia. Hari itu, mereka lanjut memeriksakan kandungan Elisa. Elisa suda
Elisa tidak bisa menahan air matanya saat ia sudah duduk menunggu kedatangan sang ayah. Jantungnya memacu kencang dan tangannya dingin. Leo sendiri menangkup tangan Elisa. Ini akan menjadi kunjungan pertama mereka dan pertama kali juga mereka akan bertemu Arman sejak Arman divonis waktu itu. Walaupun Elisa belum pernah berkunjung secara langsung, tapi dari pengacara, Elisa tahu bahwa katanya Arman sudah menerima semuanya dan sudah lebih tenang di dalam penjara. Tapi detailnya, Elisa tidak tahu. Elisa pun masih menunggu dengan tegang pertemuan itu, sampai pintu terbuka dan kursi roda itu didorong keluar. Arman masih duduk manis di kursi rodanya dengan jantung yang juga berdebar kencang. Ia sangat penasaran siapa yang datang. Kalau pengacara, biasanya petugas akan langsung mengatakannya. Namun, kali ini, petugas diam. Arman pun makin berdebar penuh harap. Sampai saat kursi rodanya didorong untuk menemui tamunya, dan Arman pun mematung melihat siapa yang menunggunya di sana. Itu El
"Ayah, Ibu, anak kalian akhirnya akan menikah." Satu minggu sebelum pernikahan, Leo dan Elisa mengunjungi pantai yang jaraknya satu jam dari kota. Mereka menabur bunga di sana sekalian berbicara dengan orang-orang yang mereka kasihi, orang-orang yang abunya sudah bersatu dengan lautan luas. "Kalian sudah tahu siapa calon menantu kalian kan? Kalian yang memilihkannya untukku," imbuh Leo yang membuat air mata Elisa menetes. Elisa yang berdiri di samping Leo pun membelai sayang punggung Leo dan Leo sendiri langsung memeluk calon istrinya dari samping. "Ayah, Ibu ... aku Elisa, aku tidak tahu bagaimana memperkenalkan diriku lagi. Kalian sudah mengenalku dan berkorban banyak untukku. Aku janji akan menjaga Leo demi kalian," ucap Elisa penuh kesungguhan. Leo yang mendengarnya langsung tertawa. "Salah, Sayang, aku yang akan menjagamu. Orang tuaku menyayangimu. Dan untuk ibumu, aku juga ingin mengatakan agar jangan khawatir, sekarang sudah ada aku yang akan menjagamu seumur hidupku." El
"Leo! Akhirnya kau pulang juga!" Setelah tiga minggu berada di Singapore, akhirnya hari itu Leo pulang juga. Awalnya Elisa ngotot ingin menjemput Leo ke airport, tapi Leo tidak mengijinkannya. Di saat kandungan Elisa sudah semakin besar, Elisa harus mengurangi naik mobil dengan perjalanan jauh karena itu akan membuat kandungannya terus bergetar. Elisa pun harus pasrah menunggu di apartemen sambil membantu Bik Imah menyiapkan semua makanan kesukaan Leo. Dan begitu Leo pulang, Elisa langsung memeluk calon suaminya itu. "Aku senang sekali, Leo!" "Aku juga senang sekali bisa pulang. Aku merindukanmu dan anak kita, Sayang!" Leo mencium bibir Elisa dengan mesra, sebelum Leo membungkuk dan mencium perut besar Elisa. "Bagaimana anak Papa di sini? Kau senang Papa pulang, hmm?" Leo mengetuk perut Elisa dan bayi mereka langsung merespon dengan sebuah tendangan. "Akhh, dia menendang," pekik Elisa tertahan. Leo yang juga merasakan gerakan itu pun tertawa bahagia. "Sepertinya dia sudah me
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







